Hari Pertama Penciptaan
HARI PERTAMA PENCIPTAAN
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
“Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong;
gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air. Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi”.
(Kejadian
1:1-3)
PENDAHULUAN
The Genesis Record adalah satu-satunya tafsiran dari keseluruhan Kitab Kejadian yang ditulis oleh ilmuwan yang percaya tentang penciptaan (creationist scientist), Dr. Henry M. Morris. Beliau menulis tafsiran ini dengan keyakinan bahwa sebelas pasal pertama dari Kitab Kejadian mencatat sejarah yang benar-benar pernah terjadi sama seperti halnya pasal-pasal berikutnya. Keyakinan ini tidak hanya didasarkan pada iman saja, namun juga melalui studi bertahun-tahun tentang aspek ilmiah dari catatan Kitab Kejadian. Dalam bukunya tersebut, Dr. Morris menuntun pembaca menelusuri catatan historis tentang sejarah permulaan bumi ini, menyediakan latar belakang yang sangat diperlukan dalam memahaminya, bukan hanya dari Kitab Kejadian saja, namun dari seluruh Alkitab.
Kita setuju dengan Dr. Morris bahwa catatan tentang penciptaan dalam Kitab Kejadian secara literal benar. Kita percaya bahwa Allah telah menciptakan dunia ini karena Tuhan Yesus Kristus juga pernah mengatakan demikian. Ia berbicara tentang “sejak awal dunia, yang diciptakan Allah” (Mark. 13:19), dan juga berkata, “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan” (Mark. 10:6). Sejak kita percaya Tuhan Yesus, kita menerima apa yang Ia katakan, yaitu dunia diciptakan oleh Allah persis seperti yang kita baca dalam Kejadian pasal pertama. Kristus sendiri menjawab pertanyaan itu untuk kita.
Penciptaan terang pada hari pertama juga
memiliki arti tipikal, yaitu terang yang lebih besar yang adalah tipe Kristus.
Kristus adalah terang itu (Yoh. 8:12). Lebih jauh lagi, betapa penciptaan
terang pada hari pertama penciptaan itu adalah gambaran atau tipe atau cara
menggambarkan terang Kristus yang datang kepada manusia pada penciptaan kedua,
ketika manusia itu bertobat. Oleh karena itu, perlu kita perhatikan beberapa
paralel antara hari pertama penciptaan dan pertobatan manusia.
KONDISI YANG KACAU
“Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya…” (ay. 2a). The Keil and Delitzsch commentary menjelaskan kepada kita bahwa kata “belum berbentuk dan kosong menandakan kesunyian dan kekosongan… bumi pada mulanya sunyi dan gersang, tidak berbentuk, suatu massa tanpa kehidupan… massa yang kacau yang mana bumi dan cakrawala masih tak terbedakan, dan seperti belum terlahir, banyak jurang, jurang samudera dan terbungkus dalam kegelapan” (C. F. Keil, Ph.D., Commentary on the Old Testament, Eerdmans, 1973 reprint, volume I, hal. 48).
“Permulaan sejarah dari bumi ini bersesuaian
dengan sejarah orang percaya di dalam Kristus. Apa yang terjadi dalam
hubungannya dengan dunia purba, menemukannya bersesuaian dengan manusia yang
dilahirkan kembali” (Arthur W. Pink, Gleanings in Genesis, Moody
Press, 1981 reprint, hal. 14). Manusia dalam keadaannya yang telah jatuh ke
dalam dosa sama seperti bumi pada permulaannya – kosong dan gersang, massa
tanpa kehidupan, terbungkus dalam kegelapan, “Dan pengertiannya yang gelap,
jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam
mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Ef. 4:18). Manusia dalam keadaan
alaminya sama seperti dunia purba pada permulaannya,
ROH ALLAH BERGERAK
“…Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (ay. 2b). Ini menggambarkan titik awal dari pertobatan. Dunia yang “terbungkus dalam kegelapan” dengan dirinya sendiri tidak akan dapat menemukan terang. Dunia dalam keadaan primitifnya tidak dapat mengubah dirinya sendiri. Jika ia ingin keluar dari kekacauan, Allah sendirilah yang harus melakukannya. Agar terang datang untuk dunia yang gelap, Allah harus menciptakannya. Suatu analogi yang tepat untuk pertobatan. Manusia yang masih terhilang tidak akan pernah mencari Allah. Alkitab berkata, “Tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Roma 3:11). Manusia yang belum bertobat sama seperti domba yang hilang. Domba yang tersesat tidak mencari gembalanya. Gembalanyalah yang pergi mencarinya, Kristuslah yang pergi “mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya” (Luk. 15:4). Pertobatan bermula dari Allah sendiri yang mencari jiwa yang terhilang dan menariknya kepada Kristus, yang berkata, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 6:44).
Aktivitas Roh Kudus adalah hal pertama
yang terjadi ketika kekacauan, orang berdosa, yang terbungkus dalam kegelapan,
dibawa kepada keselamatan. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa adalah
seperti bumi pada permulaannya yang tanpa pengharapan. Orang berdosa yang
terhilang tidak dapat lagi memperbaharui dirinya sendiri sama seperti bumi yang
kacau balau tidak dapat membentuk dirinya sendiri. Allah yang harus melakukan
itu melalui karya Roh-Nya (ay. 2b).
FIRMAN ALLAH DIUCAPKAN
Pertama ada aktivitas Roh Kudus, dan kemudian datanglah Firman Allah yang diucapkan. Hal yang paling pertama kali Allah katakan adalah, “’Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi” (ay. 3). Itu sama dengan pada waktu pertobatan. Roh Kudus tidak pernah bekerja di luar pelayanan Firman Allah. Terang datang kepada orang berdosa melalui Firman yang diaplikasikan oleh Roh. Seperti kata pemazmur “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang” (Mzm. 119:130).
Sama halnya Firman Allah menciptakan terang pada permulaan dunia ini, demikian juga Firman Allah membawa terang kepada jiwa yang ada dalam kegelapan. “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Pet. 1:23). Jika Roh Kudus sedang menarik kita, hati kita akan terbuka untuk mendengar pemberitaan Firman Allah, dan untuk menerima Kristus Yesus, yang berkata, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5).
Kita tidak memiliki kuasa lebih untuk menjadikan diri kita sendiri menjadi orang Kristen sama seperti dunia purba tidak dapat membawa bagi dirinya sendiri terang untuk keluar dari kekacauan dan kegelapan. Kita tidak memiliki kuasa lagi untuk membawa terang bagi diri kita sendiri sama seperti dunia purba yang tidak dapat menemukan terang dengan sendirinya. Terang yang datang kepada dunia pada permulaannya hanya datang melalui kuasa anugerah Allah (ay. 3). Ini sama dengan keselamatan jiwa kita. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).
Keselamatan bukan hasil usaha kita,
tetapi pemberian Allah. Sama halnya terang adalah pemberian untuk dunia yang
gelap dan kacau balau, demikian juga terang Yesus adalah pemberian anugerah
bagi orang-orang berdosa, yang hidup ‘tanpa bentuk, dan kosong’, yaitu
jiwa-jiwa yang terhilang dalam kegelapan. Keselamatan dari dunia purba adalah
oleh anugerah Allah dalam Kristus. Dan jika kita ditarik keluar dari kegelapan
kepada Kristus yang hidup, itu terjadi semata-mata oleh karena karya anugerah
Allah saja.
REFLEKSI
Anugerah Allah yang begitu indah telah
datang kepada kita orang-orang percaya, menyelamatkan kita dari kekacauan hidup
dan kebinasaan kekal. Anugerah Allah telah menarik kita kepada terang Tuhan
Yesus Kristus. Kita berharap kiranya Allah sedang bergerak dalam hidup orang-orang
yang masih terhilang. Kita juga berharap kiranya Roh-Nya menarik mereka yang
belum percaya keluar dari dosa dan datang kepada sang Juruselamat. Mereka tidak
akan pernah menemukan Kristus dengan kekuatan diri mereka sendiri. Itu
sepenuhnya tergantung pada kasih karunia Allah, yang sedang menarik manusia
yang berdosa kepada sang Juruselamat untuk penyucian dan keselamatan. Biarlah
seluruh umat manusia datang untuk mengenal Yesus, untuk mengetahui Dia yang “hidup
dari antara orang mati” (Roma 11:15).
Comments
Post a Comment