Hidup dalam Roh
HIDUP DALAM ROH
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi
keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan
terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak
mungkin baginya.
8 Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin
berkenan kepada Allah.
9 Tetapi kamu tidak hidup dalam daging,
melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika
orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
10 Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka
tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena
kebenaran.
11 Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan
Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah
membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga
tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
(Roma 8:6-11)
PENDAHULUAN
Alkitab berulang kali menegaskan bahwa hanya ada dua
jalan kehidupan di dunia, hidup menurut daging atau hidup menurut Roh. Tidak
ada pilihan ketiga, tidak ada zona netral. Rasul Paulus memaparkan perbedaan
antara keduanya. Orang yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari
daging. Cara hidup seperti itu bertentangan dengan hukum Allah dan menghasilkan
maut. Sebaliknya, orang yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal rohani yang
menghasilkan damai sejahtera dan hidup kekal. Bila Roh Allah ada di dalam diri
seseorang, pastilah orang itu hidup menurut Roh dan ia diangkat menjadi anak
Allah yang layak menerima penggenapan janji-janji Allah. Lebih cermat lagi,
orang yang hidup menurut daging bukanlah orang percaya yang sesekali jatuh ke
dalam dosa. Hidup menurut daging adalah ciri orang yang sama sekali belum
mengalami kelahiran baru.
KONTRAS ORIENTASI
PIKIRAN
Bagaimana kita tahu apakah kita hidup menurut daging atau menurut Roh? Jawabnya adalah dengan memeriksa apa yang kita pikirkan, perkara-perkara daging atau perkara-perkara roh. Kesenangan daging, keuntungan dan kehormatan duniawi, perkara-perkara indrawi dan sementara, itu semua adalah perkara-perkara daging, yang dipikirkan oleh orang-orang yang tidak diperbaharui. Sebaliknya, perkenanan Allah, kesejahteraan jiwa, kepedulian akan hidup kekal, itu semua adalah perkara-perkara Roh, yang betul-betul dipikirkan oleh mereka yang hidup menurut Roh.
Apa yang dipikirkan orang, itulah jati dirinya. Ke mana pikiran-pikiran paling senang melayang? Apa yang paling puas dipikirkannya? Pikiran adalah tempat bersemayamnya hikmat. Apakah kita lebih bijak demi dunia atau demi jiwa kita? Apa yang kita pikirkan adalah masalah besar, kebenaran-kebenaran apa, berita-berita apa, penghiburan-penghiburan apa yang paling kita sukai, dan paling menyenangkan bagi kita. Untuk memperingatkan kita agar waspada terhadap keinginan daging, Paulus menunjukkan betapa keinginan daging akan membawa kesengsaraan dan bahaya besar. Dan ia membandingkannya dengan keunggulan dan penghiburan yang tak terkatakan dari keinginan roh.
KEINGINAN DAGING
ATAU KEINGINAN ROH
Keinginan daging adalah maut (ay. 6), yang artinya keinginan daging adalah kematian rohani, jalan yang pasti menuju kematian kekal. Keinginan daging adalah kematian jiwa, sebab keinginan daging berarti terpisahnya jiwa dari Allah, sementara hidup jiwa ada di dalam persatuan dan persekutuannya dengan Allah. Jiwa yang bersifat kedagingan adalah jiwa yang sengsara, jiwa yang mati. Tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera. Keinginan roh adalah ketenteraman dan kebahagiaan jiwa. Keinginan roh adalah kehidupan dan damai sejahtera kekal yang sudah dimulai sekarang, dan merupakan suatu pertanda yang pasti akan penyempurnaannya kelak.
Keinginan daging adalah permusuhan terhadap Allah (ay.
7), yaitu keinginan daging tidak takluk kepada hukum Allah. Kekudusan hukum
Allah dan ketidakkudusan keinginan daging tidak dapat didamaikan seperti halnya
terang dan gelap. Manusia daging bisa saja, oleh kuasa anugerah ilahi,
ditundukkan kepada hukum Allah, tetapi keinginan daging tidak akan pernah bisa.
Sepanjang keinginan daging menang, kita tidak condong pada hukum Allah. Oleh
sebab itu, apabila terjadi perubahan, itu karena kuasa anugerah Allah, bukan
karena kehendak bebas manusia. Paulus lalu menyimpulkan bahwa mereka yang hidup
dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah (ay. 8). Orang yang hidup
dalam daging dan tidak diperbaharui, di bawah kuasa dosa yang memerintah, tidak
dapat melakukan apa yang berkenan kepada Allah.
IDENTITAS BARU
DALAM ROH
“Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh” (ay. 9). Ini mengungkapkan dua keadaan jiwa yang amat berbeda. Semua orang kudus memiliki daging dan roh dalam diri mereka. Tetapi hidup dalam daging dan hidup dalam Roh adalah dua hal yang berlawanan. Itu berarti dikalahkannya dan ditundukkannya kita oleh salah satu dari kedua asas ini. Sekarang, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah kita hidup dalam daging atau dalam Roh. Lalu bagaimana kita bisa mengetahuinya? Tentu saja dengan mencari tahu apakah Roh Allah berdiam dalam diri kita. Roh yang berdiam dalam diri kita merupakan bukti terbaik dari keberadaan kita di dalam Roh, sebab berdiam itu harus dilakukan secara timbal balik (1 Yoh. 4:16): ia berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Paulus menambahkan satu pedoman umum untuk menguji apakah
seseorang itu hidup dalam Roh, yaitu “jika orang tidak memiliki
Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (ay. 9). Jadi orang kepunyaan-Nya hanyalah mereka
yang memiliki Roh-Nya, maksudnya dipenuhi Roh seperti Kristus, yaitu lemah
lembut, rendah hati, cinta damai, sabar, dan murah hati seperti Dia. Kita tidak
bisa mengikuti jejak-Nya kecuali kita memiliki Roh-Nya. Sikap dan kecondongan
kita harus disesuaikan dengan teladan Kristus. Memiliki Roh Kristus adalah sama
dengan memiliki Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita. Tetapi yang dua itu
pada akhirnya menjadi satu, sebab semua orang yang dihidupkan oleh Roh Allah
sebagai Pemimpin mereka, diserupakan dengan Roh Kristus sebagai Teladan mereka.
Dengan demikian, terjadi perubahan domisili pada orang-orang percaya dimana
mereka tidak lagi ‘di dalam daging’ melainkan ‘di dalam Roh’ meskipun mereka
masih memiliki tubuh fisik.
HARAPAN KEBANGKITAN TUBUH
Ada kehidupan yang juga disediakan untuk tubuh yang fana dan malang ini (ay. 11). Memang Tuhan itu juga untuk tubuh, dan meskipun pada saat kematian tubuh dicampakkan sebagai bejana yang hina dan rusak, bejana yang tidak disukai, namun Allah akan rindu pada buatan tangan-Nya (Ayub 14:15). Dia akan mengingat perjanjian-Nya dengan debu, dan tidak akan kehilangan sebutir pun dari debu-debu itu. Sebaliknya, tubuh akan dipersatukan kembali dengan jiwa, dan berpakaian kemuliaan yang pantas untuknya. Tubuh yang hina akan diubahkan menjadi baru (Flp. 3:21; 1 Kor. 15:42).
Ada
dua hal besar yang menjamin kepastian kebangkitan tubuh. Yang pertama adalah
kebangkitan Kristus. “Ia, yang telah
membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga
tubuhmu yang fana itu” (ay. 11). Kristus bangkit sebagai Kepala, Yang
sulung, dan Pelopor semua orang kudus yang telah meninggal (1 Kor. 15:20). Yang
kedua adalah berdiamnya Roh, yaitu Roh yang sama yang membangkitkan jiwa
sekarang akan segera membangkitkan tubuh: “oleh
Roh-Nya, yang diam di dalam kamu” (ay. 11). Tubuh orang kudus adalah bait
Roh Kudus (1 Kor. 3:16; 6:19). Walaupun bait ini dibiarkan berbaring sementara
dalam kehancuran, namun ia akan dibangun kembali. Roh, yang mengembuskan napas
hidup pada tulang-tulang mati dan kering, akan membuat mereka hidup, dan orang-orang
kudus akan melihat Allah bahkan di dalam tubuh mereka. Dengan mengingat akan
hal ini, Rasul Paulus menyimpulkan betapa sudah menjadi kewajiban kita untuk
tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
REFLEKSI
Hidup
berdasarkan Roh bukan berarti kita menjadi manusia super yang tidak bisa berbuat
salah, melainkan hidup dengan kesadaran baru. Setiap hari kita dihadapkan pada
pilihan: apakah kita akan memberi makan ego (daging) yang membawa kepada
kecemasan dan kebinasaan, atau memberi ruang bagi Roh yang menghasilkan
ketenangan dan kehidupan? Kita tidak bisa ‘menjinakkan’ daging; kita hanya bisa
mematikannya dengan cara hidup di dalam Roh. Kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang
adalah tanda pemilikan. Jika Roh itu berdiam di dalam kita, orientasi hidup
kita secara otomatis berubah. Kita bukan lagi budak dari dorongan impulsif
kita, melainkan anak-anak yang dipandu oleh Sang Pencipta.
Comments
Post a Comment