Dengan Iman Menjalani Lembaran Baru

DENGAN IMAN MENJALANI LEMBARAN BARU

 

Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan 

 

1   Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:

2  “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.

3  Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.

4  Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.

5  Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

6  Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

7  Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

8  Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

9  Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

(Yosua 1:1-9)

 

PENDAHULUAN

Nas ini adalah titik balik dalam kehidupan Yosua dimana tantangan besar yang sudah ada di depan matanya harus dihadapinya. Tuhan meletakkan di pundaknya tanggungjawab besar untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Meskipun untuk meneruskan tugas Musa dalam memimpin bangsa Israel ke tanah perjanjian bukanlah hal yang baru diketahuinya, sebab sebelumnya Musa telah meletakkan tangan ke atasnya, namun sebagai manusia biasa Yosua pastilah terbebani secara psikologis. Dengan kematian Musa dan dengan melihat lagi kelompok besar orang Israel yang tegar tengkuk yang harus dipimpinnya dan memandang hamparan luas tanah Kanaan beserta orang-orang yang tinggal di dalamnya yang adalah bangsa yang tinggi-tinggi perawakannya, pastilah mendorong Yosua merenungkan kembali kapasitasnya sebagai calon pemimpin.  Memang empat puluh tahun yang lalu ia pernah ke sana dan menyampaikan kata-kata yang menguatkan kepada umat Israel yang ketakutan. Tetapi sekarang meski hatinya gembira, Yosua tetaplah merasa agak kuatir bahkan mungkin juga ngeri terutama bila memikirkan kapan ia harus memulai dan dari mana untuk memulai.

 

AWAL YANG BARU DENGAN TUGAS DI DEPAN

Dalam nas ini dikatakan dengan jelas bahwa Musa mengalami kematian, bukan diangkat ke surga seperti Elia. Pada waktu Musa mati, bangsa Israel berkabung dan menangisinya selama 30 hari (Ul. 34:8). Tetapi sekarang, dengan adanya perintah Tuhan kepada Yosua, maka masa berkabung itu harus diakhiri dan tugas serta tanggungjawab baru menanti mereka.  Bahwa ada satu alat atau hamba Tuhan yang mati, bukan berarti bahwa pekerjaan, rencana atau janji Tuhan lalu dibatalkan atau dihentikan. Tuhan bisa mencari gantinya. Namun  lagi-lagi ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu mempersiapkan pengganti. Tuhan sebenarnya sudah menunjuk Yosua untuk menggantikan Musa bahkan sebelum Musa mati (Bil. 27:12-23; Ul. 31:1-8, 23). Tetapi saat nas ini, pada saat Musa telah mati dan Yosua betul-betul harus menjadi pemimpin Israel, Tuhan berfirman lagi kepada Yosua untuk menguatkannya.

Kalau Yosua saja, yang imannya hebat itu (bdk. Bil. 14:5-9), membutuhkan Firman Tuhan untuk menguatkan imannya, maka bagaimana mungkin kita tidak membutuhkan Firman Tuhan untuk menguatkan iman kita? Seperti halnya Yosua harus melanjutkan perjalanan setelah Musa mati, tahun baru menandai akhir dari satu fase dan permulaan dari fase yang baru. Ada masa lalu yang harus ditinggalkan dan tantangan baru yang harus dihadapi. Ini memanggil kita untuk melihat ke depan, bukan terpaku pada apa yang sudah berlalu. Dan juga ini juga mengajar kita agar mempersiapkan diri untuk tugas, tanggungjawab dan peluang baru yang ada di depan.

 

KEKUATAN DAN KEBERANIAN DARI TUHAN

Yosua disuruh untuk memimpin umat Israel menyeberangi sungai Yordan, memasuki tanah Kanaan, mengalahkan bangsa-bangsa Kanaan, dan memiliki tanah Kanaan. Perintah ini bukan perintah yang gampang untuk dilaksanakan. Ada banyak problem bagi Yosua untuk bisa melaksanakan perintah ini: 1) Usianya sudah tua (± 85 tahun); 2) Harus memimpin sekitar 2-3 juta orang Israel yang tegar tengkuk; 3) Orang-orang Kanaan lebih besar dan lebih kuat dari orang-orang Israel dan kota-kotanya berkubu; dan 4) Yosua menggantikan Musa seorang pemimpin yang hebat, karenanya ada beban psikologis bagi Yosua. Seringkali perintah Tuhan kelihatannya sulit/tidak mungkin dilaksanakan, tetapi itu pasti terlaksana dengan bersandar kepada Dia.

