Meredam Iri Hati
MEREDAM IRI HATI
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Dari Daud. Jangan marah karena orang yang
berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;
2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan
layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.
3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang
baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,
4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan
memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan
percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti
terang, dan hakmu seperti siang.
7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan
nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena
orang yang melakukan tipu daya.
8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas
hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan
dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi
negeri.
10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah
orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.
11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan
mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.
(Mazmur 37:1-11)
PENDAHULUAN
Kesal rasanya melihat orang lain menang karena berbuat curang. Kita juga jengkel jika ada orang yang lulus karena mencontek atau mendapat jawaban dari bocoran soal. Sementara itu ada orang yang jujur, namun kalah atau tidak lulus. Peristiwa semacam itu bisa membuat orang merasa iri dan marah karena mendapat perlakuan yang tidak adil. Iri hati ini, kita akui atau tidak, kerapkali mempengaruhi panorama hari-hari kita. Kita perlu mewaspadainya, karena walaupun ia muncul dengan cara yang terselip dan merayap perlahan, namun dengan cepat ia akan menyerang serta menjebak kita ke dalam berbagai persaingan, ketidakpuasan dan kemarahan.
Daud dengan sangat memperingatkan agar kita menghindari
kemarahan dan panas hati yang disebabkan oleh perasaan iri hati terhadap
orang-orang yang berbuat jahat, curang, dan melakukan tipu daya, namun berhasil
dalam hidupnya. Kemarahan dan panas hati yang tidak terkendali, menurut Daud,
sangat merugikan dan berbahaya karena akan menggiring seseorang pada kejahatan
demi pemuasan kemarahannya.
GODAAN IRI HATI
Dunia ini penuh dengan orang yang berbuat jahat dan yang melakukan kecurangan, namun tetap maju dan berjaya, yang memiliki semua yang mereka inginkan dan berlaku semau mereka, yang bergelimang kesenangan dan kemegahan, yang menggenggam kuasa dalam tangan mereka untuk menindas orang-orang di sekeliling mereka. Begitu juga keadaannya pada zaman Daud dahulu. Jadi, jika keadaan masih demikian biarlah kita tidak terkejut dibuatnya, sebab hal itu bukanlah sesuatu yang aneh ataupun baru.
Tidak jarang kita tergoda untuk merasa marah karena
keadaan ini, dan menaruh dengki terhadap perkara kotor yang menggelisahkan itu,
terhadap segala kecemaran dan gangguan yang ada di dunia ini. Bahkan kita
cenderung merasa marah kepada Allah, seolah-olah Dia tidak berlaku baik
terhadap dunia dan umat-Nya karena membiarkan orang-orang jahat hidup makmur
dan berhasil. Kita juga cenderung merasa marah karena kesal dengan keberhasilan
mereka dalam melakukan rancangan jahat mereka. Kita juga merasa iri dengan
kebebasan mereka dalam memanjakan nafsu-nafsu mereka, dan berharap kita juga
mengenyahkan semua kekangan hati nurani kita supaya kita pun dapat berbuat sama
seperti mereka.
PERINGATAN DAUD
TENTANG IRI HATI
Daud memperingatkan kita dalam hal iri hati melihat kesuksesan dan kemajuan orang-orang fasik. Jangan marah dan jangan iri hati (ay. 1), karena kemarahan dan iri hati itu saja sebenarnya sudah merupakan dosa yang ada hukumannya. Kedua dosa ini membebani roh dan membusukkan tulang kita. Jadi, peringatan untuk menjauhi kedua dosa ini sebenarnya merupakan kebaikan bagi diri kita sendiri.
Lagi pula, saat kita memandang ke depan dengan mata iman,
kita akan melihat bahwa tidak ada alasan untuk merasa iri hati terhadap keberhasilan
orang jahat, sebab kebinasaan mereka telah di ambang pintu dan mereka semakin
dekat ke sana (ay. 2,9,10). Mereka memang tumbuh dan berkembang, tetapi hanya
seperti rumput dan tumbuh-tumbuhan hijau yang tidak layak dicemburui.
Keberhasilan orang saleh seperti pohon yang berbuah lebat (Mzm. 1:3), tetapi
keberhasilan orang jahat seperti rumput dan tumbuhan hijau yang umumnya
sangatlah singkat. Artinya, kemakmuran lahiriah akan cepat hilang, begitu juga
hidup yang dilekatkan padanya. Mereka segera akan menjadi lisut oleh
penghakiman Allah. Jadi, kemenangan mereka berumur pendek, tetapi ratapan dan
tangisan mereka akan berlangsung selama-lamanya.
RESEP MANJUR DAUD
UNTUK MELAWAN IRI HATI
Daud menasihati kita supaya menjalani hidup dengan
keyakinan dan kepuasan di dalam Allah, dan hal itu akan menjauhkan kita dari
amarah terhadap keberhasilan orang yang berlaku jahat. Jika jiwa kita terjaga,
tidak ada alasan bagi kita untuk mendengki terhadap mereka yang jiwanya akan
binasa. Berikut ini adalah tiga rumusan unggul yang harus menguasai kita, dan
tiga janji berharga yang menyertainya yang boleh kita andalkan.
Percayalah Kepada Tuhan dan Lakukanlah Yang
Baik
Kita harus percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik (ay. 3), supaya kita melekat dan menjadi serupa dengan-Nya. Kita tidak boleh berpikir bahwa kita bisa percaya kepada Allah dan pada saat yang bersamaan bisa hidup seenak kita. Kita juga tidak boleh merasa telah berlaku baik jika kita masih saja mengandalkan diri kita, kebenaran kita, dan kekuatan kita sendiri. Namun, kita harus melakukan keduanya sekaligus, yaitu percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik.
Dengan percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik, maka
Tuhan berjanji akan memelihara hidup kita dengan baik di dunia ini, yaitu diam
di atas bumi dan memelihara diri kita dengan setia. Artinya kita akan memiliki
sebuah tempat tinggal yang tenang dan dipelihara dengan setia oleh pemeliharaan
Allah. Kita dipeliharakan dengan setia, sebagaimana Elia yang dipelihara pada
masa kelaparan, dengan apa yang kita perlukan.
Jadikan Allah Sebagai Kesukaan Hati Kita
Kita harus menjadikan Allah sebagai kesukaan hati kita dan kita pun akan memperoleh apa yang diinginkan hati kita (ay. 4). Kita bukan saja harus menggantungkan hidup kita kepada Allah, melainkan juga mencari penghiburan di dalam Dia. Kita harus bergirang di dalam keindahan, kelimpahan dan kebaikan-Nya (ay. 11). Kita diperintahkan (ay. 3) untuk melakukan yang baik, dan kemudian mengikuti perintah ini untuk bersuka di dalam Allah, yang merupakan hak istimewa sekaligus kewajiban. Jika kita selalu mawas diri untuk taat kepada Allah, maka kita pun dapat memperoleh penghiburan berupa kepuasan di dalam diri-Nya.
Kewajiban menyenangkan untuk bersuka di dalam Allah pun
memiliki sebuah janji yang melekat kepadanya, janji yang berlimpah dan
berharga, cukup untuk mengganjar pelayanan yang terberat sekalipun. Ia akan
memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Allah tidak berjanji untuk
memuaskan segala keinginan tubuh, melainkan memberikan semua keinginan hati,
yaitu semua kerinduan dari jiwa yang telah disucikan. Apakah gerangan yang
menjadi keinginan hati seorang yang saleh? Jawabnya adalah mengenal, mengasihi
dan hidup untuk Allah, untuk menyenangkan-Nya dan disenangkan oleh-Nya.
Serahkan Segalanya Ke Dalam Pimpinan dan
Kehendak Allah
Kita harus menyerahkan segala perbuatan kita kepada Tuhan, mempasrahkan jalan kita kepada-Nya (ay. 5; Ams. 16:3; Mzm. 55:23), dan menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya (1 Ptr. 5:7). Kita harus mengibaskannya dari diri kita sedemikian rupa sehingga tidak meresahkan dan mengganggu pikiran kita mengenai apa yang akan terjadi nanti (Mat. 6:25). Melalui doa, kita beberkan perkara kita dan segala kekhawatiran kita tentang perkara itu di hadapan Tuhan, sebagaimana Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan di Mizpa (Hak. 11:11). Kemudian percayalah bahwa Dia akan membereskan semuanya, dan semua yang diperbuat-Nya selalu akan mendatangkan kepuasan penuh.
Tuhan akan bertindak mengenai apapun yang telah kita
serahkan kepada-Nya. Meskipun tidak selalu dengan cara seperti yang kita
inginkan, cara-Nya tetap akan menyenangkan kita. Dia akan menemukan cara untuk
melepaskan beban yang menghimpit kita, melenyapkan rasa khawatir kita, dan
membuat tujuan kita tercapai dengan cara yang memuaskan. Secara khusus, Tuhan
akan memunculkan kebenaran kita seperti terang, dan hak kita seperti siang (ay.
6). Artinya, Dia akan menjaga nama baik kita dan mengeluarkan kita dari segala
kesulitan, bukan saja dengan diiringi penghiburan, tetapi juga dengan penuh
kehormatan.
REFLEKSI
Allah bukan menolak kesuksesan, tetapi kehidupan orang
fasik itu sendiri. Allah berkenan kepada orang percaya dan akan membelanya
karena ia hidup sebagai orang benar. Jadi, sikap kita bukan bagaimana kita
membangun kehidupan yang lebih sukses dari orang lain, terutama orang fasik,
tetapi bagaimana kita hidup benar di hadapan Tuhan. Orang benar mungkin bukan
orang yang paling kaya atau terkenal di dunia ini, tetapi merekalah pewaris
kerajaan sorga. Percaya kepada Tuhan dan berserah serta taat kepada-Nya, bukan
supaya kita mendapat berkat dan akhirnya kehidupan kita lebih sukses dari orang
fasik, bukan juga supaya Tuhan membalaskan perbuatan orang-orang yang membuat
kita iri hati. Kita percaya Tuhan dan mengikuti ajaran-Nya supaya kita hidup
dalam kebenaran, ketenangan dan kedamaian.
Comments
Post a Comment