Saling Meneguhkan Hati

SALING MENEGUHKAN HATI

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

1  Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena.

2  Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu,

3  supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu.

4  Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi.

5  Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.

6  Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu,

7  maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.

8  Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.

9  Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?

10  Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.

11  Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu.

12  Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu.

13  Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

(1 Tesalonika 3:1-13)

  

PENDAHULUAN

Tidak sukar mencari teman di dalam kesukaan, tetapi menjadi saudara bagi seseorang di tengah kesusahannya hanya sedikit yang bersedia dan sanggup. Memang manusia gampang menaburkan hiburan dan menyemburkan nasihat seperti yang tampak pada para sahabat Nuh dan juga para sahabat Ayub. Namun hal yang demikian jelas sia-sia. Paulus sanggup menguatkan dan meneguhkan hati jemaat Tesalonika sebab ia tidak memberikan penghiburan yang kosong. Sebagai rasul Tuhan yang setia, ia sendiri mengalami banyak penderitaan. Nasihat dan hiburan yang diberikannya tidak lahir dari keadaan mudah tetapi dari dalam keadaan sulit. Ia bahkan sedemikian peduli sampai mengirimkan Timotius kepada jemaat itu untuk meneguhkan hati mereka dan kabar tentang keteguhan iman mereka yang dibawa Timotius jelas meneguhkan hati Paulus.

 

PENGUTUSAN TIMOTIUS

Kasih Paulus kepada jemaat Tesalonika sudah sedemikian rupa sehingga ia tidak tahan lagi dan mengutus Timotius (ay. 2) kepada mereka karena ia sendiri terhalang untuk mengunjungi mereka. Walaupun Timotius sangat berguna baginya, dan ia tidak bisa melepasnya begitu saja, namun demi kebaikan jemaat Tesalonika, Paulus rela tinggal seorang diri di Atena. Jadi hamba-hamba Tuhan tidak menghargai kesejahteaan jemaat mereka sebagaimana mestinya, jika mereka tidak bisa menyangkal diri dalam banyak hal demi kepentingan jemaat.

Dalam nas ini Paulus menyebut Timotius sebagai saudara, sementara dalam suratnya yang lain ia menyebut Timotius anaknya. Timotius lebih muda dari Paulus dalam usia, dan lebih rendah dalam kedudukan dalam pelayanan, karena Paulus adalah seorang rasul sedangkan Timotius adalah seorang pengabar Injil atau tepatnya penetua. Sekalipun demikian, Paulus menyebutnya saudara. Inilah salah satu contoh kerendahan hati Rasul Paulus, dan menunjukkan keinginannya untuk memberikan penghormatan kepada Timotius, supaya ia dihargai oleh jemaat-jemaat.

 

MAKSUD DAN TUJUAN PAULUS MENGUTUS TIMOTIUS

Paulus telah mempertobatkan jemaat Tesalonika kepada iman Kristen, dan sekarang ia ingin supaya mereka diteguhkan dan dihibur, supaya mereka teguh dalam pilihan yang sudah mereka ambil untuk memeluk agama Kristen, dan terhibur dalam pengakuan iman mereka dan dalam menjalankannya. Untuk tugas inilah Paulus mengutus Timotius. Maksud Rasul Paulus adalah untuk menguatkan dan menghibur jemaat Tesalonika dalam iman mereka. Bahwa apa yang mereka imani adalah kebenaran-kebenaran Injil dan, khususnya bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia. Bahwa upah iman lebih dari cukup untuk menutupi segala kehilangan mereka dan membalas segala jerih lelah mereka.

Alasan yang mendorong Paulus mengutus Timotius untuk tujuan di atas adalah jangan-jangan iman mereka kepada Kristus sudah goyah (ay. 3) karena adanya kesusahan dan penganiayaan karena Injil. Karena kelicikan dan kejahatan si penggoba, Rasul Paulus juga khawatir jangan-jangan dengan suatu cara si penggoda sudah menggoda mereka (ay. 5). Iblis adalah penggoda yang licik dan tak kenal lelah, yang mencari-cari kesempatan untuk memperdaya dan membinasakan kita, dan memanfaatkan segala keadaan untuk melawan kita, baik pada waktu senang maupun susah. Yang juga ditakutkan Rasul Paulus adalah jangan-jangan jerih payahnya selama ini sia-sia, yaitu mereka akan kehilangan apa yang sudah mereka kerjakan, dan Rasul Paulus akan kehilangan apa yang sudah diusahakannya.

Jadi, dengan pengutusan Timotius, Paulus ingin mengetahui iman jemaat Tesalonika. Apakah iman mereka tetap teguh di tengah-tengah segala penderitaan mereka. Apakah iman mereka gagal atau tidak, karena kalau iman mereka tidak gagal, mereka akan mampu berdiri tegak melawan si penggoda dan semua godaannya. Iman mereka akan menjadi perisai iman, untuk memadamkan semua panah api dari si jahat (Ef. 6:16).

 

LAPORAN BAIK TIMOTIUS

Timotius menyampaikan laporan baik mengenai jemaat Tesalonika (ay. 6). Tentang keteguhan mereka di dalam iman, bahwa pikiran mereka tidak goncang, tidak pula berpaling dari pengakuan terhadap Injil. Kasih mereka juga terus tercurah, kasih terhadap Injil dan terhadap para pelayan Injil. Sebab mereka mempunyai kenangan yang baik dan indah tentang para rasul, dan mereka mengingatnya senantiasa. Kenangan-kenangan akan para rasul, serta apa yang sudah mereka terima sendiri dari para rasul, sangatlah berharga, sampai-sampai mereka ingin berjumpa dengan para rasul lagi, dan menerima suatu karunia rohani dari mereka. Dan kasih itu tidak bertepuk sebelah tangan, sebab Rasul Paulus juga ingin berjumpa dengan mereka. Sungguh membahagiakan apabila ada saling mengasihi di antara hamba Tuhan dan jemaat.

Penghiburan dan kepuasan besar dirasakan Rasul Paulus dengan laporan baik mengenai jemaat Tesalonika (ay. 7-8). Ia menganggap kabar baik tentang mereka cukup untuk mengimbangi segala kesusahan yang ia hadapi. Kegelisahan pikirannya karena ketakutan-ketakutannnya di dalam batin, bahwa jangan-jangan jerih payahnya selama ini sia-sia, kini sudah berlalu, ketika ia mengetahui iman mereka dan ketekunan mereka di dalamnya. Ini memberikan hidup dan semangat baru pada diri Rasul Paulus, dan membuatnya gigih dan giat dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, ia tidak hanya terhibur, tetapi juga sangat bersukacita: “Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan” (ay. 8).

 

UCAPAN SYUKUR DAN DOA PAULUS

Nasihat dan perhatian Paulus meneguhkan jemaat Tesalonika, dan sebaliknya keteguhan iman jemaat itu pun meneguhkan hati Paulus. Sungguh persekutuan yang saling meneguhkan hati. Rasul Paulus penuh dengan sukacita, puji-pujian dan ucapan syukur. Saking sukacitanya, Paulus seakan-akan tidak tahu bagaimana mengungkapkan uacapan syukurnya kepada Allah, atau melukiskan sukacita dan kegembiraannya atas jemaat Tesalonika (ay. 9). Tetapi ia mau mengungkapkan kasih dan rasa syukur itu sebaik yang dia bisa. Mengenai ucapan syukur kepada Allah, ini memang sangat tidak sempurna dalam keadaan sekarang. Akan tetapi, ketika sampai di surga nanti, kita akan melakukannya dengan lebih baik daripada yang bisa kita lakukan sekarang.

Rasul Paulus berdoa untuk jemaat Tesalonika siang dan malam (ay. 10), pagi dan petang, yakni sangat sering di tengah-tengah pekerjaan di siang hari atau tidur di malam hari, dengan mengangkat hatinya kepada Allah di dalam doa. Jadi, ketika kita merasa sangat bersyukur, kita harus selalu memberi diri untuk berdoa. Dan apa-apa yang kita syukuri masih perlu kita doakan. Sebab selama kita ada di dunia yang penuh dengan godaan dan ketidaksempurnaan ini, ada saja yang masih kurang pada iman kita. Setidaknya, apa yang kurang itu adalah buah-buah dan perbuatan-perbuatan iman, karena buah dan perbuatan iman tidak begitu sempurna seperti seharusnya.

Demikianlah Paulus ingin supaya hal ini disempurnakan, dan ia ingin melihat wajah mereka supaya dengan begitu mereka mengusahakan kesempurnaan itu. Dalam hal ini, melayani firman dan ketetapan-ketetapan ibadah bisa membantu kita, dan itu harus kita inginkan dan kita pakai untuk menyempurnakan apa yang kurang pada iman kita.

 

REFLEKSI

Kiranya kerinduan akan persekutuan, seperti Rasul Paulus memikirkan dan merindukan jemaat Tesalonika, senantiasa ada dalam hati kita. Bahkan lebih lagi, seperti Tuhan sendiri. Tuhan rindu bersekutu dengan manusia. Dia ingin menyapa kita dengan firman-Nya. Dia selalu ada menyertai hidup kita, dan menyelamatkan ketika ada yang jatuh ke dalam dosa. Tuhan datang menjadi sama dengan manusia, karena kasih-Nya. Hasilnya, manusia didamaikan dengan Allah. Kedamaian pun bisa diwujudkan di antara sesama manusia. Mari, jangan tahan-tahan kasih dan kerinduan kita supaya persekutuan kasih antara kita dengan Tuhan dan dengan sesama  terwujud.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan