Tindakan Doa dalam Komunitas

TINDAKAN DOA DALAM KOMUNITAS

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

12  Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.

13  Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!

14  Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

15  Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

16  Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

17  Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

18  Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.

(Yakobus 5:12-18)

 

PENDAHULUAN

Yakobus menguatkan jemaat untuk menjalankan kehidupan dalam komunitas yang saling mendukung dan melayani. Dalam hidup berkomunitas, Yakobus memberikan peringatan dan nasehat tentang sumpah, sikap saat menderita atau bergembira, saat ada yang sakit di antara anggota komunitas, pengakuan dosa serta doa. Keberadaan masing-masing pribadi memberi dampak kepada keseluruhan komunitas. Oleh sebab itu, tanggungjawab setiap anggota komunitas adalah hidup jujur, transparan dan menjalin relasi yang baik, dan secara bersama-sama membangun iman dan menghidupi relasi dengan Allah melalui doa. Komunitas rohani menjadi tempat bagi orang percaya untuk menjalankan praktek hidup mengasihi dan mengampuni. Kasih dipraktekkan dalam hidup sehari-hari, bukan sekadar retorika. Dalam komunitas rohani, konsep kasih yang abstrak menjadi sesuatu yang dialami dan dirasakan oleh jemaat.

 

INTEGRITAS PERKATAAN

Yakobus menekankan pentingnya kejujuran dan integritas dalam setiap perkataan. Bersumpah dengan serampangan demi benda-benda atau tempat-tempat suci, seperti surga atau bumi, untuk menegaskan kebenaran perkataan seseorang (ay. 12) merupakan tindakan yang tidak mencerminkan kejujuran dan integritas. Larangan ini sebenarnya menggemakan ajaran Yesus dalam Matius 5:33-37. Penegasan Yakobus atas larangan ini tiada lain karena pada masa itu orang Yahudi sering menggunakan sumpah demi benda-benda atau tempat-tempat suci untuk mencoba menghindari pertanggungjawaban jika sumpah ‘resmi’ – demi nama Allah – tidak diucapkan.

Yakobus menuntut orang percaya untuk hidup dalam kejujuran yang utuh sehingga kata-kata mereka sendiri sudah cukup dipercaya, tanpa perlu diperkuat oleh sumpah. Integritas ini menunjukkan bahwa seorang Kristen menghargai kebenaran dan takut akan Allah dalam setiap ucapan. Cukuplah bagi orang percaya mengiakan atau menyangkali sesuatu bila ada kesempatan untuk itu, dan berpegang teguh pada perkataan dan menepati janji, agar tidak memberikan kesempatan kepada orang untuk mencurigai dirinya berdusta. Dengan demikian ia akan terhindar dari hukuman karena tidak menyokong apa yang dikatakan dan janjikan dengan mengucapkan sumpah dengan gegabah, dan menodai nama Allah demi membenarkan diri sendiri.

 

DOA SEBAGAI RESPON UTAMA

Keadaan kita di dunia ini beragam, dan karena itu kita harus berhikmat untuk menerima keadaan itu, dan berperilaku pantas, baik dalam kemakmuran maupun dalam penderitaan. Adakalanya kita bersedih, dan adakalanya bergembira. Allah telah menetapkan kedua hal ini dengan silih berganti, supaya kita lebih bisa mengamati berbagai tugas yang diperintahkan-Nya, dan supaya pengaruh yang ditimbulkan ke atas kegemaran dan perasaan kita bisa memberikan manfaat bagi ibadah kita.

Apabila orang percaya mengalami penderitaan, respon utama yang sebaiknya dilakukan adalah berdoa (ay. 13). Penderitaan seharusnya mendorong orang percaya untuk mendekat kepada Allah dalam doa, bukan untuk mengeluh atau meyalahkan. Artinya doa adalah pelabuhan yang aman bagi jiwa yang menderita. Dalam keadaan bergembira atau sukacita, orang percaya juga haruslah tetap mendekat kepada Allah melalui lagu pujian. Karena kegembiraan seharusnyalah diekspresikan sebagai pujian kepada Allah, mengakui bahwa setiap berkat berasal dari Dia. Ini menunjukkan bahwa doa tidak terbatas hanya pada masa sulit, atau menyanyi tidak hanya kita lakukan ketika bergembira. Sebaliknya, berbagai tugas ini bisa dilaksanakan dengan menghasilkan manfaat khusus dan dengan tujuan penuh kebahagiaan pada masa seperti itu.

 

KOMUNITAS PENYEMBUHAN

Respon utama dalam keadaan sakit juga adalah doa dari penatua atau hamba Tuhan (ay. 14). Ini menunjukkan peran sentral komunitas orang percaya dalam menghadapi penyakit. Pengurapan minyak dalam nas ini oleh penetua diartikan sebagai tindakan simbolis penyerahan kepada Tuhan untuk penyembuhan. Ini juga bisa merujuk pada praktek pengobatan yang umum pada masa itu, yang dilakukan bersamaan dengan doa yang beriman. Namun perlu ditekankan di sini bahwa kuasa penyembuhan ada pada Tuhan, bukan pada minyak. Doa yang lahir dari iman adalah kunci (ay. 15). Penyembuhan fisik dan pengampunan dosa sering kali digabungkan, yang menunjukkan pandangan holistik terhadap kesehatan (rohani, mental dan fisik). Karena penyakit bisa jadi, tetapi tidak selalu, terkait dengan dosa.

Dalam kehidupan komunitas orang percaya, saling mengaku dosa (ay. 16) itu sangatlah penting dilakukan dan kemudian barulah saling mendoakan. Dorongan untuk saling mengaku dosa dalam komunitas adalah tindakan kerendahan hati yang mempromosikan penyembuhan rohani dan pemulihan hubungan di antara sesama, yang juga berdampak pada penyembuhan. Terkadang, ada baiknya kita mengakui kesalahan kepada hamba Tuhan atau sahabat yang mau berdoa bagi kita, supaya ia dapat membantu kita memohon belas kasihan dan pengampunan dari Allah. Orang-orang yang saling mengakui kesalahan sudah seharusnya berdoa bersama dan saling mendoakan. Jadi, dalam nas ini rasul Yakobus menyarankan kita untuk melakukan berbagai jenis doa, yaitu doa pribadi (ay. 13), doa dari hamba Tuhan (ay. 14) dan doa bersama-sama (ay. 16).

 

KUASA DALAM KEBENARAN

Efektivitas doa orang percaya secara langsung terkait dengan keyakinan mereka dan keselarasan hidup mereka dengan kebenaran Allah. Elia adalah bukti bahwa orang biasa dapat menghasilkan hasil luar biasa melalui doa yang sungguh-sungguh (ay. 17). Orang yang berdoa haruslah orang yang benar. Bukan benar dalam arti sempurna (sebab Elia yang di sini dijadikan teladan bagi kita, bukanlah orang yang sempurna), melainkan benar dalam arti Injili. Ia tidak mencintai ataupun menyetujui kejahatan jenis apapun. Seperti kata pemazmur, “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar” (Mzm. 66:18).

Selanjutnya, doa itu sendiri haruslah merupakan doa yang sungguh-sungguh dan dinaikkan secara khusus. Doa itu harus merupakan luapan hati kepada Allah, dan dialirkan dari iman yang tulus. Dalam nas ini, kuasa doa dibuktikan melalui keberhasilan Elia dimana ia berdoa supaya hujan tidak turun, dan Allah mendengar permohonannya, kemudian ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan, dan seterusnya. Dengan demikian bisa dilihat bahwa doa merupakan kunci yang mampu membuka dan menutup langit. Jika melalui doa Elia dapat melakukan hal-hal yang begitu hebat dan luar biasa, maka doa-doa orang benar pasti tidak akan kembali dengan sia-sia. Kalaupun tidak terjadi mujizat dalam jawaban Allah atas doa-doa kita, masih terdapat kasih karunia yang besar.

 

REFLEKSI

Komunitas rohani menjadi tempat bagi orang-orang percaya untuk menjalankan praktek hidup mengasihi dan mengampuni. Di dalam komunitas rohani inilah kita orang-orang percaya dinasehatkan oleh rasul Yakobus untuk saling mendoakan. Doa dinaikkan dalam iman yang berarti dinaikkan dengan keyakinan akan kuasa Allah yang dapat menyembuhkan. Selain saling mendoakan, komunitas orang-orang percaya pun harus saling mengakui dosa dan juga bertindak membawa balik saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa. Jadi, komunitas rohani yang kita harapkan adalah komunitas yang peduli dan melayani dimana para pemimpin diharapkan tanggap dan hadir bagi mereka yang sakit. Selain itu, ada upaya memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti sikap memihak, ketamakan dan iri hati.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan