Firman Itu Telah Menjadi Manusia

FIRMAN ITU TELAH MENJADI MANUSIA 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran

(Yohanes 1:14).

PENDAHULUAN

Pada Natal pertama, Raja Herodes “mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Mat. 2:13). Di zaman akhir ini juga setiap tahun pada hari Natal banyak orang di dunia ini menolak Yesus. Bagi mereka Natal hanyalah suatu ‘hari libur’ belaka, hanya merupakan suatu waktu untuk pergi liburan atau tamasya atau mabuk-mabukan. Namun bagi orang-orang yang menerima Kristus, adalah waktunya untuk berada di gereja di hari/minggu Natal, dan merenungkan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (nas). Ini adalah salah satu ayat yang paling dalam maknanya di dalam Alkitab. Dan ayat ini memberikan satu pernyataan yang paling jelas tentang inkarnasi Yesus Kristus. Ada tiga point penting yang perlu ditelaah dan direnungkan dari ayat ini.

 

KRISTUS ADALAH FIRMAN ALLAH YANG KEKAL

Ayat/nas kita di sini dimulai dengan kata “Firman.” Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, “Firman” adalah “Logos.” Menurut Dr. Ryrie, kata itu berarti “perkataan, pikiran, konsep, dan ungkapan,” (The Ryrie Study Bible, Moody Press, 1978, note on John 1:1). Para filsuf Yunani menggunakan kata “Logos,” namun ide mereka tentang “firman” ini jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Yohanes melalui ayat ini.

Banyak orang di dunia ini dibuat marah oleh kata “Natal” karena kata ini mengingatkan mereka tentang “Firman itu”. Mereka menolak berpikir bahwa Yesus adalah Firman Allah, ekspresi eksklusif tentang Allah. Kristus sebagai “Firman itu” terlalu eksklusif dan picik bagi pikiran berdosa mereka untuk memahaminya, karena Ia adalah “Firman itu”. Jika Ia adalah “Firman itu,” Ia menyingkirkan ide Muslim bahwa ia hanyalah seorang nabi. Jika Ia adalah “Firman itu,” Ia menyingkirkan pandangan Saksi Yehowa tentang Dia bahwa Ia hanyalah pribadi yang diciptakan. Jika Ia adalah “Firman itu,” Ia menyingkirkan pandangan liberal tentang Dia bahwa Ia hanyalah teladan yang agung. Jika Ia adalah “Firman itu,” Ia menyingkirkan pandangan kebanyakan kalangan Karismatik bahwa Ia adalah “Roh-Kristus”.

Satu-satunya posisi Alkitabiah yang benar adalah bahwa Yesus adalah Firman yang kekal, komunikasi pertama dan final tentang Allah kepada manusia yang penuh dosa. Ia adalah Logos yang kekal, Firman yang kekal, dan terus kekal selamanya sebagai Pribadi Kedua dari Trinitas. Pada akhir zaman, dalam Kitab Wahyu, Alkitab menyebut Dia, “Firman Allah” (Wah. 19:13). Dari kekekalan masa lalu sampai kekekalan masa depan, Yesus adalah Firman Allah (Ibr. 1:2). Oleh sebab itu, kita mengumumkan dengan kepastian mutlak bahwa Yesus adalah “Firman itu,” Logos yang kekal, dan bahwa tidak ada manusia atau agama lain atau pemimpin politik atau filsuf di sepanjang sejarah, dapat mengajukan klaim sebagai “Firman” Allah yang hidup seperti itu, Pribadi Kedua dari Trinitas Kudus. Dari kekekalan masa lalu sampai kekekalan masa depan hanya ada satu Firman yang kekal dan nama-Nya adalah Yesus.

 

KRISTUS ADALAH FIRMAN ALLAH YANG BERINKARNASI

Yesus bukan hanya Firman yang kekal, namun Ia juga menjadi Firman yang berinkarnasi, artinya yang menjelma menjadi manusia. Kata “inkarnasi” digunakan untuk menjelaskan maksud dari nas kita, yang mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita”. Firman Allah, yang telah ada bersama dengan Bapa dan Roh Kudus sejak “pada mulanya” (Yoh. 1:1) turun dari takhta-Nya di sebelah kanan Allah dan hidup di antara kita dalam wujud manusia.

Dalam kesatuan hipostatik Allah dan manusia, dalam rahim seorang perawan, Yesus menjadi Allah-manusia. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia dalam inkarnasi itu ketika Ia lahir dari seorang perawan suatu malam di kota kecil Betlehem. Malam itu keberadaan yang baru muncul di bumi ini, yang tidak pernah disaksikan oleh manusia sebelumnya. Malam itu Yesus, Allah-manusia, dilahirkan di sebuah kandang dan dibalut dengan kain lampin, dan dibaringkan di sebuah palungan, karena tidak ada kamar yang kosong di penginapan. Di tempat yang sangat sederhana itu, Firman Allah menjadi manusia, dan memulai kehidupan-Nya di antara kita sebagai satu-satunya Allah-manusia yang pernah hidup di dunia ini.

 

KRISTUS ADALAH FIRMAN ALLAH YANG DAPAT DILIHAT

Yohanes masih anak muda ketika Kristus ada di bumi ini, namun ia dapat membuat pernyataan yang luar biasa bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya” (nas). Yohanes tidak menulis tentang teori filsafat. Yohanes menjelaskan kepada kita bahwa ia hidup bersamaan dengan Kristus dan secara pribadi melihat kemuliaan-Nya. Ia ada di sana. Ia melihat sendiri kemuliaan Kristus itu. Ia mengenal Kristus adalah Firman yang kekal, yang telah menjadi manusia karena ia telah melihat Kristus, karena ia telah melihat sendiri kemuliaan Kristus.

Dalam Suratnya yang pertama, ia berkata, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (1 Yoh. 1:1). Di sini, lagi-lagi Yohanes menyebut Yesus “Firman” – “Firman hidup.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus dapat dihampiri atau dilihat. Ia bukanlah Logos misteriusnya Philo atau para filsuf Yunani – suatu “firman” rohani yang kita tidak pernah benar-benar ketahui. Sungguh, kita dapat mengenal Yesus seperti Yohanes. Ia menyatakan ini dengan jelas dalam 1 Yohanes 1:3: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus”.

Yohanes sedang berkata kepada kita bahwa kita juga dapat memiliki persekutuan “dengan kami” dan “dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Namun untuk memiliki persekutuan dengan Yesus ini, kita harus dipertobatkan. kita harus diinsafkan dari hitamnya dosa kita, kita harus melihat jahatnya hati kita yang telah rusak. kita harus datang kepada Yesus dan percaya kepada Dia. Maka dosa-dosa kita akan disucikan oleh Darah-Nya, yang tercurah di kayu Salib. Kemudian kita juga akan berkata, “Ia diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” Tuhan sangat merindukan kita untuk berpaling dari “liburan” yang memabukkan dan penuh kesiasiaan, dan datang kepada Kristus di Natal ini.

Hendaknya kita mencari Kristus dengan segenap hati kita sampai kita menemukan Dia. Karena Ia berkata melalui nabi Yeremia, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yer. 29:13). Sudah seharusnya kita ada di gereja pada perayaan Natal bersama dengan umat Tuhan di seluruh dunia. Itu akan menjadi berkat bagi kita ketika kita mencari Yesus. Jangan biarkan apapun menghentikan kita untuk hadir dan larut dalam ibadah Natal untuk mendengarkan khotbah, bernyanyi, dan menyembah Firman Allah yang kekal, Tuhan Yesus Kristus! Seperti apa yang tertuang dalam lagu Natal ini:

 

Yang di sorga disembah

Kristus, Raja yang baka

Lahir dalam dunia

Dan Maria bunda-Nya

Dalam daging dikenal

Firman Allah yang kekal

Dalam Anak yang kecil

Nyatalah Imanuel

Gita sorga bergema

“Lahir Raja mulia!”

(KJ. No. 99:2)

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan