Berbagai Kewajiban Terhadap Sesama Orang Kristen
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN TERHADAP SESAMA ORANG KRISTEN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
12 Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya
kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu
dalam Tuhan dan yang menegor kamu;
13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung
mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang
dengan yang lain.
14 Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara,
tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar
hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.
15 Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang
membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap
kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
16 Bersukacitalah senantiasa.
17 Tetaplah berdoa.
18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab
itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
19 Janganlah padamkan Roh,
20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.
21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang
baik.
22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis
kejahatan.
23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu
seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak
bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga
akan menggenapinya.
(1 Tesalonika
5:12-24)
PENDAHULUAN
“Mungkinkah pekerjaan yang besar dan berat dapat selesai
jika dikerjakan sendirian?” Ini bukanlah rangkaian kalimat yang berkonotasi
pesimis, namun merupakan motivasi yang sangat penting dalam hal perlunya
bekerja sama. Pertanyaan ini hanya mengingatkan bahwa kerja sama dalam
menyelesaikan tugas dan tanggungjawab dalam pekerjaan adalah hal yang sangat
penting. Tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada orang-orang Kristen di
Tesalonika sama beratnya dengan tugas dan tanggungjawab umat Tuhan sekarang
ini. Jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri mustahil semua tugas dan tanggung
jawab tersebut dapat dilaksanakan. Oleh sebab itulah jemaat Tuhan harus bahu
membahu untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab itu, dan memohonkan berkat
Tuhan untuk memberikan kemampuan serta motivasi.
KEWAJIBAN TIMBAL
BALIK ANTARA HAMBA TUHAN DAN JEMAAT
Hamba-hamba Tuhan harus lebih memikirkan pekerjaan dan kewajiban yang atasnya mereka dipanggil daripada berkeinginan untuk mendapat nama yang harum dan terhormat di mata orang. Pekerjaan mereka sangat berat, sangat terhormat dan sangat bermanfaat (ay. 12). Mereka harus memimpin, bukan dengan keketatan melainkan dengan kasih, sebagai pembimbing rohani dengan memberikan teladan yang baik bagi kawanan domba. Hamba-hamba Tuhan harus mengajar jemaat untuk berperilaku baik, dan harus menegur mereka jika berperilaku tidak baik.
Jemaat harus mengenal hamba-hamba Tuhan. Sebagaimana
gembala harus mengenal kawanannya, demikian pula domba-domba harus mengenal
gembala mereka. Mereka harus mengenal pribadinya, mendengar suaranya,
mengakuinya sebagai gembala rohani mereka, dan memberikan penghormatan (ay. 12)
yang semestinya kepada ajarannya, kepemimpinannya dan peringatan-peringatannya.
Mereka harus menjunjung tinggi hamba-hamba Tuhan di dalam kasih (ay. 13). Ini
demi pekerjaan hamba-hamba Tuhan, karena yang mereka kerjakan adalah memajukan
kehormatan Kristus dan kesejahteraan jiwa-jiwa manusia.
KEWAJIBAN
ORANG-ORANG KRISTEN SATU TERHADAP YANG LAIN
Hamba Tuhan dan jemaat harus menghindari segala sesuatu yang akan menjauhkan kasih sayang seorang dari yang lain. Jemaat haruslah hidup dalam damai satu sama lain (ay. 13), berbuat semampu mereka untuk mencegah timbulnya atau berlanjutnya perbedaan-perbedaan apa saja di antara mereka, dan menggunakan segala sarana yang pantas untuk menjaga perdamaian dan kerukunan.
Bukan hanya hamba-hamba Tuhan tetapi juga orang-orang
Kristen berkewajiban secara pribadi untuk menegur dan memperingatkan mereka yang hidup tanpa
menuruti aturan (ay. 14). Orang-orang Kristen juga wajib menghibur mereka yang
tawar hati (ay. 14), yaitu mereka yang sedang dikuasai rasa takut, atau yang hatinya
dilanda rasa murung dan sedih. Membela yang lemah, yaitu yang tidak mampu
bertahan menanggung beban mereka, dan bersabar terhadap semua orang juga
merupakan kewajiban kita orang-orang Kristen. Kita juga diajarkan untuk tidak
membalas jahat dengan jahat (ay. 15), yaitu harus menahan diri dengan segala
cara untuk tidak membalas dendam. Apapun yang dilakukan orang terhadap kita,
kita harus selalu berbuat baik terhadap orang lain (ay. 15), baik di antara
kita sendiri (terutama kepada kawan-kawan seiman), dan baru kemudian, apabila
kita diberi kesempatan, terhadap semua orang (Gal. 6:10).
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN
UNTUK DIRI SENDIRI
Rasul Paulus menasehatkan agar kita bersukacita senantiasa (ay. 16). Ini hendaknya dipahami sebagai sukacita rohani, sebab jika kita sungguh-sungguh bersukacita di dalam Allah, maka kita dapat bersukacita senantiasa, dan di dalam Dia sukacita kita akan menjadi penuh. Cara untuk bersukacita senantiasa adalah dengan tetap berdoa (ay. 17). Kita akan lebih bersukacita jika kita lebih banyak berdoa, dan kita harus tetap berdoa dalam waktu-waktu yang ditentukan serta harus terus menerus. Jika kita berdoa tanpa henti, maka kita tidak akan kekurangan alasan untuk bersyukur dalam segala hal (ay. 18). Sama seperti dalam segala hal kita harus menyatakan permintaan-permintaan kita kepada Allah dengan permohonan, demikian pula kita tidak boleh melewatkan ucapan sykur (Flp. 4:6).
Roh Kudus bekerja seperti api, dengan menerangi, menghidupkan dan memurnikan jiwa-jiwa manusia. Sama seperti api akan padam jika disiram air, atau ditimbun dengan banyak kotoran, demikian pula kita harus berhati-hati agar tidak memadamkan Roh Kudus (ay. 19) dengan memanjakan diri dengan hawa nafsu kedagingan, atau hanya memikirkan perkara-perkara duniawi. Kita tidak boleh menganggap rendah nubuat (ay. 20). Yang dimaksud dengan nubuat di sini adalah mengajarkan, menafsirkan serta menerapkan Kitab Suci. Nubuat ini harus kita hargai dan nilai tinggi, karena merupakan ketetapan Allah untuk memajukan dan mengembangkan diri kita dalam pengetahuan dan anugerah, kekudusan dan penghiburan.
Walaupun harus menghargai pengajaran, kita tidak boleh mempercayai begitu saja apa yang disampaikan oleh para pemberita, tetapi harus mengujinya (ay. 21) dengan Kitab Suci dan kesaksian hidup. Kita harus menyelidiki Kitab Suci untuk mencari tahu apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak. Apabila kita yakin bahwa suatu hal itu benar, betul dan baik, maka kita harus teguh memegangnya dan tidak melepaskannya, apapun perlawanan atau penganiayaan yang kita hadapi demi itu.
Kita harus menjauhkan diri dari kejahatan dan segala
kemungkinan yang jahat (ay. 22), dari dosa dan apa yang tampak sebagai dosa,
yang mengantar pada dosa, dan yang bisa dikatakan sebagai dosa. Siapa yang
tidak menjauh dari kemungkinan yang bisa menimbulkan dosa, yang tidak membenci
peluang terjadinya dosa, dan yang tidak menghindari godaan yang mengarah pada
dosa, maka tidak lama lagi akan benar-benar berbuat dosa.
DOA PAULUS UNTUK
JEMAAT TESALONIKA
Rasul Paulus berdoa kepada Allah damai sejahtera, anugerah dan kasih, pencipta kedamaian dan pencinta kerukunan. Ia berdoa supaya jemaat Tesalonika dikuduskan sepenuhnya, supaya kemanusiaan mereka seutuhnya, yaitu roh, jiwa dan tubuh mereka, dikuduskan dan terpelihara. Semua orang yang dikuduskan dalam Kristus Yesus akan dipelihara sampai kedatangan kembali Yesus Kristus Tuhan kita.
Dengan keyakinan yang menghibur bahwa Allah akan
mendengar doanya, Paulus menegaskan kepada jemaat Tesalonika bahwa Allah yang
memanggil mereka adalah setia dan juga akan menggenapinya (ay. 24). Kesetiaan
Allah adalah jaminan untuk jemaat-Nya bahwa mereka akan terus bertekun sampai
pada akhirnya. Oleh karena itu, Rasul Paulus meyakinkan mereka bahwa Allah akan
melakukan apa yang diinginkan-Nya. Ia akan menepati apa yang sudah
dijanjikannya. Ia akan menyempurnakan segala kebaikan-Nya terhadap mereka.
Jadi, kesetiaan kita kepada Allah bergantung pada kesetiaan-Nya kepada kita.
REFLEKSI
Dalam dunia yang semakin individualistis ini, kita
sebagai umat pilihan Tuhan tetap harus belajar menghormati, menaati, mengasihi
dan mendoakan para hamba Tuhan yang adalah para pemimpin rohani kita. Kita juga
harus peduli terhadap saudara-suadara seiman agar mereka terus bertumbuh ke
arah serupa dengan Kristus. Dan secara pribadi kita haruslah senantiasa berdoa,
bersyukur serta belajar firman Tuhan setiap hari.
Comments
Post a Comment