Duri Dalam Daging
DURI DALAM DAGING
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang
luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang
utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang
hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu
mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku
bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu
terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun
menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam
siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus.
Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
(2 Korintus 12:7-10)
PENDAHULUAN
Manusia umumnya bermegah karena kelebihan atau
kehebatannya. Bermegah diri ini mencapai puncaknya tatkala seseorang mulai
bersikap membesarkan dan memuja dirinya sendiri. Paulus mempunyai alasan kuat
untuk bermegah atau menyombongkan diri tentang pengalamannya yang luar biasa
kepada jemaat Korintus. Akan tetapi, Tuhan tidak menghendakinya. Tuhan justru
mengizinkan suatu duri dalam dagingnya. Namun Paulus menyatakan bahwa dirinya memang
harus bermegah, namun bukan atas pemberitaan miliknya sendiri, melainkan
pemberitaan yang ia terima dari Allah. Ia tidak memegahkan pengetahuannya
sendiri, tetapi pengetahuan Allah yang dibukakan kepadanya. Dan Paulus justru
bermegah atas kelemahannya, yang memang sangat berfaedah karena dengan demikian
dirinya tidak meninggikan diri.
SIKAP RENDAH HATI
PAULUS
Seseorang yang pernah menerima penglihatan dan penyataan seperti yang dialami Paulus ini (2 Kor. 12:1-6) pasti akan membangga-banggakannya. Tetapi Paulus beranggapan bahwa hal seperti itu tidak ada faedahnya. Karena itulah ia tidak langsung membicarakannya bahkan sampai empat belas tahun kemudian barulah ia menceritakan pengalamannya itu. Juga dia tidak berkata akulah itu orang yang menerima kehormatan melebihi orang lain, tetapi ia berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang ketiga. Ini semua ditambah lagi dengan caranya menahan diri menunjukkan betapa kerendahan hati merupakan karakter dari Paulus.
Di sini Rasul Paulus menjelaskan cara-cara yang dipakai
Allah supaya ia tetap rendah hati, dan untuk menjaga supaya ia jangan
meninggikan diri. Ia mengatakan hal ini untuk mengimbangi kisahnya yang
disampaikan dalam nas sebelumnya perihal penglihatan dan penyataan yang telah
diterimanya, yaitu diangkat ke Firdaus. Demikianlah Paulus, yang sebenarnya
tidak kalah dengan rasul-rasul lain dalam hal martabat, justru sangat menonjol dalam
hal kerendahan hati. Sungguh sikap yang sangat perlu kita teladani dalam setiap
pelayanan kita. Sangatlah baik untuk memiliki roh rendah hati meskipun sedang
mencapai berbagai keberhasilan yang tinggi, dan barangsiapa yang merendahkan
diri justru akan ditinggikan (Mat. 23:12; Luk. 14:11; 18:14).
PAULUS MENDERITA
KARENA DURI DALAM DAGING
Rasul Paulus menderita karena duri di dalam daging dan digocoh oleh utusan Iblis (ay. 7). Kita tidak tahu hal apa tepatnya yang dimaksudkannya. Apakah itu suatu masalah, persoalan, pergumulan atau pencobaan yang berat, atau suatu penyakit fisik, sungguh kita tidak tahu. Ada yang berpikir bahwa itu suatu rasa sakit jasmani atau penyakit. Juga ada yang berpikir bahwa itu adalah penghinaan yang dilontarkan kepadanya oleh rasul-rasul palsu, dan perlawanan mereka terhadap Paulus, terutama yang berhubungan dengan perkataannya yang mereka anggap merendahkan. Akan tetapi, apapun yang dimaksud dengan duri dalam daging itu, Tuhan sering kali mengubah hal-hal buruk menjadi hal-hal baik, supaya celaan lawan kita turut mencegah kita menjadi sombong.
Apa yang disebut Rasul Paulus sebagai duri dalam daging
itu sangatlah menyusahkan hatinya selama beberapa waktu. Namun mahkota duri
yang dikenakan Kristus demi kita dan tertancap di kepala-Nya itu akan membuat
semua duri dalam daging kita terasa ringan. Pencobaan untuk berbuat dosa adalah
duri yang paling menyedihkan, karena merupakan utusan Iblis untuk mengocoh
kita. Sungguh merupakan hal yang sangat menyedihkan apabila orang yang baik
tergoda untuk berbuat dosa. Yesus sendiri telah menderita karena pencobaan,
maka Ia dapat menolong kita yang sering dicobai.
TUJUAN ALLAH
MENGIZINKAN DURI DALAM DAGING
Menurut Paulus tujuan Allah mengizinkan duri dalam dagingnya adalah supaya ia tidak meninggikan diri (ay. 7). Paulus sendiri tahu bahwa setiap orang, siapapun dia, tetap ada kemungkinan akan menyombongkan diri. Akan tetapi, jika Allah mengasihi kita, maka dengan cara-Nya sendiri, Ia akan menjauhkan kesombongan dari kita dan menjaga supaya kita tidak meninggikan diri. Beban-beban rohani adakalanya diizinkan Tuhan menimpa kita untuk menjauhkan kita dari kesombongan rohani.
Dikatakan bahwa duri dalam daging ini merupakan utusan
Iblis, yang berarti tidak diutus olehnya dengan tujuan baik. Sebaliknya, Iblis
mendatangkannya dengan tujuan jahat untuk memadamkan semangat Rasul Paulus
(yang sangat dikenan Allah) dan menghalang-halangi dia dalam pekerjaannya
sebagi pemberita Injil. Namun, Allah mempunyai tujuan yang baik di balik
kesusahan ini serta mengatasinya. Ia bertindak sedemikian rupa sehingga utusan
Iblis itu bukan menjadi rintangan melainkan justru menjadi pertolongan bagi
Rasul Paulus.
DOA PAULUS AGAR
ALLAH MENGANGKAT PENDERITAANNYA
Rasul Paulus berdoa dengan sungguh supaya Allah
mengangkat penderitaan pedih yang dialaminya. Doa merupakan penawar bagi tiap
penderitaan dan obat bagi tiap penyakit. Ketika kita didera duri dalam daging,
kita harus berserah diri di dalam doa. Jadi itulah tujuannya mengapa kita
terkadang mendapat pencobaan, supaya kita belajar berdoa.
Rasul Paulus tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan Iblis itu mundur dari padanya (ay. 8). Berseru sampai tiga kali artinya sering kali. Jadi apabila doa pertama dan kedua tidak dijawab, kita harus bertekun dan bertahan sampai kita menerima jawaban. Kristus sendiri berdoa tiga kali kepada Bapa-Nya (Mat. 26:36-46; Mark. 14:32-42; Luk. 22:39-46). Sama seperti masalah diizinkan datang untuk mengajar kita berdoa, demikian juga masalah itu terus berdatangan untuk mengajar kita terus berdoa.
Meskipun Allah menerima doa yang lahir dari iman, namun
Ia tidak selalu mengabulkannya. Sama seperti Ia adakalanya mengabulkan dengan
amarah, Ia juga terkadang menolak dengan kasih. Ketika Allah tidak mengangkat
masalah dan pencobaan yang melanda kita, tetapi jika Ia memberikan cukup kasih
karunia kepada kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh atau
berkata bahwa Ia berlaku jahat kepada kita. Sungguh merupakan penghiburan besar
bagi kita bahwa, tidak peduli sedahsyat apapun duri dalam daing yang menyakiti
kita, kasih karunia Allah cukup bagi kita.
PAULUS BERMEGAH
ATAS KELEMAHANNYA
Cara Rasul Paulus memanfaatkan tindakan pemeliharaan Allah pada dirinya adalah bermegah atas kelemahan (ay. 9) dan bersuka di dalamnya (ay. 10). Yang dimaksudkannya bukanlah kelemahan dosa (yang pantas membuat kita malu dan sedih), melainkan penderitaan, celaan, penganiayaan dan kesusahan yang dialaminya demi Kristus (ay. 10). Alasan Rasul Paulus bermegah dan bersukacita atas berbagai hal itu adalah karena semuanya itu merupakan kesempatan bagi Kristus untuk menyatakan kuasa dan kecukupan kasih karunia-Nya bagi dirinya.
Melalui semuanya itulah Rasul Paulus begitu sering
mengalami kekuatan kasih karunia ilahi sehingga dapat berkata, jika aku lemah,
maka aku kuat (ay. 10). Jadi pada waktu kita lemah dalam diri kita, maka kita
juga kuat di dalam kasih karunia Yesus Kristus Tuhan kita. Pada waktu kita
menyadari kelemahan kita, maka kita akan datang kepada Kristus dan layak
menerima kekuatan dari-Nya lalu mengalami curahan kekuatan dan kasih karunia
ilahi.
REFLEKSI
Dalam diri kitapun ada kelemahan-kelemahan yang Tuhan
izinkan ada di situ. Tujuan-Nya adalah agar kita semakin bersandar pada
anugerah-Nya dan semakin mengandalkan kuasa-Nya. Dengan demikian, dalam
kelemahan-kelamahan kitapun nama Tuhan saja yang dipuji dan dimuliakan. Setialah
melayani dengan rendah hati sekalipun ada berbagai duri dalam daging kita.
Biarlah semuanya itu tidak menjadi penghalang bagi kita, namun kita justru
bermegah dan bersukacita karenanya sebab dengan cara demikianlah Kristus
menyatakan kuasa-Nya dan kecukupan kasih karunia-Nya bagi kita. Dan, dengan
demikian, diri kita yang penuh kelemahan ini dapat dipakai menjadi saksi yang
kuat bagi Kristus.
Comments
Post a Comment