Krisis Rohani Elia
KRISIS ROHANI SEORANG
HAMBA TUHAN
1 Raja-raja 19:9-18
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
9 Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan
bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu
di sini, hai Elia?”
10 Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi
TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu,
meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku
seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”
11 Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di
atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang
membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN.
Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa.
Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.
12 Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi
tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin
sepoi-sepoi basa.
13 Segera sesudah Elia mendengarnya, ia
menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu
gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: “Apakah kerjamu di sini,
hai Elia?”
14 Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi
TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu,
meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku
seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.”
15 Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah
ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau
harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.
16 Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi
menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi
menjadi nabi menggantikan engkau.
17 Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael
akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh
oleh Elisa.
18 Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang
di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya
tidak mencium dia.”
(1 Raja-raja 19:9-18)
Pengantar
Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari panggilan orang percaya (Roma 8:17; Fil. 1:29). Namun ada kalanya untuk menghindari penderitaan itu, tidak sedikit orang percaya pergi menjauh dari jalan panggilannya. Seperti misalnya yang diperlihatkan oleh seorang tokoh Alkitab, yaitu Elia, yang diceritakan dalam nas ini. Elia sempat mundur dari jalan panggilannya sebagai seorang nabi. Bahkan nas ini memaparkan bahwa seorang nabi Elia, yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bisa menjadi putus asa! Elia putus asa setelah lari dari ancaman Izebel, permaisuri raja Ahab (ay. 1-4).
Elia ketakutan karena ancaman Izebel yang akan membunuhnya. Ia melarikan diri ke padang gurun dan minta mati kepada Tuhan (ay. 4). Dalam ayat 9 dan 13, Allah bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini mendorong Elia berefleksi mengenai panggilan/pelayanan dan keberadaannya: apakah ia berada di ‘tempat’ di mana seharusnya sesuai dengan panggilannya? Elia adalah seorang Nabi yang dipanggil untuk bekerja segiat-giatnya menyampaikan firman Tuhan di tengah-tengah bangsanya yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Tetapi mengapa ia bersembunyi dalam sebuah gua? Bukankah seharusnya ia berada ditengah-tengah bangsanya menyampaikan firman Allah?
Jawaban Elia atas pertanyaan Tuhan
menunjukkan apa yang menjadi kegelisahan hatinya. Ia merasa sendirian
dan takut kehilangan nyawanya karena Izebel berencana hendak membunuhnya (ay. 1-3).
Ketakutan akan ancaman pembunuhan inilah yang membuat Elia meninggalkan jalan
panggilannya.
Keputusasaan
Menyebabkan Elia Salah Menilai Tuhan
Ketika Tuhan Allah bertanya pada Elia “Apakah kerjamu di sini?”, maka Elia menjawab “Bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan!” (ay. 10). Benarkah? Ternyata tidak, dia sedang melarikan diri! Elia tidak mengakui kelemahannya, justru balik menyerang Tuhan. Elia berkata bahwa dirinya bekerja sendirian, sedangkan Tuhan tidak berbuat apa-apa! Elia menunjukkan bahwa hanya dia sendiri yang bekerja untuk Tuhan, lihat saja semua orang Israel murtad, mezbah-mezbahNya diruntuhkan, semua nabi dibunuh dan dirinya pun diancam! Dimana Tuhan tatkala semua itu terjadi? Inilah yang ditanyakan Elia.
Elia salah menilai Tuhan. Dia beranggapan bahwa
dia hanya bekerja sendirian dan Allah tidak peduli! Bukankah ini yang kita
alami jika kita menghadapi pergumulan yang berat dan mulai putus asa? Kita
merasa bergumul sendirian! Padahal Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul
sendiri (Ul. 31:6, 8; Ibr. 13:5). Dia senantiasa ada dengan kehadiranNya dan
menanyakan: “Apa yang sedang kita kerjakan di sini?” Tinggalkan keputusasaan. Lihatlah
dengan mata rohani kita, Tuhan tidak membiarkan kita bergumul sendiri.
Datanglah kepada Tuhan dan sampaikan kondisi kita dengan jujur.
Keputusasaan Menyebabkan Elia Salah Menilai
Kondisi Sekitarnya
Rasa putus asa menyebabkan Elia memandang pergumulannya sangat berat dan laporannya kepada Tuhan pun jadi tidak tepat bahkan berbeda dengan kenyataan! Perhatikan laporan Elia dan keadaan atau fakta yang sebenarnya berikut ini.
Laporan Elia: Semua orang Israel
meninggalkan perjanjian Tuhan (ay. 10, 14)
Faktanya: Tidak semua orang
Israel meninggalkan perjanjian Tuhan (murtad) masih ada 7.000 orang
yang setia (ay. 18).
Laporan Elia: Semua nabi dibunuh dan hanya
tinggal Elia saja nabi di Israel (ay. 10, 14)
Faktanya: Masih ada 100 nabi Tuhan yang disembunyikan Obaja dan terpelihara (1 Raj. 18:7, 13).
Jangan kita biarkan diri kita dikuasai oleh
keputusasaan. Jika kita terus larut dalam keputusasaan, kita jadi sulit melihat kenyataan yang
sebenarnya yang seringkali tidak seburuk yang kita lihat dengan ‘kacamata’
keputusasaan. Bangkit dan bersemangatlah di dalam Tuhan, sebab Tuhan akan
memberi kekuatan dan pertolongan!
Keputusasaan Menyebabkan Elia Tidak Dapat Melihat Campur Tangan Tuhan dalam Hidupnya
Keputusasaan Elia membuatnya tidak melihat tangan Tuhan yang sejak mulanya menjangkau hidupnya. Bahkan saat Elia takut dan putus asa, Allah sudah mengulurkan tanganNya untuk menolong, sayangnya Elia sudah dibutakan oleh rasa putus asanya.
Bukankah murid-murid Tuhan Yesus mengalami hal yang sama ketika perahu mereka digoncang badai dan hampir tenggelam? Mereka juga tidak mampu melihat Tuhan Yesua yang datang dan bahkan menyebutNya sebagai hantu! (Mat. 14:22-33; Mark. 6:45-52; Yoh. 6:16-21).
Tuhan tahu pergumulan Elia dan Tuhan bertindak! Bayangkan saja malaikat datang dan memberi makanan dan air untuk diminum (ay. 5). Kehadiran malaikat seharusnya sangat menguatkan Elia, namun tidak demikian. Ternyata itu ‘biasa saja’ bagi Elia. Apakah ada makanan dan minuman yang seajaib yang diterima Elia dari Tuhan? (ay. 6-8). Kemunculannya ajaib dan dampaknyapun ajaib, karena setelah memakannya Elia dapat berjalan 40 hari ke gunung Horeb! Tapi itu juga nampaknya tidak menguatkan Elia. Terakhir, Tuhan berfirman dan hadir! Elia masih juga putus asa, nampak dari jawabannya pada Tuhan (ay. 9-18).
Inilah bahaya putus asa. Putus asa menutup mata
dan telinga kita untuk dapat melihat campur tangan Tuhan dalam hidup kita.
Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan anak-anakNya! Ini dapat kita
temukan di sepanjang Alkitab dan kita percayai. Seperti halnya Elia tidak
pernah ditinggalkanNya, Dia juga tidak akan pernah meninggalkan kita. Lihatlah,
jika kita ada sampai hari ini, bukankah karena kekuatan dan kasih Tuhan?
Perhatikan, Tuhan hadir dan berbicara kepada kita lewat firmanNya pada
saat renungan pribadi, di persekutuan-persekutuan atau di gereja.
Bukankah Dia menyapa dan menguatkan kita?
Tuhan
Meneguhkan Kembali Semangat Elia untuk Menunaikan Tugas Panggilan
Karya Tuhan melalui angin besar dan kuat, gempa serta api (ay.11-12) menunjukkan kekuatan kuasa Tuhan Allah yang melampaui kekuatan kuasa para penganiaya. Allah telah mempersiapkan penghukuman bagi para penganiaya pada waktunya melalui tangan Hazael, Yehu dan Elisa (ay. 15-17). Jalan penderitaan memang membuat banyak orang meninggalkan jalan Tuhan, namun jalan itu tidak pernah kehabisan orang karena masih ada 7.000 orang pada saat itu yang setia pada jalan Tuhan (ay. 18). Oleh karena itu Elia sebenarnya tidak perlu gentar menghadapi ancaman dan tak perlu merasa sendiri.
Tuhan memerintahkan Elia “…kembalilah ke
jalanmu…”, untuk meneguhkan
kembali semangat Elia dalam menunaikan tugas panggilannya. Artinya
kembalilah hidup di jalan panggilan itu. Seperti halnya Elia, bagi kita juga ada
kuasa Allah dan kehadiran sesama orang percaya yang memberikan kekuatan,
perlindungan, pemeliharaan dan penghiburan yang meneguhkan kita di jalan
panggilan kita menghadapi berbagai ancaman penderitaan.
Refleksi dan Illustrasi
Pertanyaan Tuhan kepada Elia juga senantiasa diarahkan kepada kita untuk mengajak kita mengevaluasi apakah jalan kita masih di jalan panggilan itu, atau sudahkah menjauhinya karena enggan menderita. Seorang yang ingin hidup setia dalam jalan panggilannya harus rela meninggalkan kenyamanan dan keamanan semu demi panggilannya. Allah berkuasa memelihara hambaNya di dalam berbagai penderitaan karena jalan panggilan itu.
Di sebuah kelas sekolah dasar, seorang guru wanita memperlihatkan secarik kertas bergambar satu titik kecil berwarna hitam kepada murid-muridnya. “Ini apa, anak-anak?” tanyanya. “Titik bu guru...!”, jawab semua murid dengan serempak. “Bukan, ini kertas...!”, kata guru itu. Ilustrasi kecil ini menunjukkan bahwa orang bisa lebih terfokuskan perhatiannya pada satu titik hitam, walaupun hanya berupa titik kecil di banding lembaran besar kertas putih dimana titik hitam itu tergambar.
Di tengah berbagai kesulitan, ketika badai hidup
menerjang, apakah kita merasa sendirian dan hidup ini seolah-olah gelap sama
sekali? Lalu kita menganggap diri kita sebagai orang yang paling malang di
dunia ini. Dalam situasi seperti inilah kita perlu bersaat teduh. Kita fokuskan
pikiran kita kepada kebaikan-kebaikan dan karya-karya Tuhan dalam hidup kita
hingga pada saat ini. Percayalah, kita akan menemukan kenyataan bahwa hidup
kita tidaklah sekelam yang kita duga. “Ruang putih” dalam kertas hidup kita
masih jauh lebih luas di banding satu “titik hitam” beban yang ada di situ.
Comments
Post a Comment