Menguatkan Kepercayaan Kepada Tuhan
Menguatkan Kepercayaan Kepada Tuhan
(1 Sam 30:1-6)
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Ketika Daud serta orang-orangnya
sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb
dan Ziklag; Ziklag telah dikalahkan oleh mereka dan dibakar habis.
2
Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda,
telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorangpun; mereka menggiring
sekaliannya, kemudian meneruskan perjalanannya.
3
Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu
terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan
perempuan telah ditawan.
4
Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan
nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.
5
Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan
Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.
6
Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia
dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya
laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN,
Allahnya. (1 Samuel 39:1-6)
PENDAHULUAN
Setelah letih dalam pelarian dan bersembunyi dari lembah ke lembah, dari gunung batu ke gunung batu, akhirnya Daud pergi kepada Akhis, orang Filistin raja kota Gat, untuk menetap di sana. Daud mendapatkan kepercayaan raja Akhis dan kemudian raja Akhis memberikan Ziklag kepada Daud agar supaya Daud dan orang-orangnya tinggal menetap di sana dan membangunnya sebagai kota permukiman.
Kemudian terjadilah peperangan antara orang Filistin dan orang Israel. Dalam
peperangan yang dahsyat ini, raja Akhis mengajak Daud dan pasukannya untuk turut
berperang melawan Saul. Tetapi keberadaan Daud dalam peperangan tidak disukai para panglima
orang Filistin karena mereka ragu jangan-jangan nanti Daud berubah
pikiran
dan akhirnya berbalik melawan mereka. Raja Akhis dan
panglima-panglimanya rapat dan keputusan diambil, yaitu Daud dan
pasukannya dipulangkan ke Ziklag.
DAUD PULANG KE ZIKLAG
Daud menerima keputusan raja Akhis dan para panglimanya untuk pulang ke Ziklag. Namun tragisnya, sebelum Daud dan pasukannya sampai di Ziklag, orang-orang Amalek menyerbu dan membakar habis Ziklag. Semua harta benda mereka dijarah, istri dan anak-anak diangkut sebagai tawanan. Kejadian ini membuat mereka semua sakit hati, emosi, sangat marah, dan menangis habis-habisan (ay. 4).
Daud
terjepit karena rakyat di sana bermaksud melemparinya dengan
batu (ay. 6). Namun dalam menghadapi
kenyataan yang sangat pahit dan terjepit ini, dimana
rumahnya dibakar, harta bendanya dijarah, keluarganya
semua ditawan, orang
banyak mau merajamnya, ternyata
“Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya” (ay. 6). Daud membangun kepercayaan diri dan menguatkan iman dengan cara berikut ini.
1. Beribadah
kepada Tuhan
Tindakan Daud yang pertama adalah beribadah kepada Tuhan. Daud meminta Imam Abyatar mengambil baju Efodnya untuk ia pakai (ay.7). Baju Efod adalah pakaian Imam untuk beribadah. Ini adalah kebiasaan Daud bila ia menghadapi kemelut, yaitu beribadah kepada Tuhan (Maz. 42:6). Dalam ibadah ia menemukan kekuatan bagi dirinya (Maz. 27:4,5). Beribadah adalah cara terbaik untuk membangun kekuatan diri dan iman.
Orang Kristen mula-mula mengalami berbagai kepahitan, antara lain, harta mereka dirampas, mereka ditangkap dan
dianiya, dan Kisah Para Rasul
menceritakan bahwa
dalam situasi yang terjepit dan sukar, mereka tetap setia dan tekun
berkumpul beribadah bersama-sama. Ibadah menjadi gaya hidup mereka. Kita
dinasehati untuk jangan undur atau lalai beribadah bersama-sama (Ibr. 10:25). Dan Yesus berkata, “…di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di
situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).
Temukanlah kekuatan supranatural dalam Ibadah karena Yesus hadir di dalamnya. Ada
kuasa yang dahsyat dalam ibadah, jangan kita mengabaikannya!
