Allah adalah Kasih

 

ALLAH ADALAH KASIH

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

7   Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

8  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

9  Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

10  Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

11  Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

12  Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

(1 Yohanes 4:7-12)

 

PENDAHULUAN

Kasih adalah salah satu karakter Allah, dan Allah jualah sumber kasih itu. Dialah kasih itu sendiri, tiada kasih di luar Diri-Nya. Berarti tidak ada yang memiliki kasih kecuali ia ada di dalam Dia dan sebaliknya orang yang ada di dalam Dia pasti memiliki kasih. Relasi Allah dengan manusia ditandai dan dibentuk oleh kasih. Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah tindakan kasih. Manusia, oleh karena dosa-dosanya menjalani hidup di luar kasih sehingga tidak mungkin mengenal Allah yang adalah kasih. Namun demikian, Allah memulihkan keadaan manusia dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal turun ke dunia. Melalui Yesus Kristus, manusia yang sebelumnya tidak mengenal Allah menjadi mengenal Allah. Jadi, kehadiran Yesus di dunia telah membuat manusia dapat melihat dan mengenal Allah yang penuh kasih. Dalam nas ini Yohanes menunjuk kepada puncak pernyataan dan wujud kasih Allah kepada manusia.

 

KASIH ADALAH ASAL ILAHI

Kasih itu berasal dari Allah. Dialah sumber, pencipta, pemelihara dan penggerak kasih. Kasih adalah inti dari hukum dan Injil-Nya, dan setiap orang yang mengasihi (yang rohnya dibentuk untuk menunjukkan kasih kudus yang bijaksana) lahir dari Allah (ay. 7). Roh Allah ialah Roh kasih, dan buah Roh adalah kasih (Gal. 5:22). Betapa sifat dari Allah yang mulia bercahaya dengan terangnya di seluruh dunia ketika Ia menyampaikan kebaikan-Nya, yaitu kasih. Hikmat, kebesaran, keharmonisan dan manfaat penciptaan yang luas ini, yang sepenuhnya menunjukkan jati diri-Nya, disaat yang bersamaan juga menunjukkan dan membuktikan kasih-Nya.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah. Ini merupakan bukti meyakinkan bahwa pengetahuan yang sehat dan sepatutnya mengenai Allah tidak berdiam dalam jiwa seperti itu. Kasih-Nya harus bersinar di antara kesempurnaan-kesempurnaan utama-Nya yang paling cemerlang, sebab Allah adalah kasih (ay. 8), kodrat dan jati diri-Nya adalah kasih, kehendak dan pekerjaan-Nya terutama adalah kasih.

 

KASIH ADALAH TINDAKAN NYATA

Allah telah mengasihi kita dengan demikian dalamnya, dengan nilai yang tidak berbanding seperti yang telah diberikan-Nya bagi kita. Dia telah memberikan Anak-Nya sendiri, satu-satunya, yang terkasih dan terberkati: bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya (ay. 9). Sungguh merupakan suatu misteri dan keajaiban kasih ilahi bahwa Anak yang demikian itu harus diutus ke dalam dunia bagi kita, maka dapatlah dikatakan, karena begitu besar (begitu ajaib, begitu mengagumkan, begitu luar biasa) kasih Allah akan dunia ini.

Allah mengasihi kita terlebih dahulu, dan dalam segala keadaan kita yang dulu. Inilah kasih itu (kasih istimewa yang tidak pernah terjadi sebelumnya), bahwa bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita (ay. 10). Dia mengasihi kita, saat kita tidak memiliki kasih terhadap-Nya, saat kita berada dalam kesalahan, kesengsaraan, dan darah kita sendiri, saat kita tidak layak dikasihi dan pantas dihukum, tercemar dan najis serta perlu dibersihkan dari dosa-dosa kita dalam darah yang sakral, yaitu darah Yesus Kristus yang adalah Anak Allah.

