Merindukan Pelataran Tuhan
MERINDUKAN
PELATARAN TUHAN
Oleh: Pnt. Drs.
Beltasar Pakpahan
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit.
Mazmur bani Korah. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
2 Jiwaku hancur karena merindukan
pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang
hidup.
3 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah
rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya,
pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
4 Berbahagialah orang-orang yang diam di
rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
5 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di
dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
6 Apabila melintasi lembah Baka, mereka
membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim
menyelubunginya dengan berkat.
7 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak
menghadap Allah di Sion.
(Mazmur 84:1-7)
PENDAHULUAN
Kita
pastilah pernah merindukan seseorang dimana kerinduan ini timbul karena orang
tersebut, yang kita cintai dan kasihi, jauh dari kita. Obat mujarab untuk
mengatasi rasa rindu tentu saja adalah
berjumpa dengan yang dirindukan. Alangkah bahagianya dan indahnya bisa bertemu
dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita rindukan. Pemazmur dalam
nas ini menunjukkan betapa besar kerinduannya untuk bisa hadir dan berdiam di
rumah Tuhan. Kerinduan itu bukan sekedar untuk beribadah dan mendengar
pengkhotbah, tetapi ingin dekat dengan Tuhan sendiri, ingin ada bersama umat
Tuhan memuji-muji Tuhan terus menerus. Kerinduan itu semakin dipertegas melalui
suatu perbandingan bahwa satu hari berada di rumah Tuhan jauh lebih baik
daripada seribu hari di tempat lain. Bahkan bukan hanya manusia, burung pipit dan
burung layang-layang pun rindu dan memilih hidup di dekat mezbah Tuhan.
SANGAT
MERINDUKAN HADIRAT TUHAN
Nilai hadirat Allah sungguh tak tertandingi bagi pemazmur. Tempat hadirat Allah sangat indah dan didambakan, melebihi tempat berlindung fisik. Pemazmur memulai nas ini dengan seruan kagum dan cinta pada tempat kediaman Tuhan (sering merujuk pada Bait Allah di Yerusalem), yang dianggap disenangi (ay. 1) dan selalu dirindukan. Kekaguman akan tempat kediaman Allah ditegaskan pemazmur dengan penyebutan gelar “Tuhan semesta alam”, yang menekankan kedaulatan dan kekuasaan Allah yang Mahabesar, yang membuat tempat hadirat-Nya semakin dimuliakan.
Kerinduan itu sangat intens, sampai pada tingkat “hancur” secara fisik dan spiritual, yaitu hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan (ay. 2) yang merujuk pada area di sekitar Bait Allah tempat umat beribadah. Seluruh keberadaan pemazmur – jasmani, jiwa maupun roh di dalamnya – berpartisipasi dalam kerinduan dan sukacita untuk bertemu dengan Allah. Ini merupakan kerinduan yang menyeluruh dan sangat hebat. Ia sangat rindu, jiwanya hancur dan ia menjerit, mendesak untuk dikembalikan lagi ke dalam pelataran Allah. Ia sudah nyaris tidak sabar lagi menanti. Namun, kerinduannya akan pelataran-pelataran Tuhan tidaklah sekuat kerinduannya kepada Allah yang hidup itu sendiri, yang diserukannya dalam doa.
Saking
rindunya, pemazmur bahkan merasa iri pada burung-burung kecil (pipit dan
layang-layang) yang menemukan tempat berlindung dan bersarang di dekat
mezbah-mezbah Tuhan (ay. 3). Bisa juga ini merupakan kiasan kedekatan fisik
yang tidak bisa dimiliki pemazmur saat itu. Akan tetapi, ini menyoroti nilai
dan kedekatan yang luar biasa dari hadirat Allah; jika makhluk sekecil itu pun
aman di sana, betapa bahagianya umat manusia apabila bisa seperti itu. Di sini
pemazmur kembali menegaskan identitas Allah sebagai “Rajaku dan Allahku”, yang
menunjukkan hubungan pribadi yang dalam dengan Tuhan.
KEBAHAGIAAN
SEJATI
Berbahagialah mereka yang memiliki hak istimewa untuk diam/tinggal di Bait Allah (ay. 4). Ini sering merujuk pada imam dan orang Lewi dimana kegiatan utama mereka adalah memuji Allah tanpa batas. Namun ini juga menggambarkan kehidupan ideal dalam hadirat Allah yang berpusat pada penyembahan. Berbahagialah para pelayan Tuhan yang menjalankan kegiatan untuk dan terlibat dalam pelayanan-Nya. Oleh sebab itu, biarlah kita juga menghabiskan sebanyak mungkin waktu dalam pekerjaan yang terpuji ini. Pekerjaan inilah yang kita harapkan untuk dilakukan dengan penuh sukacita dalam kekekalan.
Pernyataan
berbahagia pemazmur bergeser dari mereka yang tinggal di Bait Allah ke mereka
yang berada dalam perjalanan untuk mencapainya. Kebahagiaan ini adalah bagi
para peziarah, yaitu umat yang datang ke Yerusalem pada hari raya, yang
kekuatan mereka berasal dari Tuhan (ay. 5), dan dalam hati mereka terdapat
‘jalan-jalan raya ke Sion’, yaitu tekad dan kerinduan untuk berziarah. Mereka
mengarahkan seluruh hidup mereka fokus kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang
yang sangat mencintai ketetapan yang kudus, yang berhasrat mengadakan ziarah. Jadi,
orang-orang yang mengarahkan perhatian kepada Yerusalem baru haruslah memiliki
jalan-jalan ke sana di dalam hati mereka untuk ditempuh dalam peziarahan, dan
pandangan mereka harus terarah lurus ke jalan-jalan itu. Jika kita menjadikan
janji Allah kekuatan kita, maka kita harus menjadikan firman Allah sebagai
aturan kita dan berjalan menurut aturan itu.
PERJALANAN
IMAN YANG MENGUATKAN
Pemazmur dan umat Allah akan menerobos kesukaran dan keputusasaan untuk menantikan Allah dalam ketetapan-ketetapan ibadah yang kudus (ay. 6). Saat keluar dari daerah mereka untuk pergi beribadah mengikuti perayaan, mereka harus melalui berbagai lembah yang kering dan tandus dan mereka siap mati kehausan di situ. Untuk mencegah hal ini, mereka lalu menggali sumur-sumur kecil untuk menampung dan menyimpan air hujan yang dapat menyegarkan mereka dan orang lain juga. Ketika mereka membuat sumur penampungan, langit akan menurunkan air dan mengairinya. Jadi jalan yang harus mereka lalui sewaktu ziarah melintasi lembah-lembah duka dan air mata yang merupakan arti dari kata lembah Baka.
Mereka
adalah orang-orang yang tetap maju terus sampai tiba di akhir perjalanan, tanpa
berusaha mempersingkatnya (ay. 7). Mereka berjalan makin lama makin kuat. Mereka
bukannya merasa kelelahan karena beratnya perjalanan dan kesukaran yang mereka
jumpai, tetapi justru menjadi semakin bersemangat dan ceria ketika sudah
semakin dekat dengan Yerusalem, sehingga mereka terus berjalan bertambah-tambah
kuat (Ayub 17:9). Demikianlah dijanjikan bahwa orang-orang yang
menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru (Yes. 40:31). Orang-orang yang
bertekun dalam perjalanan Kristiani mereka akan mendapati bahwa Allah
menambahkan anugerah demi anugerah bagi mereka (Yoh. 1:16). Mereka akan
diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan (2 Kor. 3:18), dari tingkat anugerah
agung kepada tingkat yang lebih tinggi lagi, sampai akhirnya masing-masing
menghadap Allah di Sion untuk memberikan kemuliaan bagi Dia dan menerima berkat
dari-Nya.
REFLEKSI
Ungkapan kerinduan yang disampaikan oleh pemazmur merupakan salah satu ekspresi cintanya kepada Tuhan. Jika tidak ada cinta, mana mungkin ada rindu. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, pasti ada rasa rindu kepada Dia dan rumah-Nya. Kerinduan kepada Allah seharusnya bukanlah sekadar hasil perasaan kita yang sering naik-turun dan tidak menentu. Kita beribadah karena meyakini dengan penuh kesungguhan akan kebaikan dan perlindungan Allah. Peliharalah kerinduan yang terus menerus untuk bersekutu dengan Dia lewat doa dan firman. Biar kepekaan kita diasah untuk merasakan hadirat-Nya melalui ketaatan kita pada firman yang kita baca dan dengar dan oleh dorongan Roh Kudus kita wujudnyatakan. Mari kita memohon anugerah Tuhan agar Ia mendorong kita memahami kasih-Nya yang besar dan mencondongkan hati kita ke arah Dia senantiasa.
Comments
Post a Comment