Berbuah Melalui Pencobaan
BERBUAH MELALUI PENCOBAAN
Yakobus 1:2-8
Oleh: Pnt.
Drs. Beltasar Pakpahan
2 Saudara-saudaraku,
anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai
pencobaan,
3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu
itu menghasilkan ketekunan.
4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah
yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu
apapun.
5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang
kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang
memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak
membangkit-bangkit — , maka hal itu akan diberikan kepadanya.
6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama
sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut,
yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa
ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan
tenang dalam hidupnya.
(Yakobus 1:2-8)
Pendahuluan
Orang Kristen pasti mengalami atau menghadapi penderitaan (Kis. 14:22b; Roma 8:17; Fil. 1:29). Akan tetapi, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kalau kita menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, maka Tuhan akan menolong dan memberkati kita dalam segala hal, baik dalam kesehatan, keuangan, studi, pekerjaan, karir, dsb., sehingga jalan hidup kita menjadi mulus. Anggapan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab. Bandingkan saja dengan Matius 7:13-14, dimana jalan orang yang mengikut Kristus tidak digambarkan dengan jalan yang lebar dan mulus, tetapi justru dengan jalan yang sempit, yang jelas menggambarkan jalan yang penuh dengan kesukaran.
Surat Yakobus ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sudah menjadi
Kristen di diaspora atau perantauan. Mereka terpencar di luar Palestina dan
mereka dibenci baik oleh orang-orang Yahudi yang non Kristen maupun orang-orang
dan pemerintah Romawi. Jelas sekali
mereka menghadapi banyak kesukaran dan penderitaan.
Pencobaan
Di dalam Alkitab, kata ‘pencobaan’ mempunyai arti: a) sesuatu yang dimaksudkan untuk menjatuhkan kita, dan ini datangnya dari iblis atau setan; b) sesuatu yang dimaksudkan untuk menyucikan, mengangkat dan menguatkan kita, dan ini datang dari Tuhan yang lebih tepat disebut dengan ‘ujian’; dan c) gabungan dari a) dan b), misalnya yang terjadi pada Ayub. Pencobaan yang dimaksudkan dalam nas ini adalah dalam arti yang ke-2 (point b) yang dinyatakan dengan jelas dalam ayat 3. Pencobaan atau ujian ini datang dalam bentuk kesukaran-kesukaran atau penderitaan-penderitaan.
“Berbagai-bagai pencobaan” yang
dinyatakan dalam ayat 2 memberi arti bahwa pencobaan itu bisa banyak sekali dan
datang dalam bentuk yang beraneka ragam seperti masalah/kesukaran ekonomi,
studi, pekerjaan, kesehatan, keluarga, dsb. Pencobaan itu bisa merupakan
problem yang terduga maupun tak terduga yang secara implisit ditunjukkan oleh
kata “jatuh”.
Fungsi Pencobaan Bagi Orang Kristen
Pencobaan bagi orang percaya atau orang Kristen berfungi untuk menghasilkan ketekunan (ay. 3). Kata ketekunan dalam nas ini diterjemahkan dari bahasa Yunani “hupomone” (Strong #5281) yang berarti kemampuan bertahan dalam kesukaran, bukan dengan sekedar bertahan dengan diam atau pasif, tetapi dengan sikap sedemikian rupa sehingga mampu membuat situasi yang tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang memuliakan Tuhan. Sebagai contoh Paulus dan Silas dalam Kisah Para Rasul 16:25, dan nabi Habakuk dalam Habakuk 3:17-18.
Ketekunan seperti ini sangatlah penting bagi kita orang Kristen, karena tanpa ketekunan kita bisa menjadi seperti orang yang termasuk ke dalam golongan tanah berbatu, yang imannya hanya bertahan sebentar saja lalu kemudian murtad (Mat. 13:5-6,20-21). Ketekunan ini tidak mungkin bisa kita dapatkan kalau kita tidak mengalami kesukaran atau penderitaan (ay. 3).
Pencobaan atau ujian juga
berfungsi untuk menyucikan kita orang Kristen agar supaya sempurna dan utuh
secara rohani (ay. 4). Sama seperti emas yang harus dibakar supaya menjadi
murni, dan pohon anggur yang harus dibersihkan atau dipangkas supaya berbuah lebih
banyak (Yoh. 15:2b), maka orang Kristen harus mengalami kesukaran atau
penderitaan supaya hidupnya bisa disucikan.
Cara Menghadapi Pencobaan
Yakobus menawarkan dua cara yang
dapat digunakan orang-orang percaya untuk menghadapi pencobaan. Cara yang pertama
adalah menganggap pencobaan itu sebagai suatu kebahagiaan (ay. 2) dan untuk
menguatkannya ditempuh cara kedua, yaitu meminta hikmat dari Tuhan (ay. 5,6).
1. Menganggap pencobaan sebagai
suatu kebahagiaan
Ini bukan berarti bahwa kita dengan sengaja mencari pencobaan, namun frasa “jatuh ke dalam pencobaan” dalam ayat 2 menunjukkan bahwa kita tidak mencarinya dengan sengaja. Juga bukan berarti bahwa kita bersukacita karena adanya pencobaan, atau menganggapnya sebagai suatu berkat. Bukan pencobaan itu sendiri yang harus kita anggap sebagai suatu kebahagiaan atau berkat, tetapi hal-hal baik yang akan dihasilkan oleh pencobaan itu, seperti ketekunan dan kesucian (bdk. 2 Kor. 12:9b-10).
Dalam mengalami pencobaan
(kesukaran/penderitaan) kita cenderung merasa sedih, kecewa, marah bahkan putus
asa. Namun, sebagai orang percaya, kita tidak boleh hidup menuruti
perasaan-perasaan seperti itu. Kata ‘menganggap’ haruslah diartikan sebagai
menilai berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan perasaan atau penglihatan jasmani
kita.
2. Meminta hikmat dari Tuhan
Dalam menghadapi pencobaan, apakah itu berupa kesukaran atau kesulitan, kita sering kali menjadi bingung karena tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Disaat seperti itulah kita harus meminta hikmat dari Tuhan (ay. 5,6) supaya kita bisa menghadapi pencobaan itu dengan cara yang benar.
Sumber hikmat adalah Allah
sendiri, dan Ia berjanji akan memberikan hikmat asalkan kita mau memintanya
kepada-Nya (ay. 5b). Tidak dalam segala hal Allah berjanji untuk memberikan apa
yang kita minta. Tetapi dalam hal hikmat untuk menghadapi pencobaan, Ia
berjanji akan mengabulkan permintaan kita. Oleh karena itu, kita harus
memintanya dengan beriman pada janji-Nya, tidak dengan bimbang (ay. 6,7). Akibat
yang dialami orang yang tidak berhikmat dalam menghadapi pencobaan adalah apa
yang disebutkan dalam ayat 7-8.
Refleksi
Apabila dalam hidup seseorang
relatif tidak ada kesukaran atau penderitaan, maka sangat mungkin bahwa orang
tersebut bukan anak Allah. Atau, mungkin orang itu adalah anak Allah yang hidup
berkompromi dengan dunia. Sebaliknya, kalau hidup kita penuh dengan kesukaran
dan penderitaan, jangan terlalu cepat mengira bahwa itu akibat dari adanya dosa
dalam hidup kita. Memang bisa saja karena adanya dosa dalam hidup kita, lalu
Tuhan menghajar kita dengan berbagai-bagai penderitaan. Tetapi bisa juga Tuhan
mengizinkan kesukaran atau penderitaan, bukan karena kita berdosa, tetapi
karena Ia mau menguji kita.
Comments
Post a Comment