Menghadapi Kemustahilan

MENGHADAPI KEMUSTAHILAN

Keluaran 14:9-14

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon.

10 Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN,

11 dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?

12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.”

13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

 

 

 

PERJALANAN YANG MENAKUTKAN

Meninggalkan tempat perbudakan adalah impian dari, dan hal yang sangat diinginkan oleh, bangsa Israel sewaktu mereka masih berada di Mesir. Dan sekarang (dalam nas ini) itulah yang sedang mereka alami dalam perjalanan meninggalkan Mesir menuju ke tempat yang akan disiapkan Tuhan bagi mereka. Akan tetapi, mereka sungguh sangat terkejut ketika mereka menoleh kebelakang ternyata pasukan Firaun dengan kekuatan yang sangat besar sedang mengejar mereka.

Merekapun sadar dengan kemampuan mereka yang serba terbatas dan jelas tidak memiliki kekuatan yang dapat melawan Firaun dan pasukannya. Kalaupun mereka harus berlari, kemampuan mereka tidak akan sanggup dibandingkan dengan lajunya kuda-kuda Firaun. Bahkan meskipun mereka sanggup berlari, mau lari ke mana? Di kiri dan kanan mereka berdiri kokoh gunung-gunung batu dan hamparan padang gurun yang begitu luas. Di depan mereka terbentang Laut Teberau.

 

MENGHADAPI KEMUSTAHILAN

Yang ada di dalam pikiran bangsa Israel tiada lain adalah mereka pasti akan mati. Mati di laut lepas atau mati ditangan pasukan Firaun. Dalam situasi seperti itulah Allah ingin melihat seperti apa sikap umat Israel ketika menghadapi kesulitan dalam perjalanan hidup mereka. Dari nas ini (ay. 11-12) tampak dengan sangat jelas bahwa mereka bukannya berserah kepada Tuhan dalam doa tetapi justru mereka bersungut-sungut dan, lebih parahnya lagi, menyalahkan Musa yang telah memimpin mereka meninggalkan Mesir.

Dengan kata lain, mereka menghadapi kemustahilan! Menurut pemikiran mereka, mereka mustahil bisa selamat melewati situasi mahakritis yang nyata-nyata ada di depan mata mereka. Mustahil ada jalan keluar bagi mereka yang saat itu sungguh tidak ada jalan bagi mereka untuk selamat. Mereka benar-benar melupakan Dia Sang Pembuka Jalan saat tidak ada jalan. Mereka lupa bahwa yang sangat tidak mungkin sungguh sangat mungkin di tangan Allah yang menyertai mereka sampai sejauh ini.

Untuk situasi yang sangat genting dan menyesakkan seperti ini, ahli Managemen Risiko zaman modern mungkin akan menawarkan solusi berikut:

1.      Mengangkat tinggi-tinggi panji putih tanda menyerah sebelum musuh menewaskan semuanya.

2.      Memanfaatkan waktu yang ada dengan cepat-cepat memobilisasi para anggota yang sanggup berperang untuk menyerang balik musuh.

3.      Memperlambat penaklukan dengan bersembunyi di gunung-gunung batu yang ada di padang gurun itu.

 

SOLUSI (SENJATA) UNTUK MENGATASI KEMUSTAHILAN

Apakah memang tidak ada jalan keluar bagi bangsa Israel saat mereka menghadapi kemustahilan ini? Betulkah Allah tidak mempedulikan dan memelihara mereka manakala mereka menghadapi jalan buntu? Apakah Allah tidak mau membuka jalan saat jelas-jelas tidak ada jalan bagi mereka?

Apa yang kita simak dari nas ini sungguh sangat bertolak belakang dengan segala asumsi dan prakiraan logis mereka tentang keselamatan mereka. Allah tidak mau membiarkan bangsa pilihan-Nya mati konyol di tangan pasukan Firaun atau tenggelam sia-sia di bentangan luas Laut Merah yang terhampar di depan mereka. Sungguh, Allah melalui Musa menawarkan jalan keluar yang amat sangat berbeda dari sudut pandang manusia. Musa berkata kepada bangsa Israel, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN,… TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (ay. 13-14)

Solusi atau Formula yang disampaikan Allah melalui Musa dalam menghadapi kemustahilan ada tiga: 1) Jangan Takut  (Tidak perlu menyerah); 2) Berdirilah Tetap (Tidak perlu menyerang balik); dan 3) Lihatlah Keselamatan dari Tuhan (Tidak perlu bersembunyi).

Dalam menghadapi situasi jalan buntu atau kemustahilan dalam hidup, kita sebagai orang-orang percaya kiranya perlu memperhatikan ketiga hal berikut ini sesuai dengan nas kita (ay. 13):

1.      Kita tidak bisa mengatasi ketakutan kecuali kita menumpahkan masalahnya  kepada Allah dalam doa.

2.      Kita tidak bisa berdiri tetap dan damai sejahtera kecuali kita belajar mempercayakan segala sesuatu kepada kuasa Allah.

3.      Kita tidak dapat melihat keselamatan dari Tuhan kecuali kita membenamkan diri dan larut dalam pujian dan ibadah.

Inilah tiga hal penting yang harus diimani bangsa Israel sehingga mereka dapat melakukan apa yang diperintahkan Musa kepada mereka. Sungguh, umat Tuhan membutuhkan ketiga senjata penting ini untuk menghadapi dan mengatasi kemustahilan yang menimpa mereka. Ketiga senjata dimaksud tiada lain adalah: Doa - Kuasa Allah - Pujian dan Ibadah

Jadi, ketika situasi kemustahilan melanda bangsa pilihan Allah, Musa mau menyatakan hal-hal spesifik berikut untuk dilakukan: 1) Jangan panik tetapi bawalah masalahmu kepada Allah dalam doa (“Janganlah takut”); 2) Jangan selesaikan sendiri masalahmu tetapi percayalah pada kuasa Allah (“Berdirilah tetap”); dan 3) Jangan mengeluh tetapi lihatlah kemenangan melalui pujian dan ibadah (“Lihatlah keselamatan dari Tuhan”).

