Teladan-Teladan Iman
TELADAN-TELADAN IMAN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
8 Karena iman Abraham taat,
ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi
milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia
tujui.
9 Karena iman ia diam di
tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia
tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji
yang satu itu.
10 Sebab ia menanti-nantikan
kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.
11 Karena iman ia juga dan
Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat,
karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
12 Itulah sebabnya, maka
dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan
besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak
terhitung banyaknya.
13 Dalam iman mereka semua
ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan
itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan
yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.
14 Sebab mereka yang berkata
demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.
15 Dan kalau sekiranya dalam
hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka
cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.
16 Tetapi sekarang mereka
merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu
Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah
kota bagi mereka.
(Ibrani 11:8-16)
PENDAHULUAN
Ada pepatah yang mengatakan: “Selama kamu dapat
membayangkannya, kamu dapat membuatnya menjadi nyata”. Ini bukanlah iman
menurut Alkitab melainkan sebuah imajinasi belaka. Ibrani pasal 11 memaparkan
dengan sangat jelas perbedaan nyata antara iman dan khayalan, antara kebenaran
Allah sejati dan imajinasi yang semu. Penulis Ibrani menyebutkan beberapa nama
teladan iman secara khusus beserta dengan perbuatan-perbuatan mereka yang
diuraikan juga secara khusus. Selain itu juga diceritakan tentang
teladan-teladan iman lainnya yang disebutkan namanya sepintas lalu, dan
perbuatan-perbuatan iman mereka juga hanya digambarkan secara umum. Dalam nas
ini kita mendapati empat teladan iman, mulai dari Abraham, isterinya Sara,
anaknya Ishak hingga cucunya Yakub, dimana kesulitan-kesulitan iman, ujian-ujian
iman dan tindakan-tindakan iman mereka dipaparkan secara rinci.
IMAN ABRAHAM
Dasar dari iman Abraham adalah panggilan dan janji Allah (ay. 8). Panggilan ini, meskipun sangat menguji, adalah panggilan Allah, dan karena itu merupakan alasan yang cukup bagi iman dan pedoman bagi ketaatan. Ini adalah panggilan yang berhasil, yang olehnya Abraham dipertobatkan dari penyembahan berhala yang dilakukan keluarga bapaknya (Kej. 12:1). Allah berjanji kepada Abraham bahwa tempat ke mana ia dipanggil akan diterimanya nanti sebagai milik pusaka. Setelah beberapa waktu lamanya, ia akan memiliki Kanaan sorgawi sebagai milik pusakanya, dan seiring berjalannya waktu keturunannya akan mewarisi Kanaan duniawi.
Tindakan iman Abraham adalah tanpa ragu dan tanpa bertanya ia memberikan perhatian penuh terhadap panggilan Allah. Ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Artinya ia menyerahkan dirinya ke dalam tangan Allah, untuk mengutusnya ke mana saja yang dikehendaki-Nya. Abraham tinggal di tanah yang dijanjikan Allah, yaitu tanah Kanaan, bukan sebagai ahli waris atau pemilik, melainkan hanya sebagai musafir karena tanah itu masih dijanjikan, belum dimiliki. Ia hidup di sana secara berpindah-pindah, dan setiap hari selalu siap untuk berpindah.
Yang menyokong
iman Abraham adalah bahwa ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar,
yang direncanakan dan dibangun oleh Allah, yaitu sorga. Yang merupakan dasar
dari kota ini adalah maksud-maksud kekal Allah dan kemahakuasaan-Nya, jasa-jasa
Tuhan Yesus Kristus yang tak terhingga dan kepengantaraan-Nya, janji-janji yang
termuat dalam perjanjian kekal, kemurnian sorga itu sendiri, dan kesempuranaan
para penghuninya. Sorga adalah sebuah kota yang pembuatnya dan pembangunnya
adalah Allah. Abraham memberikan perhatian yang semestinya pada kota sorgawi
ini. Ia mencarinya. Ia percaya bahwa tempat seperti itu ada.
IMAN SARA
Berbeda dengan Abraham, isterinya Sara sempat mengalami kesulitan-kesulitan iman. Ia bahkan menertawakan janji Allah sebagai hal yang mustahil terlaksana. Betapa sangat tidak mungkinnya hal yang dijanjikan, bahwa ia akan menjadi ibu dari seorang anak, padahal ia mandul karena sudah melewati masa subur. Sara gagal melaksanakan kewajibannya karena tidak percaya, dengan membuat Abraham mengawini Hagar, supaya Abraham mempunyai keturunan. Dosanya inilah yang selanjutnya membuatnya sulit untuk bertindak dengan iman.
Namun ketidakpercayaan Sara diampuni dan dilupakan Allah, dan pada akhirnya imannya menang karena ia menganggap Dia yang memberikan janji itu setia (ay. 11). Tindakan iman Sara adalah menerima janji itu sebagai janji Allah. Dan karena yakin akan hal itu, dengan sungguh-sungguh ia menerima bahwa Allah bisa dan akan menepati janji itu, betapapun tampak tidak masuk akalnya hal itu. Allah bisa membuat jiwa yang tandus menjadi subur, seperti halnya rahim yang mandul menjadi mengandung.
Buah dan upah dari
iman Sara adalah ia melahirkan seorang anak, anak laki-laki, anak yang
dijanjikan, penghiburan bagi orangtuanya di usia senja, dan harapan untuk
masa-masa yang akan datang. Dari Abraham dan Sara, melalui anak itu, muncul
banyak keturunan seperti bintang di langit (ay. 12). Sebuah bangsa yang besar,
kuat dan ternama, mengatasi semua yang lain di dunia. Bangsa, jemaat dan umat
Allah yang khusus. Dan, yang merupakan kehormatan dan penghargaan tertinggi
dari semuanya, mereka inilah yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai
manusia.
IMAN ISHAK DAN
YAKUB
Ujian terhadap iman Ishak dan Yakub adalah bahwa mereka belum menerima hal-hal yang dijanjikan Allah. Mereka belum memiliki tanah Kanaan, mereka belum melihat keturunan mereka yang banyak, dan mereka belum melihat Kristus dalam rupa manusia. Zaman Injil lebih sempurna daripada zaman bapa-bapa leluhur ini, karena saat ini sudah lebih banyak janji yang digenapi. Keadaan sorgawi akan menjadi keadaan yang paling sempurna dari semuanya, sebab di sana semua janji akan digenapi sepenuh-penuhnya.
Tindakan iman mereka adalah memegang erat janji Alah itu karena mereka yakin bahwa janji itu benar dan akan digenapi. Mereka juga mengakui bahwa mereka adalah orang asing, pendatang, dan musafir di bumi ini karena mereka sedang mengadakan perjalanan menuju rumah sorgawi mereka. Dengan ini mereka menyatakan secara jelas bahwa mereka mencari negeri lain (ay. 14), yaitu sorga, negeri mereka sendiri. Sebab dari situlah mereka dilahirkan secara rohani, dan di sanalah terdapat milik pusaka mereka. Untuk itu mereka tidak memikirkan tanah asal mereka (ay. 15). Mereka tidak mendambakan kelimpahan dan kesenangannya, atau menyesal bahwa mereka sudah meninggalkannya. Mereka tidak hanya hidup dengan mengimani janji-janji itu, tetapi juga mati dengan meyakini sepenuhnya bahwa semua janji itu akan digenapi kepada mereka dan keturunan mereka (ay. 13).
Upah yang besar
dan penuh rahmat dari iman mereka adalah Allah tidak malu disebut Allah
mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka (ay. 16). Kendati
dengan kehinaan mereka secara alami, kekejian mereka karena dosa, dan
kemiskinan keadaan lahiriah mereka, Allah tidak malu disebut sebagai Allah
mereka. Oleh sebab itu, janganlah pernah mereka malu disebut sebagai umat-Nya. Ia
disebut sebagai Allah mereka. Ia menyebut diri-Nya demikian: Akulah Allah
Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia memperbolehkan mereka untuk
menyebut-Nya demikian. Ia juga memberi mereka Roh yang menjadikan mereka anak,
sehingga mereka dapat berseru: “ya Abba, ya Bapa!”
REFLEKSI
Menantikan penggenapan suatu janji adalah pekerjaan yang
sulit. Apalagi ketika penggenapan janji yang kita tunggu itu tidak kunjung
terjadi. Satu-satunya yang memampukan kita bertahan dalam penantian itu adalah
jika kita kenal dan percaya penuh kepada pihak yang berjanji. Kita belajar dari
Abraham dimana kunci imannya adalah ia percaya kepada kesetiaan Allah, Sang
Pemberi Janji. Iman Abraham teruji dan terpuji sebab sepenuhnya ditujukan
kepada Allah dan diberdayakan oleh Allah. Umat Kristen mewarisi kekayaan
sejarah iman umat Allah masa lampau, baik yang dicatat dalam Alkitab maupun
dalam catatan sejarah gereja. Kepercayaan para tokoh iman itu disandarkan hanya
pada Allah yang setia memenuhi janji-Nya. Kini, kita menyaksikan melalui
Alkitab dan gereja penggenapan janji-janji Allah bagi mereka satu per satu
terwujud. Dengan demikian, patutkah kita meragukan kesetiaan-Nya?
Comments
Post a Comment