Roti Hidup dari Allah
ROTI HIDUP DARI ALLAH
Yohanes 6:25-35
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di
seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di
sini?”
26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda,
melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan
dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang
kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan
oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang
harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan
yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah
diutus Allah.”
30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah
yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?
Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang
gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.”
32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga,
melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang
turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”
34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah
kami roti itu senantiasa.”
35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup;
barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya
kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
(Yoh. 6:25-35)
PENDAHULUAN
Mentalitas kebanyakan orang Kristen masa kini lebih menyukai apa yang disebut dengan Kebaktian Kebangunan Rohani atau KKR daripada pembinaan rohani secara serius dan mendalam. Namun ada pertanyaan yang butuh jawaban dan perlu direnungkan dalam hal ini. Apakah kegiatan KKR tersebut ditindak-lanjuti dengan keseriusan membina diri agar bertumbuh dalam iman percaya sehingga mengenal Yesus Kristus dengan benar sebagai Tuhan dan Juruselamat?
Orang banyak di masa Yesus juga memperlihatkan mentalitas
yang sama. Mereka mencari Yesus bukan supaya mereka tumbuh dalam pengenalan
yang benar akan Dia, yaitu meyakini bahwa Yesus adalah yang diutus Allah,
Mesias. Pertemuan dengan Yesus dalam kelompok besar tidak membawa mereka pada
kesadaran untuk melakukan kehendak Allah. Seandainya mereka sadar bahwa Yesus
yang mereka cari dan ikuti itu adalah Roti Hidup yang sesungguhnya, maka mereka
tidak lagi didera rasa lapar dan haus yang terus menerus.
MENCARI YESUS
Orang banyak berusaha keras untuk mencari Yesus bahkan sekalipun harus naik perahu (ay. 24) ke seberang laut (ay. 25). Usaha mereka memang membuahkan hasil karena berhasil menemukan Yesus di sebuah rumah ibadat di Kapernaum (menurut Yoh. 6:59). Mereka tahu bahwa itulah tempat yang paling besar kemungkinannya untuk menemukan Yesus, karena sudah menjadi kebiasaan-Nya mengikuti ibadah keagamaan bersama orang banyak (Luk. 4:16). Ibadah umum yang seperti itulah dipilih Yesus untuk mengakui dan memberkati umat-Nya dengan kehadiran-Nya, dan juga untuk menyatakan diri-Nya.
Yang dapat mereka katakan setelah menemukan Yesus hanyalah,
“Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”
(ay. 25). Mereka sadar, Yesus tidak mau dijadikan raja dan karena itu mereka
tidak bisa menyebut-nyebut soal itu lagi, karena itu mereka memanggil-Nya Rabi
atau Guru. Sebenarnya yang ingin mereka ketahui bukan hanya menyangkut waktu
tetapi juga cara Yesus sampai di sana. Mereka dihinggapi rasa ingin tahu
tentang apa saja yang dilakukan Yesus, tetapi tidak ingin memeriksa diri mereka
sendiri. Hal ini tampak kemudian karena ternyata mereka tidak tulus dan tidak
digerakkan oleh motivasi yang benar dalam mencari Yesus.
MOTIVASI YANG
SALAH DALAM MENCARI YESUS
Yesus mengetahui bahwa orang banyak itu memiliki motivasi yang salah dalam mencari dan mengikuti Dia (ay. 26). Kristus bukan saja mengetahui apa yang kita perbuat, tetapi juga tahu mengapa kita melakukan hal itu. Mereka mencari Yesus bukan karena telah melihat tanda-tanda (ay. 26). Artinya, mereka mengikuti Yesus bukan karena mereka suka akan ajaran-Nya, karena tanda-tanda mujizat yang dilakukan Yesus merupakan penegasan terpenting atas ajaran-Nya.
Meskipun orang banyak itu menyanjung Yesus dengan sebutan
Rabi dan menunjukkan rasa hormat yang besar kepada-Nya, namun Ia memberitahu
mereka tentang kemunafikan mereka yang sebenarnya. Mereka mengikuti Yesus demi
kepentingan perut mereka, yaitu karena mereka telah makan roti dan mereka
kenyang, bukan karena Ia telah mengajar mereka. Lalu Yesus mengarahkan mereka
kepada motivasi yang lebih baik dan tepat, yaitu bekerja bukan untuk makanan
yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada
hidup yang kekal (ay. 27).
MAKANAN YANG DAPAT
BINASA
Ketika berbicara kepada seorang perempuan Samaria, Yesus menyamakan perkara-perkara rohani dengan air (Yoh. 4:13-15), sementara dalam nas ini Ia menyamakan perkara-perkara rohani dengan makanan. Tujuannya adalah untuk menyadarkan kita bahwa sebagaimana kita perlu mencari makanan jasmani namun jauh lebih penting lagi mencari makanan rohani. Petunjuk yang disampaikan Yesus dalam ay. 27, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa…” tidak melarang orang untuk mencari makan secara jujur (2 Tes. 3:12). Tetapi yang Yesus maksudkan adalah supaya kita tidak menjadikan urusan-urusan dunia ini sebagai perhatian dan kepedulian utama kita.
Perkara-perkara duniawi, seperti kekayaan, kehormatan,
dan kesenangan dunia, sama seperti makanan. Hal-hal itu memberi makan khayalan
kita dan mengenyangkan perut. Mereka yang memperoleh hal-hal tersebut belum
tentu dapat memilikinya sewaktu mereka masih hidup, dan yang pasti mereka akan
meninggalkan semua itu dan kehilangan semuanya saat mereka mati. Jadi, kita
tidak boleh manjadikan hal-hal yang dapat binasa sebagai yang utama, juga tidak
boleh menjadikan jerih payah kita untuk mencari hal-hal duniawi sebagai urusan
utama kita. Artinya janganlah mencari hal-hal itu sebagai yang pertama dan
terutama (bdk. Ams. 23:4-5).
PEKERJAAN YANG
DIKEHENDAKI ALLAH
Setelah Yesus mengajar orang banyak tentang makanan yang dapat binasa dan makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal, lalu mereka bertanya tentang pekerjaan yang dikehendaki Allah untuk mereka lakukan (ay. 28). Pekerjaan yang dikehendaki Allah ternyata berbeda dari pekerjaan orang duniawi yang mengejar perkara duniawi. Tidak cukup hanya berbicara tentang firman Allah, kita juga harus melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah.
Yesus mengarahkan orang banyak pada satu pekerjaan saja,
yaitu “percaya kepada Dia yang telah
diutus Allah” (ay. 29). Satu pekerjaan yang sungguh-sungguh diperlukan
tetapi melingkupi semua pekerjaan lainnya adalah percaya. Pekerjaan ini, yaitu
percaya, diperlukan agar semua pekerjaan lainnya dapat diterima, dan juga menghasilkan
pekerjaan-pekerjaan lainnya, karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan
kepada Allah. Iman itu adalah pekerjaan Allah yang membuat kita dekat kepada
Kristus dan selalu mengandalkan Dia. Percaya kepada Dia dengan sendirinya
berarti tinggal di dalam Dia dan menyerahkan diri kita kepada-Nya (Yoh. 14:1).
YESUS ADALAH ROTI
HIDUP
Yesus memberitahu mereka bahwa manna yang dimakan oleh nenek moyang mereka di padang gurun hanyalah bayang-bayang dan gambaran dari roti yang benar dari sorga (ay. 32), yaitu diri-Nya sendiri. Manna adalah benda mati, hanya dapat bertahan semalam saja jika disimpan, selanjutnya manna itu akan berulat dan berbau busuk (Kel. 16:20). Namun Kristus hidup terus sebagai roti yang kekal yang tidak pernah lapuk dan menjadi tua. Ajaran tentang Kristus yang tersalib sampai sekarang tetap menguatkan dan menghibur orang-orang percaya, sama seperti dahulu.
Yesus menyamakan diri-Nya sendiri dengan roti dan
mengumpamakan hal mempercayai sebagai tindakan makan dan minum (ay. 35). Tubuh
kita masih dapat hidup dengan baik tanpa makanan sampai waktu tertentu, tetapi
tidak demikian halnya jiwa kita tanpa Kristus. Yesus Kristus adalah roti bagi
jiwa kita seperti halnya roti biasa bagi tubuh jasmani kita. Roti itu memberi
asupan makanan dan mendukung kehidupan rohani, yaitu menjadi bahan makanan
pokok bagi kehidupan rohani, sama seperti roti bagi kehidupan jasmani. Ajaran
Injil adalah mengenai Kristus, bahwa Ia menjadi pengantara antara Allah dan
manusia, bahwa Ia adalah damai sejahtera kita, kebenaran kita, Juruselamat
kita, dan dengan segala perkara ini hiduplah jiwa kita.
REFLEKSI
Seperti kuatnya hasrat kita untuk mencari makanan ketika
merasa lapar, begitu pulalah kiranya kita mencari Yesus sebagai jawaban bagi
kelaparan rohani kita. Dialah yang kita butuhkan di dalam hari-hari yang kita
jalani. Dia, sang Roti Hidup itu, harus diundang masuk ke dalam hidup kita
untuk menghidupkan dan menopang kehidupan kita. Tidak perlu ragu untuk datang
kepada Yesus betapapun banyaknya dan besarnya dosa-dosa kita. Yesus tidak akan
menolak bahkan membuang orang yang datang dan percaya kepada-Nya. Tidak perlu
menunggu agar kita lebih baik dan lebih saleh dahulu baru kemudian percaya
kepada-Nya. Seperti apa adanya kita, Yesus akan menerima kita.
Comments
Post a Comment