Bermegah atas Kelemahan

BERMEGAH ATAS KELEMAHAN

                                                            2 Korintus 12:1-10

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

1  Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.

2  Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau  —  entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya  —  orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.

3  Aku juga tahu tentang orang itu,  —  entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya  — 

4  ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.

5  Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.

6  Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.

7  Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

8  Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

9  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

10  Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

(2 Kor. 12:1-10)

PENDAHULUAN

Manusia umumnya bermegah karena kelebihan atau kehebatannya. Bermegah diri ini mencapai puncaknya tatkala seseorang mulai bersikap membesarkan dan memuja dirinya sendiri. Paulus mempunyai alasan kuat untuk bermegah atau menyombongkan diri tentang pengalamannya yang luar biasa kepada jemaat Korintus. Akan tetapi, Tuhan tidak menghendakinya. Tuhan justru mengizinkan suatu duri dalam dagingnya.

Paulus menyatakan bahwa dirinya memang harus bermegah, namun bukan atas pemberitaan miliknya sendiri, melainkan pemberitaan yang ia terima dari Allah. Ia tidak memegahkan pengetahuannya sendiri, tetapi pengetahuan Allah yang dibukakan kepadanya. Dan Paulus justru bermegah atas kelemahan-kelemahannya, yang memang sangat berfaedah karena dengan demikian dirinya tidak meninggikan diri.

RASUL PAULUS DIANGKAT KE FIRDAUS

Tidak diragukan lagi bahwa tokoh seorang Kristen yang dibicarakan Paulus adalah dirinya sendiri. Ada dorongan kuat di dalam diri Paulus untuk bermegah, yaitu memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang diterimanya dari Tuhan (ay. 1) ketika dirinya diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga (ay. 2). Kita tidak dapat memastikan kapan hal itu terjadi. Entah dalam kurun waktu tiga hari ketika ia mengalami kebutaan pada saat pertobatannya, atau beberapa waktu sesudahnya. Kita juga tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, karena Paulus sendiri berkata, “entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu” (ay. 2). Yang pasti, kejadian itu merupakan kehormatan luar biasa yang diberikan kepadanya.

Tingkat ketiga dari sorga adalah tempat Allah menyatakan kemuliaan-Nya dengan sepenuhnya. Kita tidak mampu bahkan tidak layak mengetahui terlalu banyak tentang seluk-beluk tempat dan keadaan yang mulia itu. Yang menjadi kewajiban dan kepentingan kita adalah memastikan bahwa kita sudah mempunyai tempat tinggal di sana (Yoh. 14:2), dan karenanya kita akan rindu dibawa ke sana untuk tinggal di sana selamanya. Sorga tingkat ketiga ini disebut Firdaus (ay. 4), dan juga disebut Taman Firdaus Allah (Why. 2:7), yang menunjukkan kepada kita bahwa melalui Kristus, semua sukacita dan kehormatan kita yang hilang oleh sebab dosa, dikembalikan kepada kita, bahkan jauh lebih baik daripada itu.

SIKAP RENDAH HATI PAULUS

Seseorang yang pernah menerima penglihatan dan penyataan seperti yang dialami Paulus ini pasti akan membangga-banggakannya. Tetapi Paulus beranggapan bahwa hal seperti itu tidak ada faedahnya (ay. 1). Karena itulah ia tidak langsung membicarakannya bahkan sampai empat belas tahun kemudian (ay. 2). Juga dia tidak berkata akulah itu orang yang menerima kehormatan melebihi orang lain, tetapi ia berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang ketiga. Ini semua ditambah lagi dengan caranya menahan diri (ay. 6) menunjukkan betapa kerendahan hati merupakan karakter dari Paulus.

Demikianlah Paulus, yang sebenarnya tidak kalah dengan rasul-rasul lain dalam hal martabat, justru sangat menonjol kerendahan hatinya. Sungguh sikap yang sangat perlu kita teladani dalam setiap pelayanan kita. Sangatlah baik untuk memiliki roh rendah hati meskipun sedang mencapai berbagai keberhasilan yang tinggi, dan barangsiapa yang merendahkan diri justru akan ditinggikan (Mat. 23:12; Luk. 14:11; 18:14).

DURI DALAM DAGING

Rasul Paulus menderita karena duri di dalam daging dan digocoh oleh utusan Iblis (ay. 7). Ada yang berpikir bahwa ini suatu rasa sakit jasmani atau penyakit. Juga ada yang berpikir bahwa ini adalah penghinaan yang dilontarkan kepadanya oleh rasul-rasul palsu, dan perlawanan mereka terhadap Paulus, terutama yang berhubungan dengan perkataannya yang mereka anggap merendahkan. Akan tetapi, apapun yang dimaksud dengan duri dalam daging itu, Tuhan sering kali mengubah hal-hal buruk menjadi hal-hal baik, supaya celaan lawan kita turut mencegah kita menjadi sombong.

Apa yang disebut Rasul Paulus sebagai duri dalam daging itu sangatlah menyusahkan baginya selama beberapa waktu. Namun mahkota duri yang dikenakan Kristus demi kita dan tertancap di kepala-Nya itu akan membuat semua duri dalam daging kita terasa ringan. Pencobaan untuk berbuat dosa adalah duri yang paling menyedihkan, karena merupakan utusan Iblis untuk mengocoh kita. Yesus sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong kita yang sering dicobai.

TUJUAN ALLAH MENGIZINKAN DURI DALAM DAGING

Menurut Paulus tujuan Allah mengizinkan duri dalam dagingnya adalah supaya ia tidak meninggikan diri (ay. 7). Jika Allah mengasihi kita, Ia akan menjauhkan kesombongan dari kita dan menjaga supaya kita tidak meninggikan diri. Beban-beban rohani adakalanya diizinkan Tuhan menimpa kita untuk menjauhkan kesombongan rohani.

Dikatakan bahwa duri dalam daging ini merupakan utusan Iblis, yang berarti tidak diutus oleh Iblis dengan tujuan baik. Sebaliknya, Iblis mendatangkannya dengan tujuan jahat untuk memadamkan semangat Rasul Paulus (yang sangat dikenan Allah) dan menghalang-halangi dia dalam pekerjaannya sebagi pemberita Injil. Namun, Allah mempunyai tujuan yang baik di balik kesusahan ini serta mengatasinya. Ia bertindak sedemikian rupa sehingga utusan Iblis itu bukan menjadi rintangan melainkan justru menjadi pertolongan bagi Rasul Paulus.

DOA PAULUS AGAR ALLAH MENGANGKAT PENDERITAANNYA

Rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan Iblis itu mundur dari padanya (ay. 8). Berseru sampai tiga kali artinya sering kali. Jadi apbila doa pertama dan kedua tidak tijawab, kita harus bertekun dan bertahan sampai kita menerima jawaban. Kristus sendiri berdoa tiga kali kepada Bapa-Nya (Mat. 26:36-46; Mark. 14:32-42; Luk. 22:39-46). Sama seperti masalah diizinkan datang untuk mengajar kita berdoa, demikian juga masalah itu terus berdatangan untuk mengajar kita terus berdoa.

Meskipun Allah menerima doa yang lahir dari iman, namun Ia tidak selalu mengabulkannya. Sama seperti Ia adakalanya mengabulkan dengan amarah, Ia juga terkadang menolak dengan kasih. Ketika Allah tidak mengangkat masalah dan pencobaan yang melanda kita, tetapi jika Ia memberikan cukup kasih karunia kepada kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengeluh. Sungguh merupakan penghiburan besar bagi kita bahwa, tidak peduli sedahsyat apapun duri dalam daing yang menyakiti kita, kasih karunia Allah cukup bagi kita.

JIKA AKU LEMAH, MAKA AKU KUAT

Cara Rasul Paulus memanfaatkan tindakan pemeliharaan Allah pada dirinya adalah bermegah atas kelemahan (ay. 9) dan bersuka di dalamnya (ay. 10). Yang dimaksudkannya bukanlah kelemahan dosa (yang pantas membuat kita malu dan sedih), melainkan penderitaan, celaan, penganiayaan dan kesusahan yang dialaminya demi Kristus (ay. 10).

Alasan Rasul Paulus bermegah dan bersukacita atas berbagai hal itu adalah karena semuanya itu merupakan kesempatan bagi Kristus untuk menyatakan kuasa dan kecukupan kasih karunia-Nya bagi dia. Melalui semuanya itu Rasul Paulus begitu sering mengalami kekuatan kasih karunia ilahi sehingga dapat berkata, jika aku lemah, maka aku kuat (ay. 10). Jadi pada waktu kita lemah dalam diri kita, maka kita juga kuat di dalam kasih karunia Yesus Kristus Tuhan kita. Pada waktu kita menyadari kelemahan kita, maka kita akan datang kepada Kristus dan layak menerima kekuatan dari-Nya lalu mengalami curahan kekuatan dan kasih karunia ilahi.

REFLEKSI

Dalam diri kitapun ada kelemahan-kelemahan yang Tuhan izinkan ada di situ. Tujuan-Nya adalah agar kita semakin bersandar pada anugerah-Nya dan semakin mengandalkan kuasa-Nya. Dengan demikian, dalam kelemahan-kelamahan kitapun nama Tuhan saja yang dipuji dan dimuliakan. Setialah melayani dengan rendah hati sekalipun ada berbagai duri dalam daging kita. Biarlah semuanya itu tidak menjadi penghalang bagi kita, namun kita justru bermegah dan bersukacita karenanya sebab dengan cara demikianlah Kristus menyatakan kuasa dan kecukupan kasih karunia-Nya bagi kita. Dan diri kita yang penuh kelemahan ini dapat dipakai menjadi saksi yang kuat bagi Kristus.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan