Kriteria Allah vs. Standar Manusia
KRITERIA ALLAH Vs. STANDAR MANUSIA
Oleh: Pnt. Drs. Beltasar Pakpahan
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa
lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai
raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku
mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya
telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”
2 Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku
pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: ”Bawalah seekor
lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.
3 Kemudian undanglah Isai ke upacara
pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus
kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”
4 Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN
dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya
dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”
5 Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk
mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan
daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya
yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.
6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab,
lalu pikirnya:”Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”
7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah
pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan
yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,
tetapi TUHAN melihat hati.”
8 Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya
lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih
TUHAN.”
9 Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi
Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”
10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya
lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak
dipilih TUHAN.”
11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah
anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang
menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil
dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”
12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia
kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah,
urapilah dia, sebab inilah dia.”
13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi
minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari
itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel
menuju Rama.
(1 Samuel 16:1-13)
PENDAHULUAN
Awal kisah Daud sangat berbeda dengan Saul. Saul dicatat
sebagai pemuda berwajah paling ganteng dan bertubuh paling tinggi di Israel.
Walaupun ia seorang pemalu, ia adalah seorang yang sempurna dari segi fisik dan
penampilan. Tidak ada yang meragukan kemampuannya untuk menjadi raja atas
Israel. Tidak demikian halnya dengan Daud. Bahkan ayahnya sendiri pun berpikir
ia tidak cukup layak untuk menjadi raja. Ia dipandang terlalu muda dan tidak
siap terlibat dalam kegiatan militer. Apalagi kalau dibandingkan dengan
kakak-kakaknya ia sama sekali tidak memiliki penampilan yang meyakinkan untuk
menjadi seorang raja. Kita manusia, termasuk Samuel, cenderung menilai
seseorang berdasarkan penampilan luar dan lupa melihat ketulusan hati. Akan
tetapi bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang
ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
BERHENTI MERATAPI
MASA LALU DAN MULAILAH MELANGKAH
Allah menegur Samuel yang terus menerus meratapi penolakan-Nya terhadap Saul. Allah tidak menyalahkan Samuel karena ia bersedih atas peristiwa itu, tetapi karena ia terlampau larut dalam kesusahan hatinya maka Allah menegurnya: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?” (ay. 1).. Allah tahu kalau Samuel memang perlu mengambil waktu untuk memulihkan diri atas kesedihan hatinya karena murka Allah yang adil menolak sahabatnya, Saul, sebagai raja Israel. Tetapi karena Allah sudah menolak Saul, maka Samuel harus tunduk kepada keadilan ilahi.. Juga karena Israel tidak akan dirugikan oleh hal itu, maka Samuel harus mendahulukan kesejahteraan rakyat ketimbang kasihnya sendiri kepada sahabatnya.
Kemudian Allah mengutus Samuel ke Betlehem untuk
mengurapi salah satu anak laki-laki Isai, dan Allah berkata “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah” (ay. 1). Saul diurapi
minyak sebuli-buli banyaknya (1 Sam. 10:1), yang sedikit dan mudah pecah, sedangkan
Daud diurapi dengan minyak yang setabung tanduk banyaknya, lebih melimpah dan
tahan lama. Demikianlah kita membaca mengenai tanduk keselamatan di dalam
keturunan Daud, hamba-Nya itu (Luk. 1:69).
HIKMAT SORGAWI MENYERTAI
SAMUEL DALAM TUGASNYA
Samuel berkeberatan akan bahaya yang dapat timbul oleh pelaksanaan tugasnya mengurapi Daud, dan berkata “Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku” (ay. 2). Sekalipun seorang nabi, Samuel adalah manusia yang tidak sempurna imannya. Namun demikian, perkataan Samuel ini dapat dipahami sebagai kerinduannya untuk memperoleh hikmat atau petunjuk sorgawi perihal cara mengurus perkara yang dihadapinya dengan bijaksana, supaya ia tidak membiarkan dirinya maupun orang lain terancam bahaya yang tidak perlu.
Lalu
Allah memerintahkan Samuel untuk menutupi rancangan-Nya untuk pengurapan Daud
dengan acara persembahan kurban (ay.
2-3). Sebagai seorang nabi, ia dapat mempersembahkan kurban kapanpun dan
di manapun. Samuel mempersembahkan kurban dan mengundang Isai, yang kemungkinan
merupakan tokoh masyarakat di kota Betlehem, beserta keluarganya untuk datang
ke perayaan kurban tersebut. Dan Allah berfirman, “Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat” (ay.
3). Orang yang melakukan pekerjaan Allah sesuai jalan-Nya akan dituntun langkah
demi langkah, dimana pun mereka merasa tersesat, untuk melaksanakannya dengan
cara yang terbaik.
PROSES SELEKSI: YANG
TERKECIL YANG TERPILIH
Eliab, anak tertua dari Isai, secara khusus menjadi yang pertama diperhadapkan kepada Samuel. Lalu Samuel berpikir bahwa Eliab inilah sang raja itu (ay. 6). Para nabi, meskipun mereka bicara di bawah panduan Allah, masih juga bisa melakukan kesalahan layaknya manusia lain. Akan tetapi, Allah memperbaiki kesalahan sang nabi dengan sebuah bisikan rahasia ke dalam pikirannya: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi” (ay. 7). Samuel, yang telah dikecewakan sedemikian rupa oleh Saul, yang paras serta perawakannya membuatnya unggul di mata manusia, masih juga begitu tergesa-gesa menilai seorang manusia dengan cara serupa. Apabila Allah menghendaki seorang yang berkenan di hati-Nya, maka orang itu tidak akan dipilih-Nya berdasarkan apa yang kelihatan, namun Ia melihat hati dan mengetahui pikiran dan niat hati itu.
Begitu Eliab disisihkan, maka Abinadab dan Syama, serta empat anak laki-laki Isai yang lain, seluruhnya tujuh anak, ditampilkan di depan Samuel untuk dipertimbangkan menurut maksud kehadirannya. Akan tetapi Samuel, yang bertindak lebih hati-hati dengan petunjuk Allah, menolak mereka semua (ay. 8-10). Andaikan pemilihan raja itu diserahkan sepenuhnya kepada Samuel dan Isai, maka pasti salah satu dari anak laki-laki ini sudah terpilih. Namun Allah hendak membesarkan kedaulatan-Nya dengan tidak memilih orang yang unggul dan malah menetapkan orang lain yang lebih hina.
Daud, si anak bungsu, dibiarkan tinggal di padang untuk menggembalakan kambing domba (ay. 11), meskipun ada upacara dan perayaan kurban di rumah ayahnya. Anak bungsu biasanya menjadi anak yang dimanja di tengah keluarga, tetapi tampaknya Daud menjadi yang paling tidak dihiraukan dari semua anak laki-laki Isai, entah karena mereka tidak menyadari atau tidak menghargai pribadi Daud yang sungguh luhur. Daud diambil dari tempat kambing domba digembalakan, seperti halnya Musa diambil ketika tengah mengembalakan kawanan ternak milik mertuanya Yitro, suatu tanda kerendahan hati dan keuletan Daud, dua sifat yang dengan senang hati hendak dimuliakan Allah.
Kita
pasti berpikir bahwa hidup ketentaraan merupakan hidup yang terbaik untuk
mempersiapkan seseorang menerima kuasa sebagai raja. Tetapi di mata Allah,
hidup penggembalaan, yakni hidup yang mengutamakan perenungan dan persekutuan
dengan Allah, menjadi yang terbaik untuk tujuan itu, karena bersama hidup
penggembalaan tersebut, terdapat sejumlah karunia Roh yang penting untuk
mengemban amanat kerajaan.
PENGURAPAN DAUD
Samuel tidak berkeberatan terhadap rendahnya pendidikan Daud, kemudaannya, atau kurang dihargainya ia di mata keluarganya sendiri, tetapi dengan mematuhi perintah Allah, Samuel mengambil tabung tanduk minyaknya lalu mengurapi Daud (ay. 13). Dengan ini Allah memberi jaminan penuh kepada Daud sebagai raja pengganti Saul. Tetapi bukan berarti pada saat ini Daud mendapat kuasa sebagai raja, melainkan hal itu dijanjikan akan dianugerahkan kepadanya bila waktunya telah tiba. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud (ay. 13).
Pengurapan Daud bukanlah suatu upacara yang tidak
bermakna, tetapi ada kuasa Allah yang menyertai penahbisan tersebut, sehingga
Daud menemukan bahwa di dalam dirinya, bertambahlah hikmat, keberanian, dan
kepeduliannya terhadap rakyat, berserta segala sesuatu persyaratan yang harus
dimiliki seorang raja, meskipun tampilan luarnya sama sekali tidak bertambah.
Begitu juga halnya dengan kita orang-orang percaya, bukti yang terkuat dari
penetapan kita sejak semula ke dalam kerajaan kemuliaan adalah pemeteraian kita
oleh Roh perjanjian serta pengalaman kita akan karya kasih karunia di dalam
hati kita masing-masing.
REFLEKSI
Dalam mengikut Tuhan, baiklah kesalahan yang dibuat Saul
dan kriteria pemilihan Daud menjadi pelajaran berharga bagi kita. Yaitu, bahwa
hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah hidup yang mengandalkan Dia, peka
terhadap tuntunan-Nya, dan siap untuk bertobat setiap saat Ia menegur. Pilihan
Allah berarti ketaatan dan penyerahan diri. Pilihan itu juga berarti
pembentukan, agar kita menjadi layak untuk melakukan pelayanan yang telah Ia
tentukan untuk kita lakukan. Apa yang nyata buat Samuel dan Daud seharusnya
nyata pula buat kita hamba-hamba-Nya pada masa kini. Terlebih Roh Kudus sudah
dicurahkan secara permanen di hati setiap orang percaya. Mari andalkan pimpinan
Roh Kudus dan minta hikmat Allah dalam pelayanan kita agar dengan berhikmat dan
tulus kita menjadi berkat bagi sesama.
Comments
Post a Comment