Burung Gagak dan Burung Merpati dalam Peristiwa Air Bah

BURUNG GAGAK DAN BURUNG MERPATI DALAM PERISTIWA AIR BAH

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

 

6  Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu.

7  Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.

8  Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi.

9  Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera.

(Kejadian 8:6-9)

 

PENDAHULUAN

Mungkin banyak orang yang sulit menerima bahwa peristiwa air bah yang dicatat dalam Alkitab memang benar-benar terjadi. Karenanya mereka tidak mudah memahami apa yang dicatat dalam Kejadian pasal tujuh dan delapan tentang air bah ini. Bahkan mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa di sana ada kebenaran agung dari tipologi yang terkandung di dalamnya. Akar kata dari tipologi adalah “type” yang dalam kamus Webster’s Dictionary didefinisikan sebagai “pribadi, sesuatu, atau peristiwa yang merepresentasikan atau menyimbolkan sesuatu yang lain, khususnya sesuatu yang lain yang akan datang; sebuah simbol; sebuah lambang; suatu tanda”. Kalau kita telaah lebih cermat, memang ada terkandung beberapa tipe dalam nas kita di atas.

 

AIR BAH MENGGAMBARKAN PENGHAKIMAN SELURUH DUNIA

Air bah merepresentasikan, atau menyimbolkan, penghakiman atas dunia oleh karena dosa. Dr. Wilson mengatakan bahwa air bah dalam Kejadian “adalah gambaran penghakiman agung dari Allah atas orang-orang yang berada di luar Kristus, bahkan sama seperti air bah ini yang melanda orang-orang yang berada di luar bahtera” (Dr. Walter L. Wilson, Dictionary of Bible Types, Hendrickson Publishers, reprit 1999, hal. Viii). Antitipe atau penggenapan dari tipe ini ditemukan dalam Mazmur 90:5, “Engkau menghanyutkan manusia dengan air bah – KJV)”.  Perjanjian Baru menjelaskan air bah sebagai nubuatan dalam bentuk tipe tentang datangnya penghakiman atas dunia dengan api. “Dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik” (2 Ptr. 3:6-7).

Air bah juga menegaskan apa yang dinyatakan Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama, “Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh. 5:19). “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yoh. 2:17). Air bah pada zaman Nuh menunjukkan bahwa seluruh dunia telah tersesat dari Allah, dan berada di bawah penghakiman yang sangat mengerikan dari murka Allah dan murka terhadap dosa. Air bah memaklumkan kepada kita bahwa semua manusia berdosa di seluruh dunia masih berada di bawah murka Allah, dan akan dihakimi oleh Dia dalam api di masa depan yang sangat mengerikan. Dunia yang jahat bahkan sekarang masih sama berada di bawah murka Allah yang dahsyat sama seperti pada zaman Nuh, sedang menunggu penghakiman. Air bah menggambarkan dan menyimbolkan penghakiman yang bergayut di atas dunia kita di zaman akhir ini.

 

BAHTERA NUH MENGGAMBARKAN KRISTUS MAUPUN JEMAAT

Kristus dan jemaat digambarkan secara silih berganti dalam Kejadian fasal 7 dan 8. Dalam Kejadian tujuh, bahtera adalah tipe dari Kristus sebagai tempat perlindungan umat-Nya dari penghakiman, “Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya karena air bah itu” (Kej. 7:7). Ketika kita berada di dalam Kristus, kita akan terhindar dari penghukuman Allah, “Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yoh. 10:28).

Seperti Nuh dan keluarganya aman secara sempurna di dalam Bahtera demikian juga kita aman secara  sempurna, “karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:24). Datanglah kepada Kristus dan kita akan “dimeteraikan dengan Roh Kudus” (Ef. 1:13). Allah sendiri akan memeteraikan kita di dalam Kristus. Seperti yang dikatakan tentang Nuh dalam Kejadian 7:16, “TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh”.  Demikian juga kita akan ditutup dari dalam Bahtera keselamatan, sehingga kita akan memiliki jaminan kekal di dalam Kristus Yesus.

Namun begitu kita telaah lebih lanjut Kejadian fasal delapan, maka tampaklah bagi kita bahwa tipologi nampaknya berubah, dan Bahtera ini sekarang menjadi gambaran dari jemaat. Hal ini tidaklah mengherankan bagi kita karena Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus berbicara tentang kesatuan sempurna antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan, sehingga “keduanya itu menjadi satu daging” (Ef. 5:31). Dan kemudian ia memberikan penjelasan yang begitu mendalam kepada kita: “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef. 5:32). Ini menunjukkan bahwa Kristus dan jemaat tidak dapat terpisahkan sama seperti suami-istri orang Kristen yang tak dapat dipisahkan dalam tali pernikahan. Oleh sebab itu ini seharusnya tidak mengejutkan bahwa Bahtera menggambarkan Kristus dalam Kejadian pasal tujuh, dan jemaat dalam pasal delapan, “Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera” (ay. 9).

 

BURUNG MERPATI MENGGAMBARKAN ORANG BERDOSA YANG TERHILANG DAN DIBAWA KEPADA KRISTUS DAN KE DALAM JEMAAT

Burung merpati dalam nas kita tidak merepresentasikan Roh Kudus, seperti di beberapa bagian yang lain dalam Alkitab. Dalam ayat 9, burung merpati “adalah gambaran (tipe) dari jiwa yang memperoleh anugerah, yang tidak menemukan tempat berpijak untuk kakinya, tidak menemukan tempat yang aman atau kepuasan dalam dunia ini, dunia yang jahat yang dilanda air bah ini, kemudian kembali kepada Kristus seperti burung itu kembali kepada Bahteranya, seperti ia kembali kepada Nuh” (Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible, Hendrickson Publishers, 1996 reprint, volume I, hal. 53).

Burung merpati dilepaskan keluar dari Bahtera oleh Nuh, “Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air…” (ay. 9). Jika Allah memberikan anugerah atas kita, dan kita adalah salah satu orang yang akan diselamatkan, kita akan memiliki pengalaman yang sama dengan merpati itu. Jika kita adalah salah satu dari orang-orang yang Allah pilih untuk diselamatkan, kita tidak akan pernah menemukan tempat peristirahatan yang tenang dalam dunia yang penuh dosa ini.

Apakah hati kita resah dan hampa, atau apakah kita dilanda kesepian yang mendalam dan merasakan bahwa dunia ini adalah tempat yang paling sunyi? Itu adalah tanda bahwa kita harus menemukan sesuatu sebagai tempat peristirahatan seperti burung merpati itu. Hanya di dalam jemaat dan di dalam Kristus kita dapat menemukan pertolongan bagi keresahan dan kesunyian hati yang demikian itu. Akan tetapi ada saja orang yang mengaku pengikut Kristus pergi meninggalkan jemaat dan meninggalkan Kristus karena godaan-godaan duniawi yang begitu menarik hatinya, dan tidak pernah kembali lagi. Mereka seperti burung gagak dalam nas kita di sini, dan tidak seperti burung merpati. Ketika Nuh melepaskan burung gagak, “burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi” (ay. 7).

Burung gagak di dalam Alkitab menggambarkan burung yang jahat. Jika kita seperti burung gagak, kita terbang dan tidak pernah kembali lagi ketika gemerlap duniawi menawan hati kita. Itulah yang terjadi kepada orang-orang yang seperti burung gagak ini oleh karena mereka adalah burung-burung yang jahat. Berbagai pesta duniawi dan hal-hal yang terjadi di luar sana sudah cukup untuk menarik mereka untuk meninggalkan jemaat dan meninggalkan Kristus. Mereka terbang pulang dan pergi namun biasanya mereka tidak pernah kembali lagi setelah dunia memperdaya dan menjerat mereka.

 

NUH MENGGAMBARKAN TUHAN DALAM NAS INI

Nuh, khusus dalam ayat 9, menggambarkan dan menunjukkan pekerjaan Allah dalam menyelamatkan jiwa yang tersesat dan terhilang. Nuh berdiri di sana di jendela Bahtera sebagai hamba Allah, dan Allah bekerja melalui dia untuk menyelamatkan burung merpati itu, sama seperti Dia akan menyelamatkan kita. Jika hati kita resah dan kesepian, jika oleh anugerah Allah kita telah dibuat lebih peka terhadap perkara-perkara rohani, maka Allah akan melakukan terhadap kita sama seperti apa yang Nuh lakukan terhadap burung merpati yang miskin, sendirian, dan kelelahan itu. “Lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera” (ay. 9).

Kristus akan mengulurkan tangan-Nya, dan menangkap kita, dan menarik kita ke dalam Dia, ke dalam Bahtera itu. Apakah kita mau Kristus melakukan itu terhadap diri kita? Ia telah mati di kayu salib untuk membuat itu mungkin. Ia telah mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan dosa-dosa kita. Ia bangkit dari kematian dan duduk di sebelah kanan Allah di Sorga, mengulurkan tangan-Nya untuk menarik kita ke dalam keselamatan. Apakah kita ingin Dia melakukan itu? Maukah kita terbang kepada Kristus melalui iman, sama seperti burung merpati yang dengan segera hinggap di tempat yang aman yaitu tangan Nuh? Kiranya Roh Kudus membantu kita untuk melakukan itu sekarang juga.

 

REFLEKSI

Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi seperti burung gagak dan terbang meninggalkan jemaat dan meninggalkan Kristus dan tidak pernah kembali? Atau akankah kita menjadi seperti burung merpati yang tidak mendapatkan tempat tumpuan kakinya di sana – di dunia tanpa kasih yang riil, tanpa sahabat-sahabat sejati, tanpa Allah yang riil? Kiranya kita seperti burung merpati itu, yang mungkin sangat kotor berlumpur dan kelelahan karena keresahan dan kesepian tanpa ada tempat peristirahatan sejati di dunia ini, pulang kembali ke dalam Bahtera itu. Begitu Allah mengetahui hati kita yang mau berbalik kepada-Nya, Dia akan mengulurkan tangan-Nya untuk menangkap kita dan membawa kita masuk ke dalam Bahtera itu.

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan