Contoh Esau (Peringatan Bagi Orang-orang Yang Menjual Imannya)
CONTOH ESAU
(PERINGATAN BAGI ORANG-ORANG YANG MENJUAL IMANNYA)
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
“Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang
mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk
sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima
berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki
kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata”
(Ibrani
12:16-17).
PENDAHULUAN
Contoh
Esau mengillustrasikan orang-orang berdosa yang menolak Kristus, dan juga
menggambarkan orang-orang yang awalnya mengaku Kristen tetapi akhirnya menjual
imannya karena terpikat oleh kilauan dunia. Kitab Kejadian memberikan latar
belakang tentang Esau kepada kita. “Pada
suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari
padang. Kata Esau kepada Yakub: ‘Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari
yang merah-merah itu, karena aku lelah.’ Itulah sebabnya namanya disebutkan
Edom. Tetapi kata Yakub: ‘Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.’ Sahut
Esau: ‘Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?’
Kata Yakub: ‘Bersumpahlah dahulu kepadaku.’ Maka bersumpahlah ia kepada Yakub
dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya” (Kej. 25:29-33). Sungguh
sulit untuk dipercaya bahwa Esau bisa nyaris kelaparan di rumah bapanya. Ini
artinya ia memilih kepuasan duniawi daripada berkat rohani dengan memandang
rendah hak kesulungannya. Hak kesulungan dijualnya demi kepuasan kedagingan
sesaat. Hak kesulungan sebenarnya terkait dengan hak-hak rohani yang agung.
Tetapi justru hal-hal itulah yang dibenci Esau dan karena alasan inilah ia
disebut “mempunyai nafsu yang rendah”. Oleh sebab itulah nas
kita di sini merepresentasikan bagaimana orang-orang berdosa menjual iman
mereka. Apa yang mereka jual? Bagaimana mereka menjualnya? Untuk apa mereka
menjualnya? dan Apa konsekuensinya?
APA YANG MEREKA
JUAL?
Hanya demi semangkok sup kacang merah yang ada di tangan adiknya Yakub, Esau dengan gampangnya menjual hak kesulungannya. Baginya kelangsungan hidup fisik jauh lebih berharga daripada berkat-berkat rohani di masa depan. Kesalahan utama Esau bukan karena ia lapar, tetapi karena ia meremehkan dan menganggap rendah nilai rohani yang menyertai hak kesulungan itu. Oleh karena itulah ia disebut memiliki nafsu rendah karena menukar yang kekal dengan yang fana.
Seperti
halnya Esau, banyak orang menjual semua berkat yang telah dibeli dengan Darah
Kristus, dan keselamatan yang telah ditawarkan kepada mereka oleh sang
Juruselamat. Oleh sebab itu mereka menghilangkan pengampunan dosa, damai dalam
hati nuraninya, dan kekekalan di Sorga. Mereka menjual jiwa mereka dan
kehilangan Kerajaan yang merupakan warisan kekal. Mereka menjual semua hal yang
ditawarkan kepada mereka di dalam Injil. Atas Esau dan orang-orang seperti itu,
Tuhan berfirman, “Malapetaka akan
Kudatangkan atas Esau, pada waktu Aku menghukum dia” (Yer. 49:8).
BAGAIMANA MEREKA
MENJUALNYA
Menjual iman dilakukan oleh orang-orang yang memiliki nafsu rendah seperti Esau dengan tidak mengizinkan Roh Kudus berkarya atas diri mereka. Mereka menolak penginsyafan dari Roh Kudus. Semua berkat rohani berhubungan erat dengan pekerjaan Roh yang menginsyafkan. Hanya melalui penginsafan Roh saja orang berdosa dibuat siap untuk menerima warisan orang-orang Kudus di Sorga.
Orang-orang
berdosa, sama seperti Esau, tidak mau menyerahkan kesenangan-kesenangan duniawi
yang fana. Mereka menetapkan nilai lebih tinggi atas semua itu daripada
keselamatan jiwanya. Jadi, mereka menolak karya Roh Kudus yang menginsafkan dan
yang memeteraikan jaminan kekalnya, karena Tuhan berfirman, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di
dalam manusia” (Kej. 6:3). Dengan menolak penginsafan dari Roh Allah, orang
berdosa akan kehilangan jiwaya untuk selama-lamanya di dalam Lautan Api.
UNTUK APA MEREKA
MENJUALNYA?