Perintah berulang untuk “kuatkan dan teguhkanlah hatimu” (ay. 6, 7, 9) menunjukkan bahwa Yosua adalah manusia biasa yang perlu dikuatkan dan diteguhkan hatinya oleh Firman Tuhan. Ini berarti sebagai pemimpin, Yosua tidak boleh takut, harus berani, dan beriman kepada Tuhan. Karena Yosualah yang akan memimpin umat Israel memasuki, menduduki dan memiliki tanah Kanaan (ay. 2-4). Dan semua itu terjadi pada masa hidup Yosua.

Firman Tuhan ‘kuatkan dan teguhkanlah hatimu’ sangat penting saat memasuki tahun yang tidak pasti. Tahun baru sering membawa kecemasan, tetapi Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa kekuatan bukanlah berasal dari diri kita sendiri, melainkan dari perintah dan janji Tuhan. Pesan kuncinya adalah jangan takut dan jangan kecut/tawar hati menghadapi tantangan yang tidak terduga di tahun baru ini, karena keberanian datang dari keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian.

 

PENYERTAAN ALLAH YANG PASTI

Tidak akan ada yang bisa bertahan menghadapi Yosua seumur hidupnya (ay. 5) karena Allah menyertai dia (Roma 8:31b). Musa sudah mati tetapi Tuhan tetap menyertai Yosua dan umat Israel. Ini merupakan pelajaran bagi kita untuk tidak bersandar pada manusia, betapapun hebatnya dia, tetapi hanya kepada Tuhan. Karena itu sebagai orang percaya jangan pernah menganggap Tuhan meninggalkan kita. Pergumulan atau persoalan yang hebat dan berlarut-larut, kegagalan, doa yang tidak dijawab, semuanya bisa menyebabkan kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita. Tetapi ingat bahwa di kayu salib, Yesus sudah memikul keterpisahan kita dengan Allah yang merupakan hukuman atas dosa manusia (bdk. Mat. 27:46). Jadi, kalau kita percaya kepada Yesus, maka kita tidak mungkin lagi bisa terpisah dari atau ditinggalkan oleh Allah.

Janji “TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi” (ay. 9) adalah inti dari kekuatan Yosua. Ini juga merupakan jaminan terbaik bagi kita orang-orang percaya saat memasuki tahun yang baru. Fokus kita haruslah pada kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah, bukan pada kemampuan atau kelemahan diri kita sendiri. Penyertaan ini memberikan kedamaian dan jaminan kemenangan atas setiap “Tanah Perjanjian” (tujuan, visi, misi, atau tantangan hidup) yang kita masuki di tahun baru ini.

 

KETAATAN SEBAGAI KUNCI KEBERHASILAN

Keberhasilan Yosua disyaratkan oleh ketaatan penuh pada Kitab Taurat (Firman Tuhan). Ketaatan akan Firman Tuhan dapat kita lakukan, seperti halnya Yosua, apabila kita memiliki sikap yang benar terhadap Firman Tuhan. Kita harus merenungkannya (ay. 8b), artinya jangan pernah berhenti belajar dan merenungkan Firman Tuhan. Kita juga harus memperkatakannya (ay. 8a), yaitu sering membicarakan dan menyampaikan Firman Tuhan. Mungkin tidak sulit bagi kita membicarakan pengalaman yang kita alami, tetapi bagaimana kalau membicarakan Firman Tuhan?

Firman Tuhan tidak cukup hanya dibaca, dipelajari dan direnungkan, tetapi harus dilakukan dengan tujuan untuk mentaatinya (ay. 8c). Ketaatan kita juga harus bersifat totalitas, yaitu mentaati seluruh Firman Tuhan (ay. 7-8), bukan hanya mentaati bagian Firman Tuhan yang gampang kita lakukan. Apakah kita ‘menyensor’ Firman Tuhan, dalam artian ada yang kita taati dan ada yang kita anggap tidak perlu ditaati? Perlu dicatat bahwa mengabaikan bagian yang terkecil dari Firman Tuhan pun berarti mengabaikan Tuhan sendiri.

Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui komitmen kita pada Firman Tuhan sebagai pelita dan pedoman hidup. Merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (ay. 8) berarti menjadikannya sebagai prioritas utama dan pedoman sehari-hari. Juga kita tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri (ay. 7), yang berarti mentaati Firman Tuhan sepenuhnya tanpa memilih-milih atau tanpa kompromi. Ketaatan inilah yang akan membawa keberhasilan dan keberuntungan sejati dalam menjalani tahun yang baru.

SELAMAT TAHUN BARU

Comments

Popular posts from this blog

Tertib Acara Kebaktian Padang Punguan Ina Naomi

Pujian dan Ucapan Syukur

Percayalah Kepada Tuhan