Hanya Ada 2 Jalan
HANYA ADA DUA JALAN
Matius 7:13-14
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
13 Masuklah melalui
pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju
kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
14 karena sesaklah
pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang
mendapatinya.
(Lukas 7:13-14)
PENDAHULUAN
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Kesegambaran dan keserupaan manusia dengan Allah inilah yang menjadikan manusia memiliki sebagian sifat dan kualitas ilahi. Salah satu di antaranya adalah kehendak bebas (free will). Manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih yang benar atau yang salah, untuk bersandar kepada Tuhan atau mengandalkan Mammon, untuk memuliakan Tuhan atau berkompromi dengan dunia, dan lain sebagainya.
Berbicara tentang pilihan, manusia pada dasarnya suka memilih sesuatu yang nyaman dan menyenangkan. Manusia, misalnya, suka memilih barang yang berkualitas dengan harga yang murah, gigih meraih kemenangan dengan mengabaikan kebenaran, dan lain sebagainya. Bahkan dalam hal kerohanian, banyak orang bingung untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Kebingungan ini terjadi karena begitu banyaknya ajaran yang mereka dengar dan beraneka ragamnya penghalang yang ada di depan mata.
Yesus mengajarkan dalam nas ini bahwa hanya ada dua jalan yang berbeda dimana manusia itu harus memilih salah satunya. Kedua jalan itu berbeda dalam hal ukuran dan berbeda pula arah dan tujuan yang akan dicapai. Setiap manusia yang ada di dunia ini diberi/memiliki kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh.
2 PINTU DAN 2 JALAN
Nas ini mengatakan ‘pintu dan jalan’ bukan ‘pintu atau jalan’, yang berarti setelah masuk melalui pintu barulah dilanjutkan dengan berjalan. Pintu hanya dilewati sesaat saja, sedangkan jalan dilalui untuk jangka waktu yang cukup lama. Pintu bisa diartikan sebagai sikap kita terhadap Kristus (tindakan sesaat saja), sedangkan jalan diartikan sebagai seluruh hidup kita selama di dunia ini.
Yesus hanya memberikan dua pilihan, yaitu (1) pintu lebar ® jalan lebar ® kebinasaan (neraka) atau (2) pintu sempit ® jalan sempit ® kehidupan (surga). Tidak sedikit orang yang menginginkan jalan yang ke-3, yaitu ‘jalan yang cukupan’ yang berarti tidak begitu lebar dan tidak begitu sempit. Didorong oleh keinginan seperti ini jadinya mereka hidup berkompromi dengan dunia.
Pintu Lebar ® Jalan Lebar ® Kebinasaan (Neraka)
Mengapa dikatakan lebar? Karena di jalan ini ada kebebasan yang buta bagi manusia yang menempuhnya. Bahkan lebarnya tanpa batas karena orang bebas berbuat semaunya tanpa kendali, tanpa peraturan dan tanpa hukum yang mengikat, tidak ada gangguan, mudah untuk ditempuh kapan saja dan dalam kondisi apa saja.
Dunia sekarang ini menyediakan akses bagi siapa saja yang mau berjalan di jalan yang lebar. Bila seseorang berada di jalan yang lebar, maka ia akan berbuat sesukanya sebab tidak ada aturan yang membatasi. Jalan lebar membuat manusia tidak peduli akan hukum Tuhan, tidak menghargai aturan yang ada, dan malah menciptakan peraturan semaunya sendiri.
Jalan yang lebar bagi orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13-21)
adalah memperbesar lumbung serta makan-minum dan bersenang-senang. Jalan yang
lebar bagi Yudas Iskariot adalah menjual Guru dan Tuhannya, Yesus Kristus,
dengan 30 keping uang perak (Mat. 26:14-16; Mark. 14:10-11; Luk. 22:3-6). Jalan
yang lebar bagi Ananias dan Safira adalah mendustai Roh Kudus dan menahan
sebagian dari hasil penjualan tanahnya (Kis. 5:1-10).
Pintu Sempit ® Jalan Sempit ®
Kehidupan (Surga)
Mengapa dikatakan sempit? Karena jalan ini menggambarkan betapa sukarnya ditempuh untuk menuju surga. Berjalan di jalan sempit kita alami selama kita hidup di dunia ini. Jalan ini sempit karena sewaktu melaluinya kita orang percaya banyak mengalami godaan, cobaan, aniaya, kesukaran, penderitaan, dan mesti bersabar dan berkorban selama melewatinya (Roma 8:17; Fil. 1:29).
