Godaan Jalan Pintas

GODAAN JALAN PINTAS

Amsal 1:10-16

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

 

10  Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut;

11  jikalau mereka berkata: “Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena;

12  biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur;

13  kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan;

14  buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.”

15  Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka,

16  karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.

(Amsal 1:10-16)

 

PENDAHULUAN

Sekalipun orangtua tidaklah sempurna, tetapi Tuhan dapat memakai mereka untuk mengingatkan anaknya agar hidup di jalan yang benar. Oleh sebab itu, penting bagi si anak untuk tidak mengabaikan nasihat orangtuanya termasuk nasihat dalam memilih teman. Perlu kehati-hatian dalam hal ini, dan juga si anak perlu menyadari realitas bahwa tidak setiap pertemanan membawa kebaikan bagi dirinya. Pertemanan yang salah dapat menjerumuskan si anak ke dalam dosa.

Saat seorang anak beranjak remaja, teman akan berpengaruh besar hingga ia lebih suka mendengar teman dibanding orangtuanya. Sungguh memprihatinkan bila si remaja memiliki teman yang memberi pengaruh negatif, dan sungguh tragis apabila orangtua tidak dapat menanamkan pengaruh apapun dalam diri anak mereka. Nas ini merupakan nasihat, yaitu nasihat orangtua kepada anaknya atau bisa juga nasihat seorang guru kepada anak didiknya, mengenai relasi si anak dengan orang-orang di sekitarnya.

 

WASPADA TERHADAP JERAT PERGAULAN BURUK

Dalam nas ini Salomo memberikan satu aturan umum kepada orang muda, agar mereka mencari tahu tentang, dan tetap berjalan di, jalan hikmat, yaitu berjaga-jaga terhadap jerat pergaulan buruk. Mazmur-mazmur Daud dimulai dengan peringatan ini, demikian pula halnya dengan amsal-amsal Salomo. Mengapa? Sebab tidak ada hal lain yang lebih merusak baik terhadap ibadah maupun perilaku sehari-hari daripada pergaulan yang buruk. Karena hal inilah Salomo menasihatkan orang muda agar tidak termakan oleh bujukan orang berdosa atau orang fasik (ay. 10).

Ini merupakan nasihat yang sangat baik untuk diberikan orangtua kepada anak-anak mereka ketika mereka melepaskan anak-anak mereka ke dalam dunia. Nasihat ini sama dengan nasihat yang diberikan Rasul Petrus kepada orang-orang yang baru bertobat: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini” (Kis. 2:40). Memang dosa yang ditawarkan orang fasik akan selalu terlihat menarik, karena dosa itu sendiri menawarkan cara instan untuk mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Dosa juga selalu memanipulasi kita agar tidak merasa bersalah pada saat kita melihat banyak orang melakukan perbuatan dosa. Dengan demikian, ketika kita berusaha melawan arus dan hidup benar, kita akan terlihat aneh, bodoh, tidak populer, bahkan dikucilkan.

 

WASPADA TERHADAP BUJUKAN ORANG FASIK

Orang-orang fasik suka dan giat menggoda orang lain untuk menjadi temannya dalam berbuat dosa. Mereka tidak mengancam atau berbantah, tetapi membujuk dengan pujian dan kata-kata manis. Dengan umpan mereka menarik orang muda yang tidak waspada kepada kail. Betapa orang muda harus berhati-hati agar tidak tergoda oleh mereka.

Orang-orang fasik penuh dengan penalaran-penalaran keliru dalam bujukan-bujukan mereka, dan lihai dalam tipu muslihat yang mereka pakai untuk memperdaya jiwa-jiwa yang tidak teguh. Nas ini berbicara secara khusus tentang penyamun yang “menghadang” di tengah jalan (ay. 11), dan berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan untuk menarik orang lain ke dalam komplotan mereka (ay. 12-14). Pertama-tama mereka berpura-pura tidak meminta lebih dengan berkata, “Marilah ikut kami” (ay. 11), artinya temanilah kami. Tetapi perkenalan itu segera menuntut sesuatu yang lebih yaitu “buanglah undimu ke tengah-tengah kami” (ay. 14). Ini tiada lain adalah mengatakan, ‘Gabungkanlah kekuatanmu dengan kekuatan kami, dan marilah kita bertekad untuk hidup dan mati bersama-sama, apa yang terjadi padamu akan terjadi pada kami. Lalu kita membuat “satu pundi-pundi bagi kita sekalian” (ay. 14), supaya apa yang kita dapatkan bersama-sama dapat kita habiskan bersama-sama pula dengan gembira ria’.

