Doa Syafaat Amos Untuk Israel

DOA SYAFAAT AMOS UNTUK ISRAEL

Amos 7:1-6 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

1  Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Ia membentuk kawanan belalang, pada waktu rumput akhir mulai tumbuh, yaitu rumput akhir sesudah yang dipotong bagi raja.

2  Ketika belalang mulai menghabisi tumbuh-tumbuhan di tanah, berkatalah aku: “Tuhan ALLAH, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?”

3  Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. “Itu tidak akan terjadi,” firman TUHAN.

4  Inilah yang diperlihatkan Tuhan ALLAH kepadaku: Tampak Tuhan ALLAH memanggil api untuk melakukan hukuman. Api itu memakan habis samudera raya dan akan memakan habis tanah ladang.

5  Lalu aku berkata: “Tuhan ALLAH, hentikanlah kiranya! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?”

6  Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. “Inipun tidak akan terjadi,” firman Tuhan ALLAH.

(Amos 7:1-6)

 

PENDAHULUAN

Ketika Amos bernubuat kepada kerajaan Israel Utara pada pertengahan abad ke-8 SM, bangsa itu secara lahiriah berada di puncak perluasan wilayah, stabilitas politik dan kemakmuran nasional, tetapi secara rohaniah sudah bobrok. Kemunafikan dan penyembahan berhala marak terjadi, masyarakat hidup mewah secara berlebihan, kebejatan merajalela, sistem peradilan rusak, dan penindasan orang miskin merupakan kebiasaan umum. Di tengah-tengah bangsa yang mempertontonkan semuanya inilah Amos mengikuti panggilan Allah sebagai nabi. Ia dengan berani memberitakan berita keadilan, kebenaran dan hukuman ilahi karena dosa kepada umat yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka.

Berulang kali Amos beroleh penglihatan akan datangnya hukuman Allah yang dahsyat. Berulang kali pula Amos menempatkan diri di tempat, atau bersyafaat untuk, umat-Nya. Ia mengajukan permohonan agar Allah mengasihani umat-Nya dan tidak menjatuhkan hukuman sedahsyat itu. Seorang nabi sejati, seperti Amos, tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, namun peka terhadap suara dan kehendak Tuhan dan dalam waktu yang bersamaan prihatin akan keadaan umat.

 

KESABARAN ALLAH ATAS UMATNYA

Sesungguhnya Allah telah lama besabar terhadap umat-Nya yang sangat bobrok kehidupan rohaninya ini. Akan tetapi Allah tidak akan selalu besabar terhadap umat yang terus menyulut murka-Nya, sehingga Ia dalam nas ini memperlihatkan kepada nabi Amos, melalui penglihatan (ay. 1,4), bentuk hukuman seperti apa yang telah dirancangkan-Nya.

Allah memperlihatkan kepada nabi Amos apa yang ada sekarang, menunjukkan kepadanya apa yang akan datang, memberi tahu dia apa yang telah diperbuat-Nya dan apa yang telah dirancangkan-Nya. Ada dua hukuman yang hendak Allah jatuhkan pada umat-Nya yang disampaikan-Nya melalui penglihatan kepada nabi Amos, yaitu hukuman kelaparan melalui tindakan belalang dan hukuman api yang menghanguskan.

 

HUKUMAN KELAPARAN

Amos melihat Allah membentuk belalang dan melepaskannya ke negeri Israel untuk memakan habis hasil buminya, sehingga menelanjanginya dari keindahannya dan membuat kelaparan para penduduknya (ay. 1). Allah membentuk belalang ini, tidak hanya sebagai makhluk ciptaan-Nya, tetapi  juga sebagai alat murka-Nya. Belalang-belalang ini dirancang dengan tujuan untuk menghabisi tumbuh-tumbuhan di tanah, dan dipersiapkan dalam jumlah besar. Kawanan belalang ini dikirim pada waktu rumput akhir mulai tumbuh, yaitu rumput akhir sesudah yang dipotong bagi raja.

Allah dapat saja mengirim serangga ini untuk memakan habis rumput pada waktu pertumbuhan yang pertama di musim semi ketika rumput paling dibutuhkan, paling berlimpah, dan paling baik jenisnya, tumbuh dengan suburnya. Tetapi Allah membiarkannya bertumbuh dan membiarkan mereka mengumpulkannya. Ini artinya belas kasihan yang Allah berikan kepada kita, dan terus Ia berikan, lebih banyak dan lebih berharga daripada apa yang diambil dari kita, yang menjadi alasan baik mengapa kita harus bersyukur dan tidak mengeluh. Ingatan akan belas kasihan dari pertumbuhan yang pertama harus membuat kita berserah kepada kehendak Allah ketika kita menemui kekecewaan dalam pertumbuhan yang terakhir.

 

HUKUMAN API

Tuhan Allah memanggil api untuk melakukan hukuman atas umat-Nya (ay. 4). Api di sini mungkin dimaksudkan sebagai kekeringan yang hebat. Panas matahari, yang seharusnya menghangatkan bumi malah menghanguskan dan membakar habis akar-akar rumput yang telah dimakan habis ujungnya oleh belalang. Atau api ini bisa juga menggambarkan penyakit demam yang mengganas, menjilat seperti api dalam tulang-tulang mereka, yang melahap habis banyak orang, atau petir, api dari langit, yang membakar rumah-rumah mereka, seperti Sodom dan Gomora dihanguskan (Amos 4:11). Atau, itu menggambarkan pembakaran kota-kota mereka, entah melalui kecelakaan atau oleh tangan musuh, sebab api dan pedang biasanya jalan bersama.

Api yang Allah datangkan ini menjalankan hukuman yang mengerikan, sebab memakan habis samudera raya, seperti api yang jatuh dari langit ke atas mezbah Elia menjilati air yang ada di dalam parit (1 Raj. 18:38). Kendati air dirancang untuk memadamkan api terlebih lagi seperti air dari samudera raya, namun api itu menghabisinya. Sebab siapakah, atau apakah, yang dapat tahan berdiri di hadapan api yang dinyalakan oleh murka Allah! Api itu memakan habis tanah ladang (ay. 4) tidak seperti belalang yang hanya memakan habis rumput akhir.

 

AMOS BERSYAFAAT UNTUK UMAT TUHAN

Ketika Amos melihat, dalam penglihatan, betapa mengerikan perbuatan yang dilakukan oleh kawanan belalang ini, yaitu memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah, maka berkatalah ia kepada Allah, “Tuhan Allah, berikanlah kiranya pengampunan” (ay. 2). Amos melihat dosa sebagai akar masalahnya, dan karenanya ia menyimpulkan bahwa pengampunan dosa harus menjadi dasar pembebasan, dan berdoa untuk pengampunan dosa sebagai hal yang utama. Artinya, apapun malapetaka yang menimpa kita, secara pribadi atau bersama-sama, pengampunan dosa adalah yang harus dengan sungguh-sungguh kita mohonkan kepada Allah.

Kemudian demi melihat, dalam penglihatannya, betapa api menghanguskan dan memakan habis tanah ladang, Amos memohon kepada Allah, “Tuhan Allah, hentikanlah kiranya” (ay. 5). Di sini Amos mau mengatakan hentikanlah api, hapuskanlah hukuman dan hentikanlah murka-Mu atas umat-Mu ini. Jadi, orang-orang yang hendak dimurkai Allah akan segera mendapati betapa perlunya mereka berseru memohon tangan yang teracung diturunkan. Ada harapan bahwa kendati Allah telah memulai dan telah jauh menjalankan murka-Nya, namun pengampunan tetap dapat diperoleh.

Untuk memperkuat doanya, Amos menyebutkan nama Yakub dalam permohonan pertama (ay. 2) maupun dalam permohonan kedua (ay. 5). Yakublah yang dia doakan,  yaitu keturunan Yakub, umat Allah yang percaya, umat pilihan-Nya dan yang terikat kovenan dengan-Nya. Masalah Yakublah yang dikemukakan Amos dalam doa di hadapan Allah Yakub. Yakub itu kecil, sangat kecil, lemah dan terpuruk oleh berbagai hukuman sebelumnya. Dan karena itu, jika hukuman-hukuman itu datang, maka dia pasti akan hancur lebur. Jumlahnya sangat sedikit. Mereka tidak sanggup menolong diri sendiri atau saling menolong satu sama lain. Dosa akan segera membuat bangsa yang besar menjadi kecil, akan mengurangi jumlahnya, memiskinkan yang berlimpah, dan melemahkan yang berani.

 

ALLAH MENARIK MURKANYA

Allah dengan rahmat-Nya menarik murka-Nya, sebagai jawaban atas doa Amos, lagi dan lagi (ay. 3,6). Ini bukan berarti Tuhan berubah pikiran, sebab Ia seia-sekata dengan pikiran-Nya. Akan tetapi, Allah mengubah caranya dengan mengambil cara lain, dan berketetapan untuk bertindak dengan belas kasihan dan bukan dengan murka. Kawanan belalang dibatalkan dan ditarik kembali, dan laju api dihentikan sehingga penangguhan dikabulkan.

Lihatlah betapa kuasa doa, yang bila dengan yakin didoakan, sangatlah besar kuasanya. Ini bukanlah yang pertama kali nyawa Israel dimohonkan dan diselamatkan. Betapa para nabi pendoa merupakan berkat bagi umat-Nya. Tidak sedikit kehancuran yang bakal menerobos masuk jika mereka tidak berdiri di tengah (bersyafaat) dan mencegahnya. Dan juga lihatlah betapa siapnya dan betapa cepatnya Allah menunjukkan belas kasih-Nya, betapa Ia bersabar dalam belas kasihan. Amos bergerak meminta penangguhan hukuman, dan mendapatkannya, karena Allah bersedia mengaruniakannya.

 

REFLEKSI

Hukuman sering kali dianggap sebagai sebuah tindakan yang negatif dan kejam. Pada kenyataannya, hukuman atau sanksi diperlukan untuk mengembalikan seseorang kepada aturan atau ketetapan yang seharusnya. Sadar atau tidak, setiap kali kita jatuh dalam dosa, Allah terus berinisiatif membawa kita kembali kepada-Nya dengan berbagai cara. Berapa kali kita mengecewakan Allah, sebanyak itu pula Allah akan membawa kita kembali kepada-Nya. Keadilan Allah bagi umat-Nya bukanlah sebuah kekejaman, melainkan kasih yang nyata. Ia ingin kita kembali menjadi umat yang kudus dan berkenan kepada-Nya. Karena itu, jadilah peka terhadap teguran Allah dan hiduplah sesuai standar yang ditetapkan-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan