Dipimpin Roh Allah
DIPIMPIN ROH ALLAH
Kejadian 41:37-42
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
37 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh
semua pegawainya.
38 Lalu berkatalah Firaun kepada para
pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan
Roh Allah?”
39 Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah
telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian
berakal budi dan bijaksana seperti engkau.
40 Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan
kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku
dari padamu.”
41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan
ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”
42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin
meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah
kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada
lehernya.
(Kej. 41:37-42)
PENDAHULUAN
Banyak orang di hari-hari akhir ini berani menghalalkan segala cara untuk mencari kemuliaan dan pengakuan dalam hidupnya. Yusuf justru menunjukkan sikap dan pendirian yang sangat berbeda dalam hal ini. Ia sabar menanggung derita dan mempercayakan hidupnya sepenuhnya pada Allah yang ia kenal.
Tiga belas tahun penuh penderitaan setelah dijual
saudara-saudaranya sebagai budak di Mesir, difitnah oleh isteri Potifar serta
dilupakan oleh juru minuman yang pernah dibantunya di penjara, telah membentuk
Yusuf menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu bergantung dan bersandar pada
Allah. Berkat kesabaran dan penyerahan diri pada Allah itulah akhirnya Yusuf
siap menerima kemuliaan yang Allah berikan melalui Firaun menurut waktu yang
ditetapkan-Nya.
ROH ALLAH DALAM PL
Roh Allah dalam PL hanya diberikan kepada orang-orang tertentu, yaitu orang-orang yang memerlukan hikmat untuk suatu tugas, di antaranya Bezaleel (Kel. 31:3), Musa dan tua-tua Israel (Bil. 11:17,29) serta para nabi dan para raja. Musa juga menyampaikan permohonannya kepada Tuhan supaya seluruh umat Tuhan boleh menikmati tepatnya dihinggapi Roh Allah (Bil. 11:29), dan nubuatan Yoel yang terkenal tentang pencurahan Roh Allah meneguhkan harapan Musa tersebut (Yoel 2:28-29).
Pemahaman tentang Roh Allah tentu saja masih samar dalam
PL dibandingkan dengan pemahaman PB tentang Roh sebagai Penghibur pengganti
Kristus. Terlebih lagi pemahaman Firaun. Dia seorang politeis, dan hingga nas
ini ia sama sekali belum mengenal Yusuf atau Allah yang dipercayai Yusuf. Yang
memampukan Yusuf menjadi orang bijak tidak lain adalah Roh Kudus yang turun ke atas
Yesus dan kemudian ke atas kita, murid-murid-Nya, sejak hari Pentakosta, namun
dalam PL disebut dengan Roh Allah. Oleh karena itu, sangatlah tepat kita mengangkat
Yusuf sebagai teladan bagaimana berelasi dengan Allah sehingga Dia mencurahkan
Roh-Nya untuk memimpin kita di setiap detak langkah hidup kita.
PENGAKUAN FIRAUN
ATAS KEARIFAN YUSUF
Firaun mengakui dua kualitas penting yang dimiliki Yusuf. Pertama, kesanggupan Yusuf dalam mengartikan mimpi Firaun (Kej. 41:25-32). Kedua, nasihat bijak Yusuf agar Firaun mengangkat seseorang untuk menjalankan berbagai kebijakan ekonomi dan logistik (Kej. 41:33-36). Akal budi dan kebijaksanaan Yusuf sangat mempengaruhi pertimbangan Firaun untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa yang diusulkan oleh Yusuf sendiri. Tanpa berusaha memuliakan diri sendiri, Yusuf dengan rendah hati mengakui bahwa kemampuannya membaca peristiwa di masa mendatang berasal dari Allah sendiri.
Sepanjang sejarah dunia, kita melihat bagaimana peradaban
manusia mengalami peningkatan yang sangat berarti sebagai dampak dari
pendidikan yang baik. Namun kepandaian dan pengetahuan tidak identik dengan
akal budi dan kebijaksanaan. Pendidikan juga tidak otomatis menjamin orang
pandai identik dengan orang berhikmat. Yusuf adalah pribadi yang berakal budi
dan berhikmat.
