Mengampuni bukan Menghakimi

MENGAMPUNI BUKAN MENGHAKIMI

Matius 7:1-5

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

”Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:1-5).

  

Jangan Menghakimi

Relasi kita dengan sesama manusia sering kali bergantung pada ukuran yang kita pakai pada orang lain, atau sebaliknya, bergantung pada apa yang orang lain ukur dari diri kita. Ukuran yang kita pakai tidak jarang mengacu kepada apa yang dimiliki dan dihasilkan orang yang kita ukur. Masalahnya, dalam ukur mengukur ini, kita cenderung menggunakan standar ganda: ukuran yang longgar dan rendah untuk diri sendiri, dan ukuran yang ketat dan terlalu tinggi untuk orang lain. Karena begitu mudahnya tindakan mengukur atau menilai orang lain ini dilakukan, ada kalanya kita terjerumus ke dalam sikap menghakimi.

Kata ”menghakimi” dalam ay. 1 diterjemahkan dari kata bahasa Yunani ”krino”, yang berarti memutuskan, mencela, berpendapat, menganggap, menghukum (Strong #2919). Dengan mengatakan ”jangan menghakimi...” dalam nas ini sebenarnya Yesus mengarahkan fokus kritikan kepada orang-orang Farisi yang suka menghakimi orang lain dengan kesombongan, penghinaan, pelecehan bahkan kekerasan. Tetapi kritikan ini juga mengarah kepada kita secara umum. Kita suka menghakimi orang lain karena dengan demikian kita dapat memperlihatkan diri kita sebagai orang yang baik dan bermoral.

Pernyataan Yesus dalam ay. 2 bahwa ”ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”, memperingatkan kita dengan tegas agar sebelum menilai atau menghakimi orang lain, kita harus terlebih dahulu mengoreksi atau mengevaluasi diri kita sendiri apakah kita luput dari apa yang mau kita koreksi atau kita evaluasi. Artinya, jika kita mengevaluasi atau mengoreksi orang lain tanpa terlebih dahulu mengevaluasi atau mengoreksi diri kita sendiri, maka kita bukanlah orang yang tepat (qualified) untuk memberikan evaluasi atau koreksian tersebut.

 

Yang Suka Menghakimi Adalah:

1. Orang munafik

Tidak sesuai perkataan dan perbuatan – lain di bibir, lain di hati – adalah ciri dari orang-orang munafik. Suka menghakimi merupakan salah satu ciri orang munafik, sebagaimana diutarakan Rasul Paulus dalam Roma  2:1 - ”Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.”

2. Orang yang merasa dirinya hebat

Dalam Yohanes 8:3-7 diceritakan tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah melakukan zinah ke hadapan Yesus. Itu mereka lakukan untuk menguji Yesus apakah hukuman yang akan diputuskan Yesus sesuai dengan hukum tentang perzinahan yang ditetapkan dalam ke lima Kitab Musa – ”Musa dan hukum taurat”. Tujuan mereka sebenarnya adalah untuk mendikte dan menjebak Yesus. Artinya, mereka menganggap bahwa dengan pengetahuan, kapasitas dan otoritas keagamaan yang mereka miliki, mereka lebih hebat dari Yesus.

3. Orang yang merasa dirinya benar

Orang-orang Farisi selalu merasa diri mereka benar dibandingkan dengan semua orang lain. Sikap yang sama juga ada pada orang-orang Saduki. Kedua golongan ini bersama-sama dengan para pemuka agama Yahudi lainnya berkomplot untuk mengadili, menghakimi dan membunuh Yesus yang mereka anggap sebagai tindakan yang benar yang dilakukan oleh pihak yang benar. Namun, kebenaran Firman Tuhan justru menegaskan sebaliknya: semua orang tidak ada yang benar dan semua orang telah berbuat dosa (1 Yoh. 1:8; Roma 3:10,23).

4. Orang yang tidak mau mengoreksi diri sendiri

Saking mudahnya mengukur, menilai atau menghakimi orang lain, kita sering lupa mengoreksi diri sendiri. Pada hal, Rasul Paulus sudah mengingatkan kita akan hal ini dalam Roma 2:3 – ”Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?”

5. Orang yang menganggap orang lain rendah

Menghakimi sering dilakukan orang yang menganggap orang lain sepele, tidak penting atau rendah. Contohnya ada dicatat dalam Lukas  18:11 -Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”.

6. Orang yang tidak tahu kebenaran firman Tuhan tentang kasih

Yesus sendiri mengajar kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (Mat. 22:39), bukan untuk menghakimi. Kita juga harus mengasihi orang yang membenci kita bahkan musuh kita (Luk. 6:27). Jadi, kalau kita tahu kebenaran firman Tuhan tentang kasih ini, kita tidak akan mudah jatuh ke dalam sikap suka menghakimi orang lain.

 

Tugas Kita Mengampuni bukan Menghakimi

Yesus dalam Lukas 6:37 mengkontraskan perintah negatif untuk tidak menghakimi dan menghukum dengan perintah positif untuk mengampuni. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa tugas kita sebagai murid-murid Yesus adalah mengampuni bukan menghakimi apalagi menghukum.

Kita sering gagal paham tentang makna dan manfaat dari mengampuni. Kalau kita disarankan atau diminta untuk mengampuni orang yang pernah menyakiti kita, dengan spontan kita berkata: “enak sekali dia”, “rugilah”, “apa untungnya mengampuni dia”, dsb. Pada hal, kalau kita mengampuni yang beroleh manfaat atau yang diuntungkan adalah diri kita sendiri. Mengapa? Karena dengan mengampuni, kita akan diampuni (Luk. 6:37; Mat. 6:12).

Yang kita ampuni mungkin hanya satu atau beberapa kesalahan orang lain kepada kita, tetapi dengan berbuat demikian Tuhan mengampuni tak terkira banyaknya dosa dan kesalahan kita. Contohnya yang sangat jelas adalah perumpamaan yang disampaikan Yesus dalam Matius 18:23-35. Dalam nas tersebut diceritakan bahwa hutang 10.000 talenta (1 talenta = 6.000 dinar – jadi 10.000 talenta = 60 juta dinar) dari seorang hamba sebenarnya telah rela dihapuskan tuannya. Namun karena hamba tersebut  tidak mau menghapuskan hutang yang hanya 100 dinar dari hamba yang lain kepadanya, maka tuannya membatalkan penghapusan hutangnya itu. Kalau saja hamba yang jahat itu mau menghapuskan hutang hamba lainnya kepadanya yang 100 dinar itu, hutangnya yang 60.000.000 dinar – atau 600 ribu kali lipat – akan dihapuskan tuannya.

Jangankan kita, bahkan Yesus sendiri datang ke dunia ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkannya (Yoh. 3:17). Yesus menegaskan hal ini kembali dalam Yohanes 12: 47 – Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”. Hanya Allah sendiri yang berotoritas untuk menghakimi seperti yang dinyatakan dengan sangat jelas dalam Yakobus 4:12a – ”Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan”.

 

Ayat Renungan:

Matius 18:21-22 – “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali’.”

 

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan