Tuhan, Ajarlah Kami Berdoa
TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA!
Lukas 11:1
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
“Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di
salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari
murid-murid-Nya kepada-Nya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang
diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya’.” (Luk. 11:1)
PENDAHULUAN
Doa adalah praktik hidup orang Kristen yang terpenting, yang menerjemahkan kasih dalam tindakan nyata. Doa mengungkapkan ketidakberdayaan kita dan kebergantungan kita kepada Tuhan. Akan tetapi kalau mau jujur, doa kita masih sering sangat individual. Dalam doa, kita lebih memperhatikan kebutuhan kita ketimbang menjaga keseimbangan relasi kita dengan diri kita, dengan Tuhan dan dengan sesama. Kita lebih banyak menampilkan diri lebih sebagai pengemis dalam doa ketimbang sebagai orang yang senantiasa bersyukur atas semua pengalaman hidup yang kita alami.
Kita pasti pernah berdoa meminta kesembuhan, keberhasilan
atau keberuntungan. Namun, pernahkah kita berdoa memohon “Tuhan, ajarlah kami berdoa?” Kemungkinan besar belum? Lalu mengapa
dalam nas ini para murid minta agar Yesus mengajar mereka berdoa? Apakah ini karena
mereka belum pernah berdoa, atau karena mereka belum bisa berdoa? Tentu tidak.
BERDOA BAGI ORANG
YAHUDI
Bagi orang Yahudi, berdoa sama seperti makan, minum, mandi, tidur, yaitu bagian dari rutinitas hidup sehari-hari. Itu mereka lakukan dengan sangat fasihnya, sebab sudah terlatih sejak dini. Ada adagium terkenal yang berbunyi, ‘Begitu anak-anak Yahudi mulai bisa berbicara, mereka telah bisa berdoa’. Bahkan sewaktu akan menarik napas penghabisanpun, kata-kata terakhir mereka adalah sebuah doa. Yesus sendiri tak lupa mengucapkannya di kayu salib, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).
Dalam tradisi Yahudi, dikenal apa yang disebut dengan doa bebas dan doa khusus. Mereka bebas mengatakan apa saja dalam doa bebas, dan juga bebas untuk tidak mengatakan apa-apa alias berdoa dalam diam. Doa khusus dengan rumusan-rumusan khusus harus mereka hafalkan dan ucapkan pada kesempatan-kesempatan khusus. Setiap rabi mengajarkan formulanya sendiri yang berbeda antara rabi yang satu dengan rabi lainnya. Rumusan doa dari rabi yang satu dianggap lebih ampuh ketimbang rumusan rabi lainnya.
Mungkin karena alasan inilah salah seorang murid meminta,
“Tuhan, ajarlah kami berdoa”. Sebuah
permintaan yang sederhana bahkan hampir-hampir naif. Para murid pasti bukan
tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Mereka telah mengetahuinya dan mempraktekkannya
sejak masa balita mereka. Jadi, yang mau disampaikan murid tersebut dengan
permintaannya adalah ‘sudah benarkah doa kami selama ini?’.
PERMINTAAN ORANG
YANG PERCAYA AKAN KEGUNAAN DOA
Permintaan “Tuhan, ajarlah kami berdoa” menunjukkan bahwa para murid percaya akan kegunaan atau faedah doa, dan karena itulah mereka ingin belajar berdoa. Mungkin banyak dari antara orang Kristen yang tidak lagi merasa ada kebutuhan untuk memohon “Tuhan, ajarlah kami berdoa”. Mereka merasa sudah sangat fasih berdoa bahkan bisa merangkai untaian kata-kata dalam doa sedemikian rupa sehingga tampak seperti puisi yang sangat indah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, ada orang yang mengaku Kristen menyatakan bahwa berdoa yang sungguh-sungguh adalah dengan berbahasa roh. Anehnya, baik yang berdoa maupun orang-orang yang mendengarnya tidak mengerti sama sekali apa yang disampaikan dalam doa tersebut.
Para murid meminta untuk diajar berdoa karena memang mereka
yakin akan kegunaan doa yang disampaikan dengan cara yang benar. Tetapi ada
saja orang yang merasa tidak ada manfaat doa. Di dalam hati mereka berkata, ‘Doa
tidak mengubah apa-apa dan tidak menolong apa-apa, hanya tindakan nyata dan
kerja keraslah yang bisa’. Orang-orang seperti ini tidak sadar bahwa mereka
yang tidak mempercayai faedah doa adalah orang yang sangat malang. Mengapa? Doa
memberi kemungkinan kepada mereka untuk melampaui keterbatasan alamiah mereka,
yaitu dengan memanfaatkan kuasa Allah. Rasul Paulus menegaskan ini dalam Efesus
3:20, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan
jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang
ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita”.
KITA PERLU TERUS
MENERUS BELAJAR DAN DIAJAR BERDOA
Permohonan “Tuhan, ajarlah kami berdoa” menyiratkan pengakuan bahwa setiap orang perlu terus menerus belajar dan diajar berdoa, yakni belajar bagaimana berdoa dengan benar. Berdoa itu seperti berbicara. Berbicara itu memang mudah, tetapi untuk dapat berbicara dengan benar, apalagi untuk berbicara dengan baik, orang harus belajar terus menerus seumur hidup. Tidak ada orang yang begitu lahir langsung menjadi orator. Belajar dan diajar berdoa perlu agar kita tidak salah memahami doa.
Di satu sisi, ada orang-orang yang begitu yakin akan
kuasa doa sehingga doa menjadi satu-satunya dan segala-galanya. ‘Berdoa saja,
nanti semuanya akan dibereskan oleh Tuhan’, begitu pemikiran mereka. Seakan-akan
Tuhan itu adalah pembantu mereka yang membereskan apa saja yang diminta untuk
dilakukannya. Di sisi lain, banyak orang yang skeptis dan memandang rendah doa.
Memang mereka tidak menolak doa, namun menurut mereka doa hanya cocok untuk
orang yang sudah kepepet, tidak berdaya, tersudut di jalan buntu dan putus asa.
Prinsip mereka adalah, ‘Selama masih ada yang bisa dilakukan, pakailah otot dan
otak, setelah segala upaya mentok, bolehlah coba-coba berdoa, siapa tahu ada
gunanya’. Yesus pernah menghardik seorang ayah yang datang meminta
pertolongan-Nya untuk menyembuhkan anak laki-lakinya yang kerasukan roh jahat.
Yesus berkata, “Katamu: jika Engkau
dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Mark. 9:20-23).
REFLEKSI
Kita murid-murid Kristus juga perlu memohon “Tuhan, ajarlah kami berdoa” kepada Tuhan karena kita perlu terus menerus belajar dan diajar berdoa. Kita menyampaikan permintaan ini karena kita tahu kegunaan atau faedah doa bila disampaikan dengan cara yang benar (Ef. 3:20), dan juga kita tahu betapa besarnya kuasa doa yang dapat mengatasi kemustahilan bagi orang percaya (Mark. 9:23).
Berdoa adalah bagi orang yang percaya. Berdoa bukanlah
bagi orang yang setengah yakin yang berprinsip, ‘Coba saja berdoa, siapa tahu
ada manfaatnya’. Berdoa juga bukanlah bagi orang yang tidak yakin dengan
pemikiran, ‘Kalau doaku terkabul, aku akan percaya’, yang berarti mesti bukti
terlebih dahulu. Sebaliknya, berdoa bukan pula bagi orang yang terlalu yakin,
tetapi dengan keyakinan yang salah. Prinsip orang yang seperti ini adalah, ‘Anda
pasti berhasil karena telah saya doakan. Kalau tidak berhasil juga, itu
tandanya anda kurang berdoa’.
Ayat Renungan:
“Ia membuat segala
sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal
sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).
Comments
Post a Comment