Bukan Soal Jumlah Tetapi Ketulusan Hati
BUKAN SOAL JUMLAH TETAPI KETULUSAN HATI
Lukas 21:1-4
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat
orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.
2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan
dua peser ke dalam peti itu.
3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.
4 Sebab mereka semua memberi persembahannya
dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia
memberi seluruh nafkahnya.”
(Lukas 21:1-4)
PENDAHULUAN
Setelah sekian lama dan hampir setiap kali Yesus berada di Bait Allah, Ia selalu mengajar dan memberitakan Injil-Nya, kali ini Yesus mengamati orang-orang yang memasukkan persembahan di peti persembahan. Orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka. Kemudian seorang janda miskin memasukkan juga persembahannya yang hanya dua peser. Jumlah yang sangat minim bila dibandingkan dengan persembahan orang-orang kaya. Inilah kemudian yang menjadi topik perbincangan Yesus.
Sangat kontras! Mungkin itulah komentar kita manakala
kita bandingkan kesombongan para pemimpin agama Yahudi dalam nas sebelumnya
dengan tindakan sederhana, namun sangat berkenan bagi Tuhan, dari seorang janda
miskin dalam nas ini. Sungguh kontras tindakan para pemimpin agama yang
memperkaya diri, bahkan dengan menindas janda-janda, dengan si janda miskin
yang rela memberikan persembahan dari kekurangannya.
KONTRAS ANTARA
PERBUATAN PARA AHLI TAURAT DAN JANDA MISKIN
Bahwa amal kepada orang miskin merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan orang-orang percaya. Yesus juga menggunakan setiap kesempatan untuk memuji dan menganjurkannya. Di pasal sebelumnya (ps. 20), Yesus baru saja membongkar kebiadaban para ahli Taurat dibalik kemunafikan yang selalu mereka pertontonkan di muka umum. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan tega “menelan rumah janda-janda”, atau dengan kata lain, menindas dan berlaku tidak adil terhadap janda-janda yang malang.
Mungkin dalam nas ini, Yesus bermaksud untuk
mengkontraskan perbuatan para ahli Taurat itu dengan apa yang dilakukan
janda-janda yang malang itu dalam memberi persembahan. Yesus mau memperlihatkan
kepada mereka bahwa para janda yang sering ditindas dan diperlakukan semena-mena
oleh para pemuka agama Yahudi itu ternyata merupakan penyumbang terbaik dalam
persembahan umum yang sering dimanfaatkan oleh para ahli Taurat dengan wewenang
yang ada pada mereka.
PERSEMBAHAN JANDA
MISKIN
Di antara orang-orang kaya yang memberikan persembahan (ay. 1), terselip seorang janda miskin yang memasukkan hanya dua peser ke dalam peti persembahan (ay. 2). Dua peser dalah pecahan uang paling kecil pada masa itu. Tetapi justru persembahan si janda miskinlah yang menyenangkan hati Yesus. Meskipun jumlahnya sama sekali tidak signifikan untuk dipuji, namun di mata Tuhan, persembahannya bernilai lebih besar dibandingkan dengan persembahan orang-orang kaya itu (ay. 3). Yang Yesus lihat adalah arti uang sejumlah itu bagi si janda miskin. Itulah jumlah uang yang dimilikinya untuk melanjutkan hidupnya (ay. 4).
Janda miskin itu mempersembahkan semua yang dimilikinya,
yang berarti bahwa ia mempercayakan dirinya pada Allah. Ia percaya bahwa Allah
akan memelihara hidupnya dan memenuhi kebutuhannya. Ia meletakkan
kepercayaannya pada Allahnya, bukan pada uangnya. Kemiskinan bukanlah alasan
baginya untuk tidak memberi persembahan kepada Allah. Si janda miskin
memberikan persembahan dengan mengorbankan hidupnya untuk menghormati Allah.
Inilah persembahan yang sangat berkenan bagi Tuhan.
YESUS MEMUJI
KEMURAHAN HATI SI JANDA MISKIN
Walaupun persembahan si janda miskin hanya dua peser, yaitu jumlah yang tidak berarti, namun Yesus membesarkannya sebagai persembahan yang melebihi semua yang lain. Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Yesus tidak menyalahkannya atas tindakannya yang kurang pertimbangan, dengan memberikan apa yang sebenarnya diperlukannya sendiri.
Ternyata Yesus tidak menganggap pemberian persembahan si
janda itu sebagai hal yang sia-sia di tengah-tengah persembahan orang-orang
kaya. Sebaliknya, Ia justru memuji kemurahan hatinya dan kerelaannya untuk
berpisah dengan miliknya yang sangat sedikit demi kemuliaan Allah, yang
bersumber dari iman dan ketergantungan pada pemeliharaaan Allah untuk menjaga
dirinya. Dalam hal ini, si janda miskin mempunyai iman yang kuat bahwa Allah
itu adalah Jehovah jireh, yaitu Tuhan yang menyediakan. Tuhanlah yang akan
menyediakan segala kebutuhan hidupnya selanjutnya.
TUHAN MENGETAHUI
MOTIVASI KITA UNTUK MEMBERI
Sebagaimana Tuhan Yesus mengamati apa yang diberikan orang-orang kaya dan janda miskin sebagai persembahan dalam nas ini, ia juga pasti memperhatikan dan mengamati apa yang kita berikan kepada orang miskin atau untuk beramal, dan apa yang kita berikan untuk persembahan. Ia mengamati apakah kita memberi dengan banyak dan lapang hati sesuai dengan apa yang kita miliki, atau apakah kita menghindar dan pelit untuk memberi. Bukan itu saja, mata-Nya melihat lebih jauh lagi, Ia mengamati apakah kita memberi dengan murah hati dan dengan hati yang rela, atau dengan menggerutu dan ogah-ogahan.
Tuhan mengamati dan menerima secara khusus perbuatan amal
dan persembahan orang yang miskin. Pelajaran yang bisa kita petik dari nas ini
adalah bahwa seseorang yang walaupun ia miskin, namun ia memberikan miliknya
yang sedikit itu ke dalam peti persembahan. Begitu juga halnya dengan
orang-orang yang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, masih bisa melakukan
perbuatan amal yang besar dengan cara melayani dan membantu mereka yang miskin,
dan juga memohon bantuan bagi mereka yang tidak berdaya atau yang tidak bisa
memohon bantuan bagi diri mereka sendiri. Ini hendaknya mendorong kita untuk
beramal dan memberi persembahan dengan motivasi tulus ikhlas dan murah hati,
tanpa ada niat supaya diketahui manusia. Cukup Tuhan yang tahu. Ia melihatnya
dengan diam-diam, dan akan menghargainya dengan terang-terangan.
REFLEKSI
Kesediaan si janda miskin untuk memberi apa yang dia
miliki, menjadi cambuk bagi kita yang sering memaafkan diri sendiri bila tidak
memberi persembahan karena rasa malu bila hanya memberi sedikit. Perlu kita
ingat bahwa bukan jumlah uangnya yang Tuhan perhitungkan tetapi sikap hati yang
percaya dan mau berkorban karena penghormatan kepada Allah. Tuhan tidak
tertarik pada jumlah persembahan yang kita beri, Dia lebih tertarik pada
motivasi hati yang mendorong pemberian persembahan tersebut. Marilah kita
belajar untuk memberi persembahan tanpa hitung-hitungan, tetapi dengan tulus
ikhlas sebagai ucapan syukur atas berkat-berkat dan pemeliharaan Tuhan.
Comments
Post a Comment