Identitas Manusia Baru
IDENTITAS MANUSIA BARU
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus
Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan,
pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala
kejahatan.
32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap
yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam
Kristus telah mengampuni kamu.
(Efesus 4:30-32)
PENDAHULUAN
Alkitab menyatakan dua macam manusia, yaitu manusia lama
dan manusia baru. Manusia lama adalah mereka yang tidak mengenal kebenaran
Kristus, sedangkan manusia baru adalah mereka yang ada dalam Kristus. Dengan
identitas sebagai manusia baru, jemaat Efesus dinasihati Rasul Paulus agar
tidak lagi hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah. Kehidupan mereka
haruslah berbeda dari kehidupan orang yang tidak percaya, karena Yesus
menyelamatkan manusia agar hidup sesuai dengan kehendak Allah. Lahir baru yang
membuat orang menjadi manusia baru memang merupakan sebuah perubahan radikal
dari cara hidup yang terpisah dari Kristus ke cara hidup yang memuliakan Allah.
Dengan kata lain, sebagai manusia baru Paulus menginginkan agar jemaat Efesus
berani tampil beda dalam kehidupannya. Tujuannya adalah agar mereka dengan
identitas manusia baru menjadi berbeda dari orang-orang di luar Kristus.
JANGAN MENDUKAKAN
ROH KUDUS
Dalam nas ini Rasul Paulus menyampaikan sebuah nasihat umum, yaitu jangan mendukakan Roh Kudus (ay. 30). Maksudnya di sini bukanlah Roh Kudus bisa dibuat berduka atau kesal seperti layaknya kita manusia. Tetapi maksud dari nasihat ini adalah supaya kita tidak berbuat kepada-Nya dengan cara yang cenderung mendukakan dan menggelisahkan sesama kita. Artinya, kita tidak boleh melakukan apa yang bertentangan dengan sifat-Nya yang kudus dan kehendak-Nya. Kita tidak boleh menolak mendengarkan nasihat-nasihat-Nya, sebab itu akan menjadikan-Nya berbuat terhadap kita seperti yang cenderung akan dilakukan manusia satu terhadap yang lainnya ketika mereka dibuat marah dan berduka, yaitu dengan cara menarik diri. Karena itu, janganlah membuat Roh Kudus yang penuh berkat dan penghiburan itu menarik hadirat-Nya dan kuasa-Nya yang penuh rahmat dari diri kita!
Dengan memperhatikan apa yang dikatakan sebelum nas ini,
dan apa yang dikatakan selanjutnya, kita bisa mengetahui apa itu yang
mendukakan Roh Kudus. Semua kecemaran dan kenajisan, dusta dan perkataan kotor
yang memicu hawa nafsu kotor (ay. 25-29) adalah perbuatan-perbuatan yang mendukakan
Roh Kudus. Selain itu, nafsu-nafsu
bobrok seperti kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan
kejahatan (ay. 31) juga mendukakan Roh Kudus. Yang dimaksud dengan kepahitan,
kegeraman dan kemarahan adalah kebencian dan ketidaksenangan yang kasar di
dalam batin terhadap orang lain. Dan yang dimaksud dengan pertikaian adalah
omong besar, ancaman keras, dan perkataan lain yang melewati batas, yang
dengannya kepahitan, kegeraman dan kemarahan terlampiaskan. Fitnah berarti
semua perkataan yang menista, mencerca dan mencemooh orang-orang yang membuat
kita marah. Dan yang dimaksud dengan kejahatan di sini adalah kemarahan yang
berurat berakar, yang mendorong orang untuk merancang dan melakukan kejahatan
kepada orang lain.
METERAI
PENYELAMATAN KITA
Akan datang hari penyelamatan. Tubuh pasti akan ditebus dari kuasa maut pada hari kebangkitan, dan kemudian umat Allah akan dilepaskan dari semua akibat dosa, dan juga dari segala dosa dan kesengsaraan, yang tidak akan pernah lepas dari mereka sebelum mereka diselamatkan dari alam maut. Barulah pada saat itu kebahagiaan mereka yang penuh dan utuh dimulai.
Semua orang yang sungguh-sungguh percaya dimeteraikan
menjelang hari itu. Allah telah membedakan mereka dari yang lain, dengan
memberikan tanda pada mereka. Dan ia memberi mereka jaminan dan keyakinan akan
kebangkitan yang penuh sukacita dan mulia, dimana Roh Kuduslah meterainya. Di
manapun Roh Kudus berada sebagai Pengudus, Dia adalah jaminan dari segala
sukacita dan kemuliaan di hari penyelamatan. Dan kita pasti akan binasa
seandainya Allah mengambil Roh Kudus-Nya dari kita.
BERSIKAP RAMAH,
PENUH KASIH MESRA DAN SALING MENGAMPUNI
“Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain” (ay. 32) menyiratkan asas kasih di dalam hati, dan ungkapan-ungkapan lahiriahnya dalam perilaku yang ramah, rendah hati dan sopan. Sudah sepatutnya murid-murid Yesus ramah satu terhadap yang lain, seperti orang-orang yang sudah belajar, dan mau mengajar, rasa terima kasih. Ini disertai dengan sikap penuh kasih mesra, yaitu murah hati dan peka terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain, sehingga cepat tergerak oleh belas kasihan.
Pada Allah ada pengampunan. Ia mengampuni dosa di dalam
Yesus Kristus, dan berdasarkan penebusan yang sudah dibuat Kristus demi
memuaskan keadilan ilahi. Mereka yang diampuni Allah haruslah berjiwa
pengampun, dan harus mengampuni sebagaimana Allah mengampuni, dengan tulus dan
sepenuh hati, dengan hati yang siap dan gembira, mengampuni semua orang dan
untuk selama-lamanya, apabila si pendosa bertobat dengan tulus.
REFLEKSI
Orang yang telah mengenal Yesus harus membiarkan Roh
Kudus mengerjakan karya pembaruan di dalam hidupnya agar dimampukan untuk hidup
benar dan kudus. Dengan mengetahui perbedaan hidup manusia lama dan baru, kita
dapat bercermin seperti apakah diri kita. Kita mengenal diri sebagai manusia
baru atau lama. Di sini hati kita mampu menjawab dengan jujur akan hal itu. Hal
ini dapat dibuktikan melalui perbuatan
kita setiap hari. Manusia baru masih bisa berdosa, tetapi mereka tidak menikmati
dosa itu sama sekali. Lebih jauh lagi, manusia baru kiranya tidak mendukakan
Roh Kudus dengan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita harus hidup
menurut pimpinan Roh Kudus. Kita juga harus menjauhi segala hal yang dapat
merusak karakter dan pertumbuhan rohani kita atau yang mungkin menghilangkan
damai dan sukacita kita. Hendaknya kita hidup ramah, penuh kasih mesra, dan
saling mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni kita.
Comments
Post a Comment