Kasihilah Tuhan Dengan Melakukan Firman-Nya
KASIHILAH TUHAN DENGAN MELAKUKAN FIRMANNYA
Ulangan 6:1-9
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 “Inilah perintah, yakni ketetapan dan
peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk
dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,
2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu
takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya
yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah
itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak,
seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri
yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah
kita, TUHAN itu esa!
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini
haruslah engkau perhatikan,
7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang
kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila
engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau
bangun.
8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai
tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang
pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”
(Ulangan 6:1-9)
PENDAHULUAN
Setiap orangtua akan mewariskan hal terbaik yang dimilikinya kepada anak-anaknya. Pengertian tentang hal terbaik ini mungkin berbeda-beda pada setiap orangtua. Umumnya orangtu menilai harta sebagai hal terbaik yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Selain itu ada pula yang menilai nama baik, kebijaksanaan, budaya atau nilai-nilai sebagai hal terbaik untuk diwariskan kepada anak. Lalu, apakah hal terbaik yang dapat diwariskan oleh orangtua Kristen? Jawabnya adalah iman yang hidup kepada Allah di dalam Yesus anak-Nya.
Cara dan seni mewariskan iman inilah yang disampaikan
Musa kepada umat Israel di akhir masa pelayanannya. Nas ini disampaikan Musa
kepada bangsa Israel ketika Musa akan meninggalkan mereka karena mati. Yang
ditekankan Musa dalam pengajarannya kepada umat Israel adalah pengakuan iman
agar supaya mereka tidak melupakan Tuhan. Pengakuan iman ini bukanlah rumusan
Musa sebagai hasil analisis dan pemikirannya sendiri, melainkan didasarkan pada
pengalaman-pengalaman Musa dan umat Israel sendiri, sejak Tuhan Allah
memperkenalkan diri-Nya kepada Israel dengan melepaskan mereka dari tanah
perbudakan Mesir. Di sepanjang sejarah dari Mesir hingga dataran Moab itu, yang
kira-kira 40 tahun lamanya, Tuhan Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada
Israel dan telah membuktikan kepada mereka dengan firman-Nya dan karya-Nya
siapa Tuhan Allah itu.
MENGAJARKAN SEGALA
YANG DIPERINTAHKAN ALLAH
Dengan mengingat bahwa, saat Musa menuliskan nas ini, umat Israel akan memasuki tanah Kanaan, Musa berusaha dengan sepenuh hati untuk membuat mereka melekat kepada Allah dan hidup saleh. Supaya, dengan demikian, mereka siap menikmati segala kelimpahan (ay. 3) dari negeri itu, dan dibentengi dari jerat-jeratnya. Dan juga, karena sekarang mereka mulai menapaki kehidupan dunia di negeri yang dijanjikan Tuhan, supaya mereka dapat berjalan dengan baik.
Lalu Musa mengajarkan kepada bangsa itu hal-hal, dan
hanya hal-hal, yang diperintahkan Allah kepadanya untuk diajarkan kepada mereka
(ay. 1). Demikian pula halnya para hamba Tuhan harus mengajarkan kepada
jemaat-Nya segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya, tidak lebih dan tidak
kurang (Mat. 28:20). Tujuan mereka diajar adalah supaya mereka dapat melakukan
seperti yang diajarkan kepada mereka (ay. 1), supaya mereka berpegang pada
segala ketetapan Allah (ay. 2), dan supaya mereka melakukannya dengan setia
(ay. 3).
DASAR PALING KUAT
UNTUK TAAT
Musa tahu bahwa takut akan Allah di dalam hati akan menjadi dasar pegangan yang paling kuat untuk berlaku taat. Dan inilah yang menjadi inti pengajaran Musa, yaitu “supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya” (ay. 2). Pewarisan agama dalam keluarga, atau bangsa, atau negeri, adalah pewarisan yang terbaik. Sudah menjadi keinginan besar kita bahwa bukan hanya kita, melainkan juga anak-anak kita, dan cucu-cicit kita, takut akan Tuhan.
Musa menegaskan bahwa dengan takut akan Tuhan dan menaati
segala perintah dan ketetapan-Nya, maka keadaan mereka akan baik, karena
berkat-berkat yang dijanjikan Tuhan akan melimpahi mereka. Orang-orang yang
diajar dengan baik, jika mereka melakukan apa yang diajarkan kepada mereka,
yaitu segala pertintah dan ketetapan Tuhan, akan terpenuhi
kebutuhan-kebutuhannya dengan baik pula, seperti umat Israel di suatu negeri
yang berlimpah-limpah susu dan madunya (ay. 3).
TUHAN ALLAH ITU
ESA
Musa mengajarkan kepada kita di sini bahwa Tuhan Allah kita itu esa (ay. 4). Bahwa Allah yang kita sembah adalah Yahweh, Wujud yang sempurna secara tak terhingga dan secara kekal, yang ada dari diri-Nya sendiri, dan maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri. Bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang hidup dan yang benar. Dia sajalah Allah, dan Dia hanyalah satu. Keyakinan yang teguh akan kebenaran yang terbukti dengan sendirinya ini, akan mampu mempersenjatai umat Tuhan melawan segala bentuk penyembahan berhala, yang muncul karena konsep yang salah bahwa ada banyak allah. Oleh sebab itu, janganlah kita memiliki allah lain, atau berkeinginan untuk memiliki allah lain, karena tidak ada yang lain kecuali Dia (Mrk. 12:32).
Berbahagialah mereka yang memiliki Tuhan yang esa ini
sebagai Allah mereka, sebab mereka hanya memiliki satu Tuhan untuk disembah,
dan hanya satu Pemberi untuk diminta. Lebih baik memiliki satu mata air
daripada seribu kolam, satu Allah yang maha mencukupi oleh diri-Nya sendiri
daripada seribu allah yang tidak mencukupi oleh dirinya sendiri.
KASIHILAH TUHAN
ALLAHMU
Dalam mewujudkan takut akan Allah, Musa kemudian mengajarkan kepada bangsa itu untuk mengasihi Allah, sebab makin hangat perasaan kasih kita kepada Allah, makin besar pula penghormatan kita kepada-Nya. Seorang anak yang menghormati orangtuanya, tidak diragukan lagi pasti mengasihi mereka. Mengasihi Tuhan berarti menuruti segala perintah-Nya dengan tekad yang bulat, dan juga berarti menaruh perhatian penuh kepada kepentingan-kepentingan Tuhan, dengan mengutamakan apa yang Tuhan kehendaki.
Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan
segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan kita. Dengan segenap hati berarti menyerahkan segala proses pemikiran,
perasaan, dan keputusan kita kepada Tuhan untuk dituntun dan dimanfaatkan demi
tercapainya kehendak Tuhan. Dengan
segenap jiwa berarti menundukkan serta mengabdikan segala perkara nafsu
keinginan kepada kehendak Tuhan, sehingga segenap potensi serta perasaan yang
ada di dalam diri kita menjadi sarana kehendak Tuhan. Dengan segenap kekuatan berarti bertindak sekuat tenaga untuk
menegakkan hal-hal yang dituntut oleh Torah (Hukum Tuhan), serta membatasi
hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Israel/umat Tuhan
disuruh Tuhan untuk mengasihi, melayani, dan menaati Tuhan dengan segenap hati,
jiwa, dan kekuatan mereka.
SYEMA
Orang Israel menyebut ay. 4-9 dalam nas ini sebagai syema. Kata syema berarti “mendengar dengan sungguh-sungguh dan menaatinya”. Syema ini begitu penting, sehingga mereka menuliskannya dalam potongan-potongan kecil perkamen, lalu dimasukkan ke dalam kotak kulit kecil yang disebut filakteria. Filakteria ini diikatkan di lengan kanan dan dahi saat seorang pria Israel berdoa pada pagi dan petang hari, dan juga ditempelkan di tiang pintu rumah. Pada masa Perjanjian Baru, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat selalu memakai filakteria ini.
Melalui syema ini, Israel diajar untuk memilih
persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Seluruh aspek
kehidupan Israel didasari oleh hubungan kasihnya dengan Tuhan. Di dalam kasih
ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total, yaitu syema
ini:
1.
harus tertanam di dalam hati orang Israel (ay.
6);
2.
harus tertanam di dalam hati anak-anak Israel
(ay. 7);
3.
harus menjadi bagian hidup sehari-hari mereka
(ay. 7);
4.
harus menjadi identitas pribadi mereka (ay. 8);
dan
5. harus menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel (ay. 9).
Tidak ada satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel
yang terlepas dari relasi mereka yang penuh kasih kepada Tuhan. Jelaslah bahwa
apa yang diminta Tuhan bagi umat-Nya dan hamba-Nya bukanlah kecakapan untuk
memimpin, berorganisasi, berkhotbah, bernyanyi, atau apapun yang lainnya,
melainkan hati yang mengasihi Tuhan (Yoh. 21:15-19).
REFLEKSI
Hal yang terutama, terpenting, dan paling berharga bagi
umat Tuhan di sepanjang masa adalah iman yang hidup kepada Allah di dalam Yesus
yang menyelamatkan manusia dari dosa. Karena itu, seharusnyalah setiap orangtua
Kristen mewariskan iman yang hidup itu kepada anak-anaknya. Mewariskan iman
memang harus dilakukan dengan cara mengajarkan dan menunjukkan sikap hidup
sehari-hari dalam mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Oleh
karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan
kekuatan kita dalam setiap aktivitas kehidupan kita.
Comments
Post a Comment