Dibaharui dari Sehari ke Sehari

DIBAHARUI DARI SEHARI KE SEHARI

2 Korintus 4:13-5:1

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

13  Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata,” maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

14  Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

15  Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

16  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

17  Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

18  Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. ...

1   Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

(2 Kor. 4:13-5:1)

 

PENDAHULUAN

Pada gereja mula-mula, kehidupan orang-orang Kristen mengalami banyak ancaman, baik dari penguasa maupun ajaran-ajaran yang menyesatkan. Namun tekanan besar sedemikian tidak menjadikan mereka gentar. Satu kata yang membuat mereka tetap kokoh adalah ‘percaya’, yakni percaya bahwa Yesus Kristus dibangkitkan. Keyakinan inilah yang membuat semangat orang Kristen berkobar-kobar, bahkan membuat semakin banyak orang menjadi percaya.

Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan pada zaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang sombong secara intelektualitas, kaya secara materi dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini termasuk penyakit sosial percabulan dan hawa nafsu. Kondisi kota Korintus seperti ini ditambah lagi ajaran-ajaran sesat/palsu menjadikan Paulus merasa perlu menguatkan dan menasehatkan jemaat Korintus perihal doktrin Kristen dan juga soal perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat. Secara khusus, dalam nas ini, Paulus memberi arahan kepada jemaat Korintus atas apa yang dialami dan diimani Paulus berkenaan dengan manusia lahiriah dan manusia batiniahnya.

 

PENGHARAPAN AKAN KEBANGKITAN

Roh iman, yaitu iman yang digerakkan oleh Roh, yang sama dengan yang dimiliki orang-orang kudus pada zaman dahulu yang mengalami penderitaan hebat, ada pada diri Paulus dan para penginjil, yang mencegah mereka tawar hati (ay. 13). Dalam hal ini, Paulus meneladani Daud yang sekalipun tertindas namun tetap percaya (Maz. 116:10), dan Paulus meninggalkan teladan untuk dicontoh orang-orang percaya. Roh iman ini sangat mampu mengangkat dan menguatkan roh manusia di dalam kelemahannya. Jadi, sebagaimana kita menerima pertolongan dan dukungan semangat melalui kata-kata serta teladan baik orang lain, demikian pula kita harus rindu memberikan teladan baik kepada orang lain.

Paulus menegaskan kembali kepada jemaat Korintus apa yang telah disampaikannya dalam 1 Korintus 15, yaitu kebangkitan Kristus merupakan jaminan dan kepastian atas kebangkitan mereka. Jelasnya, Dia yang membangkitkan Kristus yang adalah Kepala, pasti akan membangkitkan semua anggota tubuh-Nya yang lain (ay. 14), yaitu orang-orang percaya. Hal ini dianggap perlu oleh Paulus karena pengharapan akan kebangkitan dapat menguatkan hati kita di tengah penderitaan, dan menempatkan kita di atas rasa takut terhadap kematian.

 

TIDAK TAWAR HATI

Dengan semakin banyaknya orang yang percaya maka akan semakin melimpah ucapan syukur bagi kemuliaan Allah (ay. 15). Pencapaian inilah, sekalipun untuk itu mereka mengalami berbagai macam penderitaan, yang membuat Paulus dan para penginjil tidak tawar hati. Sebab, seperti yang ditegaskan Paulus, “meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari” (ay. 16).

Masing-masing kita memiliki manusia lahiriah dan batiniah, tubuh dan jiwa. Manusia lahiriah akan binasa dan jelas tidak ada penangkalnya, sebab itulah yang harus dan akan terjadi. Namun betapa bahagianya kita apabila kemerosotan manusia lahiriah kita dapat turut berperan dalam pembaharuan manusia batiniah kita, yaitu jika penderitaan lahiriah kita membawa keuntungan bagi manusia batiniah kita, jika pada saat tubuh sedang sakit, lemah dan makin merosot, jiwa justru semakin kuat, kokoh dan berkembang. Hingga suatu titik waktu tertentu manusia lahiriah kita ini akan mati/dibongkar, tetapi Tuhan telah menyediakan penggantinya yang kekal di sorga (5:1) yang menjadi padanan sejati untuk manusia batiniah kita yang kekal.

 

MEMPERHATIKAN YANG TAK KELIHATAN

Pengharapan akan kehidupan kekal membuat Paulus dan para penginjil tidak putus asa, dan merupakan dukungan serta penghiburan yang luar biasa bagi jemaat Korintus. Paulus dan para penginjil melihat bahwa mereka menuju sorga dan bahwa pada akhirnya segala penderitaan itu akan berhenti (ay. 17). Dengan pemikiran ini mereka dapat menimbang segala sesuatunya dengan benar diperbandingkan dengan kemuliaan kekal di sorga. Dengan meletakkan kemuliaan sorgawi di salah satu ujung timbangan dan penderitaan duniawi di ujung lainnya, mereka mendapati bahwa semua penderitaan itu ternyata ringan, sedangkan kemuliaan sorgawi jauh lebih besar. Artinya, apa yang menurut perasaan kita di dunia ini sepertinya berat, lama, menyedihkan dan membosankan, oleh iman dipandang sebagai ringan, sebentar dan bahkan sesaat saja.

Iman memampukan Paulus dan para penginjil menilai segala sesuatu dengan benar atas dasar, “kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (ay. 18). Oleh imanlah kita melihat Allah yang tidak kelihatan (Ibr. 11:27), dan iman merupakan bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1). Ada hal-hal yang tidak kelihatan dan ada pula yang kelihatan. Terdapat perbedaan besar antara keduanya, yaitu hal-hal yang tidak kelihatan bersifat kekal, sedangkan hal-hal yang kelihatan bersifat sementara. Melalui iman, kita tidak saja mampu membedakannya, tetapi juga kita dapat mengarahkan tujuan kepada hal-hal yang tidak kelihatan, dan mengutamakannya, serta menjadikannya tujuan akhir hidup kita, karena meskipun tidak kelihatan, tetapi sesungguhnya nyata, pasti dan kekal.

 

REFLEKSI

Berbagai-bagai ketakutan dan penderitaan, seperti masalah penyakit, ekonomi, keluarga, pekerjaan datang menghampiri kehidupan manusia masa kini. Sesungguhnya, penderitaan itu terjadi karena manusia seringkali hanya fokus pada hal-hal duniawi atau hal-hal yang kelihatan. Manusia membangun dan mengisi hidup lahiriahnya dan tidak begitu peduli dengan hidup batiniahnya. Akibatnya manusia terus-menerus berjuang dan berlelah-lelah untuk mengejar hal-hal yang kelihatan yang hanya bersifat sementara atau tidak kekal. Manusia yang batiniahnya senantiasa dibaharui tidak akan gentar menghadapi semua tekanan dan penderitaan, karena proses sedemikian akan memampukan dirinya melihat kehidupan ini secara berbeda. Paradigma baru yang kita alami dengan pembaharuan batiniah kita secara terus menerus karena menerima Tuhan Yesus yang dibangkitkan adalah fokus pada kemuliaan kekal bukan pada penderitaan lahiriah yang sekarang ini, pada hal-hal yang tak kelihatan yang sifatnya kekal bukan pada hal-hal yang kelihatan yang sifatnya sementara, dan pada tempat kediaman kekal di sorga bukan pada kemah tempat kediaman sementara kita di bumi ini.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan