Kembalilah Kepada Tuhan
KEMBALILAH KEPADA TUHAN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
14 Kembalilah, hai anak-anak yang murtad,
demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan
mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga,
dan akan membawa kamu ke Sion.
15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala
yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan
dan pengertian.
16 Apabila pada masa itu kamu bertambah banyak
dan beranak cucu di negeri ini, demikianlah firman TUHAN, maka orang tidak lagi
akan berbicara tentang tabut perjanjian TUHAN. Itu tidak lagi akan timbul dalam
hati dan tidak lagi akan diingat orang; orang tidak lagi akan mencarinya atau
membuatnya kembali.
17 Pada waktu itu Yerusalem akan disebut takhta
TUHAN, dan segala bangsa akan berkumpul ke sana, demi nama TUHAN ke Yerusalem,
dan mereka tidak lagi akan bertingkah langkah menurut kedegilan hatinya yang
jahat.
18 Pada masa itu kaum Yehuda akan pergi kepada
kaum Israel, dan mereka akan datang bersama-sama dari negeri utara ke negeri
yang telah Kubagikan kepada nenek moyangmu menjadi milik pusaka.
(Yeremia 3:14-18)
PENDAHULUAN
Allah memposisikan manusia sebagai anak-Nya. Ini
menunjukkan bahwa ada relasi yang dekat dan kuat antara Allah sebagai Bapa dan
kita sebagai anak-anak-Nya. Sayangnya, manusia sering kali memposisikan dirinya
sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, bahkan berpaling dari Sang Bapa.
Melalui nubuatan Yeremia kita melihat kegeraman Allah atas ketidaksetiaan manusia.
Ketidaksetiaan itu digambarkan layaknya anak yang memberontak. Konsekuensi atas
perbuatan tersebut adalah penghukuman Allah. Namun, jika umat Tuhan mau kembali
kepada-Nya, bukan saja mereka akan terhindar dari murka-Nya, melainkan juga
akan memberi dampak yang luar biasa bagi dunia, yakni bangsa-bangsa akan saling
memberkati di dalam Dia. Nabi yang memberitakan pesan pengharapan ini tak
pernah membayangkan, kelak nubuat ini diwujudkan melampaui batas-batas
lingkungan asalnya.
JANJI ALLAH KEPADA
ANAK-ANAK MURTAD YANG KEMBALI KEPADANYA
Dalam nas ini terdapat janji-janji yang berharga yang
diberikan Tuhan kepada anak-anak yang murtad jika mereka kembali kepada-Nya.
Janji-janji ini digenapi sebagian pada saat kembalinya bangsa Yahudi dari
pembuangan. Akan tetapi, nubuat tersebut akan digenapi sepenuhnya dalam jemaat
Injil, dan dikumpulkannya anak-anak Allah yang tercerai-berai.
Allah Berjanji
Untuk Mengumpulkan Mereka
Allah berjanji untuk mengumpulkan mereka dari semua tempat di mana mereka terserak dan tercerai-berai (Yoh. 11:52), dan akan membawa mereka ke Sion (ay. 14). Semua orang yang bertobat dan kembali kepada kewajiban ibadah mereka akan kembali mendapat penghiburan yang mereka telah nikmati sebelumnya. Allah dengan murah hati akan menerima orang yang kembali kepada-Nya, bahkan Dia-lah yang dengan kemurahan hati-Nya yang istimewa membawa mereka keluar dari antara yang lain yang berkanjang dalam kemurtadan mereka.
Dari antara banyak orang yang telah murtad dari Allah,
hanya ada sedikit yang kembali kepada Dia. Sangat sedikit jika dibandingkan
dengan keseluruhannya, seperti orang memungut sisa-sisa panen: “seorang dari setiap kota dan dua orang dari
setiap keluarga” (ay. 14). Kawanan milik Kristus adalah kawanan kecil, dan
sedikit yang menemukan pintu yang sesak itu (Mat. 7:13). Dari antara
orang-orang yang sedikit itu, walaupun tercerai-berai, tak satupun yang akan
hilang. Orang-orang pilihan Allah yang tercerai-berai ke seluruh dunia akan
dibawa ke jemaat Injil, Gunung Sion itu, Yerusalem sorgawi itu, gunung kudus
itu tempat Kristus berkuasa.
Allah Berjanji
Mengangkat Bagi Mereka Gembala Yang Sesuai dengan Hati-Nya
Allah berjanji akan menempatkan orang-orang yang memimpin mereka, yang dalam segala hal akan menjadi berkat bagi mereka (ay. 15). Sungguh baiklah suatu umat ketika gembala-gembala mereka sesuai dengan hati Allah, seperti yang seharusnya, seperti yang kita inginkan, yang akan menjadikan kehendak-Nya sebagai peraturan mereka dalam seluruh pemerintahan mereka. Dan gembala-gembala ini sampai tingkat tertentu harus berusaha untuk mengikuti teladan-Nya, karena mereka memerintah untuk Dia dan, semampu-mampunya, memerintah seperti Dia.
Gembala-gembala yang sesuai dengan hati Allah itu adalah
yang tugasnya benar-benar memberi makan kawanan dombanya, bukan memberi makan
diri mereka sendiri dan memotong bulu domba-domba, melainkan melakukan segala
yang dapat mereka lakukan untuk kebaikan orang-orang yang ada di bawah
tanggungjawab mereka. Mereka yang bukan hanya gembala-gembala, melainkan juga
guru-guru, harus memberi mereka makan dengan firman Allah, yang adalah hikmat
dan pengertian, yang dapat membuat kita bijaksana sehingga sampai kepada
keselamatan.
Allah Berjanji
Tabut Perjanjian Tidak Akan Diperlukan Lagi
Allah berjanji bahwa tabut perjanjian, yang pernah begitu dihormati, pertama-tama di Kemah Suci dan kemudian di Bait Suci, dan yang menjadi tanda kehadiran Allah bersama mereka, tidak akan diperlukan lagi (ay. 16). Ketika kerajaan Mesias akan didirikan, yang dengan tambahan dari orang-orang bukan Yahudi akan masuk ke dalam jemaat dalam jumlah yang sangat banyak, maka orang tidak lagi akan berbicara tentang tabut perjanjian Tuhan. Mereka tidak akan lagi menganggap tabut itu berharga bagi mereka, atau menilai diri mereka berdasarkan tabut itu, karena mereka akan memiliki cara penyembahan yang sepenuhnya rohani, yang tidak memerlukan satu pun dari antara ketetapan-ketetapan lahiriah itu.
Bersama tabut perjanjian ini seluruh hukum seremonial
atau lahiriah akan disisihkan, juga semua lembaganya, karena Kristus, kebenaran
yang dilambangkan oleh semua itu, yang diperlihatkan kepada kita dalam firman
dan sakramen-sakramen Perjanjian Baru, akan ada bagi kita menggantikan semua
itu. Sebab para penyembah sejati akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran
(Yoh. 4:24). Dan di dalam Bait Injil, Kristuslah tabut itu. Dialah yang menjadi
pendamaian, dan kehadiran Allah secara rohani dalam ketetapan-ketetapan
Kristuslah yang sekarang harus kita harapkan.
Allah Berjanji
Jemaat Injil (Yerusalem) Akan Menjadi Terkemuka
Jemaat Injil ini, yang di sini disebut Yerusalem (ay. 17), akan disebut takhta Tuhan, takhta kemuliaan-Nya, karena kemuliaan-Nya bersinar terus di dalam jemaat. Juga disebut takhta kekuasaan-Nya, karena kekuasaan-Nya juga ditegakkan di sana. Di sana Dia memerintah umat-Nya yang taat dengan firman dan Roh-Nya, dan membawa setiap pikiran ke dalam ketaatan kepada diri-Nya. Secara khusus, jemaat Injil ini adalah takhta kasih karunia-Nya, karena orang-orang yang dengan iman datang kepada Yerusalem ini datang kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru (Ibr. 12:22-24).
Segala bangsa akan dijadikan murid, dan dengan demikian akan berkumpul ke dalam jemaat, dan akan tunduk kepada takhta Tuhan yang didirikan di sana, dan setia mengabdi demi kehormatan nama Tuhan yang dinyatakan dan dituntut di sana.
Allah berjanji bahwa akan ada pembaharuan hidup yang
indah dikerjakan dalam diri orang-orang yang dikumpulkan ke dalam jemaat.
Mereka tidak lagi akan bertingkah laku menurut kedegilan hatinya yang jahat.
Mereka tidak akan hidup sesuka hati mereka, melainkan hidup oleh hukum, tidak
menuruti keinginan jahat mereka sendiri, melainkan menuruti kehendak Allah.
Allah Berjanji
Yehuda dan Israel Akan Dipersatukan Kembali
Yehuda dan Israel akan berhasil dipersatukan ketika mereka kembali dari pembuangan dan tinggal di Kanaan lagi (ay. 18). Kaum Yehuda akan pergi kepada kaum Israel, seperti sudah benar-benar disepakati, dan menjadi satu papan di tangan Tuhan, seperti yang juga dinubuatkan oleh Yehezkiel (Yeh. 37:16-17). Walaupun pada awalnya hanya ada 42.000 yang kembali (menurut Esra 2), namun Yosefus (ahli sejarah Yahudi, dalam Antiq. 11.68) mengatakan bahwa beberapa tahun kemudian, di bawah perintah raja Darius, Zerubabel pergi dan membawa lebih dari 4.000.000 jiwa ke negeri yang telah dibagikan kepada nenek moyang mereka menjadi milik pusaka.
Kita tidak pernah membaca tentang kebencian dan
permusuhan antara Israel dan Yehuda seperti yang pernah ada sebelumnya. Dan penyatuan
yang membahagiakan antara Israel dan Yehuda di Kanaan ini adalah sebuah
perlambang bersatunya orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi dalam
jemaat injili, ketika, dengan seluruh permusuhan ditaklukkan, mereka akan
menjadi satu kandang domba di bawah satu gembala.
REFLEKSI
Proses pertobatan membutuhkan kerja keras dan komitmen.
Allah menginginkan umat-Nya sungguh-sungguh serius meninggalkan cara hidup
mereka yang lama. Hanya Allah sumber keselamatan, bukan yang lain. Dalam Tuhan
ada pembaharuan kehidupan. Hidup baru mendatangkan berkat bagi orang-orang di
sekitar kita. Panggilan pembaharuan kehidupan dari Allah juga menyapa kita
semua. Dia senantiasa mengetuk hati kita masing-masing, bahkan dengan kesabaran
yang panjang, agar kita kembali kepada-Nya. Bertobatlah dan perbaharuilah hidup
kita di dalam-Nya.
Comments
Post a Comment