Memuji Tuhan pada Segala Waktu

MEMUJI TUHAN PADA SEGALA WAKTU

Mazmur 34:1-8

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

1  Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.

2  Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.

3  Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

4  Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!

5  Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

6  Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.

7  Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

8  Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.

(Maz. 34:1-8)

 

PENDAHULUAN

Daud adalah orang yang diurapi Tuhan menjadi raja Israel untuk menggantikan Raja Saul. Dalam perjalanan hidupnya, Daud meninggalkan padang penggembalaan untuk menjadi seorang prajurit kerajaan yang gagah perkasa. Dia memimpin tentara Israel dan kemenangan demi kemenangan diperolehnya. Karena cemburu, Raja Saul berencana hendak membunuh Daud. Pelarian demi pelarian dijalani oleh Daud, bahkan berpura-pura gila pun dilakoninya agar ia selamat dari bahaya dan maut.

Di satu sisi, cara manusia dengan berpura-pura sakit ingatan di hadapan raja musuh yang dipertontonkan Daud sepertinya berhasil. Namun di sisi lain, Daud sadar bahwa kalau ia hanya mengandalkan hikmat manusia, yaitu kecerdikan berakting gila, suatu saat kelak akan tidak berguna. Mazmur ini tercipta dari kesadaran Daud bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Tuhan. Oleh karena itu Daud mengajak kita untuk bersama-sama memuji Tuhan. Pengalaman Daud membuktikan bahwa Tuhan dapat diandalkan karena Dia adalah Penolong bagi orang tertindas dan Pelindung bagi orang yang berada dalam mara bahaya.

 

DAUD BERPURA-PURA GILA

Karena ancaman Saul yang hendak membunuhnya, Daud terpaksa melarikan diri dari kerajaannya. Daud terjepit, dari belakang ia dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya dan di depan adalah bangsa musuh yang sedang memerangi Israel. Daud terpaksa mencari tempat berlindung ke wilayah musuh, yaitu tanah orang Filistin. Identitas Daud segera terungkap di sana, dan dia dibawa ke hadapan raja setempat yaitu Akhis (1 Sam. 21:10-15), yang dalam nas ini disebut Abimelekh (gelarnya). Supaya kedatangannya tidak dicurigai sebagai mata-mata atau untuk merencanakan sesuatu, Daud berpura-pura tidak waras (ay. 1). Ini dilakukan Daud agar raja Akhis melepaskannya sebagai orang yang menjijikkan, dan tidak mengawasi dia sebagai orang yang berbahaya. Dengan muslihat ini Daud berhasil lolos dari tangan yang mungkin akan bertindak kasar terhadapnya.

Tindakan penipuan yang dilakukan Daud ini memang tidak dapat dibenarkan. Sangat tidak pantas bagi orang jujur untuk berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya sendiri. Tidak seharusnya orang terhormat berpura-pura menjadi orang bodoh dan gila. Namun meskipun Daud telah bersalah dengan mengubah perilakunya, kasih setia Allah membuat dia terhindar dari bahaya. Betapa besarnya kasih setia itu sehingga Allah tidak mengganjar Daud sesuai dengan apa yang pantas diterimanya atas tipu muslihatnya itu. Karena itulah, Daud mengajak dan menggugah dirinya sendiri dan juga kita untuk menaikkan syukur dan puji-pujian kepada Allah dalam segala hal.

 

MEMUJI TUHAN DALAM SEGALA KESEMPATAN

Pemazmur hendak memuji Tuhan pada segala waktu dan dalam segala kesempatan (ay. 2). Ia bertekad untuk menjaga waktu-waktu yang sudah ditentukan untuk menjalankan kewajiban ini, memanfaatkan segala kesempatan untuk melakukannya, dan memperbaharui puji-pujiannya pada setiap kejadian baru yang memberinya alasan untuk menaikkan puji-pujian itu. Sudah sewajarnya kita menghabiskan waktu kita sebanyak mungkin untuk memuji Tuhan, karena itulah puji-pujian kepada-Nya tetap ada di dalam mulut kita (ay. 2).

Daud menunjukkan betapa gigihnya ia dalam mengakui kewajiban-kewajibannya terhadap kasih setia Tuhan, yaitu memuji-Nya dengan sepenuh hati, karena bersama Tuhan jiwa kita bermegah (ay. 3). Jiwa kita bermegah jika kita merenungkan relasi kita dengan Tuhan, kepentingan kita di dalam Dia dan pengharapan-pengharapan kita pada-Nya. Jadi  sukacita bermegah di dalam Tuhan bukanlah hal yang sia-sia.

 

AJAKAN UNTUK BERSAMA-SAMA MEMUJI TUHAN

Pemazmur merasa senang saat membayangkan bahwa kebaikan-kebaikan Allah terhadapnya akan membuat hati setiap orang Israel, dan juga setiap kita orang percaya, bersukacita. Untuk itulah Daud mengajak kita umat Allah agar bersama-sama memuliakan Tuhan dan memahsyurkan nama-Nya (ay. 4). Jika kita memuja-Nya sebagai Allah yang Mahabesar tanpa batas, dan lebih tinggi daripada segala apapun yang tertinggi, maka Dia berkenan untuk memperhitungkan ini sebagai tindakan yang membesarkan dan meninggikan Dia. Hal ini haruslah kita lakukan bersama-sama.

Puji-pujian kepada Allah terdengar paling merdu jika dinaikkan bersama-sama, sebab dengan demikian kita memuji-Nya seperti para malaikat di sorga. Orang-orang yang berbagi dalam kebaikan Allah, seperti yang dilakukan semua orang kudus, harus berkumpul bersama dalam melambungkan puji-pujian bagi-Nya. Dan kita hendaklah berkeinginan untuk bersama-sama dengan sahabat-sahabat kita dalam mengucap syukur atas kasih setia-Nya, sama seperti dalam berdoa bagi mereka. Jadi sangat beralasan bagi kita untuk bergabung bersama orang lain dalam persekutuan untuk mengucap syukur kepada Allah.

 

KESEDIAAN TUHAN MENJAWAB DOA

Daud bersaksi bahwa dia telah mendapati-Nya sebagai Allah yang mendengarkan doa (ay. 5). Doa-doa Daud membantu membungkam ketakutan-ketakutannya. Setelah mencari Tuhan, dan menyerahkan perkaranya kepada-Nya, ia dapat menantikan apa yang akan terjadi dengan perasaan yang sangat tenang. Kita perlu menujukan pandangan kita kepada-Nya dengan iman dan doa, lalu kemudian muka kita akan berseri-seri (ay. 6). Lihat saja Hana, yang setelah berdoa, pergi keluar, lalu mau makan dan mukanya tidak muram lagi (1 Sam. 1: 18).

Ketika kita menujukan pandangan kita kepada dunia ini, kita dibuat gelap, kita menjadi bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun ketika kita menujukan pandangan kita kepada Allah, dari-Nya kita mendapatkan terang, tuntunan maupun sukacita. Kepada orang-orang yang menujukan pandangan mereka kepada Allah, termasuk di sini orang yang tertindas yang berseru kepada-Nya, Tuhan mendengarkan mereka, memperhatikan perkara mereka dan doa-doa mereka, dan menyelamatkan mereka dari segala kesesakannya (ay. 7). Allah akan berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, yang remuk hatinya dan yang rendah hati (Maz. 102:17; Yes. 57:15).

Malaikat Tuhan juga berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, seperti para pengawal mengelilingi raja, lalu meluputkan mereka (ay. 8). Allah memanfaatkan pelayanan roh-roh yang baik guna melindungi umat-Nya dari kebencian dan kuasa roh-roh jahat. Malaikat itu bertindak demi kebaikan orang-orang percaya senyata-nyatanya, meskipun tidak terlihat oleh mata jasmani kita, seperti yang mereka lakukan untuk Yakub (Kej. 32:1) dan Elisa (2 Raj. 6:17).

 

REFLEKSI

Bagaimana meyakinkan orang lain bahwa Tuhan itu baik? Untuk orang-orang yang berpikiran modern, kita bisa mengajukan sejumlah bukti akan kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam Alkitab, atau yang dapat diteliti dari kenyataan alam semesta ciptaan-Nya. Namun orang-orang yang dipengaruhi oleh pandangan postmodern, yang merelatifkan segala kebenaran, tidak butuh pengajaran dan berbagai bukti tertulis. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman sebagai bukti. Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tidak perlu menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alamilah Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek kehidupan kita. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup kita. Saat kita mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan