Pengakuan Iman Yang Tegas

 PENGAKUAN IMAN YANG TEGAS

Markus 8:27-30 

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

“Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ‘Kata orang, siapakah Aku ini?’ Jawab mereka: ‘Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.’ Ia bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ Maka jawab Petrus:’Engkau adalah Mesias!’ Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia” (Mark. 8:27-30).

 

Pengantar

Bottom of FormMurid-murid Yesus telah melihat berbagai hal mengagumkan yang dilakukan Gurunya yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Yesus memberi makan lima ribu orang, berjalan di atas air, menyembuhkan orang sakit, memberi makan empat ribu orang, menjadi terkenal dan diikuti orang banyak. Tetapi dalam nas ini murid-murid tidak habis pikir mengapa justru Gurunya membawa mereka menyingkir ke Kaisarea Filipi. Lalu mereka bertanya-tanya dalam hati, apa lagi yang akan dilakukan Yesus  dengan membawa mereka “ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi” (ay. 27).

Kaisarea Filipi adalah sebuah kota besar dan indah yang dibangun oleh Herodes Agung. Kota ini berada di pantai Laut Tengah, 40 km sebelah selatan Gunung Karmel dan sekitar 100 km sebelah barat laut Yerusalem. Nama Kaisarea diberikan sebagai penghargaan kepada Kaisar Romawi, yaitu Kaisar Agustus. Mayoritas penduduknya bukan orang Yahudi. Di sana banyak terdapat kuil-kuil Baal dan dewa-dewi lain, dimana salah satu yang paling megah dibangun Raja Herodes di sebuah gunung yang ditahbiskan khusus kepada Kaisar, dan patung Kaisar berukuran besar ada di kuil tersebut. Kemudian Philips, putera Herodes, memperindah kuil itu semakin megah lagi sehingga ia menamai kota itu Kaisarea Filipi (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini).

Di kota besar Kaisarea Filipi yang penuh dengan gemerlap duniawi dan kuil-kuil pemujaan dewa-dewi Romawi inilah Yesus ingin menyelidiki dan mengetahui pengakuan murid-murid-Nya tentang siapakah diri-Nya.

 

Yesus Menuntut Pengakuan Para Murid-Nya

Ketika murid-murid sedang berjalan bersama Guru mereka di Kaisarea Filipi, bisa jadi mereka merasa terusik dengan keagungan kota itu. Kota yang besar dan indah bertabur kemegahan kuil-kuil dewa yang tergambar secara jelas melalui setiap tata kota. Sejenak mungkin mereka sempat terperanjat bercampur kagum akan dewa-dewi sembahan orang kafir itu begitu kuil demi kuil mereka lewati.

Saat pikiran murid-murid mulai melayang kesana-kemari sambil mengagumi keindahan dan kemegahan kota Kaisarea Filipi, tiba-tiba Sang Guru bertanya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” (ay. 27). Lalu bermunculanlah nama-nama dalam pikiran mereka dan keluar satu per satu. “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi” (ay. 28). Sebuah jawaban ironi yang mungkin menimbulkan rasa kesal dan kecewa bagi Sang Guru yang mengajukan pertanyaan. Seharusnya jawaban mereka tidak berhenti sampai di situ namun dilanjutkan dengan menjawab siapa Sang Guru menurut mereka.

Yesus kembali mengajukan pertanyaan yang sama dalam kalimat yang berbeda: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ay. 29). Sebuah jawaban yang sangat tegas dan meyakinkan tiba-tiba keluar dari mulut Petrus, salah seorang murid yang sangat dekat dengan Yesus: “Engkau adalah Mesias!”. Ya, benar-benar sebuah jawaban yang mengharukan. Di tengah-tengah kemegahan dan keagungan dewa-dewi sembahan bangsa kafir, Petrus dapat menyadari dan menyatakan dengan tegas bahwa Yesus adalah Mesias.

 

Yesus Menuntut Pengakuan Kita

Dari nas ini kita melihat bahwa Yesus menuntut sebuah pengakuan yang jujur dan tulus dari para murid-Nya. Bukan dari pendapat orang mengenai siapa diri-Nya, melainkan sebuah pengakuan iman yang murni yang dihidupi langsung oleh para murid-Nya. Yang menjadi pelajaran bagi kita dalam hal ini adalah bahwa Yesus ternyata tidak menghendaki orang yang mengaku sebagai murid-Nya – orang yang menyebut dirinya Kristen – tidak berani secara jujur menunjukkan iman percayanya kepada dunia. Mengucapkan pengakuan iman kita dalam setiap ibadah yang kita ikuti tidaklah cukup.

Jadi, sangat jelas bahwa setiap orang Kristen dituntut untuk berani menunjukkan statusnya sebagai orang percaya. Ini merupakan sebuah pergumulan bagi setiap kita yang hidup di zaman postmodern yang pluralis sekarang ini. Zaman dimana desakan untuk menghindari sebuah pengakuan iman kepada Kristus begitu besar, karena pengakuan iman seperti itu dianggap sebagai fanatisme agama. Pandangan seperti ini sangat tidak tepat, karena justru saat murid-murid Yesus sedang berada di Kaisera Filipi, kota besar yang melambangkan pusat kekuasaan dan kebudayaan dunia pada masa itu, Yesus menanyakan pengakuan iman para murid.

Inilah yang menjadi tantangan bagi kita sebagai murid-murid Yesus di zaman milenial ini. Di tengah-tengah arus besar yang tidak menginginkan bahkan membenci keberadaan gereja dan jemaatnya, kita harus berani dengan lantang namun rendah hati menyaksikan kekristenan kita sesuai  dengan pengakuan iman kita. Kita harus berani seperti Simon Petrus yang dengan terus terang dan tegas mengakui Yesus sebagai satu-satunya pusat pengakuan iman dan ini sekaligus berarti sebagai pusat hidup dan ibadah kita.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan