Ular Tembaga
ULAR TEMBAGA
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
“Lalu Musa membuat ular tembaga dan
menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia
memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”
(Bilangan 21:9).
PENDAHULUAN
Ketika bangsa Israel berjalan melalui padang gurun mereka
tidak sabar dan memberontak terhadap Allah. Mereka mulai berbicara melawan
Allah dan melawan Musa. Mereka bersungut-sungut tentang apa yang telah Allah
lakukan bagi mereka, dan penuh curiga terhadap apa yang Tuhan akan lakukan.
Mereka sebenarnya memiliki cukup manna, namun mereka bersungut-sungut
seakan-akan mereka tidak memiliki makanan. Mereka mendapatkan banyak air, namun
mereka masih bersungut-sungut melawan Allah. Karena ketidakpercayaan dan
pemberontakan mereka, Allah mengirimkan ular tedung untuk menggigit dan
membunuh mereka. Ular itu disebut ular api dalam Alkitab bahasa Inggris karena
warnanya, dan karena gigitannya menyebabkan tubuh langsung seperti terbakar,
yaitu menyebabkan demam tinggi seketika. Lalu Allah berkata kepada Musa untuk
membuat ular tembaga dan meninggikannya pada sebuah tiang. Musa kemudian
memberitahukan kepada bangsa itu untuk memandang ular yang ditinggikan pada
tiang itu agar mereka selamat.
PENYEBAB DARI PENGHUKUMAN
Kesalahan atau dosa bangsa Israel yang menyebabkan mereka mendapat penghukuman dari Allah adalah karena mereka berkata-kata melawan Allah. Pernahkah kita berkata-kata melawan Allah? Mungkin tanpa sadar ini bisa kita lakukan dengan berbicara kepada Allah dalam doa, tetapi dengan hati yang jengkel kepada Tuhan. Atau mungkin bahkan ada orang yang cukup berani memaki-maki Tuhan.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa dalam Bilangan 21 ini bangsa Israel dihukum berat bukan karena mereka berkata-kata menentang Musa, tetapi karena mereka berkata-kata menentang Allah. Namun itu tidak sepenuhnya benar. Musa dipilih Tuhan menjadi pemimpin bangsa Israel. Karena itu seharusnyalah mereka wajib untuk tunduk kepada Musa. Tetapi dalam kejengkelan mereka, mereka berkata-kata melawan/menentang Musa. Dari pasal-pasal sebelumnya kita ketahui bahwa Miryam dan Harun dihukum karena menentang Musa (Bil. 12), umat Israel dihukum karena menentang Musa (Bil. 14), serta Korah, Datan dan Abiram dihukum juga karena menentang Musa (Bil. 16). Jadi tampak jelas bahwa mereka semua dihukum berat karena menentang Musa yang adalah hamba Tuhan.
Di padang gurun mereka diberi makan manna, tetapi itu
mereka sebut sebagai makanan hambar terhadap mana mereka sudah muak (Bil.
21:5c). Artinya selain melawan Allah dan hamba-Nya Musa, mereka juga menghina
pemberian Tuhan. Apa yang Tuhan berikan sebenarnya merupakan kebutuhan pokok
mereka. Tetapi itupun mereka hina dengan menyebutnya makanan yang hambar yang
merupakan kata lain dari makanan yang buruk atau jelek dan mereka benci/jijik (detest – NIV) terhadap makanan tersebut.
Sungguh merupakan hinaan keji kepada pemberian Tuhan.
HUKUMAN ATAS DOSA
MEREKA
Tuhan menghukum mereka dengan ular tedung atau ular api (fiery serpents – KJV/RSV/NASB). Disebut demikian karena kalau seseorang digigit ular ini, ia akan merasa panas sekujur tubuhnya seperti terbakar api. Ular-ular ini sebelumnya menjauh dari perkemahan mereka oleh karena tangan Allah. Namun sekarang karena dosa dan ketidakpercayaan mereka, ular-ular itu menyerbu ke tengah-tengah mereka, mengerumuni mereka, dan mendatangkan kesakitan, kematian dan siksaan kekal kepada mereka. Kita diperingatkan dalam Perjanjian Baru bahwa “tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan… mereka pasti tidak akan luput” (1 Tes. 5:3).
Datangnya penghukuman mungkin diperlambat, namun ketika sudah
waktunya, datangnya adalah secara tiba-tiba. Seperti ular-ular yang datangnya
secara tiba-tiba setelah bangsa itu terus memberontak kepada Allah. Artinya penghukuman mereka datang secara tiba-tiba, dan mereka
tidak dapat menghindarinya. Ular-ular api ini merupakan tipe atau gambaran dari
Iblis dan antek-anteknya. Allah mungkin melindungi kita selama bertahun-tahun
dari serangan yang mematikan dari “si
ular tua, yang disebut Iblis atau Setan” (Wahyu 12:9). Namun tiba-tiba,
pada suatu hari tertentu (“sebab itu Ia
menetapkan pula suatu hari” – Ibr. 4:7), Allah akan melepaskan Ular, si Iblis, itu atas kita dengan penuh
kegeraman jika kita terus memberontak
kepada Tuhan. Itulah yang terjadi ketika Iblis dan antek-anteknya menyerang
orang-orang berdosa yang tidak mau bertobat dan datang kepada Kristus.
PENYELAMAT DARI PENGHUKUMAN
Allah menyediakan cara agar orang-orang berdosa diselamatkan. Kita tidak akan memperhatikan peristiwa ini secara istimewa jika Yesus tidak menggunakannya sebagai ilustrasi ketika Ia berbicara kepada Nikodemus, sebagaimana dicatat dalam Yohanes pasal tiga. Nikodemus adalah seorang pengajar utama Israel, namun ia belum lahir baru. Yesus mengatakan kepadanya kisah Musa dan ular tembaga ini. Sebagai seorang sarjana Alkitab, Nikodemus tahu kisah yang dicatat dalam Bilangan 21 itu dengan sangat baik. Yesus berkata kepadanya, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-15). Jadi, agar kita diselamatkan dari penghukuman, tidak ada syarat lain selain memandang dengan iman kepada Yesus yang ditinggikan di Salib itu, seperti ular tembaga yang ditinggikan itu.
Pada masa itu saat Israel berdosa, Tuhan menghukum mereka dengan ular. Untuk menyelamatkan mereka dari hukuman, Tuhan memberi ular tembaga sebagai obat. Pada masa kini, kita berdosa maka hukuman kekal menanti kita. Untuk menyelamatkan kita dari hukuman, Tuhan memberi Kristus sebagai obat. Obat itu merupakan satu-satunya jalan untuk bebas dari hukuman, atau satu-satunya jalan keselamatan. Tuhan hanya memberikan satu ular dari tembaga, tidak ada ular perak, ular emas, atau ular yang lain. Kalau mereka menolak jalan itu dan mencari jalan lain, misalnya dengan berobat kepada tabib/dukun, atau dengan mengikat bagian yang digigit, atau dengan mencari obat lain manapun juga, mereka pasti mati. Hanya kalau mereka mau memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa barulah mereka bisa sembuh dan selamat. Pada zaman ini, Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; 1 Yoh. 5:11-12; 1 Tim. 2:5), tidak ada yang lain.
Obat itu dibutuhkan oleh semua orang Israel pada masa
itu. Tidak ada satu orangpun yang setelah digigit ular yang tidak membutuhkan
obat itu. Pada zaman sekarang semua orang membutuhkan Kristus sebagai obat.
Mengapa? Karena “semua orang telah
berbuat dosa” (Roma 3:23). Banyak orang mengira mereka tidak membutuhkan
Yesus. Mereka mengira bahwa dengan berbuat baik, membuang dosa, dsb. mereka
bisa selamat/masuk surga. Mereka salah dan bodoh. Semua manusia adalah orang
berdosa, dan itu mencakup diri kita sendiri, sehingga kalau tidak mempunyai
Penebus/Juruselamat dari dosa, maka kita harus menanggung sendiri hukuman dosa
itu dengan masuk ke neraka selama-lamanya.
KESEMBUHAN/KESELAMATAN
Orang Israel yang digigit ular itu harus memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan Musa agar mereka sembuh/selamat. Bagaimana dengan zaman sekarang? Yesus berkata, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-15). Jadi, kalau dahulu orang Israel hanya perlu memandang kepada ular tembaga agar selamat, maka sekarang kita perlu memandang dengan iman kepada Yesus agar selamat. Dahulu tidak ada orang yang memandang ular tembaga tetapi tetap mati, sekarang tidak ada orang yang percaya kepada Yesus tetapi binasa atau masuk neraka.
Kala
itu, sudah ada orang-orang Israel yang mati. Untuk mereka ini tentu tidak ada
obat. Tetapi untuk mereka yang masih hidup, apakah mereka baru digigit atau
sudah hampir mati, belum terlambat untuk memandang kepada ular tembaga itu.
Kalau mereka melakukan hal itu mereka pasti sembuh. Demikian juga dengan zaman
sekarang. Untuk orang yang sudah mati tanpa Kristus, tidak ada obat lagi.
Tetapi untuk orang yang masih hidup, apakah dia masih muda atau sudah tua atau
sudah sekarat dan hampir mati, tetap belum terlambat untuk datang kepada
Kristus. Pada masa itu, kalau orang menunda untuk memandang kepada ular tembaga
itu, maka ia bisa terlambat. Sekarang juga demikian, kalau saudara
menunda-nunda untuk percaya kepada Yesus, saudara bisa terlambat. Karena itu
cepatlah datang kepada Yesus, besok mungkin sudah terlambat!
Comments
Post a Comment