Doa Yang Benar: Doa Bapa Kami

DOA YANG BENAR: DOA BAPA KAMI

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

9    Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu

10  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

11  Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

12  dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

13  dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya Amin.

(Matius 6:9-13)

 

PENDAHULUAN

Yesus menganggap perlu untuk memberikan petunjuk baru perihal doa untuk menunjukkan kepada murid-murid-Nya seperti apa sebenarnya isi dan cara menaikkan doa. Ia memberikannya dalam bentuk kata-kata yang sangat baik untuk digunakan sebagai sebuah patokan, ringkasan, atau isi dalam mendoakan beberapa hal tertentu. Di sini kita diminta untuk berdoa mengikuti cara ini, kata-kata ini, atau tujuan ini. Doa ini baik sekali untuk digunakan sebagai patokan, dan doa ini merupakan ikrar persekutuan orang kudus, serta digunakan gereja selama berabad-abad, setidaknya sejak abad ketiga. Doa ini sangat ringkas namun sangat luas dan sangat membantu kita mengatasi kelemahan kita dalam berdoa. Isinya sangat berharga dan perlu, caranya mengandung pelajaran, dan pengungkapannya sangat ringkas. Doa pendek ini mengandung banyak makna, dan sungguh penting bagi kita untuk membiasakan diri dengan rasa dan maknanya, sebab doa ini cocok digunakan hanya apabila digunakan dengan pengertian dan tanpa pengulangan sia-sia.

 

PENGANTAR DOA

Yesus mengajarkan di sini kepada siapa kita harus berdoa, yakni hanya kepada Allah, bukan kepada orang kudus atau malaikat, dan juga bukan kepada Maria sekalipun dia yang melahirkan Yesus. Mengapa? Sebab mereka tidak mengenal kita dan tidak layak menerima penghormatan tinggi yang kita berikan melalui doa, dan juga tidak dapat memberikan apa yang kita harapkan. Kita diajarkan panggilan apa yang harus kita berikan kepada Allah, yaitu Bapa kami. Ini mengisyaratkan bahwa kita harus berdoa bukan saja sendirian dan bagi diri kita sendiri, melainkan juga dengan dan bagi orang lain, sebab kita saling bersaudara dan dipanggil untuk bersekutu satu dengan yang lain.

Jika Allah adalah Bapa kita, Dia akan berbelas kasihan kepada kita karena kelemahan dan kekurangan kita (Mzm. 103:13), Dia akan melindungi kita (Mal. 3:17), Dia akan membuat pekerjaan kita berhasil sekalipun pekerjaan kita banyak cacatnya, dan Dia tidak akan menahan apapun yang baik bagi kita (Luk. 11:11-13). Saat kita datang memohon anugerah, damai sejahtera dan hak waris serta berkat sebagai anak, sungguh menguatkan bila kita datang kepada Allah bukan sebagai hakim yang belum diperdamaikan, yang menjatuhkan hukuman, melainkan sebagai Bapa yang penuh kasih, murah hati, dan yang telah diperdamaikan melalui Kristus (Yer. 3:4).

Sorga adalah tempat untuk menyatakan kemuliaan Bapa sebab di situlah letak takhta-Nya (Mzm. 103:19). Bagi orang percaya, sorga adalah takhta anugerah: ke sanalah kita harus mengarahkan doa kita, sebab sekarang Kristus Sang Pengantara itu ada di sorga (Ibr. 8:1). Sorga tidak terlihat dan merupakan dunia roh. Oleh sebab itu, percakapan kita dengan Allah dalam doa harus dilakukan dalam roh. Sorga adalah tempat yang suci sepenuh-penuhnya, dan oleh sebab itu kita harus mengangkat tangan yang bersih, berusaha menguduskan nama-Nya, karena Dia-lah Yang Mahakudus dan tinggal di tempat kudus itu (Im. 10:3).

 

PERMOHONAN DALAM DOA

Ada enam permohonan dalam doa ini. Tiga yang pertama lebih terkait langsung dengan Allah Bapa dan kehormatan-Nya, sedangkan tiga yang terakhir berkaitan dengan diri kita, baik yang bersifat sementara maupun yang rohani. Cara berdoa yang diajarkan Kristus ini mengajar kita untuk terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, barulah sesudah itu kita boleh berharap bahwa semua yang lainnya akan ditambahkan.

Dikuduskanlah Nama-Mu

Ini lebih diartikan sebagai suatu pemujaan ketimbang permohonan, seperti dalam perkataan Tuhan itu Mahabesar, atau Dimuliakanlah Tuhan, sebab kekudusan Allah adalah kebesaran dan kemuliaan seluruh kesempurnaan-Nya. Kita harus mengawali doa-doa kita dengan memuji Allah, dan sudah sepantasnyalah Dia harus dilayani terlebih dahulu, dan bahwa kita harus memberikan kemuliaan bagi Allah sebelum berharap menerima belas kasihan dan anugerah dari-Nya. Biarlah dia mendapatkan pujian atas kesempurnaan-Nya, baru kemudian kita menerima berkat dari situ.