Kristus bertanya, “Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mark. 8:37). Seperti Esau, orang-orang yang menjual imannya adalah menjual jiwa mereka sendiri untuk sesuatu yang sangat rendah, untuk hal-hal sepele, untuk sesuatu yang tidak bernilai. Mereka menjual jiwa mereka demi semangkuk sop kacang merah, yaitu kepuasan sesaat, kesenangan sementara. Hanya karena demi hal-hal remeh-temeh seperti itu mereka kehilangan jiwa mereka, kehilangan damai sejahtera dari hati nurani mereka, dan kehilangan sukacita sorgawi. Mungkin hanya demi sedikit uang, posisi yang lebih baik, ketenaran, atau mungkin demi menyenangkan teman-temannya yang masih terhilang yang adalah musuh Kristus, atau demi keinginan-keinginan daging lainnya.
Dengan
melakukan semua ini Roh Allah akan meninggalkan mereka yang menjual imannya,
dan karenanya keinsafan akan meninggalkan mereka. Dan sesungguhnya “…beginilah firman TUHAN: Kamu dijual tanpa
pembayaran” (Yes. 52:3). Mereka menjual diri sendiri tanpa pembayaran. Demi
sesuatu yang begitu sepele, sesuatu yang kecil, sesuatu yang tidak penting,
mereka menjual jiwa mereka. Ketika Lysimachus, raja dari Thrace, sangat
kehausan di tengah-tengah kepungan bangsa Getae, ia menawarkan kerajaannya
kepada mereka demi air minum. Setelah ia meminumnya ia berkata, “Betapa rendahnya aku, karena demi kesenangan
minum yang sesaat, aku telah kehilangan sebuah kerajaan besar dan berubah dari
seorang raja menjadi seorang budak”. Betapa ini cocok dengan orang yang
demi kesenangan duniawi, rela menjual imannya, yang berakibat kehilangan keinsafan
akan dosa dan terhilang dari Kerajaan Sorga.
APA KONSEKUENSI
DARI MENJUAL IMAN?
“Kemudian,
ketika ia hendak menerima berkat itu…” (ay. 17). Selalu ada kemudian. Bertahun-tahun
kemudian, ketika Esau mau memiliki
warisan berkat, ia ditolak. Ketika ia sadar bahwa ia telah kehilangan berkat
untuk selamanya ia menangis. Namun “ia
tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya
dengan mencucurkan air mata” (ay. 17).
Betapa dahsyat dan pahitnya orang berdosa akan menangis, ketika semuanya sudah terlambat untuk kembali dari keterhilangannya. Esau berkata kepada ayahnya, “Berkatilah aku ini juga, ya bapa” (Kej. 27:34). Namun semuanya sudah sangat terlambat baginya. “Dan dengan suara keras menangislah Esau” (Kej. 27:38). Ia tidak lagi memperoleh kesempatan untuk bertobat. Ia tidak dapat membujuk ayahnya mengubah pikirannya, “sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata” (ay. 17). Itu juga yang akan terjadi pada mereka yang menjual imannya nanti. Mereka akan menangis, “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu”, namun “pintu ditutup” dan Kristus berkata, “aku tidak mengenal kamu” (Mat. 25:11, 10, 12).
Betapa
konsekuensi besar yang harus diterima sebagai akibat dari tindakan yang
tampaknya kecil dan sepele. Demi semangkok sop kacang merah, demi satu dosa dalam keadaan tertentu, sorga
telah menjauh dan jiwa terhilang selamanya. Perlu dicatat bahwa kata “tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki
kesalahan” dalam ayat 17 bukan berarti Allah menolak pertobatan yang tulus,
melainkan bahwa konsekuensi duniawi dan sejarah dari pilihan mereka tidak bisa
diubah. Dan tangisan Esau adalah tangisan penyesalan karena kehilangan
keuntungan (berkat), bukan tangisan pertobatan karena telah menghina Allah. Jadi
pelajaran penting yang kita pelajari dari nas ini adalah bahwa meninggalkan
atau menjual iman memiliki konsekuensi yang tidak dapat diputar balik.
REFLEKSI
Esau menukar warisan kekalnya dengan semangkuk sop kacang merah karena ia sedang lapar dan lelah. Dalam hidup kita, semangkuk sop kacang merah bisa berupa apa saja yang menawarkan solusi instan namun mengorbankan prinsip iman. Karena itu janganlah kita biarkan kebutuhan mendesak hari ini, yang mungkin berupa perasaan kesepian, tekanan ekonomi atau kelelahan, membuat kita mengambil keputusan impulsif yang merusak masa depan rohani kita. Kita perlu belajar mencintai proses berjalan bersama Allah, bahkan saat perut kita terasa lapar atau keadaan kita sedang sulit. Jangan menunggu sampai terjadi krisis besar untuk mengevaluasi iman, kita perlu melakukan audit spiritual secara berkala. Selama masih ada ‘hari ini’, pintu anugerah selalu terbuka, namun jangan mempermainkan anugerah tersebut dengan menunda-nunda ketaatan.
Comments
Post a Comment