Dilindungi, Dipelihara dan Ditempa
DILINDUNGI, DIPELIHARA DAN DITEMPA
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
44 Dan Engkau meluputkan aku dari perbantahan
bangsaku; Engkau memelihara aku sebagai kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang
tidak kukenal menjadi hambaku;
45 orang-orang asing tunduk menjilat kepadaku,
baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku.
46 Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari
kota kubunya dengan gemetar.
47 TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan
ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku,
48 Allah, yang telah mengadakan pembalasan
bagiku, yang telah membawa bangsa-bangsa ke bawah kuasaku,
49 dan yang telah membebaskan aku dari pada
musuhku. Dan Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan
aku; Engkau telah melepaskan aku dari para penindas.
50 Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu,
ya TUHAN, di antara bangsa-bangsa, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.
51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar
kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang
diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya.
(1 Samuel
22:44-51)
PENDAHULUAN
Allah adalah tempat perlindungan. Apa yang kita harapkan
jika berlindung kepada-Nya? Kecenderungan manusia adalah meminta Tuhan menyingkirkan
persoalan, pergumulan dan beban hidup. Daud yang berlindung kepada Tuhan justru
dilatih, dipelihara, dan diberi kekuatan untuk mampu dan berani berjuang
menghadapi, bahkan hingga mengatasi, musuh-musuhnya. Berlindung bukan berarti
pasif tanpa usaha dan perjuangan. Perlu kita catat bahwa pengakuan Daud tentang
Allah yang menjadi Perisai, Gunung Batu dan Tempat Pengungsian, justru
terbentuk melalui pengalamannya melewati penderitaan demi penderitaan. Bahkan
setelah menjadi raja bangsa Israel pun Daud tidak luput dari berbagai
persoalan, baik internal maupun eksternal. Berbagai pengalaman hidup inilah
yang menempa dan meningkatkan kemampuan Daud sebagai kepala atau pemimpin. Dan
dengan melewati semuanya itu semakin kuat jugalah pengakuan Daud bahwa tangan
Tuhanlah yang melindungi, menempa dan memelihara hidupnya dan bangsanya.
KEMENANGAN ATAS KONFLIK
INTERNAL MAUPUN EKSTERNAL
Daud mengakui bahwa Tuhan melepaskannya dari “perbantahan bangsaku” (ay. 44). Ini merujuk pada konflik internal bangsa Israel, tepatnya pemberontakan atau perebutan kekuasaan. Ada dua kali Daud dihadapkan pada kudeta terhadap kekuasaannya. Yang pertama adalah oleh Absalom, anak kandung Daud sendiri (2 Sam. 16-17), dan yang kedua oleh Seba bin Bikri (2 Sam. 20). Dengan tangan mahakuasa Tuhan, Daud berhasil menumpas kedua pemberontakan atau kudeta yang terjadi sewaktu ia memerintah sebagai raja Israel. Dari dua kejadian inilah Daud semakin teguh berkeyakinan bahwa Tuhanlah yang melepaskannya dari perbantahan/konflik internal bangsa Israel. Otoritas Daud bukan hasil manipulasi politik, melainkan ketetapan ilahi. Artinya, Tuhan tidak hanya menjaga Daud dari musuh asing, tetapi juga dari perpecahan di dalam, atau konflik internal, Israel sendiri.
Daud juga menyatakan bahwa ia dijadikan “kepala atas bangsa-bangsa” (ay. 44). Ini
berarti otoritas atas bangsa-bangsa asing juga Tuhan berikan kepada Daud. Jadi,
ia dipelihara dan ditempa Tuhan untuk menjadi kepala bangsa-bangsa bukan
Yahudi. Segala pemeliharaan istimewa terhadap Daud menunjukkan bahwa dia
dirancang dan dijaga untuk sesuatu yang besar, yaitu untuk memerintah atas
seluruh Israel, kendati dengan adanya perbantahan bangsanya. Dan juga dia telah
ditinggikan, sampai setinggi takhta, mengatasi bangsa-bangsa yang bangkit
melawannya (ay. 49). Bahkan bangsa-bangsa asing “tunduk menjilat” (ay. 45), atau tunduk karena takut, kepadanya. Ini
menunjukkan betapa kuatnya wibawa yang diberikan Tuhan kepada Daud. Ini
dipandang sebagai kedaulatan universal yang merupakan tipologi Mesianik. Daud
sebagai raja Israel adalah bayangan dari Kristus yang kelak memerintah atas
segala bangsa.
ALLAH ITU HIDUP
DAN ADIL
Dengan mengakui campur tangan Tuhan dalam kemenangan Daud mengatasi konflik internal dan eksternal bangsa Israel, muncullah pengakuan iman yang fundamental dari mulut Daud. “TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan ditinggikanlah kiranya Allah gunung batu keselamatanku” (ay. 47) juga merupakan doktrin tentang Allah yang hidup. Berbeda dengan semua yang lain yang disembah sebagai allah adalah palsu dan jadi-jadian, tetapi Allah Israel adalah Allah yang hidup atau Allah yang aktif karena intevensi-Nya nyata. Selain itu, Daud juga menggambarkan bahwa Allah itu adalah gunung batu. Semua gunung batu yang lain mati,, tetapi Allah hidup dan merupakan perlindungan yang tak tergoyahkan. Daud sering kali bersembunyi di dalam gunung batu (1 Sam. 24:3), tetapi Allah adalah tempat persembunyiannya yang utama, dimana di dalam-Nya dia aman dan berada di luar jangkauan kejahatan yang nyata.
Daud
tidak melihat kemenangannya sebagai balas dendam pribadi yang berdosa,
melainkan sebagai keadilan Allah. Tuhan digambarkan sebagai Hakim yang
memberikan pembalasan bagi pihak yang benar (ay. 48), dan merendahkan
orang-orang yang melakukan kekerasan (ay. 49). Dengan alasan inilah kita juga
hendaknya menyerahkan setiap perkara kita kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang
menjadi Hakim atas perkara kita dengan orang lain, dan percayalah pembalasan
yang adil datangnya hanya dari Tuhan, yaitu Allah yang hidup dan adil.
RESPON PEMAZMUR
Daud merespon semua apa yang telah Tuhan lakukan kepadanya dan bangsanya Israel dengan memberikan kesaksian di tengah bangsa-bangsa. Daud berjanji untuk menyanyikan syukur di antara bangsa-bangsa (ay. 50). Cerita yang lengkap dan panjang lebar disimpan Daud bagi dirinya sendiri, sementara kepada orang lain ia menceritakan perkara-perkara besar dan baik yang telah dilakukan Allah baginya. Pada waktu Daud berada di antara orang-orang kafir, dia tidak akan takut ataupun malu untuk mengakui kewajiban-kewajibannya kepada Allah Israel. Ia memuliakan Allah atas segala kelepasan dan keberhasilannya, dengan menunjukkan baik bahaya-bahaya yang darinya ia telah dilepaskan maupun kekuasaan yang kepadanya ia telah diangkat. Ini juga sekaligus memperluas misi Israel, bahwa keselamatan yang dialami Daud menjadi kesaksian bagi dunia.
Kesaksian
Daud bahwa Allah “menunjukkan kasih setia
kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya”
(ay. 51) menunjukkan bahwa Daud adalah orang yang diurapi Allah, bukan seorang
perebut kekuasaan, melainkan dipanggil sebagaimana mestinya untuk memerintah
dan dilayakkan untuk tugas itu. Oleh karena itu, dia tidak ragu bahwa Allah
akan menunjukkan belas kasih-Nya kepada dia, kasih setia yang telah
dijanjikan-Nya tidak akan diambil daripadanya ataupun daripada keturunannya. Kata
“orang yang diurapi-Nya” juga
memiliki signifikansi mesianik, yang merujuk pada Mesias, yang merupakan satu-satunya
keturunannya untuk selamanya, yang
takhta dan kerajaan-Nya terus ada, dan akan tetap ada sampai selamanya.
REFLEKSI
Nas
ini mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan sejati adalah ketika posisi dan
kekuatan kita digunakan untuk memuliakan Tuhan. Daud tidak menyombongkan
kehebatannya, melainkan mengarahkan pandangan semua orang kepada Allah yang
memberikan kemenangan. Seperti halnya Daud, kita juga harus menyadari bahwa
pengaruh kehadiran Allah ternyata memampukan kita melewati masa-masa sengsara
yang kita alami dalam gelombang kehidupan ini. Inilah fakta bahwa kita
menyembah Allah yang hidup. Sebab itu, tidaklah cukup kita bersaksi tentang
Dia, tetapi haruslah kita menaikkan pujian dan sembah kepada Allah yang hidup
itu. Juga marilah kita buktikan kepada orang-orang di sekeliling kita bahwa
kita memiliki Allah yang hidup, perkasa dan adil, dengan hidup dalam kebenaran
dan tidak berkompromi terhadap kejahatan. Allah akan meneguhkan dan menopang
kita dalam segala perkara.
Comments
Post a Comment