Pilihlah Yang Tepat
PILIHLAH YANG TEPAT!
Oleh Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan
menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan
yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,
dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran
air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa
saja yang diperbuatnya berhasil.
4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti
sekam yang ditiupkan angin.
5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam
penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
(Mazmur 1:1-6)
PENDAHULUAN
Pembagian anak-anak manusia atas orang kudus dan orang berdosa, orang benar dan orang fasik, anak-anak Allah dan anak-anak si jahat, sudah ada sejak lama, sudah sejak dimulainya peperangan antara dosa dan anugerah, antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Pembagian ini berlangsung selamanya, dan akan tetap ada sekalipun semua pembagian dan pemisahan lain antara yang tinggi dan yang rendah, yang kaya dan yang miskin, yang budak dan yang merdeka sudah tidak aga lagi. Sebabnya adalah karena dengan pembagian inilah keadaan kekal manusia akan ditentukan, dan pembagian ini akan tetap ada selama ada sorga dan neraka.
Mazmur ini merupakan pengajaran
tentang yang baik dan yang jahat, yang menawarkan kepada kita hidup dan mati,
berkat dan kutuk, agar kita mengambil jalan yang benar menuju kebahagiaan dan
menghindari apa yang pada akhirnya pasti akan berujung kepada kesengsaraan dan
kehancuran dan kebinasaan. Sifat dan keadaan yang berbeda dari orang saleh dan
orang fasik, dari orang-orang yang melayani Allah dan yang tidak, dinyatakan
dengan jelas di sini.
ADA DUA PILIHAN
Pemazmur memperhadapkan kepada kita dua pilihan: jalan orang benar dan jalan orang fasik, keduanya tidak dapat disatukan, dan tidak ada jalan tengah. Karena itu, setiap orang harus bisa mengambil pilihan, jalan mana yang diikutinya.
Mengikuti jalan orang benar merupakan pilihan yang benar juga tepat, dan membawa seseorang kepada kebahagiaan. Standarnya jelas, yakni firman Tuhan, yang direnungkan secara teratur (ay. 2). Hasilnya pun teruji, dapat dilihat dari buah yang dihasilkan. Yaitu, buah yang masak pohon (ay. 3), bukan karbitan. Artinya orang yang hidupnya berpaut pada firman Tuhan, akan menghasilkan buah perbuatan yang baik, yang menyenangkan Tuhan dan memberkati sesama, karena dibimbing dan dilindungi Tuhan (ay. 3,6).
Sebaliknya, memilih mengikuti jalan orang fasik akan
membawa seseorang pada jalan yang sesat dan menuju kebinasaan (ay. 6b). Standar yang digunakan ialah dunia ini
(ay. 1), yaitu kehidupan yang dikendalikan oleh bujuk rayu dunia ini. Hasilnya
kesia-siaan, yang digambarkan
seperti kulit padi yang ditiup angin (ay. 4). Artinya, di mata Tuhan, kehidupan orang fasik tidak berkenan,
bahkan tidak menjadi berkat buat sesama, dan menuju kepada kebinasaan.
STANDAR MENGIKUT
JALAN ORANG BENAR
1. Tidak berjalan menurut
nasihat orang fasik.
Dunia penuh dengan orang-orang jahat, mereka berjalan di segala sisi. Pemazmur menggambarkan mereka dengan tiga sifat, yaitu orang fasik, orang berdosa dan pencemooh. Tidak ada orang yang dengan begitu saja langsung mencapai puncak kejahatan. Pertama-tama mereka fasik, membuang rasa takut akan Allah dan hidup dengan mengabaikan kewajiban mereka terhadap-Nya. Kemudian mereka mengesampingkan segala bentuk ibadah agama dan terang-terangan memberontak melawan Allah dan karenanya menjadi orang berdosa. Lama kelamaan hati mereka menjadi begitu mengeras sehingga pada akhirnya mereka menjadi pencemooh. Maksudnya, dengan terang-terangan mereka menantang apa yang suci, mengolok-olok agama, dan menjadikan dosa sebagai bahan tertawaan.
Orang yang memilih jalan yang benar pastilah tidak berjalan menurut nasehat orang fasik, meninggalkan sepenuhnya pergaulan dengan para pembuat kejahatan, dan tidak mau dipimpin oleh mereka (ay. 1). Orang benar selalu menghindari orang-orang fasik di manapun ia melihat mereka. Ia tidak melakukan apa yang mereka perbuat, dan supaya jangan sampai ia berbuat demikian, ia tidak bergaul akrab dengan mereka. Meskipun mereka begitu cerdas, cerdik dan terpelajar, namun karena fasik, mereka tidak akan dijadikan penasehatnya. Ia tidak setuju dengan mereka, dan juga tidak mengatakan apa yang mereka katakan (Luk. 23:51).
Memilih jalan orang benar berarti tidak berdiri di jalan orang berdosa. Ia menghindar berbuat apa yang mereka perbuat. Jalan mereka tidak akan menjadi jalannya, ia tidak akan masuk ke dalam jalan itu, apalagi terus berjalan di dalamnya, seperti yang dilakukan orang berdosa, yang menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik. Supaya tidak meniru-niru mereka, ia tidak mau berhubungan dengan mereka, atau memilih mereka sebagai teman.
Orang yang berjalan di jalan orang benar tidak duduk santai dengan orang-orang yang duduk aman dalam kefasikan mereka dan yang menyenangkan diri mereka dengan hati nurani mereka sendiri yang sudah menjadi gersang. Ia tidak berkawan dengan orang-orang yang duduk di balik bilik tertutup untuk mencari-cari cara dan sarana untuk mendukung dan memajukan kerajaan Iblis. Ia juga tidak duduk bersama mereka yang secara terang-terangan menghakimi dan mengutuk angkatan orang benar.
2. Kesukaannya ialah Taurat/Firman Tuhan
Orang saleh, agar bisa melakukan apa yang baik dan tetap melekat padanya, berserah pada bimbingan firman Allah dan mengakrabkan diri dengan firman tersebut (ay. 2). Artinya rahasia hidup bahagia menurut pemazmur di sini ialah kita harus memiliki kesukaan yang tinggi akan firman Tuhan. Orang yang diberkati Allah bukan hanya berbalik dari kejahatan, tetapi juga membangun hidup mereka di sekitar firman Tuhan. Mereka berusaha untuk menaati kehendak Allah dari hati yang sungguh-sungguh senang akan jalan dan perintah Allah.
Walaupun Taurat/Firman Tuhan itu sebuah hukum, sebuah kuk, namun orang saleh bersuka di dalamnya, karena hukum/firman Tuhan itu adalah hukum Allah, yang kudus, adil dan baik, dan yang disetujuinya dengan sukarela, maka ia pun bersuka di dalam batinnya (Roma 7:16,22). Semua orang yang sungguh senang dengan adanya Allah pasti sangat senang dengan adanya Alkitab, sebuah pewahyuan akan Allah, akan kehendak-Nya, dan akan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dalam Dia.
3. Merenungkan Taurat Tuhan atau Firman Tuhan siang dan malam.
Pengenalan akrab akan firman Allah akan tetap terjaga apabila kita merenungkannya siang dan malam. Merenungkan firman Allah berarti bercakap-cakap dengan diri kita sendiri mengenai perkara-perkara besar yang terkandung di dalamnya, dengan niat ingin menerapkannya dalam kehidupan kita, dengan pikiran yang teguh, sampai perkara-perkara itu meresap benar dalam diri kita.
Hal ini harus kita lakukan siang dan malam. Kita harus membiasakan
diri untuk terus menerus memperhatikan firman Allah sebagai pedoman bagi segala
perbuatan kita dan sumber dari segala penghiburan kita. Tidak ada waktu yang
salah untuk merenungkan firman Allah, dan juga tidak ada waktu yang tidak tepat
untuk melakukannya. Bukan hanya pagi dan malam, merenungkan firman Allah juga
harus terjalin dalam pekerjaan dan pergaulan sehari-hari.
JAMINAN
KEBAHAGIAAN BAGI ORANG SALEH
Allah memberkati orang yang berjalan di jalan yang benar, dan berkat itu membuatnya bahagia. Berkat tercurah baginya, segala macam berkat, baik dari sumber yang di atas maupun yang di bawah, yang cukup untuk membuatnya berbahagia sepenuhnya. Tidak satu pun unsur kebahagiaan akan hilang darinya.
Kebahagiaan orang saleh digambarkan seperti pohon. Ia
ditanam oleh anugerah Allah. Pohon yang baik tidak pernah tumbuh dengan
sendirinya. Tuhanlah yang menanamnya, dan oleh sebab itu Dialah yang harus
diagungkan di dalamnya. Ia ditempatkan dengan sarana anugerah, yang di sini
disebut aliran air, sungai-sungai yang menyukakan. Dari sungai-sungai ini orang
saleh menerima persediaan kekuatan dan tenaga, tetapi dengan cara yang
tersembunyi dan tidak tampak.
STANDAR MENGIKUTI
ORANG FASIK
1. Kesukaannya
adalah keinginan-keinginan dunia
Mereka adalah kebalikan dari orang benar, baik dalam sifat maupun keadaan. Mereka dipimpin oleh nasihat orang fasik, berjalan di jalan orang-orang berdosa, dan duduk di dalam kumpulan pencemooh. Mereka tidak bersuka di dalam hukum atau firman Allah, tidak pernah memikirkannya. Yang menjadi kesukaan mereka adalah keinginan-keinginan duniawi (1 Yoh. 2:16; Gal. 5:19-21). Mereka tidak menghasilkan buah apa-apa selain anggur-anggur Sodom.
2. Hidupnya penuh
kesia-siaan
Jika orang saleh adalah seperti pohon yang berharga, berguna dan berbuah, maka orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin, bagian yang paling ringan dari sekam, debu yang pasti akan disapu bersih oleh pemikik rumah, karena tidak berguna untuk apa-apa. Mereka ringan dan sia-sia, tidak berisi, tidak padat. Mereka mudah diombang-ambingkan oleh setiap angin dan godaan. Murka Allah akan menghalau mereka dalam kefasikan mereka, seperti angin meniup sekam, yang tidak pernah mengumpulkan atau memperhatikan mereka.
3. Hasilnya
kebinasaan
Orang-orang fasik, orang-orang berdosa, dan para
pencemooh harus menanggung segala kesalahan atas kehancuran mereka sendiri.
Mereka binasa karena jalan yang telah mereka pilih dan yang di dalamnya mereka
bertekad untuk berjalan, langsung mengantar pada kehancuran. Tuhan menyetujui
dan sangat berkenan dengan jalan orang benar, dan oleh sebab itu, di bawah
kuasa senyum-Nya yang penuh rahmat, jalan itu akan berhasil dan berakhir dengan
baik. Akan tetapi, Dia murka terhadap jalan orang fasik, semua yang mereka
perbuat menyakiti hati-Nya, dan oleh sebab itu jalan mereka akan binasa,
beserta orang-orang yang ada di dalamnya.
Ayat Renungan- (Ulangan 30:19):
Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu
pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk.
Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.
Comments
Post a Comment