Disaat Kita Mengangkat Tangan, Tuhan Turun Tangan
DISAAT KITA MENGANGKAT TANGAN,
TUHAN TURUN TANGAN
Keluaran 17:8-15
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
Lalu
datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. Musa
berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang
melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang
tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa
kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah
naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih
kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka
penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di
bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah
tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga
tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua
mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. Kemudian berfirmanlah
TUHAN kepada Musa: Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda
peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama
sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” Lalu Musa mendirikan sebuah
mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!”
(Kel.
17:8-15)
PENDAHULUAN
Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir oleh Tuhan dengan tangan-Nya yang kuat menuju negeri perjanjian (tanah Kanaan) yang berlimpah-limpah susu dan madu (Kel. 3:8). Akan tetapi, begitu keluar dari Mesir mereka langsung dihadapkan pada tantangan berat menyeberangi Laut Teberau dibawah kejaran pasukan berkuda Firaun (Kel. 14:23-27). Setelah rintangan pertama ini berhasil mereka lalui atas pertolongan Tuhan, berbagai persoalan dan/atau rintangan, internal maupun eksternal, terus dialami bangsa Israel selama perjalanan mereka di padang gurun.
Persoalan internal antara lain mereka harus berpindah-pindah dari satu tempat persinggahan ke tempat persinggahan lainnya, dan juga perihal kebutuhan pokok sehari-hari (makanan dan minuman) tidak jarang menjadi masalah bagi mereka. Sedangkan rintangan eksternal adalah mereka harus menghadapi serangan bangsa-bangsa lain yang menyerang mereka selama di perjalanan menuju tanah perjanjian, seperti serangan orang-orang Amalek yang diceritakan dalam nas ini.
Amalek
adalah anak Elifas dari gundiknya, Timna, dan Elifas adalah anak dari Esau
(Kej. 36:12). Kita tahu Esau pernah menjual hak kesulungannya kepada adiknya,
Yakub (nenek moyang bangsa Israel), hanya demi semangkuk masakan kacang merah
(Kej. 25:34). Orang-orang Amalek (keturunan Amalek) ini terkenal dengan sifatnya yang jahat,
bengis, suka menindas dan suka berperang (1 Sam. 15:18,33; Hak. 10:12). Nas ini
memaparkan bagaimana bangsa Israel menang dalam perang melawan orang-orang
Amalek. Apa sebenarnya rahasia kemenangan Israel atas Amalek yang sangat perlu
untuk kita ketahui dan teladani? Dalam perang menghadapi Amalek, ternyata
Israel yang dipimpin oleh Musa melakukan ke lima hal penting berikut.
KEHIDUPAN YANG
SIAP PERANG
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, bangsa Israel beristirahat dan berkemah di Rafidim. Namun di saat mereka beristirahat itulah orang-orang Amalek datang menyerang mereka (ay. 8). Lalu Musa menyuruh Yosua mengumpulkan orang-orang yang siap untuk dibawa berperang melawan orang-orang Amalek, dan Musa akan berdiri di puncak bukit dengan memegang tongkat Allah di tangannya (ay. 9). Ini berarti bangsa Israel tidak mau diam saja, mereka bersiap untuk berperang melawan penyerang.
Di Rafidim yang disebutkan dalam nas inilah terjadi pertempuran pertama antara bangsa Israel dengan orang-orang Amalek. Menurut para penafsir, kemungkinan orang Amalek ini menutup mata air-mata air yang ada di Rafidim supaya pasukan Israel menjadi tidak berdaya dan mudah untuk dikalahkan. Namun Tuhan menolong mereka dengan cara yang ajaib, yaitu dengan mengeluarkan air dari gunung batu di Horeb (Kel. 17:6). Untuk memperoleh kemenangan dalam perang itu, Musa berdoa dengan membawa tongkatnya sebagai lambang penyertaan Tuhan karena ia tahu hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kemenangan.
Perlu kita renungkan bahwa saat kita berada di zona nyaman dimana semua berjalan mulus, kita terlena dan lupa untuk berjaga-jaga/bergumul dan berdoa. Namun di saat seperti itulah kita menjadi lengah sehingga musuh datang untuk menyerang seperti yang pernah dialami Daud. Saat pasukan Daud dan raja-raja lain maju berperang, Daud beristirahat dan berjalan-jalan di atas sotoh istana yang berakibat dia jatuh dalam perzinahan karena mengambil Betsyeba, isteri Uria, menjadi isterinya setelah membunuh Uria dengan memakai tangan orang lain (2 Sam. 11:1-4, 27).
Oleh
karena itu, bila kita tidak ingin jatuh ke dalam dosa, kita harus selalu siap
berperang dan tetap berjaga-jaga karena “…si
Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang
yang dapat ditelannya” (1 Ptr. 5:8). Kemudian kita maju berperang di bawah
komando langsung dari Tuhan, yaitu Firman Allah, seperti Musa yang berdiri di
puncak bukit memegang tongkat Allah (ay. 9).
BERSERAH
SEPENUHNYA KEPADA TUHAN
Dalam hukum perang, orang yang mengangkat tangan di hadapan musuh menunjukkan tanda menyerah. Dalam nas ini Musa yang mengangkat kedua tangannya sambil memegang tongkat Allah (ay. 11) menunjukkan bahwa ia dan bangsa Israel merasa tidak mampu menghadapi orang Amalek. Tindakan Musa ini bukan berarti bahwa ia dan bangsa Israel yang dipimpinnya menyerah begitu saja, melainkan berserah kepada Tuhan lalu Tuhanlah yang ganti berperang melawan orang Amalek.
Bukti
kehidupan yang berserah sepenuhnya kepada Tuhan adalah “bila kita mengangkat tangan,
Tuhan akan turun tangan”. Mengangkat tangan juga berarti berada di pihak Allah.
Kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Roma 8:31). Kenyataannya,
kita sering kalah dalam perang menghadapi masalah kehidupan sebab kita
menghadapinya dengan kekuatan dan kemampuan sendiri tanpa melibatkan Tuhan.
Itulah sebabnya Rasul Paulus menasehatkan agar “orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah
dan tanpa perselisihan” (1 Tim. 2:8).
KERJASAMA (MUSA,
HARUN DAN HUR)
Musa sebagai pemimpin bangsa Israel adalah manusia biasa yang bisa merasa lelah (ay. 11) apalagi menghadapi peperangan besar seperti dalam nas ini. Untuk itulah ia perlu ditopang oleh Harun dan Hur dalam kesatuan kerjasama dengan masing-masing menempati posisi yang berbeda, Harun dan Hur menopang kedua belah tangan Musa, seorang di sisi yang satu dan seorang di sisi lainnya (ay. 12). Musa sendiri duduk di atas batu sehingga posisinya menjadi kukuh. Batu merupakan landasan kuat dan tidak mudah tergoyahkan, yang menunjuk kepada pribadi Kristus sendiri (1 Ptr. 2:4). Dengan kerjasama ini tangan Musa tidak bergerak sampai matahari terbenam dan dampaknya adalah Yosua dan pasukannya menang dalam perang melawan orang Amalek atas penyertaan Tuhan.
Demikianlah tugas pekerjaan besar hanya akan berhasil bila dilakukan bersama-sama dalam kesatuan, “sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1 Kor. 12:12). Tubuh akan terlihat indah kalau masing-masing anggota menempati posisinya dengan benar. Kita sebagai anggota Tubuh Kristus harus menempati posisi yang sudah Tuhan tetapkan tanpa perlu iri hati atau mengingini kedudukan orang lain.
MENGGUNAKAN MATA
PEDANG YANG ADALAH FIRMAN ALLAH
Yosua bersama pasukannya berhasil mengalahkan bangsa Amalek dengan menggunakan mata pedang (ay. 13). Pedang menggambarkan Firman Allah yang hidup dan kuat serta lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun (Ibr. 4:12) yang kita gunakan untuk mengalahkan sifat Amalek/kedagingan yang begitu jahat dalam kehidupan kita. Firman Allah, Pribadi Allah sendiri, berkuasa menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16).
Yesus
sendiri menggunakan Pedang, yaitu Firman Allah, dalam mengatasi pencobaan Iblis
di padang gurun (Mat. 4:1-11; Mark. 1:12-13; Luk. 4:1-13). Tiga kali Iblis
mencobai Yesus dan ketiga-tiganya dipatahkan-Nya dengan menggunakan Firman
Allah yang tampak jelas dari jawaban Yesus, “Ada tertulis…”. Ini jugalah yang menjadi teladan bagi kita
orang-orang percaya. Agar supaya dapat bertahan dan menang dalam perang melawan
tipu muslihat Iblis, kita haruslah menggunakan Firman Allah dengan seluruh
perlengkapan senjata Allah yang ada di dalamnya (Ef. 6:10-18).
MENGUCAP SYUKUR
Sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan yang memampukan Musa dan bangsa Israel mengalahkan orang Amalek dan menghapus ingatan kepada Amalek dari kolong langit, Musa membangun sebuah mezbah dan menamainya, “Tuhanlah panji-panjiku” (ay. 14-16). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Musa mengakui dan mengucap syukur bahwa kemenangan mereka semata-mata dari Tuhan.
Bagi
kita orang-orang percaya, Tuhan menjanjikan kemenangan atas semua musuh kita,
termasuk musuh yang bersifat kedagingan (Gal. 5:19-21), sehingga tidak
menghalangi perjalanan rohani kita menuju Yerusalem Surgawi, asalkan kita
berserah sepenuhnya serta mengandalkan kekuatan dari-Nya. Ingatlah selalu,
“Tuhan turun tangan kalau kita angkat tangan”.
REFLEKSI
Peziarahan
kekristenan kita menuju Yerusalem Surgawi juga menghadapi banyak musuh baik
dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri yang selalu berusaha menghalangi
kita. Kita tidak akan mampu mengalahkan musuh-musuh kita dengan kekuatan dan
kemampuan sendiri meskipun kita sehat, kuat, pandai, kaya, berkedudukan, dsb. kecuali
Tuhan turun tangan menolong kita.
Comments
Post a Comment