Kita memohon apa yang merupakan keniscayaan, sebab Allah pasti menguduskan nama-Nya sendiri, entah kita menginginkannya atau tidak (Mzm. 46:11). Kita meminta sesuatu yang kita yakini pasti dikabulkan, sebab ketika Juruselamat kita berdoa, “Bapa, muliakanlah nama-Mu”, doa itu langsung dijawab, “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yoh. 12:28).

Datanglah Kerajaan-Mu

Kita harus mengubah perkataan yang kita dengar menjadi doa. Hati kita harus memantulkan gema dari apa yang kita dengar itu. Ketika kita mendengar Kristus berjanji, “Ya, Aku datang segera”, hati kita harus menjawab, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus” (Wah. 22:20). Para pelayan Tuhan harus mendoakan firman Tuhan. Saat berkhotbah mengenai Kerajaan Allah sudah dekat, mereka harus berdoa, Bapa, datanglah Kerajaan-Mu.

Kita harus mendoakan apa yang telah dijanjikan Allah, sebab janji-janji diberikan bukan untuk menggantikan, melainkan untuk mempercepat dan mendorong doa. Ketika penggenapan janji itu sudah hampir tiba, saat Kerajaan Sorga itu sudah dekat dan sudah di ambang pintu, kita harus semakin bersungguh-sungguh berdoa, datanglah Kerajaan-Mu.

Jadilah Kehendak-Mu di Bumi Seperti di Sorga

Mengenai hal ini Kristus berdoa, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42). Untuk ini kita memohon, mampukan aku melakukan hal yang menyukakan hati-Mu. Beri aku anugerah yang diperlukan untuk mengetahui kehendak-Mu dan kerelaan untuk mentaatinya. Biarlah kehendak-Mu saja yang sungguh-sungguh terjadi melalui aku dan orang lain, dan bukan kehendak kami, yang adalah kehendak daging atau pikiran.

Kita berdoa agar kehendak-Nya terjadi di bumi, di tempat dimana kita sedang menjalani ujian dan pencobaan kita, seperti di sorga, tempat peristirahatan yang penuh dengan sukacita. Artinya agar bumi bisa menjadi lebih serupa dengan sorga melalui ketaatan pada kehendak Allah karena merajalelanya kehendak Iblis, bumi telah begitu mirip dengan neraka, dan supaya para orang kudus lebih menyerupai malaikat kudus dalam hal pengabdian dan ketaatan.

Makanan Kami yang Secukupnya

Setelah berdoa bagi kemuliaan, kerajaan dan kehendak Allah, kita juga berdoa bagi kebutuhan dan kenyamanan yang diperlukan dalam kehidupan sekarang ini, yang merupakan karunia Allah. Kita meminta dari-Nya makanan untuk sepanjang sisa hidup kita, yaitu makanan untuk keberadaan dan penyambung hidup kita di dunia (Ams. 30:8), makanan yang menjadi bagian kita dan keluarga kita, sesuai kedudukan dan lingkungan kita.

Kita meminta makanan kita, yang mengajarkan kita kejujuran dan kerajinan. Kita tidak meminta makanan yang menjadi hak orang lain, roti hasil tipuan (Ams. 20:17), ataupun makanan kemalasan (Ams. 31:27), melainkan makanan yang diperoleh dengan jujur. Kita meminta makanan secukupnya, yang mengajarkan kita untuk tidak merasa khawatir akan hari esok, tetapi senantiasa mengandalkan pemeliharaan ilahi, seperti mereka yang hidup dari sehari ke sehari. Kita berdoa agar Allah memberi kita pada hari ini, yang mengajar kita untuk memperbarui kerinduan jiwa kita pada Allah, sama seperti kebutuhan jasmani kita juga diperbarui. Begitu tiba hari yang baru, kita harus berdoa kepada Bapa sorgawi kita, dan berpikir bahwa melewati satu hari tanpa doa, sama saja dengan melewatinya tanpa makanan.

Ampunilah Kami

Kata ampunilah mengisyaratkan bahwa kecuali dosa-dosa kita diampuni, kita tidak akan dapat hidup tenang atau menerima dukungan untuk hidup yang tenang itu. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa kita harus berdoa meminta pengampunan setiap hari, sama seperti kita juga berdoa meminta makanan untuk setiap hari. Dalam memohonkan pengampunan bagi dosa-dosa kita, pembelaan yang harus kita andalkan adalah keyakinan penuh atas keadilan Allah terhadap dosa manusia melalui kematian Tuhan Yesus yang adalah Penanggung, atau lebih tepat, Jaminan kita atas tindakan kita, yang mengerjakan pembebasan kita.

Alasan kuat yang mendukung permohonan ini adalah seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Jadi, orang-orang yang datang kepada Allah, untuk memohonkan pengampunan dosa-dosa mereka kepada-Nya, haruslah mengampuni orang-orang yang menyakiti hati mereka. Dengan membentuk kesediaan mengampuni dalam diri kita, ini menjadi bukti bahwa Allah telah mengampuni kita.

Janganlah Membawa Kami ke Dalam Pencobaan, Tetapi Lepaskanlah Kami Daripada Yang Jahat

Permohonan ini diungkapkan dalam bentuk negatif: Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Setelah berdoa agar dosa kita diampuni, sudah sepantasnyalah kalau kita berdoa agar tidak pernah kembali melakukan kebodohan, supaya kita jangan tergoda lagi. Ini bisa diartikan sebagai: Tuhan, jangan biarkan kami sendiri, sebab kami sangat lemah. Karena itu, janganlah menempatkan kami dalam keadaan yang dapat membuat kami terjatuh.

Dalam bentuk positif: Tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. Ini sama halnya dengan mengatakan: Tuhan, lepaskanlah kami dari kejahatan dunia, kebusukan yang masuk ke dunia melalui hawa nafsu; dari setiap keadaan jahat dunia ini; dari jahatnya maut; dari sengat maut, yaitu dosa. Lepaskanlah kami dari diri kami sendiri, dari hati kami yang jahat. Lepaskanlah kami dari orang-orang jahat, agar mereka tidak menjadi jerat bagi kami, dan kami tidak menjadi mangsa mereka.

 

KESIMPULAN DOA

Doa ini disimpulkan dengan: Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin. Ini merupakan suatu bentuk permohonan untuk melaksanakan permohonan-permohonan sebelumnya. Di sini, permohonan itu mengacu khusus kepada ketiga permohonan pertama. “Bapa kami yang di sorga, datanglah Kerajaan-Mu, karena Engkaulah yang empunya Kerajaan; jadilah kehendak-Mu, karena Engkaulah yang empunya kuasa; dikuduskanlah nama-Mu, karena Engkaulah yang empunya kemuliaan”.

Ini adalah suatu bentuk pujian dan pengucapan syukur. Betapa lengkapnya puji-pujian kepada Allah ini, Kerajaan, kuasa dan kemuliaan, semuanya Engkaulah yang empunya. Puji-pujian haruslah berlimpah, dan ini adalah sampai selama-lamanya. Memberikan kemuliaan bagi Allah sampai selama-lamanya mengisyaratkan pengakuan kita terhadap Dia, yang berlaku untuk seterusnya, dan kita harus memiliki keinginan yang sungguh untuk melakukannya selama-lamanya, bersama para malaikat dan orang-orang kudus di sorga (Mzm. 71:14).

Terakhir, untuk semuanya itu kita diajar untuk membubuhkan kata Amin pada akhir doa, yang artinya “demikianlah adanya”. Kata Amin dari Allah berarti suatu hibah atau pengabulan permintaan; Ia berfirman, maka jadilah seperti itu. Sedangkan kata Amin yang kita ucapkan hanyalah merupakan suatu keinginan yang ringkas, “kiranya jadilah demikian”. Kita berkata Amin sebagai tanda agar keinginan dan keyakinan kita didengar. Amin menunjuk kepada setiap permohonan sebelumnya. Jadi, sebagai bentuk belas kasihan Allah terhadap kelemahan kita, kita diajar untuk meringkas semuanya dalam satu perkataan, supaya dengan demikian kita merangkum segala ucapan kita yang telah berlalu.

 

REFLEKSI

Tuhan Yesus bukan hanya mengoreksi motivasi dan isi ibadah, serta doa yang salah. Ia dalam nas ini mengajar kita bagaimana kita seharusnya berdoa. Berdoa itu berbicara langsung dengan Allah secara hangat, sederhana dan apa adanya. Dengan hangat kita memanggil Allah, Bapa Surgawi kita sebab TuhanYesus, Putra-Nya yang Tunggal telah lebih dulu memanggil kita untuk mengikut Dia dan belajar dari Dia. Doa ini sederhana, tidak rumit dan bertele-tele sebab bukan pertunjukan rohani, tetapi merupakan perjumpaan hati dengan hati. Doa dalam hubungan riil memungkinkan orang membuka hidupnya apa adanya di hadapan Allah. Doa Bapa Kami bukan sekedar hafalan, Tuhan Yesus mengajarkan doa ini agar nafas, semangat dan prinsip di dalamnya ditaati. Doa Bapa Kami, sama seperti setiap doa, merupakan surat yang dikirimkan dari bumi ke surga. Di dalamnya, Pribadi yang menjadi tujuan dari isi surat tersebut adalah Bapa kita yang tempat-Nya di surga; isinya dalam bentuk sejumlah permintaan; penutupnya: karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan ; dan meterainya: Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan