Roti Hidup yang Turun dari Surga

ROTI HIDUP YANG TURUN DARI SURGA

Yohanes 6:51-58

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

51  “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

52  Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.”

53  Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

54  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

55  Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.

56  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

57  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

58  Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

(Yohanes 6:51-58)

 

 

PENDAHULUAN

Orang-orang Yahudi merasa keberatan terhadap pernyataan Yesus yang mengatakan bahwa Ia berasal dari surga. Mereka mengenal keluarga-Nya. Bagaimana mungkin Ia menyatakan bahwa Ia berasal dari surga? Tetapi Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia tidak berasal dari dunia ini. Ia diutus oleh dan datang dari Allah, Bapa-Nya. Sulit sekali bagi mereka untuk menerima asal Yesus dari surga sebagai suatu fakta. Mereka juga tidak dapat menerima pernyataan Yesus bahwa Allah adalah Bapa-Nya, sementara mereka mengenal orangtua-Nya.

Seperti halnya nenek moyang mereka yang hanya bersungut-sungut, berdebat, dan tidak percaya dalam peristiwa manna, demikian juga sikap orang-orang Yahudi ini terhadap Yesus. Yang menjadi masalah mereka kali ini adalah pernyataan Yesus bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga. Apalagi setelah Yesus dalam pengajaran-Nya memberikan tantangan agar orang makan daging-Nya yang memberikan hidup.

 

ROTI HIDUP UNTUK HIDUP DUNIA

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga” (ay. 51), begitulah Yesus menjelaskan tentang diri-Nya. Roti itu sendiri adalah benda mati dan tidak akan menjadi zat makanan tanpa bantuan organ-organ tubuh yang hidup. Tetapi Yesus sendiri adalah roti hidup dan akan menjadi zat makanan dengan kuasa-Nya sendiri bagi jiwa kita. Roti hanyalah makanan yang mendukung kehidupan, bukan mempertahankan dan mengabadikan kehidupan apa lagi sampai memulihkannya. Tetapi Yesus, sang roti hidup itu, memberi hidup kepada dunia, tepatnya orang-orang yang mati di dalam dosa. Tidak ada seorangpun yang dikecualikan untuk menerima berkat roti, kecuali mereka menolak sendiri berkat tersebut.

Pernyataan bahwa Yesus adalah roti yang telah turun dari sorga menunjukkan keallahan pribadi-Nya. Sebagai Allah, Ia memiliki wujud di sorga, darimana Ia telah datang untuk mengambil rupa dan sifat kita pada diri-Nya. Artinya supaya kita dapat memahami asal-usul-Nya bahwa Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah di sorga. Ia datang ke dunia dengan mengemban tugas ilahi, yaitu menjadi roti yang hidup.untuk diberikan kepada hidup dunia (ay. 51).

 

ROTI HIDUP ITU BERDAMPAK HIDUP YANG KEKAL

Yesus, roti yang turun dari sorga, merupakan makanan yang benar-benar ilahi dan sorgawi, sehingga barangsiapa memakannya, ia tidak akan mati. Artinya, ia tidak akan jatuh dalam murka Allah, yang bisa membunuh jiwa. Ia tidak akan mengalami kematian yang kedua. Tidak akan mati, berarti tidak binasa, tidak gagal mencapai Tanah Kanaan sorgawi, seperti yang dialami bangsa Israel dengan Tanah Kanaan duniawi, karena kekurangan iman, sekalipun mereka memperoleh manna.

Barangsiapa makan dari roti hidup itu, artinya percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia akan beroleh hidup yang kekal (ay. 54). Roh manusia diciptakan untuk keadaan yang kekal tanpa akhir, tetapi tubuh memang harus mati, dan menjadi seperti air yang tumpah ke tanah. Tetapi Yesus berjanji untuk mengumpulkan dan menyatukannya kembali, tepatnya membangkitkannya pada akhir zaman (ay. 54), dan dengan demikian tubuh itupun akan hidup kekal selamanya sebagai dampak dari makan roti hidup itu.

 

KIASAN MEMAKAN DAGING YESUS

Dalam nas ini Yesus menyatakan bahwa “roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku” (ay. 51), “daging Anak Manusia dan darah-Nya” (ay. 53), “sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” (ay. 55). Menjadi percaya berarti kita harus makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya (ay. 53). Ini merupakan sebuah perumpamaan atau kiasan, dimana tindakan-tindakan jiwa terhadap hal-hal yang rohani dan ilahi digambarkan melalui tindakan-tindakan jasmani terhadap hal-hal yang dapat dilihat. Penggambaran seperti ini membuat kebenaran-kebenaran Kristus lebih dapat dimengerti akal oleh sebagian orang dan kurang dapat diterima oleh sebagian yang lain (Mark. 4:11-12).

Apa yang dimaksud dengan makan daging dan minum darah di sini, yang begitu diperlukan dan bermanfaat, pastilah percaya kepada Yesus. Sama seperti kita mengambil bagian dalam daging dan minuman dengan cara makan dan minum, demikian pula kita turut mengambil bagian dalam Kristus dan berkar-berkat-Nya dengan iman. Makan dan minum secara rohani ini didahului dengan rasa lapar dan haus (Mat. 5:6), hasrat yang sungguh-sungguh dan mendesak akan Kristus. Seperti halnya makanan harus dimakan supaya berguna bagi tubuh kita, begitu juga kita harus menerima dan memiliki Kristus supaya Ia berguna bagi diri kita. Memakan dari Kristus berarti melakukan segala sesuatu di dalam nama-Nya, dalam persatuan dengan Dia, dan oleh kekuatan yang diambil dari Dia. Ini berarti hidup rohaniah kita bergantung pada Dia seperti halnya hidup jasmaniah kita bergantung pada makanan kita.

 

KEKELIRUAN DALAM MEMAHAMI KIASAN MAKANAN

Pengajaran Yesus dalam nas ini disalah pahami oleh orang-orang Yahudi yang duniawi, yang pertama kali mendengar pesan tersebut. Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka, mereka saling membisikkan ketidakpuasan mereka. Tanpa pertimbangan yang tepat mereka memahami pemberian-Nya kepada kita sebagai sesuatu yang memang untuk dimakan. Karena itulah, Yesus memberi tahu mereka bahwa apapun yang Ia katakan akan dipahami sebaliknya oleh mereka. Bahkan hal memakan daging-Nya yang merupakan sesuatu yang masuk akalpun (jika dipahami dengan benar), yang jelas-jelas bisa langsung dimengertipun ditelan mentah-mentah begitu saja oleh mereka.

Daging Anak Manusia dan darah-Nya (ay. 53) menunjuk pada daging dan darah yang Ia terima dalam penjelmaan-Nya (Ibr. 2:14), dan yang Ia serahkan dalam kematian dan penderitaan-Nya, yaitu daging-Nya yang akan diberikan-Nya untuk disalibkan dan dibunuh. Itu diberikan untuk hidup dunia (ay. 51), artinya sebagai ganti hidup dunia, yang telah disita oleh dosa, Yesus memberikan daging-Nya sendiri sebagai harga tebusan. Itu Yesus lakukan demi hidup dunia ini, untuk memperoleh penebusan umum untuk hidup kekal bagi seluruh isi dunia ini, dan untuk mendapatkan jaminan khusus untuk kehidupan kekal bagi semua orang percaya.

Pengampunan dosa, perdamaian dengan Allah, pengangkatan sebagai anak, jalan masuk menuju takhta anugerah, janji-janji dari kovenan itu, dan hidup yang kekal; semua ini disebut daging dan darah Kristus, karena semua itu dibeli dengan daging dan darah-Nya, dengan pemecahan tubuh-Nya dan pencurahan darah-Nya. Di dalam Kristus dan Injil-Nya ada persediaan makanan yang sebenarnya, yang sungguh mengenyangkan. Itulah yang benar-benar makanan dan benar-benar minuman yang memuaskan dan menyegarkan jiwa kita (Yer. 31:25-26).

 

REFLEKSI

Iman kepada Kristus adalah respon aktif seseorang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Iman ini mempercayai bahwa darah dan tubuh Kristus telah tercurah dan remuk bagi manusia untuk menyelamatkan manusia dari hukuman kekal. Darah yang tercurah dan tubuh yang terkoyak di kayu salib itu menjadi satu-satunya sumber dan alasan mengapa Kristen hidup di segala zaman. Sakramen Perjamuan Kudus dimana Ia berkata, “…makanlah daging-Ku dan minumlah darah-Ku…” mengingatkan kita pada kematian dan pengorbanan Kristus. Mengikuti Sakramen Perjamuan Kudus ini berarti menyegarkan iman percaya kita kepada-Nya. Percaya itu harus ditujukan kepada Yesus Kristus dan pengorbanan-Nya. Marilah kita terus setia dalam iman kita agar sekarang dan seterusnya kita menjalani kehidupan kekal di dalam Dia.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan