Mengapa Mencari Dia Yang Hidup di Antara Orang Mati?
MENGAPA MENCARI DIA YANG
HIDUP DI ANTARA ORANG MATI?
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar
Pakpahan
“Mengapa kamu mencari Dia
yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit”
(Lukas
24:5-6).
PENDAHULUAN
Kalangan Muslim, terutama golongan
radikal atau ekstrimis, tidak percaya bahwa Yesus mati disalibkan. Bukan hanya
mereka saja, bahkan sebagian cendekiawan liberal dari Dunia Barat juga berkata
bahwa Yesus tidak mati disalibkan. Namun anggapan mereka sangat tidak masuk
akal dengan memperhatikan proses penghukuman Yesus, yaitu dicambuk, disesah,
dipakukan kedua kaki dan tangan-Nya di kayu salib, dan ditombak lambung-Nya. Yang
pasti, Ia telah mati untuk membayar lunas hutang dosa kita dan untuk mengalami
murka Allah atas dosa manusia. Namun sekarang Ia telah bangkit, hidup kembali
secara fisik dari kematian mengalahkan dosa, maut dan neraka. Dan para malaikat
berkata kepada wanita-wanita yang datang ke kubur-Nya, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada
di sini, Ia telah bangkit” (nas).
PENDERITAAN
YESUS DI GETSEMANI
Yesus mengalami penderitaan yang begitu dahsyat di Taman Getsemani sampai-sampai “peluh-Nya menjadi seperti gumpalan-gumpalan darah yang bertetesan ke tanah – KJV” (Luk. 22:44). Kondisi-Nya begitu menyedihkan dan begitu berat, sehingga Ia berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mark. 14:34). Ia sungguh telah sekarat atau berada di ambang kematian di Getsemani, tetapi “dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr. 5:7).
Tiba-tiba para tentara Romawi menerobos masuk ke dalam taman yang sunyi itu
dan, dengan bantuan Yudas si pengkhianat itu, mereka menyeret Yesus dari sana.
Saat itu pakaian-Nya telah memerah oleh peluh darah-Nya, yang keluar dari
pori-pori kulit-Nya karena beban dosa manusia yang Ia tanggung. karena murka
Allah yang mulai menimpa Dia akibat dosa dunia yang ditimpakan kepada-Nya, juga
karena kekudusan dan keadilan Allah, yang berkata, “Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.
Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea” (Mat.
26:31-32).
PENDERITAAN
YESUS DARI PENANGKAPAN HINGGA PENYALIBAN-NYA
Para prajurit Romawi “memegang Yesus dan menangkap-Nya... Kemudian Yesus dibawa menghadap Imam Besar” (Mark. 14:46, 53). “Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia” (Mat. 26:67). Kemudian para imam dan orang banyak membawa Yesus yang telah memar karena telah dipukuli itu ke hadapan gubernur Romawi, Pontius Pilatus. Pilatus menanyai Dia dan kemudian mengirim Dia kepada Herodes. Sesudah menginterogasi Dia, Herodes mengirim Yesus kembali kepada Pilatus. Pilatus muncul di serambinya dan berseru kepada kerumunan orang banyak itu, “’Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?’ Mereka semua berseru: ‘Ia harus disalibkan!’ Katanya: ‘Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?’ Namun mereka makin keras berteriak: ‘Ia harus disalibkan!’” (Mat. 27:22-23).
“Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia” (Yoh. 19:1). “Sama seperti para budak, begitulah Yesus ditangkap, dicambuk dengan cambukan, yang mana... pada ujungnya diikatkan tulang pinggul binatang buas, sehingga cambuk macam ini adalah hukuman yang sangat kejam dan mengerikan (John Gill, D.D., An Exposition of the New Testament, The Baptist Standard Bearer, 1989 edition, vol. I, hal. 357). Namun mereka belum selesai dengan kekejaman mereka itu. Setalah Ia disesah, “Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: ‘Salam, hai raja orang Yahudi!’ Lalu mereka menampar muka-Nya” (Yoh.19:2-3).
Kemudian Pilatus membawa Yesus ke serambi di hadapan orang banyak. “Maka kata Pilatus kepada mereka: ‘Lihatlah manusia itu!’” (Yoh. 19:5). Yesus, yang dimahkotai dengan duri tajam yang menembus kulit kepala-Nya, darah mengalir dari dahi-Nya masuk ke kedua mata-Nya, tubuh-Nya secara literal sudah hancur berkeping-keping oleh karena hukuman cambuk itu, darah mengalir berceceran di bawah kaki-Nya. Namun mereka tidak berhenti sampai di situ. Para imam dan para pemimpin orang Yahudi berseru lagi, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” (Yoh. 19:6).
Kemudian Pilatus “menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan” (Yoh. 19:16-18). Dengan segala siksaan yang diderita Yesus sebelumnya tentu tidaklah mengherankan jika Ia jatuh ketika Ia mencoba untuk memikul Salib-Nya ke tempat penyaliban. Ia harus ditolong oleh seseorang yang bernama Simon dari Kirene, karena Ia sudah hampir mati karena serangkaian penyiksaan yang Ia telah alami.
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya” (Luk. 23:46). Namun mereka tidak berhenti sampai di situ. Para prajurit datang untuk memeriksa tubuh Yesus di kayu Salib, “tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh. 19:33-34). Rasul Yohanes ada di sana. Ia menceritakan kepada kita bahwa ia melihat Yesus mati dan bahwa “kesaksiannya benar” (Yoh. 19:35). Yohanes adalah saksi mata segala peristiwa penyaliban Kristus. Ia ada di sana. Ia melihat semua itu dengan mata kepala sendiri.
Lalu sahabat-sahabat Yesus mengambil
mayatnya, membalsemnya, dan “mengapaninya
dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang
Yahudi bila menguburkan mayat” (Yoh. 19:40). Mereka meletakkan tubuh-Nya di
kubur. Musuh-musuh-Nya mengirim tentara Romawi untuk “berjaga-jaga” (Mat. 27:65), sehingga tidak seorangpun dapat mencuri
tubuh itu. Ya, Yesus telah mati. Namun pada hari yang ketiga, Ia bangkit
mengalahkan maut. Dan para malaikat berkata kepada wanita-wanita yang datang ke
kubur-Nya, “Mengapa kamu mencari Dia yang
hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (nas).
Selain di antara orang mati, janganlah mencari Yesus Kristus di antara ke tiga
hal berikut ini.
JANGAN
MENCARI KRISTUS DALAM ILMU PENGETAHUAN
Tidak ada salahnya mempelajari dan
menguasai ilmu pengetahuan. Tidak sama sekali. Namun siapapun tidak akan
menemukan Kristus melalui riset ilmiah yang dilandasi ilmu pengetahuan paling
canggih dan up to date. Mengapa tidak? Sederhana saja, karena ilmu pengetahuan
berhubungan dengan hal-hal materi di bumi dan alam semesta ini. Jika kita amati
dengan cermat, kita dapat menemukan tanda-tanda tentang Kristus dalam
ciptaan-Nya. Adalah fakta bahwa ciptaan menunjukkan pekerjaan tangan dan
tanda-tanda sang Pencipta, Kristus. Namun “tanda-tanda” dan “pekerjaan tangan”
ini bukanlah Kristus Sendiri. Kristus telah bangkit dan naik ke Sorga dan duduk
di sebelah kanan Allah di sana. Ia tidak ada di sini dalam kosmos yang sedang
sekarat atau bumi yang akan segera musnah ini. Oleh sebab itu, kita dapat
berkata benar kepada orang-orang yang mencari Kristus dalam ilmu pengetahuan, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di
antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (nas).
JANGAN
MENCARI KRISTUS DALAM MATERIALISME DUNIA BARAT
Materialisme merupakan suatu pandangan atau paham yang tumbuh berkembang dengan subur di Dunia Barat bahkan semakin kuat pengaruhnya di zaman akhir ini. Paham ini menyatakan bahwa materi adalah satu-satunya substansi yang benar-benar ada (realitas tunggal). Yang menjadi inti dari pandangan ini adalah bahwa segala sesuatu, termasuk pikiran, kesadaran, roh dan fenomena alam, berasal dari, atau merupakan hasil dari, interaksi material/fisik. Oleh sebab itu, ide, jiwa atau roh dianggap sebagai manifestasi atau akibat dari aktivitas materi.
Dalam konteks sosial dan psikologis,
materialisme mengacu pada orientasi hidup yang menempatkan kepemilikan dan
perolehan barang-barang materi sebagai hal yang paling penting atau utama.
Dengan demikian, kekayaan, harta benda dan konsumsi dianggap sebagai sumber
utama kebahagiaan, kepuasan, kesuksesan, dan status sosial. Tidak heran bahwa
individu materialistis cenderung mengukur keberhasilan diri sendiri dan orang
lain menurut kuantitas dan kualitas harta benda yang dimiliki. Yang jelas
pandangan ini seringkali mengabaikan nilai-nilai non-materi atau spiritual
lainnya, seperti hubungan antar-manusia, pengalaman hidup, intelektualitas, dan
agama. Oleh sebab itu, “Mengapa kamu
mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah
bangkit” (nas).
JANGAN
MENCARI KRISTUS DALAM FILSAFAT MANUSIA ATAU SISTEM AGAMA BUATAN MANUSIA
Filsafat adalah studi tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai keberadaan, pengetahuan, nilai, akal budi, dan bahasa. Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia, yang berarti ‘cinta akan kebijaksanaan’. Namun kebijaksanaan yang dimaksudkan di sini hanya merupakan kearifan manusia semata bukan hikmat yang dari Tuhan. Begitu juga halnya dengan agama-agama besar dunia yang utamanya mengajarkan perkara-perkara duniawi atau hubungan antar-manusia, dan menekankan hal-hal baik yang harus dilakukan manusia agar sampai ke sorga atau nirwana.
Bila kita mempelajari teori-teori filsafat dan ajaran agama-agama besar dunia di luar Kristen, boleh jadi memang ada percikan kebenaran di dalamnya, namun itu tersembunyi dalam sejumlah prejudis manusia. Tetapi jangan mencari Kristus dalam filsafat dan agama-agama buatan manusia. Kita tidak akan menemukan Dia dalam pengajaran Plato, atau Socrates, atau Descartes, atau Immanuel Kant, atau filsuf-filsuf tersohor lainnya. Kita juga tidak akan menemukan Dia dalam ajaran Confucius, atau Budha, atau Muhammad. Kita memang menghormati mereka para cendekiawan dan pemikir yang luar biasa. Namun Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Para filsuf dan para pemuka agama di atas sekarang sudah mati. Mereka tidak dapat menjelaskan kepada kita bagaimana cara menemukan Kristus. Jadi, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit” (nas).
REFLEKSI
Kita tidak akan menemukan Kristus di
antara orang mati, sebab Ia telah bangkit dan naik ke sorga. Juga kita tidak
akan menemukan Dia dalam ilmu pengetahuan, dalam materialisme Dunia Barat, dan
dalam teori-teori filsafat dan ajaran agama-agama buatan manusia. Selain itu,
jika kita melihat ke dalam diri kita sendiri, dan menguji pikiran-pikiran dan
emosi-emosi serta keinginan-keinginan kita sendiri, kita tidak akan menemukan
Kristus di sana. Kita harus memalingkan muka dari diri kita sendiri,
memalingkan muka dari latar belakang kepercayaan non-kristiani kita,
memalingkan muka dari kultur dan masyarakat kita sendiri, memalingkan muka dari
perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran kita sendiri. Berpalinglah kepada Yesus
Kristus yang telah duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga. Jika kita
mencari Dia di sana, kita akan menemukan Dia. Di sanalah Yesus berada sekarang.
Ayat
Renungan: “Karena
itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di
atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang
di atas, bukan yang di bumi” (Kolose 3:1-2).
Comments
Post a Comment