Iman Yang Menyelamatkan
IMAN YANG MENYELAMATKAN
Efesus 2:8-9
Oleh: Pnt.
Drs. Beltasar Pakpahan
“Sebab karena
kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan
diri” (Efesus 2:8-9)
Pengantar
Setiap kita orang Kristen pastilah tahu bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1).Berkenaan dengan iman ini Rasul Paulus menyatakan bahwa “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17) dan “dari Berita Injil” (Fil. 1:27). Namun dalam nas ini Rasul Paulus kemudian memberikan gambaran yang sangat mendalam tentang iman yang menyelamatkan, yang hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang Dia pilih untuk beroleh keselamatan.
Dengan membaca nas ini secara seksama, bisa jadi timbul dalam pikiran kita: ‘Adakah iman yang tidak menyelamatkan?’. Jawabnya ada, yaitu iman yang bukan diperoleh karena kasih karunia (ay. 8), melainkan yang diupayakan dengan bersandar pada ratio atau pemikiran sendiri (ay. 9) dan karenanya tidak berpusat pada Yesus Kristus. Jadi iman yang menyelamatkan adalah pemberian Allah, dan karenanya pastilah berpusat pada Yesus Sendiri.
Dalam kehidupan orang Kristen sering ditemui empat macam
iman. Tiga di antaranya tidak menuntun
kepada keselamatan atau lebih menuntun kepada kebinasaan sehingga bisa disebut
dengan iman palsu. Berikut ini adalah ke tiga macam iman yang tidak
menyelamatkan dan satu iman yang menyelamatkan.
1. Iman Sementara
Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus berkata: “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad” (Matius 13:20-21). Ini adalah iman sementara yang tidak tahan lama, yang kemudian tercabut dan mati karena tidak berakar.
Ada saja orang yang memiliki pengalaman agama atau kegembiraan besar akan kehidupan Kristen, bahkan mungkin membuat pengakuan iman di depan publik, namun Firman Allah tidak berurat-berakar kuat dalam hidupnya. Iman jenis ini akan cepat tercabut ketika tantangan kehidupan Kristen datang menerpa, dan karenanya iman palsu jenis ini tidak menuntun kepada keselamatan melainkan kebinasaan.
Iman sementara tidak berakar di dalam Kristus. Artinya
Kristus bukanlah pusatnya. Iman sementara ini mungkin saja didasarkan pada
perasaan emosional, persahabatan dalam gereja, alasan finansial atau
alasan-alasan yang tidak rohaniah lainnya. Dengan kata lain, iman sementara ini
merupakan iman yang tidak utuh atau tidak total. Oleh karena itu, iman
sementara bukanlah iman yang menyelamatkan.
2. Iman pada Mujizat
Tidak sedikit orang Kristen dewasa ini yang memiliki karunia untuk melakukan mujizat, terutama mujizat penyembuhan, dan karena itu mereka percaya bahwa mereka diselamatkan. Perihal mujizat ini, Yudas Iskariot pun selama mengikut Yesus juga terlibat dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan mujizat sama seperti ke sebelas murid lainnya (Mat. 10), namun ia binasa di neraka. Para tukang sihir Firaun dapat meniru mujizat yang dilakukan Musa, namun bukan berarti mereka adalah orang-orang percaya dan diselamatkan. Musa melakukannya dengan kuasa Allah. Dari sini kita bisa belajar bahwa iman pada mujizat bukanlah iman yang menyelamatkan.
Yesus memperingatkan kita untuk mewaspadai jenis iman palsu ini dalam Matius 7:21-23 – “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Jadi, iman palsu yang bergantung pada tanda-tanda,
mujizat-mujizat dan jawaban doa-doa bukanlah iman yang menyelamatkan.
Keselamatan hanya datang dari iman yang bersandar kepada Kristus Sendiri.
3. Iman pada Sejarah
Orang yang hanya sekedar percaya pada Alkitab memiliki apa yang disebut dengan iman historis atau iman sejarah. Yang menjadi pusat dari iman semacam ini hanyalah sejarah, tidak lebih dari itu. Setan-setan pun memiliki iman semacam ini dan mereka tidak diselamatkan (Yak. 2:19). Jadi iman yang hanya didasarkan pada dokumen-dokumen sejarah dari Alkitab tidak menyelamatkan.
Yesus menegur orang-orang Farisi karena walaupun mereka memiliki iman pada Kitab Suci – iman pada sejarah – namun mereka tidak memiliki iman yang menyelamatkan pada Kristus itu sendiri. Yesus memberikan teguran keras kepada orang-orang Farisi ini dengan berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh 5:39-40). Orang-orang Farisi bergantung pada iman pada sejarah dalam Kitab Suci, namun mereka tidak mau melangkah lebih jauh dari itu untuk memiliki iman secara pribadi pada Tuhan Yeus Kristus.
Di antara orang-orang Kristen masa kini pun bisa ditemukan orang yang tidak pernah melampaui iman pada sejarah dalam Alkitab kepada iman yang menyelamatkan pada Kristus yang Alkitab nyatakan. Orang-orang seperti inilah yang menjadi sasaran teguran Yesus ketika Dia berkata: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:20).
Hidup kekal dan keselamatan penuh hanya datang melalui
pengalaman pribadi dengan Yesus Kristus, bukan dengan cara lain. Tujuan Alkitab
adalah untuk menggerakkan kita agar tidak hanya sekedar percaya pada apa yang
dikatakan di sana, kemudian membawa kita bertemu dengan dan beriman kepada
penulis sebenarnya dari Alkitab, yaitu Yesus Kristus Sendiri. Rasul Paulus
menyatakan ini dengan sangat jelas: “Kitab
Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2
Tim. 3:15).
4. Iman Yang Menyelamatkan
Iman yang menyelamatkan bukan keyakinan yang meluap-luap secara emosional namun tidak berakar pada Kristus lalu tercabut dan hilang. Iman yang menyelamatkan bukan yang lebih menjadikan berbagai-bagai mujizat sebagai titik pusat iman ketimbang sumber dari semua mujizat tersebut, yakni Yesus Sendiri. Iman yang menyelamatkan bukan sekedar mengakui fakta-fakta sejarah tentang Yesus Kristus dalam Alkitab. Orang yang memiliki ke tiga iman palsu semacam ini akan tetap terhilang, karena pusat imannya bukan Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat.
Iman sejati adalah iman yang berpegang teguh kepada Yesus Kristus. Tak peduli seberapa lemahnya kita, tak peduli seberapa kencangnya angin pencobaan menerpa kita, tak peduli seberapa derasnya gelombang kehidupan hendak menenggelamkan kita, namun kita masih dapat melakukan satu hal: tetap berpegang teguh pada landasan iman kita, yaitu Yesus Kristus.
Yesus telah menebus kita dari kuasa dosa, sehingga sekarang
Yesus adalah Penebus kita. Yesus telah memberikan darah dan kebenaran-Nya
kepada hidup kita dan menyatakan kita benar di hadapan Allah, sehingga sekarang
Yesus adalah Pembenar kita. Yesus telah menyelamatkan kita dari murka yang akan
datang, sehingga sekarang Yesus adalah Juruselamat kita. Yesus telah menjamin
hidup kita untuk kekekalan melalui pengorbanan-Nya dan kebangkitan-Nya,
sehingga sekarang Yesus adalah Tuhan kita.
Ayat Renungan
“Ia mengantar mereka ke luar, sambil
berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ Jawab
mereka:’"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat,
engkau dan seisi rumahmu’” (Kis. 16:30-31).
Comments
Post a Comment