Orang Yahudi yang mendengar
pengajaran Yesus ini sangat mengerti apa yang dimaksud dengan jalan yang
sempit. Karena letak geografisnya, daerah Palestina tidak jarang dilanda badai
pasir yang sangat ganas dan panas yang datang dari Gurun Pasir Arab di Timur
atau badai hujan yang sangat lebat dan dingin yang datang dari Laut Tengah di
Barat. Menurut letak geopolitiknya, daerah Palestina sering menjadi medan
pertempuran antara Mesir di Barat melawan Babel di Timur, antara Yunani di
Utara melawan Media Persia di Selatan atau antara Yunani melawan Romawi yang
menjajah bangsa Yahudi. Untuk menghindar dari serangan cuaca ekstrim atau
pertempuran yang sedang berkecamuk, orang-orang Yahudi melarikan diri melewati gua-gua sempit, licin
dan berbatu tajam yang ada di kaki gunung-gunung batu. Kondisi ini menyulitkan
mereka untuk membawa banyak bekal atau harta mereka, yang dapat mereka
selamatkan hanyalah diri mereka sendiri. Namun hal ini membuat mereka selamat.
2 KELOMPOK MANUSIA: BANYAK DAN SEDIKIT
Kecenderungan manusia adalah memilih yang gampang, melakukan dosa dan mengikuti orang banyak. Pilihan yang sesuai dengan kecenderungan ini adalah pintu yang lebar dan jalan yang luas tanpa mempedulikan arah dan tujuan akhir dari jalan yang mereka tempuh. Dan banyak orang yang memilih jalan yang gampang ini.
Sebaliknya, sedikit orang yang lewat melalui pintu sempit dan jalan yang sempit, karena ada perjuangan untuk melintasinya dan banyak cobaan serta godaan yang serius di dalamnya. Terkadang butuh waktu yang lama serta kesabaran yang besar dalam menempuhnya. Dari 600.000 jiwa lebih orang Israel yang berangkat dari Mesir hanya dua di antaranya yang selamat sampai ke tanah perjanjian, yaitu Yosua dan Kaleb. Dari begitu banyaknya jumlah manusia di zaman Nuh, hanya 8 orang yang selamat. Mayoritas bukanlah jaminan bahwa itu adalah benar, sebab Allah akan tetap berpihak kepada orang-orang benar sekalipun jumlahnya sedikit.
Jumlah orang yang memilih pintu
yang sempit dan jalan yang sempit disebut ‘sedikit’ dalam ayat 14 maksudnya
adalah bila dibandingkan dengan jumlah manusia yang memilih pintu yang lebar
dan jalan yang luas dalam ayat 13. Namun sesungguhnya ‘tak terhitung banyaknya’
orang yang masuk surga sebagaimana diinyatakan dalam Wahyu 7:9.
2 TUJUAN: KEHIDUPAN (SURGA) DAN KEBINASAAN (NERAKA)
Setelah memilih dari antara dua pintu dan dua jalan, perjalanan hidup manusia akan sampai di tujuan akhir dari masing-masing jalan yang dipilihnya. Tujuan akhir dari jalan yang sempit adalah kehidupan (surga), sedangkan tujuan akhir dari jalan yang luas adalah kebinasaan (neraka). Tidak ada tempat yang ke-3 (tempat penantian, api penyucian, dan sebagainya) yang kita tahu dengan jelas dari kasus Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 16:19-31.
Bagi kita yang mau ikut untuk
berjalan di jalan yang sempit, Yesus menyatakan dengan tegas tujuan akhir yang
akan kita capai adalah kehidupan/surga (bdk. Roma 8:18; 2 Kor. 4:17). Paulus
berlari-lari untuk mengejar hadiah panggilan surgawi (Fil. 3:14) dan dengan
yakin dia akan mendapatkannya (2 Tim. 4:7-8). Jika kita setia sampai mati di
jalan yang sempit ini maka kita akan memperoleh mahkota kehidupan (Wah. 2:10).
REFLEKSI
Kita harus memilih salah satu dari
kedua jalan yang disebutkan Yesus dalam nas ini, yakni jalan yang sempit atau
jalan yang lebar. Kita tidak dapat menghindari kedua jalan tersebut dan kita
juga tidak bisa melintasi kedua-duanya sekalihus hanya boleh salah satunya. Kita sendirilah yang menentukan pilihan kita
dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun juga.
Comments
Post a Comment