2. Berdoa Kepada Tuhan
Daud berdoa secara khusus (ay.8), dan dalam doanya Daud bertanya kepada Tuhan. Seni bertanya pada Tuhan dalam doa bagi setiap tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kemelut telah pudar dari kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Manusia justru lebih condong mengandalkan kekuatannya, kemampuannya, kecerdasan kalkulasinya dan interaksinya dengan sesama (pebisnis, pejabat, profesional, dsb.) dalam mencari solusi untuk masalah pelik yang dihadapinya.
Tetapi Tuhan berkata semua itu adalah andalan yang
sia-sia (Maz. 33:16,17).
Jauh lebih baik berharap pada Tuhan daripada manusia (Maz. 118:7,8).
Hanya dengan kuasa nama Tuhan kemenangan akan diperoleh (Maz. 118:10-12).
Jika sedang terhimpit oleh berbagai masalah, berdoalah, carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam
Roh (1 Kor. 14:2; Yudas
20). Kita doakan secara
khusus persoalan dan kebutuhan kita. Kita tanyakan Tuhan apa
dan bagaimana tindakan kita. Dengan demikian, kita pasti
mendapatkan kekuatan dan keberanian dan oleh hikmat-Nya kita akan menemukan
solusinya.
3. Membaca Firman Tuhan
Daud berkata: “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku” (Maz. 119:92). “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu” (Maz. 119:98-100).
Firman Allah menyegarkan hati dan jiwa, membangkitkan
semangat dan harapan, dan Daud
menemukan kekuatan dan penghiburan di dalamnya, sehingga imannya tidak melemah dalam
kesulitan, sebaliknya ia memperoleh kemenangan dan berkat yang besar (Maz. 19:8-12).
Keberanian
dan kekuatan untuk mengatasi semua rintangan datangnya dari
Tuhan (Maz. 18:30).
4. Melawan Musuh/Keadaan
Banyak orang menyerah pada “keadaan”. Mereka menjadi letih, lemah dan frustrasi. Mereka kehilangan kekuatan, kepercayaan diri dan iman. Daud mengajarkan kepada kita bagaimana membangun kekuatan, kepercayaan diri dan iman di tengah-tengah himpitan masalah. Ia melawan kepahitan, kesedihan dan kekecewaan dalam dirinya.
Daud berkata pada
dirinya: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?
Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku
dan Allahku!” (Maz.
42:6).
Dengan lebih tegas lagi, Daud berkata, “… hai jiwaku!
Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku,
dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala
kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari
lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang
memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti
pada burung rajawali” (Maz. 103:1-5).
REFLEKSI
Di tengah kondisi dunia yang semakin sulit dewasa ini, kita perlu
bersikap seperti Daud, yaitu
membangun kepercayaan diri, kekuatan diri dan iman pada Tuhan.
Sakit hati, menangis, emosi
dan marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah. Daud menemukan
kekuatan, kepercayaan diri dan keberanian melalui ibadah, doa dan janji Tuhan
(Firman Allah). Lalu ia bangkit
mengejar
dan melawan musuhnya, dan meraih
kemenangan dan berkat yang sangat besar. Mari kita juga terus-menerus memperkuat kepercayaan kepada
Tuhan. Ketika masalah datang silih berganti, hendaknya iman kita jangan
melemah. Sebaliknya, kita justru diajak untuk kian teguh percaya bahwa Tuhan
akan menyediakan kebutuhan dalam menjalani pergumulan. Tidak pernah ada satu
perkara yang Tuhan izinkan terjadi tanpa maksud baik Tuhan. Kejadian-kejadian
buruk sekalipun dapat menjadi alat Tuhan untuk membawa kita kembali kepada Dia.
Sebab itu, peliharalah sikap bersandar penuh kepada Tuhan. Jangan mengandalkan
pikiran sendiri. Taati penuh firman Tuhan dan yakini total pertolongan-Nya.
Biarlah anugerah Tuhan menolong kita agar kita tetap percaya kepada-Nya.
Comments
Post a Comment