Berdoa, percaya kepada kuasa Allah, memuji dan beribadah kepada-Nya, memang sangatlah mudah untuk dilakukan. Tetapi apakah ketiga hal ini terbukti berhasil mengatasi situasi paling pelik dalam kehidupan manusia? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat bagaimana keampuhan ketiga senjata ini dalam test kehidupan nyata. Sebagai test-case mari kita gunakan bahaya yang dihadapi bangsa Israel selama masa pemerintahan Yosafat (2 Taw. 20:1-27).

 

BUKTI KEAMPUHAN KETIGA SENJATA YANG DISERUKAN MUSA

Bahaya Nasional

Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi” (2 Taw. 20:1-2).

Dalam teks Alkitab di atas, lagi-lagi kita mendapati bangsa Israel terancam bahaya nasional. Mereka benar-benar menghadapi tiga kelompok atau bangsa yang berbeda, yaitu bangsa Moab, Amon dan Meunim. Berikut ini akan kita lihat apakah ketiga Senjata yang disebutkan di atas akan berhasil bagi mereka.

 

Menghadapi Kemustahilan: Mereka Menggunakan Senjata Doa

Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru dan berkata: “Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, … kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka (2 Taw. 20:3-13).

 

Menghadapi Kemustahilan: Mereka Tetap Berdiri dan Percaya pada Kuasa Allah

Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem … tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu” (2 Taw. 20:14-17).

 

Menghadapi Kemustahilan: Mereka Memuji dan Beribadah kepada Allah

Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem pun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya … Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (2 Taw. 20:18-21).

 

Lembah Pujian: Hasil dari Doa, Kuasa Allah dan Pujian

Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat TUHANlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh …  Pada hari keempat mereka berkumpul di Lembah Pujian. Di sanalah mereka memuji TUHAN, … Mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita, karena TUHAN telah membuat mereka bersukacita karena kekalahan musuh mereka (2 Taw. 20:22-27).

Setelah membaca dan memperhatikan apa yang tertulis dalam 2 Tawarikh 20:1-27 ini, dapat kita simpulkan dengan pasti bahwa ketiga senjata yang pernah berhasil di zaman Musa juga berhasil digunakan bangsa Israel di zaman Yosafat dalam menghadapi kemustahilan.

 

REFLEKSI

Pernahkah kita menghadapi pergumulan dimana kita merasa bahwa kita tidak dapat lagi berbuat apa-apa, dimana kita merasa bahwa sudah tidak ada jalan lagi? Segala cara telah diupayakan, semua usaha telah dilakukan, seluruh tenaga dan pikiran sudah dicurahkan tetapi hasilnya nihil. Setiap jalan sudah tertutup atau buntu, dan seakan tidak ada jalan. Menghadapi hal demikian apa yang kita pikirkan dan lakukan?

Dalam menghadapi hal sedemikian tidak jarang orang cenderung kecewa, stress, putus asa, menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi, berpikir apakah Tuhan itu ada atau tidak, apakah Tuhan mengasihi atau tidak, dan/atau berdoa sudah malas, beribadah juga malas. Dengan membaca dan sungguh-sungguh merenungkan 2 Tawarikh 20:1-27, semua itu tidak perlu terjadi. Percayalah, dengan ketiga senjata yang disampaikan Musa, Allah pasti membuka jalan saat tidak ada jalan!

Jadi apabila suatu saat dalam hidup ini kita dihadapkan pada kemustahilan, sekarang kita tahu apa yang harus kita lakukan, yaitu:

1.      Jangan panik tetapi bawalah masalahnya kepada Tuhan dalam doa (“Janganlah takut”). Ketakutan membuat kita lumpuh dan karenanya potensi kita malah hilang. Ketakutan membuat kita panik, lalu berbuat nekad. Ketakutan membuat kita kehilangan kasih, akibatnya kita menjadi self-centered dan melupakan orang-orang di sekitar kita. Untuk itu sadarilah bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini; bahwa hidup kita ini milik Tuhan (Roma 14:8). Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dengan berserah, menyerahkan segala permasalahan hidup kepada Tuhan (Maz. 37:5; 55:23).

2.      Jangan selesaikan sendiri masalah tetapi percayalah pada kuasa Allah (“Tetaplah berdiri”). Berdiri tetap sama artinya dengan tegar, teguh dalam iman dan prinsip kepada Tuhan. Imanlah yang memungkinkan kita meyakini segala rancangan Tuhan dalam hidup kita dan memampukan kita mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4). Ketika masalah datang bertubi-tubi, jangan jatuh pada tawaran duniawi; justru kita harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan percaya kepada kuasa-Nya.

3.      Jangan mengeluh tetapi lihatlah kemenangan melalui pujian dan ibadah (“Lihatlah keselamatan dari Tuhan”). Ubah fokus! Jangan lagi terpusat pada diri sendiri atau pada permasalahan yang dihadapi, tetapi pada Tuhan sang Pemberi Kehidupan (Fil. 4:13). Dalam memuji dan menyembah Tuhan, hati dan pikiran kita hanya tertuju kepada-Nya. Melalui pujian dan ibadah, roh dan jiwa kita akan bersekutu dengan Dia yang memberi kemenangan dan keselamatan.

Yang pasti, Allah memberi jaminan kepada kita: “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer. 32:27). “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Luk. 18:27). “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37).

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan