Muliakanlah Tuhan Dengan Ketulusan Hati Bukan Dengan Kemunafikan
MULIAKANLAH TUHAN DENGAN KETULUSAN HATI
BUKAN DENGAN KEMUNAFIKAN
Matius 15:8-20
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,
padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata
kepada mereka:
11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke
dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah
yang menajiskan orang.”
12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya
kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan
bagi orang-orang Farisi?”
13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam
oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.
14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang
menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh
ke dalam lobang.”
15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah
perumpamaan itu kepada kami.”
16 Jawab Yesus: ”Kamupun masih belum dapat
memahaminya?
17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang
masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari
hati dan itulah yang menajiskan orang.
19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan
dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”
(Mat. 15:8-20)
PENDAHULUAN
Setiap orang pasti bertumbuh dan berkembang dalam tradisi-tradisi tertentu. Orang cenderung menerima tradisi apa adanya tanpa mengkritisinya. Tradisi menjadi hal yang begitu biasa bagi orang-orang yang menerima dan mempraktekkannya. Dengan kata lain, tradisi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tradisi ada kalanya tidak sesuai dengan kekristenan. Namun, tentu saja, tidak setiap tradisi merupakan hal yang menyimpang dari Firman Tuhan. Melalui wahyu umum dan anugerah umum, manusia dimampukan untuk menciptakan tradisi-tradisi tertentu yang baik. Tradisi-tradisi sedemikian merupakan salah satu cara yang digunakan Tuhan untuk mengatur dunia ini.
Meskipun demikian, tidak setiap tradisi adalah baik atau
sesuai dengan kehendak Tuhan. Manusia dipengaruhi oleh natur yang berdosa dan
tinggal di dalam dunia yang berdosa. Apa yang dihasilkan oleh pemikiran dan
tindakan manusia juga seringkali tercemar oleh dosa. Bahkan sebuah tradisi yang
baik terkadang bisa berubah menjadi tidak baik di tangan manusia yang berdosa.
SALAH MENAFSIRKAN
TRADISI DAN HUKUM ALLAH
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dari Yerusalem sengaja mengkhususkan waktu dengan tujuan untuk menjumpai Yesus. Mereka mempermasalahkan tentang murid-murid Yesus yang tidak membasuh tangan sebelum makan (Mat. 15:2). Mereka yakin bahwa Yesus menjunjung tradisi ini, bukan untuk kepentingan kesehatan tetapi makna ritual pembasuhan yang biasa dilakukan para imam sebelum melayani (Kel. 30:17-21; 40:12; 2 Taw. 4:6).
Yesus menegur mereka dengan keras karena salah
menafsirkan tradisi dan hukum Allah. Mereka lebih mementingkan hal-hal yang
tampak di luar dan mengabaikan kemurnian hati dalam melakukannya. Mereka tampak
rajin beribadah dan lebih meninggikan ketaatan kepada Allah daripada kepada
manusia (Mat. 15:5-6), namun sesungguhnya hati mereka tidak pernah menyembah
Allah. Yesus bahkan menyebut mereka orang-orang munafik (Mat. 15:7), karena
hanya memuliakan Tuhan dengan bibir namun hati mereka jauh dari-Nya (ay. 8).
TRADISI YANG MEMICU
KEMUNAFIKAN
Yesus mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Yesaya tentang bangsa Yehuda, tatkala bangsa itu tampak memuliakan Allah dengan perkataan tetapi hati mereka tidak tertuju kepada Allah (Yes. 29:13). Dengan nada keras, Yesus menilai orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang mendebat soal pembasuhan tangan sebagai orang-orang munafik (ay. 7).
Istilah ‘munafik’ di sini merujuk kepada tindakan yang tidak konsisten, yaitu apa yang ditampilkan tidak mewakili apa yang ada dalam hati seseorang alias lain di bibir lain di hati. Dengan kata lain, manifestasi berbeda dengan esensi. Kemunafikan jenis ini seringkali terlihat dalam tradisi-tradisi tertentu. Inti dari apa yang diperjuangkan dan dijunjung tinggi dalam sebuah tradisi ternyata justru disangkali.
Kemunafikan para pemuka agama Yahudi, yakni orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam nas ini, di zaman Yesus tampak dengan sangat
jelas seperti yang Yesus paparkan di ay. 5-6. Mereka mengajarkan bahwa orangtua
tidak lagi wajib dihormati (diurus atau dirawat), atau dalam arti kasarnya
boleh ditelantarkan, apabila apa yang akan diperuntukkan untuk itu sudah
diberikan sebagai persembahan kepada Allah. Padahal menghormati orangtua jelas
merupakan Titah ke-5 dari Hukum Taurat yang harus ditaati. Sedangkan pemberian
persembahan kepada Allah menurut para pemuka agama Yahudi harus lebih
diutamakan, namun sesungguhnya sifat seremonial (yang tampak dari luar) dari
pemberian persembahan itulah yang ingin mereka tonjolkan. Betapa munafiknya
para pemuka agama Yahudi ini.
TRADISI YANG
MENGABAIKAN INTI PERSOALAN
Yesus memang setuju dengan pandangan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang nilai penting dari kesucian. Segala sesuatu yang berpotensi menajiskan hidup manusia harus dihindari dan dicarikan solusi. Namun perbedaannya terletak pada diagnosa akar persoalan. Yesus melihat akar persoalan kenajisan adalah hati manusia (ay. 11). Dari hati yang jahat muncul berbagai hal yang jahat pula (ay. 19). Jika hati adalah akar persoalannya, maka melakukan ritual apapun tidak akan memadai sebagai solusinya.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang merasa dirinya mampu untuk menyelesaikan persoalan hati dengan usaha sendiri diumpamakan Yesus seperti orang buta yang menuntun orang buta (ay. 14). Mereka bukan hanya menempatkan diri sendiri dalam bahaya, tetapi juga orang lain yang ikut bersama mereka. Apa yang mereka hasilkan tidak akan bertahan lama. Ibarat sebuah tanaman, hasil usaha mereka akan dicabut oleh Allah sampai ke akar-akarnya (ay. 13).
Itulah yang akan terjadi pada orang-orang yang lebih mengandalkan
tradisi daripada hukum Tuhan. Perubahan zaman akan meniadakan kekuatan sebuah
tradisi, tetapi Firman Tuhan tidak akan lekang oleh zaman sehingga dapat
diandalkan di sepanjang zaman. Persoalan hati hanya bisa diatasi oleh Allah
sendiri. Allah membuka hati seseorang supaya orang itu mampu memahami dan
menerima Injil dengan sepenuh hati (Kis. 16:14). Hati nurani kita perlu
disucikan oleh kurban Kristus yang sempurna (Ibr. 9:14).
REFLEKSI
Manusia sangat mudah jatuh ke dalam dosa kemunafikan. Bisa saja seseorang itu tampak saleh dan setia kepada Tuhan dengan menjalankan tata peraturan agamawi, tetapi telah melanggar perintah Tuhan lainnya yang lebih penting untuk dilakukan. Kita ada kalanya bahkan mungkin sering melakukan hal serupa, yaitu memutarbalikkan kebenaran Firman Tuhan untuk kepentingan diri sendiri. Kita juga berperilaku seolah-olah saleh padahal hanya ingin dipuja-puji orang lain. Mungkin orang lain bisa terkecoh oleh sikap seperti itu. Akan tetapi, Tuhan tidak dapat dikelabui sebab Ia melihat hati setiap orang.
Mengabaikan keutamaan Firman Tuhan dalam hidup memang sudah
merupakan kecenderungan manusia. Namun kita tak boleh bersikap permisif dan
mengatakan bahwa itu kelemahan manusia. Firman Tuhan haruslah tetap menjadi
yang utama. Nutrisi sempurna bagi kerohanian kita hanyalah Firman Tuhan. Jangan
mengganti firman Tuhan dengan yang lain, bahkan buku-buku rohani sekalipun.
Setiap hari tetap sediakan waktu untuk membaca Alkitab. Jadikan Firman Tuhan
yang kita baca itu sebagai fondasi bagi perilaku, cara berpikir, cara bersikap
terhadap orang lain, dan juga dalam cara kita berkarya.
Comments
Post a Comment