 

UMPAN PEMUASAN HAWA NAFSU UNTUK MENJERAT MANGSA

Pemuasan hawa nafsu kekejaman dan ketamakan digunakan orang-orang fasik untuk menjerat mangsa ke dalam perangkap mereka. Mereka haus darah dan membenci orang-orang yang tidak bersalah. Mereka benci orang-orang yang tidak bersalah itu karena melalui kejujuran dan ketekunannya, orang-orang itu mempermalukan dan menghukum mereka. Orang-orang yang haus darah ini akan menelan mereka hidup-hidup (ay. 12), sama rakusnya seperti singa melahap domba. Dan juga akan menelan mereka bulat-bulat, karena kalau dibiarkan tersisa maka pembunuhnya akan terungkap.

Mereka menjanjikan akan mendapatkan banyak benda jarahan sehingga rumahnya akan penuh dengan barang rampasan (ay. 13). Orang-orang yang hidup di dalam dosa menjanjikan banyak hal bagi diri mereka sendiri, dan bahwa itu akan menjadi keuntungan yang berlimpah ruah (bdk. Mat. 4:9). Dalam pandangan mereka, itu semua berharga dan oleh karenanya mereka mau mempertaruhkan hidup dan mungkin jiwa mereka untuk mengejarnya. Adalah kesalahan yang menghancurkan banyak orang bahwa mereka terlalu menghargai kekayaan dunia ini dan melihatnya sebagai benda yang berharga.

 

BETAPA MERUSAKNYA JALAN ORANG FASIK

Dengan menyadari betapa merusaknya jalan orang fasik, Salomo menasihatkan orang muda agar tidak menuruti tingkah laku mereka, tidak bergaul dengan mereka, menjauhkan diri dari mereka sebisa mungkin, dan menahan kakinya dari mengikuti jalan mereka (ay. 15). Memang kerusakan sifat manusia sudah sedemikian rupa, sampai-sampai kaki kita begitu condong untuk melangkah di jalan dosa. Kalau perlu, kita harus keras pada diri kita sendiri untuk menahan kaki kita agar tidak ke sana, dan menegur diri kita sendiri jika suatu waktu kita mengambil satu langkah saja ke arah sana.

Kaki orang-orang fasik lari menuju kejahatan, menuju pada apa yang tidak berkenan kepada Allah dan menyakiti manusia, sebab mereka bergegas-gegas untuk menumpahkan darah. Jalan dosa sama seperti layaknya jalan yang menurun. Manusia bukan saja tidak dapat menghentikannya, tetapi juga semakin lama mereka berada di dalamnya, semakin cepat mereka berlari, dan bergegas-gegas di dalamnya, seolah-olah mereka takut tidak dapat melakukan cukup banyak kejahatan dan bertekad untuk tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Betapa hati mereka sudah kerasukan Iblis.

 

REFLEKSI

Jalan pintas atau cara instan seringkali menjadi solusi bagi orang-orang yang ingin cepat memperoleh hasil atas usahanya. Misalnya, kaya dalam waktu singkat, menjadi juara dengan usaha minimal, cantik dengan perombakan sekejap, dan lain sebagainya. Memang jalan pintas tidak selalu merupakan jalan dosa, tetapi mentalitas jalan pintas berpotensi besar membawa orang ke jalan dosa. Loba atau tamak adalah salah satu buah mentalitas jalan pintas. Orang yang tamak mudah terpeleset jatuh ke lubang dosa. Ia menghalalkan segala cara demi hasil yang memuaskan, dan tidak segan-segan mengorbankan kepentingan bahkan nyawa orang lain guna mencapai tujuannya. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa sebenarnya orang yang menempuh jalan pintas sedang menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri. Orang yang bijak adalah orang yang menerima porsi yang Tuhan tentukan baginya.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan