Takhta Kokoh Oleh Kebenaran
TAKHTA KOKOH OLEH KEBENARAN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
2 Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu,
tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.
3 Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi,
demikianlah hati raja-raja tidak terduga.
4 Sisihkanlah sanga dari perak, maka keluarlah
benda yang indah bagi pandai emas.
5 Sisihkanlah orang fasik dari hadapan raja,
maka kokohlah takhtanya oleh kebenaran.
6 Jangan berlagak di hadapan raja, atau berdiri
di tempat para pembesar.
7 Karena lebih baik orang berkata kepadamu: “Naiklah
ke mari,” dari pada engkau direndahkan di hadapan orang mulia.
(Amsal 25:2-7)
PENDAHULUAN
Kokohnya sebuah kerajaan bergantung pada raja yang
memerintah. Bila raja memerintah dengan menyalahgunakan kekuasaan demi
kejayaannya, maka pada suatu waktu rakyatnya akan memberontak, dan tergulinglah
kejayaannya. Sebaliknya, bila raja memerintah hanya untuk menyenangkan hati
rakyat, maka suatu waktu ia akan mengalami kesulitan besar menghadapi berbagai
kemauan rakyat yang beraneka ragam. Kedua sikap ini berakibat kegagalan dan
kehancuran. Jika demikian, bagaimana caranya seorang raja memerintah dengan
baik? Penulis Amsal mengatakan bahwa kemuliaan raja bukan terletak pada
kekuatan dan kejayaan secara materi, tetapi bagaimana ia mengokohkan takhtanya
di atas kebenaran.
KEMULIAAN ALLAH VS. KEMULIAAN RAJA
Kemuliaan Allah adalah merahasiakan sesuatu (ay. 2). Ia tidak perlu menyelidiki apapun, sebab Ia mengetahui segala sesuatu secara sempurna, dengan pandangan yang jernih dan pasti, dan tidak ada yang dapat disembunyikan dari-Nya. Juga Ia tidak perlu menyelidiki sesuatu, karena Ia mengetahuinya tanpa menyelidikinya. Tetapi adalah kehormatan raja-raja, dengan penuh perhatian dan dengan menggunakan segala cara untuk mencari tahu, untuk menyelidiki perkara-perkara yang dibawa ke hadapan mereka, untuk bekerja keras memeriksa para pelanggar hukum, agar bisa mengungkapkan rancangan-rancangan mereka dan menerangkan pekerjaan-pekerjaan gelap yang tersembunyi. Adalah kehormatan raja-raja untuk tidak memberikan penghakiman secara tergesa-gesa atau sebelum mereka menimbang-nimbang seala sesuatunya, atau tidak menyerahkan kepada orang lain unuk memeriksa perkara-perkara, tetapi melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri.
Adalah kemuliaan Allah bahwa Ia sendiri tidak dapat
ditemukan dengan cara menyelidiki, dan sebagian dari kehormatan itu dilimpahkan
kepada raja-raja, yaitu raja-raja yang bijaksana, yang menyelidiki sesuatu. Hati
mereka tidak terduga, seperti tingginya langit dan dalamnya bumi (ay. 3), yang
dapat kita perkirakan tetapi tidak dapat kita ukur. Para raja memiliki
rahasia-rahasia negara mereka, rancangan-rancangan yang dirahasiakan dan
alasan-alasan kenegaraan, yang tidak mampu dinilai orang-orang biasa, dan oleh
sebab itu tidak boleh diselidiki mereka. Raja-raja yang bijaksana, apabila
mereka menyelidiki sesuatu, bisa melakukan apa yang tidak akan pernah
terpikirkan orang, seperti Salomo, ketika ia meminta dibawakan sebilah pedang
untuk membedah seorang anak yang hidup dengan maksud menyingkapkan siapa ibunya
yang sebenarnya.
KEWAJIBAN PARA
RAJA/PENGUASA
Usaha yang gigih dari seorang raja untuk menekan perbuatan-perbuatan jahat dan memperbarui perilaku rakyatnya adalah cara yang paling mujarab untuk menyokong pemerintahannya. Untuk ini ada kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan raja demi kokohnya pemerintahannya.
Adalah kewajiban para penguasa menyisihkan orang fasik, menggunakan kekuasaan mereka untuk mengancam perbuatan-perbuatan jahat dan para pembuat kejahatan sedemikian rupa sehingga mereka tidak menularkan kefasikan mereka ke tengah-tengah rakyatnya. Inilah yang dinamakan menyisihkan sanga dari perak, yang dilakukan dengan kekuatan api (ay. 4). Orang fasik adalah sanga pada bangsa, ampas pada negeri dan, sebagai sanga dan ampas, mereka harus dibuang. Jika manusia tidak mau membuang mereka, maka Allah yang akan melakukannya (Mzm. 119:119). Jika orang fasik disisihkan dari hadapan raja, dan jika raja menunjukkan ketegasannya terhadap jalan-jalan mereka yang fasik, maka itu akan berdampak jauh sampai melumpuhkan mereka untuk berbuat kejahatan.
Kewajiban ini akan berdampak membuat rakyat menjadi lebih
baik. Mereka akan dibuat seperti perak yang sudah dimurnikan, cocok untuk
dijadikan bejana-bejana kemuliaan. Hal itu akan memantapkan kedudukan sang
raja. Kokohlah takhtanya oleh kebenaran ini (ay. 5), sebab Allah akan
memberkati pemerintahannya, rakyat akan menurut padanya, dan dengan demikian
pemerintahannya akan bertahan.
JANGAN BERLAGAK DI
HADAPAN RAJA
Nas ini mengajar kita untuk bersikap rendah hati dan hormat terhadap pimpinan atau atasan kita, dan menjaga jarak serta memberikan tempat bagi orang-orang yang berhak menduduki tempat tersebut. Juga jangan bersikap kasar dan gegabah di hadapan raja atau di hadapan para pembesar/pimpinan (ay. 6). Jangan membanding-bandingkan dirimu dengan mereka. Jangan bersaing dengan mereka dalam hal pakaian, perabotan rumah tangga, kebun-ladang, perawatan rumah atau pelayan-pelayan, karena sikap seperti ini merupakan suatu penghinaan bagi mereka, dan akan merendahkan kedudukanmu sendiri.
Amsal ini juga mengajar kita kerendahan hati dan
penyangkalan diri, yang merupakan pelajaran yang lebih baik daripada pelajaran
tentang sopan santun. Sangkallah dirimu dari tempat yang berhak engkau duduki.
Jangan ingin pamer, atau berusaha naik jabatan, atau menempatkan dirimu di
antara kumpulan orang yang ada di atasmu (ay. 7). Puaslah dengan kedudukan yang
rendah jika memang itu yang sudah ditetapkan Allah bagimu. Alasannya adalah
bahwa karena inilah sesungguhnya jalan untuk maju, seperti yang ditunjukkan
oleh Juruselamat kita dalam sebuah perumpamaan yang tampaknya dikutip dari nas
ini (Luk. 14:9). Adalah lebih baik, demi kepuasan dan nama baik kita, kita
ditinggikan melebihi apa yang dikatakan dan diharapkan, daripada dilemparkan
lebih rendah daripada itu, di hadapan raja. Karena merupakan kehormatan besar
jika kita diakui di hadapan dia, dan merupakan kelancangan besar jika kita
sampai meninggikan diri tanpa izin.
REFLEKSI
Tuhan menginginkan manusia mempunyai hubungan yang baik
dengan-Nya, apapun jabatannya, sekalipun orang tersebut berkedudukan sebagai
raja atau penguasa. Jika hubungan para pemimpin dengan Tuhan baik maka pemimpin
dapat menjalankan kekuasaannya berdasarkan keadilan, kebenaran dan kemurahan.
Penguasa seharusnya menyadari bahwa semua jabatan yang ada berasal dari Tuhan.
Semua itu merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan untuk dijaga dan dipelihara,
bukan sebuah legalitas untuk bertindak sewenang-wenang. Karena itu janganlah
berhenti berdoa bagi para pemimpin bangsa kita agar mereka berani dan rela
menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena pemerintahan yang kokoh dipimpin oleh
pemimpin yang berani dan rela menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu.
Comments
Post a Comment