Persaudaraan Yang Rukun
PERSAUDARAAN
YANG RUKUN
Mazmur 133
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
Nyanyian
ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara
diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke
janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun
gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN
memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya (Mazmur 133:1-3)
PENDAHULUAN
Ada pepatah yang mengatakan: 'Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh', dan dalam filosofi orang Batak berlaku apa yang disebut ‘Aek godang tu aek laut, Dos ni roha sibaen na saut’. Kedua ungkapan ini menggambarkan bahwa ada dampak yang luar biasa, ada kuasa, ada berkat dan sesuatu yang bermakna, apabila ada persatuan atau kerukunan di antara umat manusia.
Di lingkungan di mana kita tinggal pada tingkat pemerintahan yang paling rendah ada konsep RT (rukun tetangga) dan RW (rukun warga). RT dan RW dibentuk dengan tujuan untuk membangun kerukunan antar-warga dalam lingkup kecil. Mengapa kerukunan antar-warga ini penting? Agar supaya masing-masing warga memiliki hubungan yang dekat dan saling mengenal satu sama lain, dan dengan demikian mereka bisa bekerja sama dan saling tolong-menolong sehingga tidak ada 'gap' di antara mereka.
Pepatah, filosofi dan konsep kerukunan ini jugalah yang
terlukis dengan indahnya dalam nas di atas. Mazmur 133 ini merupakan nyanyian
ziarah yang digubah oleh Daud sendiri. Nyanyian ziarah ini mengangkat tema persatuan
yang rukun dimana sumber persatuan itu berasal dari Sion, tempat Allah hadir,
dan ke sanalah Allah mengalirkan berkat-berkat kehidpan.
KERUKUNAN ITU BAIK
DAN INDAH
Pamazmur sungguh merindukan persatuan bangsanya, karena kemungkinan besar persatuan itu sudah hancur ketika mazmur ini ditulis, yaitu bangsa Israel terpecah menjadi kerajaan utara dan selatan. Persaudaraan atau persatuan yang sangat dirindukan pemazmur adalah yang menunjukkan kerukunan yang baik dan indah.
Kerukunan yang baik tercipta apabila persaudaraan atau persekutuan itu memiliki kualitas baik yang dapat dirasakan semua anggota. Artinya satu dengan yang lain di dalam persaudaraan atau persekutuan itu saling melengkapi, saling mengisi, saling menopang, dan juga menjadi berkat bukan batu sandungan untuk satu dengan lainnya. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri, yaitu bagaimana kualitas rohani kita dan kesaksian hidup kita bisa kita bagikan kepada satu dengan yang lain. Tidak harus perbuatan luar biasa tetapi bisa kita mulai dari hal-hal kecil seperti cara kita bertutur kata, cara kita bertingkah laku atau cara kita berelasi dengan orang lain.
Kerukunan yang indah tampak apabila persaudaraan atau
persekutuan itu tidak hanya terlihat baik-baik saja tetapi juga dapat dirasakan
oleh orang lain dan lingkungan sekitar. Bukan hanya disaat senang tetapi juga
disaat susah dimana ada yang membutuhkan bantuan, keberadaan seseorang bisa
hadir sebagai pembawa berkat dan damai. Persaudaraan atau persekutuan yang
indah akan membuat orang-orang di dalamnya tetap bertahan dan senantiasa
memiliki kerinduan untuk bersama, karena merasa aman, nyaman dan tentram.
KERUKUNAN ITU
KUNCI MENGALIRNYA BERKAT TUHAN
Daud menggambarkan aliran berkat-berkat Tuhan kepada persaudaraan atau persekutuan yang mewujudkan kerukunan yang baik dan indah bagaikan minyak dan embun. Minyak dan embun ini melambangkan berkat-berkat yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
Minyak yang mempunyai makna sebagai kesukaan, keharuman, ketentraman dan penyucian, dalam tradisi Yahudi digunakan dalam ritual penyambutan tamu sebagai bentuk penghormatan, dimana tamu akan diminyaki pada kepala atau kaki. Minyak juga dipakai untuk pentahbisan imam, dan itulah yang terjadi misalnya pada Harun (ay. 2). Ini artinya minyak dimaksudkan pemazmur sebagai melambangkan berkat-berkat nonfisik atau berkat-berkat rohani. Jadi orang-orang yang hidup dalam persaudaraan atau persekutuan yang rukun akan diurapi penuh oleh berkat-berkat rohani dan kuasa Tuhan (bdk. Ef. 1:3-14).
Embun Hermon yang digunakan pemazmur dalam nyanyian ziarah ini adalah kiasan untuk embun yang berlimpah di musim panas, yang memungkinkan berbagai tanaman di ladang dan pohon-pohon bisa mencapai pertumbuhan yang baik dan berbuah lebat. Ini berarti embun dimaksudkan pemazmur sebagai melambangkan berkat-berkat jasmani (bdk. Ul. 28:2-14). Embun bisa turun di mana saja tanpa memilih-milih tempat dan menjadi sumber air yang konstan bagi tumbuh-tumbuhan. Ini berarti Tuhan memberikan berkat-berkat jasmani yang dapat dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali di dalam persaudaraan atau persekutuan yang rukun.
Embun dari gunung Hermon yang
berada di kerajaan Israel Utara turun ke atas gunung-gunung Sion yang berada di
kerajaan Israel Selatan dimaksudkan pemazmur sebagai gambaran dari betapa Tuhan
mencurahkan berkat-berkat-Nya tanpa memandang siapa kita, bagaimana kita, dan
dimana kita berada. Hal ini karena Tuhan mau kita hidup dalam persaudaraan atau
persekutuan yang rukun walaupun kita berbeda dalam banyak hal.
KERUKUNAN ITU ADALAH KEHENDAK TUHAN
Rasul Paulus juga sangat merindukan terciptanya kerukunan pada orang-orang percaya dan untuk itulah dia memohon, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus” (Roma 15:5). Ini berarti kerukunan itu adalah kehendak Kristus sendiri. Mengapa? Karena kerukunan itu memiliki nilai istimewa di mata Allah, yaitu sesuatu yang dapat menggerakkan hati-Nya sehingga Dia akan memberikan apa yang kita perlukan. Untuk ini Yesus berkata, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 18:19).
Jadi hidup dalam kerukunan adalah kehendak Tuhan bagi jemaat-Nya. Dalam doa-Nya, Yesus berkata, “...supaya
mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku
di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa
Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh.
17:20-21). Oleh karena itu, jemaat Tuhan haruslah menjadi persaudaraan atau
persekutuan yang rukun dan bersatu.
Jangan ada permusuhan, pertengkaran, kebencian, sakit hati dan
sebagainya. Itu hanya akan menjadi
penghambat berkat-berkat Tuhan bagi kita.
Sebaliknya jika kita jemaat-Nya rukun dan bersatu, segala berkat akan
dicurahkan Tuhan, “sebab ke sanalah TUHAN
memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (ay. 3b).
MEWUJUDKAN DAN
MEMELIHARA KEHIDUPAN YANG RUKUN
Kunci untuk mempunyai kehidupan yang rukun adalah kasih, dimana kasih berfungsi sebagai pengikat, pemersatu dan yang menyempurnakan kehidupan kita (1 Kor. 13:4-10; 1 Pet. 4:8). Mempunyai kunci hidup kasih akan menjadikan kita akrab dengan Tuhan Yesus, dan membiarkan Roh Kudus memimpin kita. Dengan demikian, untuk setiap kita yang kehidupannya mau dipimpin oleh Roh Kudus akan dapat merasakan dan menikmati Hadirat Tuhan, dimana Hadirat Tuhan ada dalam persaudaraan atau persekutuan yang rukun (Mat. 18:20).
Dalam mewujudkan persaudaraan atau persekutuan yang rukun
haruslah kita waspadai dan hindari kesombongan dan keegoisan. Kita terperosok
ke dalam kesombongan jika kita merasa lebih baik, lebih hebat, mampu melakukan
segala sesuatu tanpa bantuan orang lain termasuk tanpa Tuhan. Keegoisan sering
terjadi karena kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang kita, dan untuk
kepentingan dan kebenaran diri kita sendiri. Jadi kesombongan dan keegoisan ini
jelas akan menjadi penghambat terciptanya kerukunan dan merupakan kekejian
(kejijikan) bagi Tuhan.
REFLEKSI
Persaudaraan atau persekutuan yang rukun dalam kehidupan sehari-hari dapat kita wujudkan dengan menjunjung tinggi prinsip kerjasama atau bersinergi. Kerjasama atau sinergi akan membuat kita lebih mudah menghadapi setiap permasalahan dalam hidup kita, karena dengan bekerjasama kita bisa saling melengkapi. Juga seperti pemain Orkestra, belajarlah mendengar dengan cermat dan teliti agar kita tidak salah memainkan lagu. Artinya marilah kita belajar untuk menjadi pendengar yang baik.
Intinya adalah kehidupan persaudaraan yang rukun tercipta apabila anugrah Tuhan untuk kita pribadi lepas pribadi saling kita bagikan kepada sesama, karena kehidupan yang demikianlah yang menyukakan hati Tuhan sehingga Tuhan memerintahkan berkat-berkat kehidupan kepada setiap kita tanpa terkecuali. Marilah dalam kehidupan kita, kita saling menghargai dengan benar, yaitu menghargai tanpa melihat siapa dia, bagaimana status sosialnya, dari mana asalnya, dll.
Selagi masih ada kesempatan, marilah kita bersama membangun persaudaraan atau persekutuan yang rukun, yaitu sebuah kehidupan yang baik dan indah di mata manusia dan juga di mata Tuhan. Biarlah persaudaraan atau persekutuan yang rukun menjadi ‘perintah berkat’ untuk hidup kita saat ini dan hidup yang kekal selama-lamanya.
Comments
Post a Comment