 

KASIH ADALAH PANGGILAN

Jikalau Allah mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi (ay. 11). Teladan Allah seharusnya menggerakkan kita. Kita harus menjadi pengikut (atau peneladan) Dia, sebagai anak-anak terkasih-Nya. Sasaran kasih ilahi haruslah juga menjadi sasaran kasih kita. Kita harus menjadi pengagum kasih-Nya, dan kekasih dari kasih-Nya, dan dengan demikian juga menjadi kekasih dari orang-orang yang dikasihi-Nya. Kasih Allah atas seluruh isi dunia ini seharusnya menghasilkan kasih atas semua orang di antara umat manusia.

Allah tidak hadir di dunia sini dengan menunjukkan diri-Nya di depan mata atau indra langsung kita, dan karena itu Dia juga tidak meminta dan mengharuskan kita untuk mengasihi Dia dengan cara demikian. Sebaliknya, Ia meminta dan mengharapkan kasih kita ditunjukkan dengan cara yang dianggap-Nya layak untuk diterima dan dituntut-Nya, yaitu dalam gambaran yang sudah diberikan-Nya mengenai diri-Nya sendiri dan kasih-Nya (dan dengan demikian mengenai kesukaan hati-Nya) dalam jemaat yang am, dan terutama di antara saudara-saudara seiman, para anggota jemaat itu. Para kekasih suci dari saudara-saudara seiman merupakan bait Allah. Keagungan ilahi memiliki kediaman yang istimewa di sana.

 

KASIH ADALAH MANIFESTASI

Kasih Allah sempurna di dalam kita (ay. 12). Kasih Allah tidak disempurnakan di dalam Dia, melainkan di dalam dan bersama kita. Saat tujuan dan maksud dari kasih-Nya yang tulus itu tercapai dan dihasilkan di dalam dan atas kita, maka boleh dikatakan kasih itu sudah disempurnakan. Demikianlah iman disempurnakan oleh perbuatan, dan kasih disempurnakan oleh pekerjaan-Nya. Saat kasih ilahi sudah bekerja dalam diri kita dan menghasilkan rupa yang sama, yaitu menjadikan kita memiliki kasih kepada Allah, dan dengan demikian kasih terhadap saudara-saudara seiman, yaitu anak-anak Allah, demi Dia, maka kasih itupun disempurnakan, meskipun kasih kita saat ini tidaklah sempurna, begitu pula dengan tujuan akhir kasih ilahi bagi kita.

Betapa kita harus memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan kasih persaudaraan Kristen, sebab Allah menganggap kasih-Nya sendiri terhadap kita disempurnakan di dalamnya. Terhadap hal inilah Rasul Yohanes, setelah menyebutkan kebaikan besar Allah yang berdiam di dalam kita, menambahkan catatan dan kekhasan mengenai kasih persaudaraan itu, yakni bahwa “kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita” (ay. 13). Kita mengenali kediaman timbal-balik ini, tutur Rasul Yohanes, sebab Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dia sudah menanamkan rupa dan buah Roh-Nya di dalam hati kita (ay. 13), dan Roh yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita itu ternyata adalah milik-Nya, atau berasal dari-Nya, karena Roh itu adalah Roh yang membangkitkan kekuatan, hasrat dan hati bagi Allah. Roh yang membangkitkan kasih terhadap Allah dan manusia, Roh yang memberi pengajaran dan pemahaman yang benar tentang perkara-perkara Allah dan agama serta kerajaan-Nya di antara manusia (2 Tim. 1:7).

 

REFLEKSI

Menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari memang membutuhkan proses yang panjang. Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respon yang tidak seimbang. Tetapi kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Allah bila kita mau mengasihi walau tanpa respon. Dan jika kasih Allah ada di dalam kita, kekecewaan itu tidak akan mampu menghalangi kita untuk kembali belajar mengasihi. Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita. Jika kita sudah mampu mengasihi, kita mesti bersyukur kepada Allah. Namun jika kita merasa kurang mengasihi, kita harus berdoa meminta Allah merubah hati kita. Dengan kasih, kita akan menemukan sukacita yang lebih besar di dalam hidup.  Kasih-Nya menjadi sempurna di dalam kita jika kita berani percaya dan membuka kehidupan kita di hadapan-Nya.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan