Jalan Yang Baru dan Yang Hidup
JALAN YANG BARU DAN YANG HIDUP
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita
sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan
yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai
kepala Rumah Allah.
22 Karena itu marilah kita menghadap Allah
dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati
kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh
dengan air yang murni.
23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan
tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya
kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25 Janganlah kita menjauhkan diri dari
pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi
marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari
Tuhan yang mendekat.
(Ibrani 10:19-25)
PENDAHULUAN
Dengan paparan yang jelas akan imamat Kristus yang
sempurna, penulis Ibrani menantang audiens pembacanya untuk tidak lagi ragu
akan imannya. Hal ini karena sudah ada jalan masuk bagi kita orang-orang
percaya kepada Allah, yaitu Yesus Kristus sendiri. Artinya, Ia telah membuka
jalan terjadinya persekutuan kembali antara Allah dan manusia. Atau dengan kata
lain, Kristus telah mempersatukan kembali Allah dengan manusia. Dua ciri dari jalan ini adalah baru dan hidup.
Baru berarti segar, tidak seperti Perjanjian Sinai yang sudah ‘usang’. Hidup
berarti abadi karena Kristus senantiasa hidup sebagai Pengantara kita. Tuhan
Yesus bukan hanya Pengantara kita kepada Allah, tetapi Dia juga adalah kepala
Rumah Allah. Ini berarti Dialah yang mengatur siapa-siapa yang boleh masuk ke
tempat mahakudus Allah. Oleh karena itulah sekarang kita para pengikut Kristus
penuh dengan keberanian untuk masuk ke hadirat kudus Allah.
JALAN MASUK YANG
CUMA-CUMA KEPADA ALLAH
Kristus telah membeli dengan darah-Nya (ay. 19) bagi semua orang yang percaya kepada-Nya jalan masuk yang cuma-cuma kepada Allah berupa ketetapan-ketetapan anugerah-Nya di dunia sini dan di dalam kerajaan kemuliaan-Nya. Darah ini, yang dipercikkan pada hati nurani, menghalau ketakutan yang memperbudak, dan memberikan keyakinan kepada orang percaya akan keamanannya maupun diterimanya ia dalam hadirat ilahi. Jalan masuk ini merupakan satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain yang tersisa setelah jalan ini. Jalan pertama menuju pohon kehidupan sekarang, dan sudah sejak lama, ditutup.
Jalan masuk ini adalah jalan baru, dalam arti berlawanan dengan perjanjian yang mengutamakan perbuatan maupun baru bagi masa pelaksanaan Perjanjian Lama. Jalan ini adalah via novissima, yaitu jalan terakhir yang akan pernah dibuka bagi manusia. Siapa yang tidak mau masuk melalui jalan ini berarti mengeluarkan dirinya sendiri untuk selama-lamanya. Jalan masuk ini juga disebut hidup, dalam artian kita akan mati jika berusaha datang kepada Allah melalui jalan perjanjian yang mengutamakan perbuatan. Tetapi melalui jalan ini kita bisa datang kepada Allah, dan tetap hidup karena melalui Juruselamat yang hidup. Jalan ini memberikan kehidupan dan harapan yang hidup kepada mereka yang masuk ke dalamnya.
Kristus telah menyucikan jalan masuk ini bagi kita
melalui tabir, yaitu tubuh jasmani-Nya (ay. 20). Tabir dalam Kemah Suci dan
Bait Allah melambangkan tubuh Kristus. Ketika Ia mati, tabir Bait Suci terbelah
menjadi dua. Ini membuat orang dapat melihat secara mengejutkan ke dalam tempat
Mahakudus, yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Jalan kita ke sorga
adalah melalui Juruselamat yang disalibkan. Kematian-Nya bagi kita adalah jalan
kehidupan.
HAK-HAK ISTIMEWA
ORANG PERCAYA
Orang-orang percaya mendapat hak-hak istimewa, yaitu mendapat jalan masuk kepada Allah, masuk ke tempat Mahakudus (ay. 19), pertolongan untuk menggunakan dan memanfaatkannya, dan mendapat jaminan bahwa mereka akan diterima dan dapat mengambil manfaat darinya. Mereka dapat masuk ke dalam hadirat Allah yang penuh rahmat dan sabda-Nya, ketetapan-Nya, pemeliharaan-Nya, dan perjanjian-Nya yang kudus, dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Dalam persekutuan itu mereka menerima hal-hal yang disampaikan-Nya, hingga mereka siap untuk masuk ke dalam hadirat-Nya yang penuh kemuliaan di sorga.
Hak istimewa lainnya adalah bahwa Imam Besar atas rumah
Allah (ay. 21) adalah Yesus sendiri yang memimpin atas jemaat dan setiap
anggotanya di bumi, dan atas jemaat yang berkemenangan di sorga. Allah mau
berdiam bersama-sama manusia di bumi, dan mau supaya mereka berdiam bersama-Nya
di sorga. Tetapi manusia yang jatuh tidak dapat berdiam bersama Allah tanpa
Imam Besar, yang merupakan Pengantara yang mendamaikan di dunia ini dan
Pengantara yang akan memberikan upah di dunia nanti.
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN
YANG MENGIKAT OLEH KARENA HAK-HAK ISTIMEWA
Orang-orang percaya harus mendekat kepada Allah (ay. 22). Karena jalan yang benar untuk masuk dan kembali kepada Allah sudah terbuka, maka sungguh tidak tahu berterimakasih dan menghina Allah dan Kristus jika mereka tetap menjaga jarak dari Dia. Mereka harus mendekat melalui pertobatan dan dengan segala perilaku yang kudus. Harus dipastikan juga bahwa kita orang-orang percaya mendekat kepada Allah dengan cara yang benar, yaitu dengan hati yang tulus, tanpa membiarkan adanya tipu daya atau kemunafikan (ay. 22). Kita harus mendekat dengan iman yang bertumbuh menjadi keyakinan penuh bahwa apabila kita datang kepada Allah melalui Kristus, kita akan didengar dan diterima. Kita berkeyakinan teguh karena hati kita sudah dibasuh dari hati nurani yang jahat (ay. 22), dengan cara menerima darah Kristus ke dalam jiwa kita. Dan tubuh kita juga telah dibasuh dengan air murni, yaitu dengan air baptisan, atau dengan kuasa Roh Kudus yang menguduskan, yang memperbaharui dan mengatur perilaku lahiriah kita dan juga sifat batiniah kita, yang membersihkan kecemaran jasmani dan juga rohani.
Yang juga menjadi kewajiban kita adalah berpegang teguh
pada pengakuan iman kita (ay. 23), memeluk semua kebenaran dan jalan Injil, dan
memegangnya teguh melawan segala pencobaan. Musuh-musuh rohani kita akan
melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan untuk merampas iman, harapan,
kekudusan dan penghiburan kita dari tangan kita, tetapi kita harus berpegang
teguh pada agama kita sebagai harta karun kita yang terbaik. Alasan untuk
menegaskan kewajiban ini adalah bahwa Allah telah membuat janji-janji yang
besar dan barharga bagi orang-orang percaya, dan Ia adalah Allah yang setia,
setia kepada perkataan-Nya. Tidak ada kepalsuan atau berubah-ubah sikap pada
Dia, dan demikian pula tidak boleh ada pada diri kita.
SARANA UNTUK
MENDORONG KITA SETIA DAN BERTEKUN
Orang-orang percaya harus saling memperhatikan dan memedulikan dengan sungguh-sungguh dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (ay. 24). Dengan rasa kasih mereka harus memperhatikan apa saja kebutuhan, kelemahan dan pencobaan saudara-saudara mereka, bukan mencela satu sama lain, membuat marah satu sama lain, melainkan supaya saling mengasihi dan berbuat baik. Mereka harus saling mengajak untuk lebih lagi mengasihi Allah dan Kristus, untuk lebih lagi mencintai kewajiban dan kekudusan, untuk lebih lagi mencintai saudara-saudara mereka di dalam Kristus, dan untuk melakukan segala perbuatan baik berdasarkan kasih kristiani, baik itu terhadap tubuh maupun jiwa satu sama lain.
Di zaman para Rasul, dan seharusnya di setiap zaman, ada pertemuan-pertemuan Kristen untuk menyembah Allah, dan membangun satu sama lain. Sudah seharusnyalah kita orang-orang percaya tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita (ay. 25) dimana kita bertemu dan berdoa, dan juga secara bersama-sama mendengarkan firman dan bersatu dalam melaksanakan semua ketetapan ibadah Injil. Saling menasihati satu sama lain juga merupakan sarana untuk menasihati diri kita sendiri dan satu terhadap yang lain, untuk mengingatkan diri kita sendiri dan satu sama lain akan dosa dan bahaya jika kita undur dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.
Melalui nas ini kita diajak untuk memperhatikan dekatnya
masa-masa pencobaan dengan semakin dekatnya hari Tuhan. Karena itu kita diingatkan
supaya lebih tekun dalam bertemu bersama-sama dan saling menasihati, supaya
kita lebih siap menghadapi hari itu. Akan datang hari pencobaan pada kita
semua, yaitu hari kematian kita, dan kita harus memperhatikan semua tanda
mendekatnya hari itu, dan memanfaatkannya untuk lebih waspada dan tekun dalam
menjalankan kewajiban.
REFLEKSI
Oleh anugerah Allah di dalam Kristus, kita yang sudah
disucikan berani menghampiri takhta Allah. Dengan iman yang teguh, kita
melangkah maju penuh pengharapan akan penggenapan janji-janji surgawi dan
mengisi kehidupan ini dengan melakukan berbagai perbuatan baik oleh dorongan
kasih Allah. Itulah buah-buah rohani yang dapat kita persembahkan ke
hadirat-Nya. Kita orang-orang percaya juga diundang untuk meneguhkan iman kita
kepada Allah. Dengan demikian, menikmati anugerah Allah berarti bersedia untuk
terus belajar dalam pengudusan dan bertahan di bawah tantangan hidup, yang
terus kita alami dalam penyertaan Roh Kudus. Oleh karena itu, janganlah kita
menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Sebab ibadah itu memberikan
makna hidup kepada kita. Kehadiran Kristus menguatkan kita untuk menyatakan
bakti kepada Allah dan menyatakan kebaikan-Nya dalam kehidupan bersama.
Comments
Post a Comment