Nyanyikanlah Syukur Kepada Tuhan
NYANYIKANLAH SYUKUR KEPADA TUHAN
Mazmur 92:1-4
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Mazmur. Nyanyian
untuk hari Sabat. Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk
menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi,
2 untuk memberitakan
kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam,
3 dengan
bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi.
4 Sebab telah
Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan
tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.
(Maz. 92:1-4)
PENDAHULUAN
Menyanyikan syukur dan mazmur serta memberitakan kasih setia Allah dari pagi sampai malam wajib dilakukan setiap orang percaya. Inilah respon orang percaya terhadap inisiatif Allah yang menghadirkan sukacita dan damai sejahtera melalui pekerjaan-pekerjaan ajaib tangan-Nya. Apa yang telah Allah wujudkan adalah kesukaan yang memberikan kepada kita kekuatan untuk mengatasi berbagai problema hidup, kedukaan, putus asa, ketakutan, kebimbangan, dsb. Orang yang mengerti karya besar Allah dalam hidupnya tanpa dikomando akan menaikkan puji-pujian terus menerus kepada Allah.
Kalau dalam Mazmur 91 pemazmur mengajak kita untuk
merenungkan pernyataan-pernyataan iman bahwa Tuhan itu dapat diandalkan dalam
setiap masalah kehidupan. Sementara dalam Mazmur 92 ini pemazmur mendorong kita
untuk merespon segala karya, pekerjaan dan perbuatan tangan Tuhan tidak dengan
cara lain selain dari ‘bersyukur’. Itu karena bersyukur merupakan respon yang
tepat untuk kebaikan dan kasih setia Tuhan dalam hidup umat-Nya.
PEKERJAAN KUDUS PADA
HARI SABAT
Mazmur ini dulunya ditetapkan untuk dinyanyikan, atau setidaknya selalu dinyanyikan, di dalam bait suci pada hari Sabat. Hari Sabat merupakan hari peringatan atas karya penciptaan, beritirahatnya Allah setelah bekerja, dan kelanjutan pekerjaan itu dalam tindakan pemeliharaan-Nya, sebagaimana yang Yesus katakan, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang” (Yoh. 5:17).
Hari Sabat haruslah merupakan hari yang tidak hanya untuk
istirahat yang kudus semata, tetapi juga dengan pekerjaan kudus. Pekerjaan yang
pantas dilakukan pada hari Sabat adalah beribadah dan memuji Allah. Setiap hari
Sabat harus merupakan hari pengucapan syukur kepada Allah, baik melalui doa
maupun nyanyian atau pujian. Pelayanan-pelayanan lain pada hari itu haruslah
sesuai dengan hal ini, dan karena itu sama sekali tidak boleh disepelekan.
NYANYIAN SYUKUR
Nyanyian syukur merupakan unsur ibadah sejak masa Perjanjian Lama atau Israel kuno sampai sekarang. Lebih dari soal suara merdu atau sumbang, pemazmur memberitakan kasih dan kesetiaan Tuhan lewat nyanyian syukur dan mazmurnya (ay. 1-3). Nyanyian syukur lebih dari sekedar bernyanyi, namun pemazmur menjadikan bernyanyi itu sebagai sarana menyampaikan pemberitaan tentang kasih setia Tuhan. Sukacita dan sorak-sorai atas pekerjaan, perbuatan dan rancangan Tuhan menjadi alasan yang tepat bagi pemazmur untuk menaikkan nyanyian syukur ini (ay. 4).
Menyanyikan syukur menolong pemazmur menghayati tantangan dan ancaman kejahatan yang dihadapinya dalam terang karya Tuhan yang menjagainya. Nyanyian syukur ini dinyanyikan pada setiap hari Sabat dalam ibadah pagi dan malam (ay. 1-2). Malalui ritus ini, pemazmur merumuskan pengakuan imannya. Para pemain musik ikut mengiringi nyanyian syukur pemazmur (ay. 3), yang menunjukkan bahwa nyanyian itu telah dipersiapkan dengan matang. Nyanyian itu dimulai dari nyanyian pribadi menjadi bernyanyi bersama, dari pengakuan pribadi menjadi rumusan pengakuan umat, dari pengalaman pribadi menjadi kesaksian yang dibagikan kepada umat. Pamazmur menjadi pelaku aktif karena nyanyian syukur ini adalah ibadahnya, refleksi dari pengalaman hidupnya, dan rumusan pengakuan dan harapannya kepada Tuhan.
Sungguh merupakan hak istimewa bahwa kita diizinkan
memuji Allah dan boleh berharap bahwa pujian itu diterima. Memuji Allah adalah
baik karena menyenangkan dan juga menguntungkan, suatu pekerjaan yang merupakan
upah itu sendiri. Sungguh baik untuk mengucap syukur atas rahmat yang telah
kita terima, sebab itulah cara untuk memperoleh rahmat selanjutnya. Sungguh
patut untuk bernyanyi bagi nama Dia Yang Mahatinggi, yang ditinggikan di atas
semua berkat dan pujian.
BAGAIMANA KITA
HARUS MEMUJI TUHAN
Kita harus memuji Tuhan dengan memberitakan kasih setia-Nya. Karena keyakinan kita akan sifat dan kesempurnaan-Nya yang agung itu, kita harus memberitakannya seperti orang yang sangat terkesan dan rindu untuk juga mempengaruhi orang lain. Kita bukan saja harus memberitakan kebesaran, keagungan, kekudusan dan keadilan-Nya yang membuat kita terpesona, tetapi juga kasih setia-Nya. Karena kebaikan-Nya adalah kemuliaan-Nya (Kel. 33:18-19), dan melalui kedua hal ini Ia menyatakan nama-Nya. Kasih setia dan kebenaran-Nya merupakan dukungan yang besar bagi iman dan pengharapan kita, serta dorongan bagi kasih dan ketaatan kita.
Kita harus memuji Tuhan bukan hanya pada hari Sabat,
tetapi di waktu pagi dan di waktu malam, yang berarti tiap hari. Itulah
kewajiban yang perlu dilakukan setiap hari. Kita harus memuji Tuhan bukan saja
di dalam ibadah bersama, tetapi juga secara pribadi dan bersama keluarga,
sambil memberitakan kasih setia-Nya kepada diri sendiri dan juga kepada
orang-orang di sekitar kita. Kita harus mengawali dan mengakhiri setiap hari
dengan memuji Tuhan. Menaikkan syukur kepada-Nya tiap pagi, ketika kita masih
merasa segar dan sebelum kesibukan hari itu melanda kita, juga tiap malam,
ketika kita kembali merasa tenang dan hendak beristirahat serta merenungkan
diri sendiri. Ini berarti kita harus menaikkan syukur kepada-Nya di pagi hari
atas kasih setia-Nya sepanjang malam sebelumnya, dan di malam hari atas kasih
setia-Nya sepanjang hari itu. Baik keluar maupun masuk, kita harus memuji Tuhan.
REFLEKSI
Bila Allah telah memberi kita sukacita melalui pekerjaan
dan perbuatan tangan-Nya, sudah seharusnya kita menghormati Dia karena semua
yang dilakukan-Nya itu. Apakah Allah telah membuat kita bersukacita melalui
pekerjaan pemeliharaan-Nya bagi kita dan melalui kasih karunia-Nya di dalam
kita, dan keduanya melalui pekerjaan penebusan yang agung itu? Bila memang
demikian halnya, biarlah kita dengan penuh semangat menaruh iman dan
pengharapan seperti yang dilakukan pemazmur: karena perbuatan tangan-Mu aku
akan bersorak-sorai. Kita tidak dapat memahami keagungan pekerjaan Allah, dan
oleh sebab itu kita harus merasa sangat takjub dan hormat, bahkan terpesona
memandang kedahsyatannya. Kebesaran pekerjaan dan perbuatan Allah seharusnyalah
mendorong kita merenungkan betapa dalamnya segala pemikiran, rencana dan
kehendak-Nya untuk melakukan semuanya, dan betapa luas dan jauhnya jangkauan
rancangan-Nya. Marilah kita meneladani si pemazmur dengan menaikkan pujian dan
nyanyian syukur setiap hari kepada Allah atas segala pekerjaan dan perbuatan
tangan-Nya yang ajaib, dahsyat dan tak terkatakan itu.
Comments
Post a Comment