Perintah Allah atau Aturan Tradisi
PERINTAH
ALLAH ATAU ATURAN TRADISI
Matius 15:1-9
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan
ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:
2 “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat
istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.”
3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa
kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?
4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan
ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.
5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata
kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan
untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,
6 orang itu tidak wajib lagi menghormati
bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku
demi adat istiadatmu sendiri.
7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat
Yesaya tentang kamu:
8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,
padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
(Matius 15:1-9)
PENDAHULUAN
Setiap bangsa atau budaya di dunia ini pasti mempunyai adat dan tradisi masing-masing. Tradisi menjadi hal yang begitu biasa bagi orang-orang yang menerima dan mempraktekkannya. Dengan kata lain, tradisi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak tradisi yang baik yang memang patut dilestarikan, namun ada juga tradisi yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Di masa Yesus, ahli-ahli Taurat membuat banyak aturan
yang mengatur kehidupan orang Yahudi. Peraturan yang ditetapkan Musa
ditafsirkan kembali dan hasil penafsiran tersebut diberlakukan dalam praktek
keagamaan Yahudi. Namun peraturan yang diterapkan itu justru membuat orang
Yahudi terjerumus ke dalam ketidakpastian dan kebingungan. Taat kepada Taurat
atau peraturan ahli Taurat? Taat kepada Tuhan atau kepada ahli Taurat? Taat
kepada perintah Allah atau otoritas tradisi? Ketidakpastian inilah yang membingungkan
orang-orang Yahudi dalam menjalankan kehidupan agamawi mereka.
MASALAH PEMBASUHAN
TANGAN
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dari Yerusalem sengaja mengkhususkan waktu mereka untuk menjumpai Yesus dan murid-murid-Nya (ay.1). Mereka mempermasalahkan apa yang dilakukan para murid, yaitu tidak membasuh tangan sebelum makan (ay. 2). Sungguh suatu tindak pelanggaran yang sebenarnya sangat remeh. Tetapi dengan dasar ini mereka menuduh para murid melanggar adat istiadat atau tradisi. Tampak jelas bahwa mereka memang mencari-cari kesalahan apa yang bisa dituduhkan kepada para murid dan Yesus sendiri. Murid-murid Yesus pastilah menjaga diri mereka dengan baik, sehingga hanya inilah hal terburuk yang bisa dituduhkan kepada mereka.
Orang Farisi dan ahli Taurat sangat menekankan apa yang
disebut dengan adat istiadat nenek moyang, yaitu bahwa orang harus membasuh
tangan setiap kali mau makan, sebagai suatu bagian dari perintah agama. Mereka
menganggap bahwa makanan yang disentuh dengan tangan yang tidak dibasuh akan
membuat orang tersebut najis. Mereka mempraktekkan hal ini dalam hidup mereka,
dan juga memaksakannya kepada orang lain. Pelanggaran atas peraturan ini mereka
kaitkan dengan masalah hati nurani, yaitu sebagai dosa terhadap Allah. Bahkan
lebih dari itu, orang Yahudi juga tidak mau makan dengan orang yang tidak
membasuh tangannya terlebih dulu sebelum makan.
MAKNA RITUAL DARI
TRADISI MEMBASUH TANGAN
Yesus memang setuju dengan pandangan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang pentingnya kesucian. Segala sesuatu yang berpotensi menajiskan hidup manusia harus dihindari dan dicarikan solusi. Dan Yesus pun tahu bahwa trasidi membasuh tangan bukan untuk kepentingan kesehatan semata, tetapi ada makna ritualnya. Pembasuhan tangan ini sebenarnya dilakukan oleh para imam sebelum melayani, yaitu sebelum “menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar kurban api-apian bagi Tuhan” (Kel. 30:17-21; 40:12).
Tradisi membasuh tangan ini sendiri sebenarnya tidak
merugikan, dan pantas untuk dijalankan di masyarakat. Tetapi dengan terlalu
menekankan perihal kenajisan, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berani
dengan lantang mengecam Yesus atas perbuatan murid-murid-Nya. Artinya mereka
menganggap Yesuslah yang memperbolehkan para murid melakukannya, yaitu mengikuti
contoh perbuatan-Nya sendiri. Yesus membenarkan apa yang dilakukan
murid-murid-Nya dan menegur para pemuka agama Yahudi dengan keras bahwa mereka
mengajarkan perintah manusia bukan perintah Tuhan. Dia melihat bahwa tradisi
pembasuhan tangan ini dijalankan dan dipaksakan sebagai suatu ritus agama,
dengan diberi penekanan sedemikian rupa sehingga orang yang tidak melakukannya
dianggap najis bahkan berdosa.
KECAMAN YESUS
KEPADA PENUDUH
Yesus menanggapi tuduhan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan cara balik menuduh (ay. 3-6). Para pemuka agama Yahudi ini melihat selumbar di mata murid-murid Yesus, tetapi Yesus menunjukkan balok di mata mereka sendiri. Tuduhan Yesus adalah berupa kecaman terhadap adat istiadat nenek moyang mereka, dan kewenangan yang mereka gunakan sebagai dasar dari tuduhan mereka, sehingga dengan demikian, ketidaktaatan terhadap adat istiadat itu bukan hanya diperbolehkan, tetapi juga membuat perlawanan terhadapnya menjadi suatu kewajiban untuk dilakukan. Artinya kewenangan manusia tidak boleh dituruti jika itu bertentangan dengan kewenangan ilahi.
Yesus menjawab mereka, “…kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu”
(ay. 3). Bukti dari tuduhan ini dapat dilihat dalam satu contoh, yakni
pelanggaran mereka terhadap perintah kelima, “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (ay. 4). Perintah ini adalah tentang
kewajiban anak untuk memelihara dan melayani kebutuhan orangtuanya, jika
diperlukan, dan agar mereka selalu siap sedia untuk membantu dan menghibur
orangtua mereka. Sanksi hukum dalam perintah kelima ini adalah sebuah janji,
yaitu supaya lanjut umurmu. Tetapi Yesus justru menekankan hukuman yang akan
ditimpakan atas pelanggaran terhadap perintah ini, yaitu “Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati” (ay.4;
Kel. 21:17). Orang yang mencela orangtuanya, atau yang mengharapkan sesuatu
yang buruk terjadi atas orangtuanya, yang menghina orangtuanya, atau yang
melontarkan kata-kata cemooh dan kasar terhadap orangtuanya, termasuk yang
menelantarkan orangtuanya, juga bisa disebut sebagai mengutuki mereka.
PERTENTANGAN
TRADISI DAN PERINTAH KELIMA
Memang pertentangan antara adat istiadat nenek moyang ini dengan perintah kelima tidak tampak secara langsung melainkan secara tersirat. Mereka membuat peraturan bahwa dalam hal apa saja orang lebih baik memberikan harta miliknya kepada para imam dan mempersembahkannya untuk pelayanan di Bait Allah. Peraturan ini dibuat sebagian karena sikap para pemuka agama Yahudi ini yang mengedepankan ritus agama, dan sebagian lagi karena sifat rakus dan cinta mereka akan uang, sebab apa yang diberikan di Bait Allah akan menjadi milik mereka. Jadi alasan pertama di sini adalah untuk mengutamakan aspek seremonial (yang tampak dari luar) dari peraturan dan alasan yang kedua adalah apa yang sebenarnya mendasari adat istiadat ini.
Ketika orangtua membutuhkan bantuan dari anak mereka, anaknya tersebut boleh memberikan alasan bahwa semua harta yang dapat dia sisihkan untuk keperluan orangtuanya telah dipersembahkan ke Bait Allah (ay. 5). Menurut ahli-ahli Taurat, alasan seperti ini baik dan sah-sah saja, dan karenanya banyak anak durhaka memanfaatkan kesempatan ini, dan merekapun dibenarkan dalam hal ini, dengan perkataan “orang itu tidak wajib lagi” (ay. 6). Alasan keagamaan membuat tindakan penolakan seseorang untuk menyediakan kebutuhan bagi orangtuanya tidak hanya bisa dimengerti tetapi juga diterima. Ini jelas bertentangan dengan atau melanggar perintah Tuhan, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat. 12:7). Melanggar hukum itu buruk, tetapi mengajar orang lain untuk melakukannya, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu, jauh lebih buruk lagi (Mat. 5:19).
Yesus mencela dan mendakwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat sebagai orang-orang munafik (ay. 7) karena sikap yang mereka
pertontonkan. Mata manusia dapat memandang kecemaran yang terbuka, namun hanya
mata Kristuslah yang dapat mencermati kemunafikan (Luk. 16:15). Yesus mengutip
dan menerapkan Yesaya 29:13 untuk menegur orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat ini. Jelaslah bahwa teguran-teguran atas dosa dan orang-orang berdosa
yang ada dalam Alkitab dirancang untuk menjangkau orang-orang dan
perbuatan-perbuatan yang serupa sampai pada akhir zaman, sebab teguran-teguran
itu bukanlah hasil penafsiran menurut kehendak sendiri (2 Ptr. 1:20).
Teguran-teguran yang ditujukan kepada orang lain juga ditujukan kepada kita,
jika kita bersalah atas dosa yang sama.
REFLEKSI
Orang Kristen bisa dengan mudah jatuh ke dalam dosa
kemunafikan. Boleh jadi seseorang itu tampak saleh dan setia kepada Tuhan
dengan menjalankan tata peraturan kristiani, tetapi telah melanggar perintah
Tuhan lainnya yang lebih penting untuk dilakukan. Bahkan tidak jarang salah
menafsirkan firman Tuhan dan mementingkan hal-hal lahiriah, yakni rajin
beribadah, memberikan persepuluhan, persembahan dan ucapan syukur, serta
berdiakonia dan berdonasi kepada penginjilan, padahal itu semua dilakukan hanya
untuk mengedepankan tampak luar namun dengan hati yang tidak tertuju kepada Tuhan.
Mungkin orang lain bisa terkecoh oleh sikap seperti ini, tetapi jangan lupa,
Tuhan tidak dapat dikelabui sebab Ia melihat hati setiap orang. Mari tumbuhkan
firman Allah di dalam hati kita untuk mencegah dosa kemunafikan.
Comments
Post a Comment