Pembenaran oleh Iman
PEMBENARAN OLEH IMAN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman,
kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus
Kristus.
2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh
iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita
bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah
juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu
menimbulkan ketekunan,
4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan
uji menimbulkan pengharapan.
5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena
kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah
dikaruniakan kepada kita.
(Roma 5:1-5)
PENDAHULUAN
Dibenarkan oleh iman adalah prinsip Alkitab mengenai keselamatan. Ini bukan pengajaran Perjanjian Baru atau Paulus semata-mata, tetapi ini juga merupakan prinsip yang diberlakukan pada masa Perjanjian Lama. Seseorang dibenarkan bukan karena melakukan Taurat melainkan karena percaya kepada Allah. Prinsip ini menghasilkan dampak positif, dimana pembenaran yang dilakukan Kristus atas manusia karena iman menjadi pintu yang membukakan banyak berkat. Dan semua itu tidak mungkin terjadi melalui ketaatan manusia pada Taurat. Hanya karena kasih karunia Allahlah kita memiliki keselamatan yang mencakup juga aspek masa datang, yaitu kemenangan iman kita akan dinyatakan kelak dan kita akan menikmati kemuliaan sebagai anak-anak Allah.
Segala keuntungan dan hak istimewa berharga mengalir bagi
kita yang dibenarkan karena iman percaya
kita kepada Kristus. Buah-buah dari pohon kehidupan kita yang menerima
pembenaran oleh iman ini amat sangat berharga, yaitu:
KITA HIDUP DALAM
DAMAI SEJAHTERA DENGAN ALLAH
Dosa tidak saja menciptakan keterasingan, tetapi juga menimbulkan perseteruan dan permusuhan antara kita dengan Allah. Allah yang kudus dan benar tidak mungkin dapat berdamai dengan orang berdosa sementara orang itu terus berada di bawah kesalahan dosa. Pembenaran melenyapkan kesalahan itu dan dengan demikian membuat jalan bagi pendamaian. Begitulah kemurahan dan perkenanan Allah kepada manusia, bahwa begitu hambatan itu disingkirkan, terjadilah pendamaian.
Pendamaian hanya terjadi melalui Tuhan Yesus, melalui Dia
sebagai juru damai agung, Pengantara antara Allah dan manusia, Sang Pahlawan
yang terberkati itu, yang telah membentangkan tangan-Nya di antara Allah dan
manusia. Yesus tidak saja menjadi pendamai, tetapi juga merupakan pokok dan
pemelihara damai bagi kita (Kol. 1:20).
KITA BEROLEH JALAN
MASUK KEPADA KASIH KARUNIA
Oleh iman kita dibenarkan dan karenanya kita beroleh jalan masuk kepada kasih karunia, dan di dalam kasih karunia ini kita berdiri (ay. 2). Artinya, kita tidak saja memperoleh damai sejahtera, tetapi juga mendapat kasih karunia, yaitu kemurahan, Allah. Kristus sendirilah yang memperkenalkan dan menuntun kita dengan tangan-Nya ke dalam kasih karunia ini. Kristus melakukan hal ini tidak dengan mempertimbangkan jasa dan kelayakan kita, tetapi dengan mempertimbangkan ketergantungan dan kepercayaan kita kepada-Nya dan penyerahan diri kita kepada-Nya.
Di dalam kasih karunia kita tidak saja berada tetapi juga
berdiri, yang merupakan sikap tubuh yang menunjukkan bahwa kita telah
dibebaskan dari kesalahan, dan karenanya kita tahan berdiri dalam penghakiman
(Mzm, 1:5). Tidak dibuang atau dicampakkan seperti penjahat yang dihukum,
tetapi martabat dan kehormatan kita terjamin. Kita tidak boleh berbaring,
seolah-olah sudah berhasil mencapai tujuan, tetapi kita berdiri dengan teguh
dan aman. Berdiri sebagaimana para prajurit mempertahankan kedudukan mereka,
dan tidak jatuh karena tekanan kuasa musuh.
KITA BERMEGAH
DALAM PENGHARAPAN AKAN KEMULIAAN ALLAH
Kita juga memperoleh satu lagi kebahagiaan, yaitu pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (ay. 2), kemuliaan yang akan diberikan kepada orang-orang kudus di surga, yaitu kemuliaan dalam melihat dan menikmati hadirat Allah. Hanya orang-orang yang sekarang ini memiliki jalan masuk oleh iman ke dalam kasih karunia Allah yang dapat mengharapkan kemuliaan Allah di kehidupan yang akan datang. Tidak ada pengharapan akan kemuliaan yang benar, selain yang ditemukan di dalam kasih karunia.
Kasih karunia adalah permulaan kemuliaan, tanda jaminan
dan kepastian akan kemuliaan. Orang-orang yang mengharapkan kemuliaan Allah di
kehidupan yang akan datang mengalami rasa sukacita di kehidupan yang sekarang
ini. Adalah kewajiban bagi orang-orang yang mengharapkan surga untuk
bersukacita di dalam pengharapan itu.
KITA BERMEGAH
DALAM KESENGSARAAN
Kesengsaraan itu tampaknya merupakan penghalang utama bagi kebahagiaan orang-orang percaya, namun sesungguhnya kebahagiaan mereka tidak saja terdiri dari kesengsaraan itu, tetapi juga berasal dari situ. Jadi kita orang-orang percaya bermegah juga dalam kesengsaraan kita, khususnya kesengsaraan karena kebenaran. Kita bermegah dalam kesengsaraan karena kita telah dianggap layak untuk menderita (Kis. 5:41). Bagaimana kita dapat bermegah dalam kesengsaraan? Paulus memberikan suatu rantai sebab-akibat mengapa kita dapat bermegah dalam kesengsaraan.
1. Bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (ay. 3), bukan di dalam dan dari kesengsaraan itu, tetapi dari kasih karunia Allah yang penuh kuasa yang bekerja di dalam dan dengan kesengsaraan itu. Kesengsaraan itu menimbulkan dan meningkatkan ketekunan, seperti halnya karunia bertambah oleh latihan iman. Bukan penyebabnya yang membuat hal demikian terjadi, melainkan karena berserah pada apa yang terjadi itu. Yang mengerjakan ketekunan itu adalah sukacita, sebab ketekunan akan memberikan lebih banyak kebaikan dibandingkan dengan kesengsaraan yang hanya dapat menyakiti kita.
2. Ketekunan menimbulkan tahan uji (ay. 4). Artinya, melalui kesengsaraan itulah kita dapat menguji ketulusan kita sendiri, dan itulah sebabnya kesengsaraan semacam itu disebut juga sebagai ujian. Orang-orang yang memiliki ketekunan di dalam kesengsaraan akan mengalami penghiburan ilahi. Penghiburan itu akan semakin melimpah ketika kesengsaraan bertambah. Ketekunan menimbulkan sebuah pujian, karena terbukti lulus dalam ujian itu. Dengan demikian, kesengsaraan Ayub menimbulkan tahan uji, dan tahan uji itu menghasilkan pujian, bahwa ia tetap tekun dalam kesalehannya (Ayub 2:3).
3. Tahan uji menimbulkan pengharapan (ay. 4). Orang yang diuji akan muncul seperti emas, sehingga mereka akan didorong untuk berharap. Tahan uji ini atau pujian yang diberikan bukan hanya menjadi dasar tetapi juga menjadi bukti dari pengharapan kita. Tahan uji yang berasal dari Allah menjadi penyangga dari pengharapan kita. Ia yang telah melepaskan akan sanggup dan mau menolong. Tahan uji yang berasal dari diri kita sendiri akan membantu membuktikan kesungguhan hati kita.
4. Pengharapan
tidak mengecewakan (ay. 5). Artinya, pengharapan itu bukanlah pengharapan
yang menipu kita. Rasa malu dan kebingunan yang tiada hentinya akan ditimbulkan
oleh hancurnya pengharapan orang fasik, tetapi harapan orang benar akan menjadi
sukacita (Ams. 10:28; Mzm. 22:6; 71:1). Atau, kesengsaraan kita tidak akan
mempermalukan kita. Kesengsaraan kita adalah untuk perkara yang baik, karena
Tuhan yang baik, dan dalam pengharapan yang baik. Pengharapan ini tidak akan
mengecewakan kita, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh
Roh Kudus (ay. 5) sebagai Roh kasih. Kasih itu dicurahkan seperti minyak
narwastu, mengharumkan jiwa, seperti hujan yang mengairi dan membuatnya berbuah
lebat. Perasaan akan kasih Allah kepada kita membuat kita tidak malu dengan
pengharapan kita di dalam Dia dan penderitaan kita bagi-Nya.
REFLEKSI
Sebagai orang percaya, sukacita karena pendamaian yang
telah Kristus kerjakan harus menuntun kita untuk masuk ke dalam pertumbuhan
semakin serupa dengan Kristus. Realitas penderitaan atau kesengsaraan merupakan
hal yang tidak terhindarkan dalam dunia yang telah jatuh. Namun, tujuan Allah
menghadirkannya, atau tepatnya mengizinkannya, adalah untuk membentuk karakter
setiap kita, agar kita orang percaya dapat terus bertumbuh dalam pengharapan
sesuai dengan kehendak-Nya. Hadapilah kesengsaraan yang hadir dalam hidup kita.
Izinkan Allah untuk membentuk kita melalui hal-hal yang pahit sehingga hidup
kita dapat berpadanan dengan standar Kerajaan Surga. Kasih yang dicurahkan-Nya
melalui Roh Kudus akan menolong kita untuk makin memaknai karya pendamaian
Kristus.
Comments
Post a Comment