Keturunan Yang Jahat
KETURUNAN YANG JAHAT
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
13 Celakalah dia yang membangun istananya
berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang
mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya
kepadanya;
14 yang berkata: “Aku mau mendirikan istana yang
besar lebar dan anjung yang lapang luas!,” lalu menetas dinding istana membuat
jendela, memapani istana itu dengan kayu aras dan mencatnya merah.
15 Sangkamu rajakah engkau, jika engkau
bertanding dalam hal pemakaian kayu aras? Tidakkah ayahmu makan minum juga dan
beroleh kenikmatan? Tetapi ia melakukan keadilan dan kebenaran,
16 serta mengadili perkara orang sengsara dan
orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? demikianlah firman
TUHAN.
17 Tetapi matamu dan hatimu hanya tertuju kepada
pengejaran untung, kepada penumpahan darah orang yang tak bersalah, kepada
pemerasan dan kepada penganiayaan!
18 Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai
Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda: “Orang tidak akan meratapi dia: Aduhai abangku!
Aduhai kakakku! Orang tidak akan menangisi dia: Aduhai tuan! Aduhai Seri
Paduka!
19 Ia akan dikubur secara penguburan keledai,
diseret dan dilemparkan ke luar pintu-pintu gerbang Yerusalem.”
(Yeremia 22:13-19)
PENDAHULUAN
Biasanya kita cenderung mencap seseorang itu baik atau
jahat dengan merujuk kepada orangtuanya, atau ayahnya. Kalau ayahnya jahat, tak
heran anaknya juga jahat. Kalau anaknya jahat, pasti karena orangtuanya jahat.
Dan untuk inilah pepatah yang mengatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”
sangat relevan. Akan tetapi, tidak selalu demikian halnya seperti yang kita
lihat dalam nas ini. Yoyakim disoroti karena tidak menjadi raja yang baik yang seharusnya
meneladani ayahnya, Yosia. Ia dikritik pedas karena berbeda dengan ayahnya yang
melakukan keadilan dan kebenaran, ia justru berlaku sebaliknya. Yoyakim
mengambil keuntungan atas penderitaan orang lain, para pekerjanya tidak
diperlakukan sesuai dengan hukum kasih dan keadilan, dan ia membangun istana di
atas penderitaan rakyat. Maka ia akan menerima hukumannya dengan tidak
mendapatkan penguburan yang terhormat sebagai seorang raja.
DOSA DAN KEJAHATAN
RAJA YOYAKIM DITEGUR
Yoyakim tidak didakwa bersalah atas penyembahan berhala dan kemungkinan besar ia belum menghukum mati Nabi Uria (yang diceritakan dalam 26:22-23), karena jika demikian, ia pasti sudah ditegur tentang hal itu di sini. Namun kejahatan-kejahatannya yang ditegur di sini adalah sebagai berikut ini.
Kecongkakan dan cintanya pada kegemerlapan dan kemewahan, seakan-akan tugas seorang raja hanyalah untuk terlihat hebat, dan melakukan kebaikan bukanlah urusannya. Ia harus membangun istana yang megah untuk dirinya sendiri, sebuah istana yang besar-lebar dan anjung atas yang lapang-luas (ay. 14). Ia harus menetas dinding istana membuat jendela, ruang-ruangnya harus dipapani dengan kayu aras, yaitu jenis kayu yang termahal. Istananya harus memiliki atap dan dinding serta langit-langit yang dilapisi kayu terbaik sebagus Bait Suci (1 Raj. 6:15-16), kalau tidak ia tidak akan puas.
Rasa aman dan keyakinan duniawi pada hartanya dan ketergantungan pada kemakmuran yang tidak ada habisnya, seakan-akan gunung perlindungannya sekarang berdiri begitu kokoh sehingga takkan pernah bisa tergoyahkan. Ia pikir ia pasti akan memerintah tanpa gangguan atau kendala apa pun karena ia bertanding dalam hal pemakaian kayu aras (ay. 15). Hanyalah khayalan kosong belaka apabila orang berpikir bahwa kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya.
Yoyakim telah melakukan tindak pemerasan dan penindasan, penganiayaan dan ketidakadilan. Ia membangun istananya berdasarkan ketidakadilan, menggunakan uang yang diperoleh secara curang dan bahan bangunan yang tidak didapatkan dengan jujur, dan mungkin juga dibangun di atas tanah yang diperoleh sama seperti Ahab memperoleh kebun anggur Nabot. Dan karena ia melewati batas kemampuannya, ia menyelewengkan upah pekerja-pekerjanya, yang merupakan dosa yang telah menyebabkan teriakan besar sampai ke telinga Tuhan semesta alam (Yak. 5:4). Allah memperhatikan ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang besar sekalipun terhadap pelayan dan pekerja mereka yang malang. Ia akan membalas dengan adil mereka yang secara tidak adil membayar pekerja mereka, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma.
Yang memperburuk semua dosa Yoyakim adalah bahwa ia itu
putra dari seorang ayah yang baik, yang telah meninggalkan teladan yang baik
baginya, kalau saja ia mau mencontohnya (ay. 15-16). Ia mengolok-olok ayahnya
sebagai orang yang mempunyai selera membosankan dan semangat yang lesu, yang
terlalu pelit hatinya untuk mengeluarkan uang, dan tidak mempedulikan apa yang
bergaya. Bagi Yoyakim, apa yang cukup untuk ayahnya tidak cukup untuk dirinya.
Anak yang memandang rendah gaya hidup orangtua mereka yang ketinggalan zaman
biasanya kurang memiliki keunggulan sejati seperti yang ada dalam diri orangtua
mereka.
PERBEDAAN KONTRAS
ANTARA YOSIA DAN YOYAKIM
Karena congkaknya, Yoyakim membangun istana yang megah, tetapi pujian bagi Yosia, ayahnya, ialah bahwa ia memelihara rumah tangga yang baik. Sering kali orang yang sangat mencintai kegemerlapan dan kemegahan sangat tidak bermurah hati. Alasannya, untuk mencukupi pengeluaran yang boros itu, keramah-tamahan, sedekah untuk kaum miskin, dan bahkan keadilan sendiri harus dipotong biayanya. Lebih baik hidup bersama Yosia di dalam rumah yang ketinggalan zaman dan melakukan kebaikan daripada hidup bersama Yoyakim dalam istana yang megah tetapi tidak bisa membayar utang/upah.
Yosia melakukan keadilan dan kebenaran sehingga baiklah
itu baginya (ay. 15-16). Ia hidup dengan nyaman. Rakyatnya sendiri dan semua
tetangganya menghormatinya, dan apapun yang dikerjakan tangannya pasti
berhasil. Yoyakim tahu bahwa bagi ayahnya, menjalankan tugas merupakan jalan
yang membawa kesejahteraan, tetapi tetap saja Yoyakim tidak mau mengikuti
jejaknya. Alangkah baiknya apabila kita memelihara ibadah dalam hari-hari hidup
kita, sama seperti orangtua kita yang saleh memeliharanya semasa hidup mereka
dan menyarankannya bagi kita oleh karena manfaatnya berdasarkan pengalaman
mereka sendiri.
AJAL YOYAKIM
DISAMPAIKAN DENGAN TEPAT
Yoyakim akan mati tanpa ada yang meratapinya. Ia akan menjadikan dirinya begitu menjijikkan oleh karena penindasan dan kekejamannya sehingga semua orang di sekitarnya akan senang untuk berpisah dengannya. Tidak ada seorang pun yang akan memberinya hormat dan menitikkan air mata untuknya, sedang ayahnya yang melakukan keadilan dan kebenaran diratapi oleh semua orang. Rakyatnya tidak akan meratapi dia ataupun menjerit-jerit penuh tangis seperti yang biasa mereka lakukan di makam raja-raja mereka. Sungguh menyedihkan bagi siapapun untuk hidup dengan begitu rupa sehingga saat ia mati, tidak ada yang merasa sedih karena berpisah dengannya.
Yoyakim akan dikubur secara penguburan keledai, yaitu ia
tidak akan dikubur sama sekali, melainkan mayatnya akan dilemparkan ke dalam
parit atau tumpukan kotoran hewan. Sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus,
mengatakan bahwa Nebukadnesar membunuhnya di Yerusalem dan dengan begitu
meninggalkan mayatnya tergeletak begitu saja di suatu tempat yang jauh jaraknya
dari pintu-pintu gerbang Yerusalem. Tertulis pula bahwa Yoyakim mendapat
perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya (2 Raj. 24:6). Ketika ia
membangun sebuah istana yang megah, pastinya ia membangun juga sebuah makam
yang megah untuk dirinya, tetapi betapa itu tidak terpakai karena sewaktu ia
meninggal justru diperlakukan sama seperti keledai yang mati. Orang yang
meninggikan diri dengan kecongkakan yang besar biasanya akan mengalami aib yang
besar dalam kehidupan atau kematiannya.
REFLEKSI
Memiliki orangtua yang baik dan berhasil, tidak menjamin
anak-anaknya akan demikian. Begitu pula sebaliknya, memiliki orangtua yang
lalim dan gagal, tidak berarti anak-anaknya akan demikian juga. Kita
bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Dalam kehidupan ini ada banyak sekali
teladan baik yang bisa kita lihat, pelajari, dan ikuti demi menjadi orang baik.
Entah itu dari orang lain, orang tua, sahabat, pimpinan, bahkan anak-anak.
Pilihlah teladan yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan.
Comments
Post a Comment