DIPENUHI ROH ALLAH
Ada faktor penentu di balik akal budi dan hikmat yang dimiliki Yusuf yang akhirnya membuat Firaun mantap untuk mengangkat Yusuf menjadi orang kedua sesudah dia di Mesir. Faktor itulah yang mendorong Firaun untuk mengatakan, “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (ay. 38). Sungguh mencengangkan bahwa dari bibir seorang kafir keluar pengakuan demikian tentang orang kepunyaan Allah. Ini berarti bahwa Firaun mengenali adanya campur tangan ilahi dalam kemampuan Yusuf tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa karya dan kehadiran Roh Allah
sedemikian cemerlang sehingga orang yang menyaksikannya dapat dengan tepat
menyimpulkan dari mana sumber semua itu. Firaun yang selama ini (sebelum nas
ini) menganggap dirinya sebagai dewa benar-benar menyadari bahwa seorang
tahanan yang dipenuhi Roh Allah jauh lebih bijaksana ketimbang siapapun. Hal
yang sama terjadi pada raja Nebukadnezar yang mengakui Allah sebagai yang
menyingkapkan arti mimpinya kepada Daniel (Daniel 2).
FIRAUN MENGUKUHKAN
KEMULIAAN YUSUF
Atas pengakuan Firaun bahwa tidak ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti Yusuf (ay. 39), ia mempercayakan kedudukan yang terhormat kepada Yusuf (ay. 41). Firaun mengaruniakan segala macam bentuk kemuliaan kepada Yusuf yang dilambangkan oleh cincin meterai, pakaian kain halus dan kalung emas untuk dipakai Yusuf (ay. 42) sebagai bukti yang sah atas kuasa Yusuf di seluruh Mesir setelah Firaun.
Jika sebelumnya ia ditahan dalam penjara, maka kini Yusuf
menjadi orang yang paling berkuasa setelah Firaun di tanah Mesir. Jika pada
usia muda Yusuf diseret ke kereta sebagai budak, maka kini ia naik ke kereta
sebagai seorang pahlawan yang terhormat. Jika dulu Yusuf dengan tegas menolak
ajakan isteri Potifar untuk berzinah, maka kini ia secara sah memiliki seorang
isteri dan bahkan anak-anak. Pengalaman pahit Yusuf di masa lalu telah
digantikan oleh melimpahnya berkat dan kemuliaan yang dianugerahkan oleh Tuhan.
REFLEKSI
Hikmat Yusuf datang bukan dari pengalaman hidupnya
ataupun pendidikannya, karena dia hanyalah seorang yang terbuang di Mesir,
tetapi hikmat Yusuf datang dari Roh Allah itu sendiri. Jadi Roh Allah itu yang
membantu kita, mengajar kita, dan membedakan kita dari orang-orang yang tidak
percaya. Dengan Roh Allah berkarya di dalam diri kita, maka dunia mengakui
bahwa kita adalah milik kepunyaan Allah. Saat dimana hikmat dibutuhkan, hanya
Roh Allah sendiri yang sanggup menjadikan kita berhikmat dalam mengatur
strategi yang tepat untuk memasuki peran ilahi dalam hidup kita. Oleh karena
itu, selalu bersandar pada Tuhan di setiap gerak langkah kehidupan kita, karena
hanya Tuhan sajalah sumber dari segala hikmat yang dinyatakannya kepada kita
oleh Roh. Tentukan dan pastikan bahwa dalam segalanya kita tetap bersama dengan
Dia dalam ruang-ruang doa, karena apa yang belum pernah dilihat oleh mata, atau
didengar oleh telinga, atau timbul dalam hati manusia, itulah yang disediakan
Allah bagi kita yang mengasihi Dia.
Comments
Post a Comment